seorang pemuda remaja yang bernama Gilang, dipindahkan dari sekolah lamanya menuju sekolah baru yang berada di Sumatera.
Sumatera itu sendiri adalah tempat kelahiran asal Gilang dan orang tuanya sebelum pada akhirnya mereka pindah ke kota Jakarta.
di sanalah Gilang diuji untuk mendapatkan jati dirinya yang sesungguhnya.
pernyataan bahwa gelang bukan seorang manusia biasa, membuat gelang shock namun tidak membuat gelang depresi.
tugasnya kali ini, selain mencari jati dirinya ialah mengumpulkan semua keturunan terakhir dari inyek leluhur/manusia harimau.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuliana.ds, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps 19
Tidak memerlukan waktu yang lama, akhirnya Gilang dan Tasya pun memutuskan untuk menaiki kora-kora yang telah mereka pilih.
"Ati-ati bisa gak?."
Ucap Gilang sembari memegang tangan Tasya untuk membantunya naik ke atas kora-kora terlebih dahulu sebelum akhirnya disusul oleh gilang.
"Aman bisa kok.. kamu juga mau aku bantu?."
Ucap Tasya yang telah terlebih dahulu sampai dan duduk di atas kora-kora, dan mengulurkan tangannya untuk menarik Gilang naik ke atas kora-kora.
Itu dikarenakan tangga kora-kora yang mereka naiki agak sedikit darurat daripada yang lain. Mau bagaimana lagi hanya itu kora-kora yang masih bisa mereka naiki.
Yang lain semuanya sudah penuh, lagi pula tidak banyak jenis kora-kora yang mereka jumpai di acara malam ini.
"Gak. Makasih aja tapi gue bisa naik sendiri."
Jawab Gilang terhadap pertanyaan Tasya yang pada akhirnya Tasya menarik kembali uluran tangannya karena Gilang tidak menerimanya.
Dan tidak lama kemudian mereka telah mendapati posisi mereka masing-masing, di mana keadaannya Tasya dan Gilang memiliki posisi yang berlawanan arah.
" heh, inget ya. Kita ini lagi lomba siapa yang paling jago di antara kita berdua. Lo, apa gue."
Sorak Gilang sembari sedikit berteriak karena selain suasananya yang ramai dan tidak terdengar, itu juga menekankan bahwa Gilang menantang Tasya. Ditambah lagi cara Gilang menyampaikannya sembari menunjuk ke arah Tasya.
"Oke, siapa takut. Kalau aku kalah aku bakal bandarin kamu jajan selama 1 bulan buat di sekolah. Tapi kalau kamu yang kalah, buat satu bulan kamu harus ngikutin semua perintahku."
Ucap Tasya sembari menekankan suaranya mengarah kepada Gilang.
"Ee.. enak aja, nggak ada kayak gitu. Kita sama-sama aja, kalau gue kalah gue bakal jadi budak lo selama sebulan. Kalau lo yang kalah, lo juga harus ngelakuin hal yang sama jadi budak gue selama 1 bulan."
Tegas Gilang sekali lagi terhadap Tasya. Namun sebenarnya kata budak itu tidaklah cocok untuk mereka yang merupakan teman satu sekolah, satu geng, juga teman satu perjuangan.
Tasya sedikit tidak menyukai kata tersebut, namun agar tidak memanjang-manjangkan masalah Tasya menganggukkan kepalanya tanda setuju.
Tidak lama setelah perdebatan mereka, akhirnya kora-kora pun mulai aktif dan mengayun perlahan yang lama-lama menjadi semakin kuat dan semakin kencang.
\*\*\*
15 menit telah berlalu, bahkan Tasya dan Gilang pun telah turun dari kora-kora dengan keadaan yang sama-sama mabuk dan pusing.
Bukan hanya itu saja, kaki Gilang mulai bergetar dan merasa tidak tahan karena lemas serta sedikit takut.
"Hah hah.. ngeri banget anjir, ternyata rasanya benar-benar melayang."
Ucap Gilang yang kemudian tidak lama ia muntah karena merasa sangat mual dan pusing.
"Hahaha gimana, kamu udah ngaku kalah sekarang. Aku udah bilang aku itu sering naik kora-kora jadi kamu nggak akan menang melawan aku."
Ucap Tasya ya walaupun badannya agak sedikit bergetar, namun ia tidak sampai muntah karena memang Tasya sudah pernah beberapa kali naik kora-kora.
"Ha.. perasaan dulu gue pernah naik kora-kora deh, dan rasanya nggak separah itu. Gue suka kebut-kebutan, tapi gue nggak nyangka bakal setinggi itu sampai hampir muter."
Ucap Gilang yang telah mengelapi mulutnya karena muntah sembarangan, dan merasa bergidik ketika ia menatap ke arah kora-kora lagi.
