Rhaella Delyth adalah seorang gadis cantik dengan kepribadian dingin dan ekspresi wajah yang selalu datar. Meskipun berasal dari keluarga terpandang, kehidupan yang ia jalani jauh dari kata bahagia. Kehadirannya di dunia tidak pernah diharapkan, membuatnya tumbuh dengan hati yang keras dan kesulitan untuk mempercayai orang lain.
Sementara itu, Gabriel adalah seorang pemuda tampan dan berkarisma yang lahir di lingkungan keluarga kaya dan berpengaruh. Di balik pesonanya, ia memiliki sifat dingin, tak mudah didekati, serta sisi kejam yang tidak banyak diketahui orang.
Bagaimana kisah pertemuan mereka bermula? Ikuti perjalanan mereka dalam cerita ini, yang penuh dengan intrik dan adegan penuh ketegangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Mereka pun mulai bertanding, mereka yang ada di sana sudah berkumpul untuk menonton pertandingan sengit antara Gabriel dan elsa, mereka bisa melihat kecekatan Rhaella melawan Gabriel, meskipun Gabriel masih memimpin.
"Anjir mereka berdua lagi tanding beneran" celetuk Rufus pada Calix.
"Si Rhaella kurangnya apaan dah, balap motor jago, pinter iya, cantik jangan di tanya lagi, basket gue juga baru tahu kalau dia juga jago, tinggal skill bela dirinya aja yang belum kita tahu." Celetuk Juna melihat Rhaella yang sedang bertanding basket dengan ketuanya.
"Dan dari yang lo sebutkan tadi, Gabriel masih di atasnya, Rhaella hampir setara sama El" sambung Rufus.
"Mereka emang klop banget sih, tapi mereka lagi tanding karena taruhan kali yah, liat deh kaya serius gitu" ucap juna
"Iya katanya mereka Main basket karena lagi taruhan" jawab Calix melihat ke arah Gabriel dan juga Rhaella yang sedang bertanding basket dan di angguki oleh sahabat-sahabatnya kecuali Merrit.
"Taruhan apaan?" Tanya Rufus pada Calix.
"Gue ngga tahu" jawab Calix dengan mengangkat bahunya.
Saat ini poin Gabriel masih memimpin dan Rhaella masih kurang 4 poin untuk bisa menyamai poin Gabriel.
"Shit" kesal Rhaella pada Gabriel yang sudah merebut bolanya lalu memasukkan bolanya ke ring.
Gabriel kembali mencetak poin "See!! Gue menang" jawab Gabriel dengan berjalan ke arah Rhaella kemudian menyugar rambutnya ke belakang membuat para kaum hawa semakin gila melihat itu lalu Gabriel membuka kancing bajunya dan terlihat kaos hitam milik Gabriel, murid-murid perempuan yang melihat Gabriel berkeringat sudah panas dingin melihat ketampanan Gabriel yang berkali-kali lipat bertambah jika berkeringat seperti itu.
"Hm" jawab datar Rhaella dengan wajah kesalnya. Gabriel melihat itu malah tersenyum miring.
"jadi?" Tanya Gabriel
"Gue nurut apa kata lo" jawab Rhaella datar dan Gabriel pun menganggukkan kepalanya.
"El nih minum dulu, Lo pasti haus kan abis main basket panas-panas begini" celetuk Mira yang tiba-tiba datang dengan membawa minuman dingin untuk Gabriel. Gabriel dan Rhaella pun menoleh ke arah Mira dengan wajah datar mereka, detik berikutnya Gabriel mengambil minuman itu dan membuat Mira tersenyum senang, namun detik berikutnya senyuman Mira luntur saat ketika Gabriel memberikan minuman yang dia bawa pada Rhaella.
"Minum" ucap datar Gabriel pada Rhaella memberikan minuman.
"Itu minuman dari Mira buat lo, jadi lo aja yang minum" jawab Rhaella dengan menatap sinis ke arah Mira, dan Mira yang melihat itu sudah mengumpati Rhaella dalam hati.
'Rhaella sialan bangsat' batin Mira menatap kesal Rhaella.
"Lo minum duluan" ucap kembali Gabriel dan Rhaella pun kemudian menatap botol minum itu dan mengambilnya, namun sebelum itu Gabriel sudah membukakannya untuk Rhaella, Rhaella hanya diam namun berbeda dengan Mira yang berada di depan mereka, dia merasa geram karena Rhaella di perlakukan seperti itu oleh Gabriel.
