Finn kembali untuk membalaskan dendam kematian kedua orang tuanya. Dengan bantuan ayah angkatnya, Finn meminta dijodohkan dengan putri dari pembunuh kedua orang tuanya, yaitu Selena.
Ditengah rencana perjodohan, seorang gadis bernama Giselle muncul dan mulai mengganggu hidup Finn.
"Jika aku boleh memilih, aku tidak ingin terlahir menjadi keturunan keluarga Milano. Aku ingin melihat dunia luar, Finn... Merasakan hidup layaknya manusia pada umumnya," ~ Giselle.
"Aku akan membawamu keluar dan melihat dunia. Jika aku memintamu untuk menikah denganku, apa kamu mau?" ~ Finn.
Cinta yang mulai tumbuh diantara keduanya akankah mampu meluluhkan dendam yang sudah mendarah daging?
100% fiksi, bagi yang tidak suka boleh langsung skip tanpa meninggalkan rating atau komentar jelek. Selamat membaca dan salam dunia perhaluan, Terimakasih 🙏 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar Riyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 : TDCDD
Riyan berhasil mengikuti dua gadis tadi, namun dia tidak berani mendekat saat menyadari sebuah mobil lain sedang memantau dua gadis itu dari kejauhan. Menyadari orang-orang didalam mobil itu tidak akan membuat kekacauan, Riyan memilih untuk tetap diam didalam mobilnya dan memakirkannya didepan salah satu rumah yang ada disana.
"Setelah rumah ini, hanya ada satu rumah didepan sana yang dijaga ketat oleh beberapa penjaga. Aku yakin dua gadis itu pasti tinggal disana."
Riyan langsung mengirimkan lokasi tempat itu pada Finn. Sembari menunggu Finn datang, Riyan memilih untuk tetap standby di dalam mobil dan menelfon salah satu anak buahnya untuk membawakan perlengkapan yang mungkin akan dia butuhkan nanti.
Selang tiga jam kemudian, sebuah mobil melaju dari arah belakang dan melewati mobil Riyan yang masih terparkir di depan sebuah rumah. Dibelakangnya, Finn datang dengan mobilnya dan langsung naik ke dalam mobil Riyan. Finn juga meminta anak buahnya yang masih ada disana untuk membawakan mobilnya pulang.
"Aku sudah menyiapkan semuanya, dua gadis tadi sepertinya tinggal di rumah yang waktu itu kita lihat dijaga oleh beberapa orang penjaga. Rumah itu adalah rumah terakhir sebelum menuju kearah hutan."
Selesai mengganti pakaiannya, Finn meminta Riyan melajukan mobilnya mendekat ke arah rumah itu. "Cukup, sampai disini saja. Kamu kembalilah ke tempat tadi sebelum ada yang curiga. Jika sudah selesai, aku akan menelfonmu untuk menjemputku,"
"Ini, bawalah. Kamu pasti akan membutuhkannya," Riyan memberikan tali yang ujungnya sudah dipasangi dengan pengait (Hook) untuk memudahkan Finn memanjat pagar.
"Kamu memang selalu bisa untuk diandalkan!"
Finn keluar dari dalam mobil Riyan. Dia berlari ke arah rumah yang jaraknya masih lumayan jauh itu. Pintu gerbang rumah itu dijaga ketat oleh beberapa penjaga, mobil Tuan Andreas juga sudah ada dihalaman rumah tersebut.
Finn berjalan mengendap ke samping rumah, dengan menggunakan tali yang diberikan oleh Riyan tadi, Finn mulai memanjat pagar rumah yang lumayan tinggi itu. Suara teriakan seorang wanita terdengar di telinganya.
"Ampun Tuan... Saya yang salah... Jangan hukum Non Giselle..." tangis Bi Nilam yang tidak dihiraukan sama sekali.
Plakkk...
Plakkk...
Dari balik jendela kaca, Finn melihat Tuan Andreas tengah memukul seseorang, namun dia cukup terkejut saat melihat wajah wanita yang dipukul ternyata adalah gadis yang pernah dia tiduri.
Hati Finn tersentuh, namun ini bukan waktunya untuk dia merasa iba. Sekarang dia harus mencari kamar gadis itu dan menemuinya.
Beruntung rumah itu hanya memiliki satu lantai dan membentuk memanjang ke belakang, hingga Finn tidak perlu memanjat-manjat pagar lagi. Setelah mengintip beberapa ruangan, akhirnya Finn menemukan ruangan yang dia yakini sebagai kamar Giselle.
