Berkisah seorang gadis yang terlahir buta dan yatim piatu. Menjadi Ibu Tunggal setelah melahirkan enam anak kembarnya yang tampan dan jenius. Hingga takdir mempertemukan mereka dengan seorang Presdir sombong dan kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asti Amanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19 #Daddy Banyak Uang
Setibanya di apartemen sederhana itu, air mata Aizhe tumpah ruah saat memeluk putri sulungnya, Ara. Napasnya terengah-engah, diselingi isak tangis yang tertahan. "Syukurlah… syukurlah, kalian semua masih bersama Mommy," bisiknya, mencium kening Ara berulang kali sebelum beralih memeluk satu per satu keenam anaknya. Kelegaan membanjiri wajahnya yang sembab.
Di sisi lain ruangan, Davis berdiri di samping Arzen yang memandangi adegan haru itu dengan tatapan sulit diartikan. Pandangannya terpaku pada Aizhe dan enam anak kembarnya.
"Pak, apa yang sedang Anda pikirkan?" tanya Davis memecah keheningan.
Arzen menghela napas, sorot matanya masih terpaku pada keluarga kecil di hadapannya. "Davis, menurutmu, apakah pilihan ini yang terbaik?"
"Pilihan apa, Pak?" Davis mengernyit, menunggu penjelasan.
"Saya… saya merasa ingin membawa mereka ke rumah saya. Tapi saya ragu, apakah ini akan jadi yang terbaik bagi saya atau tidak?" Nada suara Arzen terdengar bimbang.
"Daripada membawa mereka, lebih baik langsung nikahi saja Ibunya," saran Davis tanpa ragu, suaranya mantap seolah tak ada pilihan lain.
Arzen sontak menggelengkan kepala. "Tidak, saya tidak mau. Pernikahan itu harus didasari cinta, bukan—"
"Tuan Arzen," potong Davis, tatapannya kini jengkel.
"Saya benar-benar heran. Jika Anda tidak menginginkan pernikahan, lalu mengapa Anda merebut kesuciannya waktu itu?"
"Sudah saya katakan, Davis!" Arzen meninggikan suara, sedikit frustrasi. "Waktu itu saya khilaf, bukan karena cinta. Cinta dan khilaf itu artinya berbeda jauh!"
"Baiklah, terserah Anda," Davis menyerah. Ia menepuk bahu Arzen. "Tapi saran dari saya, sebaiknya Anda menikah demi masa depan anak-anak kalian. Lagipula, cinta itu bisa datang kapan saja." Davis kemudian membalikkan badan, tak tahan lagi menyaksikan suasana yang terasa begitu mengharukan sekaligus canggung itu. Ia melangkah keluar, meninggalkan Arzen dalam lamunannya. "Saya percaya, Tuan Arzen pasti bisa mengambil keputusan yang tepat untuk ini."
Setelah beberapa saat, Aizhe yang sudah lebih tenang memanggil Arzen. "Tuan, apakah Anda masih di sana?"
"Ya, Om itu masih di sini, Mommy!" seru salah satu anak kembarnya.
Arzen sedikit tersentak, gugup. "Mengapa menanyakan saya?"
Aizhe menatapnya dengan tulus. "Terima kasih banyak, Tuan, telah menemukan Ara dan memenjarakan pemilik tanah yang jahat itu. Saya berutang budi sangat besar pada Anda. Tolong katakan, apa yang Anda inginkan malam ini, Tuan?"
Arzen menyentuh dagunya, pandangannya melirik satu per satu keenam anak di dekat Aizhe. Mereka semua tampak lelah namun mata mereka memancarkan rasa ingin tahu. "Baiklah, saya mau bertanya sesuatu, tapi saya harap bisa dijawab malam ini juga."
"Baik, katakan saja, Tuan," Aizhe mengangguk, siap mendengarkan.
"Begini, ehem… kalau boleh tahu, di mana ayah anak-anakmu?" tanya Arzen, ingin mendengar langsung dari mulut Aizhe. Keenam anak itu pun, tanpa sadar, ikut menatap ibu mereka, seolah pertanyaan itu juga mewakili rasa penasaran yang telah lama mereka pendam.
Aizhe menunduk, suaranya lirih nyaris tak terdengar. "Soal itu… saya tidak tahu." Jawaban itu sontak membuat keenam anaknya menunduk lesu, raut kecewa terpancar jelas. Sementara Arzen, ia malah mengerucutkan bibirnya, entah mengapa.
"Maaf kalau begitu," Arzen mencoba pertanyaan lain. "Apa kau pernah menyukai pria selama hidupmu?"
Keenam anak Aizhe mengernyit heran, pertanyaan Arzen ini terasa begitu ganjil dan melenceng dari konteks.
Aizhe kembali menunduk, pandangannya kosong.
"Tidak ada. Saya belum pernah merasakan itu sebelumnya. Dicintai atau mencintai adalah perasaan yang tak mungkin saya dapatkan dari seorang pria."
"Berarti, cuma ayah mereka yang pernah dekat denganmu?" tanya Arzen seraya sedikit mendekat.
Aizhe mengangguk pelan. "Iya, hanya dia." Ia tak sanggup jujur bahwa sebenarnya kejadian itu bukanlah berawal dari cinta, melainkan sebuah pemerkosaan.