"El Lo ko kasih ke Rhaella, gue kan belinya buat elo" ucap Mira dengan sedikit kesal, Gabriel menoleh dan menatap datar Mira.
" Lo kasih ke gue kan? Jadi terserah gue mau kasih ke siapa" jawab datar Gabriel pada Mira. Bertepatan dengan Rhaella yang sudah selesai minum dan berniat menutup botolnya dengan tutup botol, namun Gabriel tiba-tiba mengambil botol minum itu lalu meneguk habis sisa air yang di minum Rhaella. Mereka semua yang menyaksikan itu terkejut tak terkecuali para sahabat Gabriel. Rhaella pun tak kalah terkejut dengan kelakuan Gabriel, pasalnya g minum air di botol yang sama dengan Rhaella dan botol itu bekas bibir Rhaella. Mira pun sudah melotot tak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Eel itu bekas minum gue " ucap Rhaella pada Gabriel dengan wajah yang mulai berekspresi.
"Kenapa?" Tanya Gabriel dengan wajah datarnya.
"Engga jijik?" Gabriel yang mendengar pertanyaan itu pun tersenyum miring kemudian maju dua langkah agar lebih dekat dengan Rhaella kemudian berbisik.
"Bibir lo manis ... kaya kemarin" jawab Gabriel dengan suara deepnya, Rhaella yang mendengar itu pun mendorong tubuh Gabriel agar menjauh dari tubuhnya kemudian pergi dari lapangan, dia mengabaikan semua tatapan dari murid-murid entah itu perempuan maupun laki-laki, dia sangat kesal dan juga malu kelakuan Gabriel akhir-akhir ini membuatnya bingung.
Gabriel yang melihat Rhaella pergi pun hanya diam, tidak berniat untuk mengejarnya dia malah tersenyum tipis yang tidak disadari oleh siapapun. Mira pun sudah pergi dari lapangan itu tidak sanggup melihat mereka berdua, dan kemudian Gabriel di hampiri oleh para sahabat-sahabatnya.
"ANJIIIRR GUUUYSS... Ketua kita ini memang tiada lawan yah" ucap Hans yang begitu antusias dengan tawanya.
"Yo'i kayanya Lo harus belajar dari El deh Hans buat sat set sat set" sambung Rufus dengan tawanya.
"Kalau Hans yang sat set gue yakin langsung di gampar si" celetuk Calix dan langsung di hadiahi tawa oleh Anjas, Merrit dan Gabriel hanya terkekeh kecil.
"Eh mana ada, gue tampan begini masa ada yang berani tampar gue, sekali liat muka gue cewe yang bar-bar langsung kalem" jawab Hans dengan percaya diri.
"Diih sok ganteng banget babi " sarkas Rufus.
"Gue emang ganteng ngga sadar Lo selama ini" kata Hans dengan menyugar rambutnya ke belakang.
"Yang jelas tingkat ketampanan lo setidaknya harus setara lah sama Merrit dulu baru bisa sat set kaya El" sambung lagi Calix.
"Ya kalau itu nggak bisa lah bego, setidaknya gue lebih tampan ya dari Lo berdua" ucapnya kesal pada Rufus dan Calix. Mereka berdua hanya tertawa melihat wajah kesal Hans. Berbeda dengan dua tembok berjalan itu.
...
Rhaella saat ini sedang berada dalam toilet setelah meninggalkan lapangan tadi, Rhaella langsung pergi menuju toilet untuk mencuci muka setelah berkeringat tadi.
"Well well well... Ternyata lo pinter juga yah buat ngerayu Gabriel, Lo udah kasih apa aja ke El ha?" Tiba-tiba suara seseorang yang sangat familiar terdengar menyapa telinganya yang sedang mencuci wajahnya, dia bahkan tidak terkejut atau marah atas ucapan dari orang itu.
Mira and the geng, yah yang baru saja datang adalah Mira, Daena dan Luna, dan yang baru saja bersuara tadi adalah Daena.
Rhaella pun kemudian berbalik menghadap Mira and the geng dengan melipat kedua tangannya di dada.
"Nggak gue kasih apa-apa aja El udah nempel sama gue, apalagi kalau gue kasih, tapi sayangnya gue ngga murahan kaya lo" jawab tenang Rhaella dengan menyeringai pada Daena, Daena sedikit terkejut dengan ucapan Rhaella.