Dengan keterampilannya, Finn mulai membuka jendela kaca kamar itu dengan menggunakan pisau, dia segera masuk dan menutup kembali jendela itu dengan rapat sebelum ada yang memergoki aksinya. Mendengar ada suara langkah kaki berjalan mendekat, Finn buru-buru masuk ke dalam lemari pakaian untuk bersembunyi.
"Papa akan mengurung kamu dikamar dan tidak akan memberikan fasilitas apapun lagi, handphone kamu Papa sita. Jika kamu masih memberontak dan membuat masalah, Papa tidak akan segan-segan membunuh pelayan tua itu dan sahabat baik kamu itu. Papa harap kali ini kamu bisa paham, karena Papa tidak main-main dengan ucapan Papa!"
Mendengar Tuan Andreas menyebut dirinya dengan sebutan Papa didepan gadis itu, Finn semakin yakin jika gadis itu adalah putri kedua keluarga Milano yang disembunyikan keberadaannya.
Merasa situasinya sudah cukup aman, Finn membuka pintu lemari dan melihat Giselle yang tengah berdiri memunggunginya, gadis itu sedang menangis. Finn mengeluarkan pistolnya dari balik jaketnya dan mengarahkannya ke arah Giselle. Dia bisa melihat keterkejutan diwajah gadis itu saat melihatnya.
"Akhirnya kita bertemu lagi, Nona Giselle Milano!"
Wajah Giselle menegang, tapi dia mencoba untuk tetap bersikap tenang. "Si-siapa kamu?"
Giselle memejamkan kedua matanya saat merasakan ujung pistol itu menyentuh keningnya.
Finn menatap darah yang sudah kering diujung bibir Giselle, air mata yang bercucuran diwajahnya. "Aku adalah orang yang lebih berbahaya dari papa kamu. Jika aku mau, aku bisa membunuhmu sekarang juga."
Giselle membuka kembali kedua matanya, tatapannya kini bertemu dengan mata pria misterius yang sedang berdiri tepat dihadapannya. Cukup lama Giselle menatap mata itu, merasakan jika tatapan itu tidak asing baginya.
Finn merasakan tangan Giselle mulai menyentuh wajahnya, dia bahkan membiarkan saat tangan Giselle membuka masker yang menutupi wajahnya.
"Finn..."
Finn menurunkan pistolnya dari wajah Giselle, "Buka baju kamu sekarang."
Giselle nampak terkejut, "A-apa?"
"Kamu mau buka sendiri atau aku yang membukanya?" tanya Finn, tatapannya begitu tajam.
Suasana kembali hening, hanya suara jarum jam yang terdengar. Satu persatu kancing piyama Giselle mulai terbuka, Finn membalikkan tubuh Giselle dan menurunkan piyama itu sampai ke perut. Matanya terpejam sesaat saat melihat begitu banyak bekas luka pukulan ditubuh gadis itu.
"Pakai kembali bajumu dengan benar!" perintahnya. Giselle mulai mengancingkan kembali kancing piyamanya.
Setelah kancing piyama Giselle terpasang kembali dengan benar, Finn mengangkat tubuh gadis itu dan mendudukkannya di tepian ranjang. Giselle cukup terkejut dengan perlakuan Finn padanya, namun dia tak memprotes.
Finn berjongkok di depan Giselle dan memakaikan plester yang sengaja dia bawa di tumit Giselle yang lecet saat di pesta tadi.
"Kenapa kamu baik padaku? Kamu sudah melihatnya sendiri bukan, selain Bi Nilam dan Kayla, mereka memperlakukan aku seperti binatang."
Finn menatap Giselle, kali ini tatapannya begitu lembut. "Lalu apa tujuanmu mendekatiku? Kamu ingin aku membantumu untuk keluar dari sini?"
Giselle mengangguk kecil, "Jika aku boleh memilih, aku tidak ingin terlahir menjadi keturunan keluarga Milano. Aku ingin melihat dunia luar, Finn... Merasakan hidup layaknya manusia pada umumnya,"
Finn mengusap air mata diwajah Giselle, "Aku akan membawamu keluar dan melihat dunia. Jika aku memintamu untuk menikah denganku, apa kamu mau?"
Permintaan Finn cukup membuat Giselle terkejut, namun dia tidak berani menjawab ataupun sekedar mengangguk. Finn sudah bertunangan dengan Selena, lagipula tujuannya mendekati Finn hanya untuk memanfaatkannya saja, tidak benar-benar ingin sampai memiliki, atau bahkan sampai mencintainya.
...✨✨✨...