Dosen, tampan, muda dan... duda.
Itulah panggilan yang disematkan mahasiswa terhadap Adam. Duda anak satu yang diam-diam menikahi salah satu mahasiswinya, Erica, dengan terpaut usia dua belas tahun.
Kehadiran Mona, mantan istri Adam justru memperkeruh suasana. Ia berusaha menguak masa lalu kelam Adam untuk merebut Adam dalam pelukan Erica.
Menikah dengan duda tidak seperti yang Erica bayangkan. Anak, mantan istri, dan masa lalu Adam selalu membayangi kehidupan Erica.
Mampukah mereka mengarungi kehidupan penuh cinta dengan duri dan bayang-bayang akan mantan istri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riskaapa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa Lalu
"Mas, apa yang kamu sembunyikan dari aku?" tanya Erica sesaat setelah menghabiskan sarapannya.
Mereka kembali dari puncak kemarin siang dengan perasaan tidak menyenangkan. Mengundang teman-teman Adam ternyata malah memperkeruh suasana, padahal niat Adam ingin mendekatkan Erica dengan mereka.
Hari ini Erica berniat kembali ke kampus, sedangkan Adam masih dalam masa cuti. Padahal Adam sudah meminta Erica untuk skip mata kuliah untuk satu minggu, tapi permintaannya ditolak halus.
"Tidak ada." Adam melipat koran yang sedang dibaca, lalu ditaruhnya di atas meja makan.
"Memangnya apa yang Mas sembunyikan dari kamu?"
Erica memalingkan wajahnya seraya berdecak, kesal menghadapi Adam yang seolah-olah tidak menyembunyikan apa-apa. Padahal ia tahu, ada yang tidak beres dengan Adam.
"Mbak Mona, Mas. Ada banyak kejanggalan dalam diri kalian."
Kini giliran Adam yang memalingkan wajah menghadapi Erica yang menatapnya serius. Gadis itu selalu serius jika menyangkut Mona.
"Kejanggalan apa, Ri?"
"Sudahlah, Mas. Jangan berlaga seolah-olah semuanya baik-baik saja. Aku tahu ada yang kalian sembunyikan dariku."
Adam menghela napas. Ditatapnya wajah Erica dengan lembut. Diraihnya kedua tangan Erica.
"Apa yang ingin kamu ketahui?" tanya Adam lembut.
"Mas dan Mbak Mona. Apa yang menyebabkan kalian berpisah?"
"Mona meninggalkan Mas saat Mas sedang kesusahan. Saat itu Mas sedang menempuh pendidikan S2. Mas bukan dari keluarga kaya raya, jadi Mas harus membagi waktu antara bekerja dan kuliah. Mamanya Mona tidak setuju melihat anaknya hidup susah dengan Mas. Saat usia Zhafran baru satu tahun, Mona minta di ceraikan."
"Lalu?"
"Ya cerai, sudah."
"Masa cuma segitu, Mas?" tanya Erica, tidak puas dengan cerita yang dituturkan oleh suaminya.
"Ya memang begitu ceritanya, Erica sayang." Adam membelai wajah Erica.
"Mas tidak berusaha mempertahankan mbak Mona?"
"Untuk apa mempertahankan orang yang ingin pergi? Sekuat apapun kita berjuang, jika yang diperjuangkan tidak memberikan peluang maka tidak akan pernah ada kemenangan."
Erica termangu. "Ini bukan tentang kemenangan, Mas."
Adam menggeleng pelan. "Memang bukan. Karena tidak ada yang kalah diantara kita."
Dahi Erica berkerut-kerut, tidak paham maksud ucapan Adam. "Maksud Mas?"
"Kamu sudah tahu bukan, bahwa Mona seorang perempuan malam?"
Erica mengangguk.
"Mona mendapatkan keinginannya untuk pisah dengan Mas, dan Mas mendapatkan kembali nama baik Mas sebelum menjadi seorang dosen."
Sesaat Erica terdiam. Benar apa yang dikatakan Adam, mempunyai istri seorang perempuan malam tentu akan merusak citra dan reputasinya sebagai seorang dosen.
"Mas malu punya istri seperti mbak Mona?" tanya Erica, hati-hati. Bagaimana juga, Mona masih menjadi hal yang sensitif bagi Adam.
Adam meletakkan kedua tangannya di bahu Erica. "Dengar, Ri. Laki-laki memilih perempuan karena masa lalunya, sedangkan perempuan memilih laki-laki karena masa depannya."
"Lalu kenapa Mas mau menikah dengan Mbak Mona kalau Mas memilih perempuan dari masa lalunya?"
"Mas terlalu bodoh, Ri."
"Bodoh?"
"Seperti yang Mas bilang, Mas terlalu sibuk bekerja dan belajar untuk mendapatkan beasiswa hingga Mas tidak tahu bagaimana cara bergaul dan memperlakukan perempuan."
Adam mengalihkan pandangannya pada tangan Erica. Diusapnya lembut kedua tangan mungil yang selalu menghangatkannya itu.
"Kamu yakin ingin mendengar semuanya? Yang akan Mas katakan ini berpotensi mengecewakanmu."
"Perempuan memilih laki-laki karena masa depannya," sahut Erica tanpa ragu, membalas tatapan Adam yang seolah memohon untuk menyudahi percakapan yang membahas masa lalunya.
"Mas melakukan one night stand dengan Mona."