'apa dia tahu sesuatu tentang gue selama ini' batin Daena dengan wajah puasnya, Rhaella yang menyadari wajah panik Daena pun tersenyum miring.
"Ma-maksud lo apa, gue nggak ngerti" Daena seolah ingin bersikap biasa-biasa saja tapi tidak dengan nada bicara dan bahasa tubuhnya.
"Club dream red, gue tahu apa aja yang lo lakuin di sana" jawab Rhaella sedikit berbisik pada Daena, Mareta sudah melotot kaget pasalnya teman-temannya saja tidak tahu apa yang sering dia lakukan, lalu bagaimana Rhaella bisa tahu tentang itu.
Daena langsung panik dia pun keluar dan berlari keluar dari toilet, dan itu di sadari oleh teman-temannya.
"Apa yang udah Lo lakuin ke Dane ha dasar jalang" sentak Mira yang sudah geram melihat wajah Rhaella. Rhaella hanya mengedikkan bahunya dan itu malah semakin membuat Mira dan Luna kesal.
"JAWAB SIALAN" sentak Mira dengan suara tingginya karena merasa geram sejak tadi pada Rhaella apalagi sekarang dia tidak menggubrisnya sama sekali. Bahkan suaranya sampai terdengar oleh mereka yang melewati toilet itu.
"Apa yang perlu gue jawab?" Tanya datar Rhaella pada Mira.
"Yang udah Lo lakuin ke Daena tadi, dan tadi di lapangan lo sengaja kan ngajak El bertanding, lo cuma cari perhatian dia kan"
"Kenapa? lo cemburu? lo suka sama El? Ambil aja sana kalau bisa dan kalau dia juga mau sama lo" jawab Rhaella dengan tersenyum miring dan itu sukses membuat Mira naik pitam.
"Anjing... Gabriel itu punya gue sialan, dan lo cewe murahan yang pasti udah ngasih tubuh lo ini kan ke Gabriel buat ngerayu dia " tuduh Mira pada Rhaella, tapi tetap tidak membuat Rhaella marah, dia malah tersenyum miring dan terus memancing kemarahan Mira.
"Terus kenapa ngga lo lakuin itu juga kalau lo suka sama Gabriel hm? Siapa tahu Gabriel bakalan suka sama tubuh lo yang.. Tepos ini hmm" ucap Rhaella dengan menelisik tubuh Mira kemudian tersenyum miring lalu pergi keluar toilet meninggalkan Mira yang sudah melotot tak percaya dengan ucapan Rhaella.
"Mir lo kok malah diem aja sih kejar tuh si Rhaella sialan" suara Luna mengembalikan kesadarannya.
Mira yang beberapa saat kemudian sadar akan ucapan Rhaella pun mengejarnya keluar di ikuti oleh adila dan kemudian tangannya ingin menjambak rambut Rhaella, namun tangan seseorang lebih dulu menangkap tangan Mira, Mira kemudian menoleh dan melotot terkejut melihat siapa yang sudah menahan tangannya. Rhaella yang mendengar suara lari seseorang tadi membalikkan tubuhnya, namun saat membalikkan tubuhnya dia melihat Mira yang tiba-tiba datang ingin menjambaknya tapi di tahan oleh tangan Gabriel. Rhaella sebenarnya tahu akan tindakan apa yang ingin Mira lakukan, dia pun sudah mempersiapkan pukulannya jika Mira berani menyentuhnya Namum pergerakan Gabriel yang lebih cepat membuat dia sedikit terkejut.
"Lo sentuh dia sedikit aja, gue habisin lo sekarang juga" suara datar dan aura dingin Gabriel membuat Mira terintimidasi seketika. Gabriel pun melepaskan cekalan tangannya pada Mira dan langsung membuat Mira lari ketakutan.
"Thanks" ucapa datar Rhaella pada Gabriel.
"Hmm"
"Lo ngikutin gue" tanya Rhaella datar
"Nggak"
"Terus kenapa lo bisa tiba-tiba di sini"
"Kebetulan" Rhaella pun mengangguk saja tidak mau banyak bicara, entah kenapa bersama Gabriel di lebih banyak berbicara dan itu membuatnya jadi kesal sendiri. Rhaella pun kemudian kembali melanjutkan jalannya menuju kelasnya dan di ikuti oleh Gabriel di belakang.