"Iya deh iya, gue ngaku kalah. Gue tak sanggup lagi gue mau ke toilet, di mana toilet!."
Ucap Gilang yang sembari berubah menjadi sedikit panik, ketika ia mencari toilet namun ia tidak melihat tanda-tanda keberadaan toilet di sekelilingnya.
"Hahaha, kasihan banget sih kamu gilang.. ya udah di sana ada toilet untuk cowok, kamu ke sana dulu gih aku tunggu di sini. Jangan lupa kalau udah balik ke sini lagi ya aku masih nunggu di sini."
Ucap Tasya sembari sedikit berteriak karena ia langsung ditinggalkan begitu saja oleh Gilang menuju ke toilet umum.
Tidak lama kemudian, bilang keluar dari toilet umum dan menghampiri Tasya lagi.
"Haduh.. gila sih gila.. perut gue ampe' bener-bener mules. Udah kapok gue, lain kali gak bakalan gue naik kora-kora lagi seumur hidup gue. Gila tuh mengerikan."
Ucap Gilang yang sedikit terhuyung-huyung dengan cara berjalannya sembari kedua tangan memegang ke arah perut yang tadinya mules.
"Hahaha,, di mana sekarang, kamu harus nepatin janji aku kamu ya ke aku."
Ucap Tasya yang sembari merasa hidungnya telah panjang, karena berhasil menang dari Gilang.
"Eh neng, kalau sekedar ngasih lu jajan gue bisa, kalau sekedar ngelindungi lo gue juga bisa. Tapi kalau untuk on time di dekat lo, gue nggak bisa. Man mau gimana pun kita punya kesibukan sendiri-sendiri."
Ucap Gilang menjelaskan kepada Tasya untuk persyaratan mereka yang tadinya dibuat oleh gelang sendiri.
"Ih kamu gimana sih Gilang nggak nepatin janji banget."
"Eh bukan nggak nepatin janji, gue bisa nepatin janji ke lo, cuman gue nggak bisa 24 jam. Singkatnya ya gue cuma bisa kalau di sekolah aja."
Jelas Gilang yang melihat ke arah Tasya yang sedang memasang rokok wajah yang cemberut.
"Ya udah deh kalau gitu, nggak papa di sekolah aja Yang penting kamu menempati janji ke aku."
Ucap Tasya berseru terhadap Gilang yang berada di depannya.
*Walaupun cuman di sekolah doang, aku udah merasa senang kok. Setidaknya selama di sekolah kamu nggak bisa dekat-dekat sama Alina kalau ada aku*.
Batin Tasya sembari tersenyum menatap ke arah Gilang yang tepat berada di depannya sekarang.
Entah mengapa hal tersebut membuat Tasya merasa senang dan sedikit puas untuk hari ini.
Tidak lama kemudian ada beberapa orang yang merupakan teman sekolah mereka juga menuju ke arah Gilang dan Tasya dengan terburu-buru.
"Lang sya gawat. !.."
Ucap orang tersebut dikala iya telah sampai ke depan Gilang dan Tasya berpijak yang tidak lain ialah qalang.
"Kenapa lang, kamu kok buru-buru kayak gitu? Sebenarnya ada apa sih?."
Tanya Tasya yang sedikit mengerutkan jidatnya namun mencoba untuk menenangkan qalang yang saat ini sedang panik.
"Alina.. Alina,, !"
Ucap qalang yang laki-laki ia merasa sedikit gagap karena nafas yang tidak terkontrol dan sedikit dag dig dug.
"Eh, kenapa Alina,? Kalau ngomong lo yang bener dikit deh!."
Ucap Gilang yang merasa sedikit menaruh kecurigaan terhadap sikap qalang kala ini. Ia merasa ada yang aneh.
"Alina diculik."
"!!Apa!!"
Sontak dengan bersamaan Gilang dan Tasya berteriak kaget mendengar pernyataan tersebut.
"Bagaimana bisa,?"
Tanya Alina kembali yang mereka sekarang sembari berjalan menuju lokasi awal diculiknya Alina yang sekarang semua teman-teman mereka sudah berkumpul di lokasi tersebut.
"Aku nggak tahu jelasnya, cuma tadi ada temen Gilang yang ngeliat Alina dibawa sama orang aneh dengan keadaan Alina pingsan."
Jelas qalang yang laki-laki mereka masih tetap dengan keadaan sembari berjalan.
"Kok nggak di kejar sih, tahu temen lagi dalam bahaya.?."
Marah Tasya lagi terhadap qalang yang berada tepat di sampingnya yang hanya terdiam mendengar reaksi dari Tasya. Gilang juga hanya terdiam walau sebenarnya ia sangat panik dan mereka hanya bisa menambah kecepatan berjalan mereka agar lebih cepat sampai.