Erica menatap mata Adam. Mencari kebohongan di sana. Tapi nihil. Tidak ada kebohongan disana, hanya kekecewaan yang tergambar jelas. Sama kecewanya dengan tatapan mata Erica.
Laki-laki yang Erica kagumi ternyata terbentuk dari masa lalu yang suram.
"Lalu?" suara Erica bergetar.
"Sebulan kemudian Mas menikahi Mona. Mas tidak tahu Mona seorang perempuan malam. Yang Mas tahu, Mona hanya seorang gadis yang Mas nodai."
Erica bergeming. Menyadari betapa polos, bodoh, dan bertanggungjawabnya seorang Adam. Hingga Erica tidak dapat membedakan mana yang lebih dominan dalam diri Adam.
"Sudah siang, Mas. Aku harus ke kampus, ada kelas," ucap Erica, menutup pembicaraan yang sebenarnya masih ingin ia ketahui lebih dalam. Meski ia tahu, semakin jauh menyelami masa lalu Adam maka akan semakin melukai perasaannya.
***
Syafiq menyambut. Lelaki itu menampilkan deretan giginya melihat Erica berjalan ke arahnya. Erica yang menyadari kehadiran Syafiq hanya tersenyum tipis, mengingat betapa kejam perlakuannya pada laki-laki itu beberapa hari yang lalu. Tapi laki-laki itu menyambutnya dengan penuh suka cita. Senyum yang merekah dan mata yang berbinar membuat Erica tidak habis pikir. Harus bagaimana lagi ia menolaknya?
Baru saja kaki Erica sampai di lobby, seseorang menyeretnya ke toilet. Dengan sekali tarikan laki-laki tersebut mendorong Erica masuk ke dalam toilet lalu menguncinya.
"Rey?"
Rey menyunggingkan senyum tipis. Saking tipisnya hingga sulit dikenali bahwa lelaki itu sedang tersenyum.
"Kau gadis yang tidak sopan rupanya."
"Om Rey?"
"Ck. Kau bukan keponakanku."
Rey melangkahkan kakinya mendekati Erica yang terduduk di atas kloset. Diraihnya dagu gadis itu, sementara sebelah tangannya mengunci pergerakan Erica.
"Om-"
"Sttt." Rey meletakkan telunjuknya di depan bibir Erica.
"Biar aku yang berbicara." Rey meletakkan kedua tangannya di samping kiri dan kanan tubuh Erica. Mengungkung gadis itu agar tidak membuat pergerakan.
Tubuhnya yang tinggi membuat Rey kesulitan mendekatkan wajahnya dengan wajah Erica yang semakin pendek dengan terduduk.
"Aku kemari karena kau adalah keponakan dari sahabatku, Hans. Adam juga sahabatku, tapi dia terlalu banyak mengacaukan hidupku."
"Tidak perlu berbasa-basi, to the point saja, Om!" tukas Erica, yang mulai tidak nyaman dengan perilaku Rey.
Rey terkekeh pelan. "Kau gadis polos yang agresif."
Tatapan Erica semakin tajam. Ia tahu, sejak awal Rey lah yang paling dingin kepadanya. Memang Erica baru beberapa kali bertemu dengan Rey, berbeda dengan Nicko yang selalu bertemu setiap kali bermain ke rumah Hans.
"Bercerai lah dengan Adam, kembalikan lelaki itu kepada Mona."
Napas Erica tercekat mendengar kata-kata Rey yang mengalun di telinga kanannya.
Rey semakin membungkukkan badannya, ia mendekatkan mulutnya ke telinga Erica. Membisikkan kata-kata yang membuat gadis itu bergeming dengan darah yang mendidih.
"Aku akan menggantinya dengan yang lebih baik dari Adam. Ku beri tahu, Nicko sudah lama menyukaimu."
Lalu, Rey mendaratkan bibirnya di bibir Erica. Mengecupnya lembut penuh perasaan.
"Kalau boleh dendam, aku ingin melakukan apa yang telah Adam lakukan pada gadisku."
***
Erica masih bergeming. Badan dan nyawanya berada di kelas, tapi pikirannya melayang jauh di luaran sana. Mata Erica lurus ke depan, tatapannya kosong menghadap layar proyektor yang tengah menampilkan slide presentasi.
Beberapa kali Syafiq melemparinya kertas yang di gulung kecil, berisi pertanyaan kenapa dan beberapa coretan gambar kartun. Sekilas Erica mengulas senyum, tapi tak lama kemudian ia kembali larut dalam lamunan.
Erica benci di permainkan. Rey yang datang tiba-tiba seolah-olah menerornya. Memintanya mengembalikan Adam pada Mona. Padahal heyyy! Erica tidak mengambil Adam dari siapapun. Adam lah yang datang sendiri padanya. Meminta Erica pada orangtuanya secara baik-baik.
Erica yakin, Rey berada di kubu Mona. Ia tidak tahu ada hubungan apa antara Rey dengan Mona, hingga perempuan itu berani mengirim Rey yang notabene sahabat Adam untuk meneror Erica.
Benda pipih di dalam tote bag hitamnya bergetar, menampilkan pesan singkat beruntun dari nomor tidak dikenal.
**Datanglah ke bawah pohon rindang samping gedung FEB
REY**.
Adam kamu harus sadar
GDA exrtapartnya Thor rasanya kurang😂😂