"Om, kenapa bertanya tentang itu? Apa tidak ada yang lain?" Axel, Nath, dan Zee merasa risih mendengar Arzen terus mengorek privasi ibu mereka.
"Baiklah, aku tidak akan bertanya lagi, ini sudah cukup," ucap Arzen cepat, sebelum kecurigaan mereka semakin menjadi-jadi.
"Kalau begitu, apa lagi yang perlu saya lakukan?" tanya Aizhe, merasa belum cukup membalas kebaikan Arzen.
"Mommy, sudah," mohon Axel, ia tidak suka melihat ibunya terlalu merendah.
"Tidak, sayang. Ini belum cukup membalas bantuan mereka kepada kita," kata Aizhe lembut.
Arzen mengamati sekeliling ruangan, pandangannya berhenti di arah dapur.
"Om, lihat apa?" tanya Ara yang masih berada dalam pangkuan Aizhe.
"Kalian punya makanan?" Arzen memegangi perutnya yang datar. "Saya mulai lapar."
Axel sontak berdiri, menawarkan rendang buatannya dengan antusias. "Ada, tadi kami makan rendang bebek, mungkin masih ada sisanya di dalam. Om mau coba?"
Mata Arzen berbinar-binar. Seketika ia berdiri. "Bagus, tunjukkan mana rendangnya!"
"Sini, ikut masuk, Om!" Axel mengajak Arzen menuju dapur.
"Hm, kenapa kalian diam saja, sayang?" tanya Aizhe pada Chloe, Nath, Zee, dan Arzqa. Hanya Ara yang sudah terlelap di pangkuannya.
"Itu, Mom, Om itu kan orang kaya. Kalau lapar 'kan tinggal makan di restoran mewah, bukan makan di sini," ucap mereka heran. Apalagi melihat Axel yang tadinya geram pada Arzen, tiba-tiba berubah lembut dan antusias. Sungguh aneh, bukan?
"Tidak perlu dipikirkan," Aizhe tersenyum. "Yang jelas kita harus bersyukur ada orang kaya yang bersedia membantu kita dan mau makan masakan kakak kalian." Mereka pun tersenyum dan memeluk Aizhe.
"Hei, Nak, apa kamu yang buat ini?" tanya Arzen senang, melihat rendang di depannya tampak begitu lezat dan nikmat.
"Benar, Om. Saya dan Mommy," jawab Axel cepat.
"Hm, aromanya enak sekali," Arzen menghirup dalam-dalam aroma rendang yang menggoda, hingga memenuhi paru-parunya. Ia tersenyum lebar, membayangkan dirinya berada di dalam panci yang berisi daging bebek empuk dan bumbu rendang.
"Kalau begitu, panggil orang yang bersama Om, mungkin dia juga lapar dan mau mencicipi masakan ini," ujar Arzen.
"Baik, Om!" Axel segera berlari memanggil Davis. Tiga puluh detik kemudian, Davis muncul dengan wajah keheranan.
"Hei, Pak, serius Anda mau makan di sini?" tanya Davis ragu.
"Diam dan duduklah," Arzen menyodorkan piring kosong. "Coba sendiri rendangnya!"
Davis pun mengambil piring yang diberikan Axel, kemudian ikut menikmati hidangan di atas meja kayu. Mata sipitnya langsung membulat sempurna setelah suapan pertama.
"Wow, ini lebih enak dari rendang di rumah Anda!" puji Davis, makan dengan sangat lahap.
"Hahaha, sudah kuduga kau akan menyukainya!" tawa Arzen puas, lalu menatap Axel. "Benihnya," pikirnya, "Dia tahu kesukaanku. Ini luar biasa! Lima bintang untuk Axel."
"Hei, Nak, di masa depan, saya jamin kamu akan menjadi koki terkenal di kota ini!" kata Arzen sambil mengangkat jempolnya. Wajah Axel memerah, hatinya berdebar senang mendengar pujian itu. Namun, kebahagiaan itu sirna, ia langsung menunduk lesu karena sadar diri, itu hanyalah angan-angan belaka.
"Hm, kenapa kamu sedih?" tanya Davis heran.
"Terima kasih, tapi Axel tidak punya apa-apa untuk mewujudkan itu," lirih Axel.
Davis tertawa kecil, "Puff, tak usah sedih, Daddy-mu ini punya banyak uang, nomor satu di kota ini." Saking nikmatnya rendang, mulut Davis tidak sengaja keceplosan. Bahkan, Arzen seakan nyaris mati tersedak setelah mendengarnya.
"Daddy? Maksudnya?" Tatapan Axel kembali menajam, penuh selidik.
"Hahaha, lupakan," tawa Davis mencoba mencairkan suasana. Arzen mengelus dada, berusaha mengatur napasnya kembali.
"Kalau begitu, Axel keluar dulu, Om lanjut saja makannya," pamit Axel, mulai risih berada di samping dua pria yang bertingkah aneh itu.
"Ck, kau ini hampir membunuhku!" Arzen kesal pada Davis.
"Maaf-maaf, Pak." Davis menunduk, mengakui kesalahannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
🤣🤣Ayo bongkar saja lah🤭