NovelToon NovelToon
Bukan Lelakiku

Bukan Lelakiku

Status: tamat
Genre:Poligami / CEO / Nikah Kontrak / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Mengubah Takdir / Romansa / Tamat
Popularitas:19.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ria

Kisah seorang gadis yang terjerat hubungan sangat rumit, dia menikahi seorang pria yang sama sekali tidak dia kenal.

Gadis itu mengambil keputusan dalam desakan yang tidak bisa dipungkiri. Keinginan, cinta pertama serta cita-citanya dia lupakan karena suatu tragedi yang menimpanya.

Di suatu ketika dia mengetahui rahasia besar, kenapa suaminya menikahinya? Dan rahasia itulah yang membuat gadis itu berubah 180°.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketakutan

Malam itu hujan turun semakin deras. Jika awalnya hanya ada sunyi, kini suara petir menggelegar dari sudut langit. Cahayanya sedikit menyulut nurani. Seolah-olah tiap terang yang hadir mampu merenggut sebuah nyawa.

Nindy memberhentikan mobilnya di sebuah pelataran rumah mewah tiga lantai dengan tubuh menggigil. Masih jelas dalam ingatannya tentang tubuh pria yang bersimbah darah.

Laki-laki itu sama sekali tidak bergerak saat Nindy pergi meninggalkannya. Ketika petir menggelegar sekali lagi, Nindy memutuskan untuk keluar dari mobil.

Dengan langkah gemetar, dia buru-buru menapaki anak tangga di sudut bangunan. Pikirannya semerawut. Di saat seperti ini, dia memikirkan laki-laki itu berjalan di belakangnya untuk menuntut keadilan. Bersusah payah Nindi melangkahkan kakinya untuk sampai di ujung anak tangga, karena tidak hati-hati kakinya tergelincir.

Beruntung ada seorang pria yang menangkap tubuhnya dengan pakaian yang lembab. Posisi rumah yang gelap membuat Nindy berteriak ketakutan, wanita itu menangis sejadi-jadinya memohon ampun kepada orang yang saat ini memegangi lengannya cukup kuat.

Meski gelap, Nindy dapat melihat kilatan mata tajam yang menukik menatapnya. Pria itu menatap wajah Nindy yang diwarnai gurat kekhawatiran dan rambutnya terlihat sangat berantakan, bibirnya pucat keunguan. Sementara tubuhnya gemetaran.

Nindy yang masih mengisi membuat laki-laki itu membentak sekencang-kencangnya.

“Stop Nindy!”

Suara bariton yang menggelegar membangunkan seorang anak berusia 5 tahun dari tidurnya yang lelap. Suara tangisannya bagai kekuatan sihir yang mendorong Nindy untuk menepis tangan besar Hardy.

Wanita berambut pirang tersebut berlari dengan kaki yang terseok menuju kamar besar terletak di tengah lantai dua.

“Mama di sini Sayang, jangan menangis!” katanya menenangkan sang anak.

Ketika dia menidurkan anaknya di ranjang, ekor matanya menangkap sekelebat bayangan orang di balkon. Rasa takut kembali menyelimuti hati Nindy dan tiba-tiba bayangan peristiwa tadi kembali terlihat jelas olehnya.

Wanita itu menjerit berlari meninggalkan anaknya yang saat ini terduduk melihat mamanya keluar dengan derai air mata ketakutan. Hardy yang sedari tadi duduk memunggungi mereka, mencoba memberi pengertian pada Afiqa.

“Putri papa yang cantik, bisa tidur sendiri?” tanyanya dengan seulas senyum.

Afiqa mengangguk, tapi gadis kecil mungil tersebut menanyakan keadaan mamanya.

“Tapi Pa, mama kenapa?” Penuturan gadis kecil ini membuat Hardy kebingungan saat ingin menjawab.

Pria berkumis tipis tersebut tersenyum lagi, sambil mengelus rambut lulus anaknya Hardy menjawab pertanyaan itu dengan kata-kata yang bisa dimengerti anaknya.

“Mungkin mama lagi stres memikirkan butik dan pekerjaan lainnya. Afiqa sekarang tidur, besok kita pergi jalan-jalan bersama.”

Hardy menarik selimut anaknya, sebelum dia meninggalkan gadis itu dikecupnya ujung kepala sang putri.

“Good night Papa," ucap Afiqa sambil melambaikan tangan.

Hardy mematikan lampu dan pergi mencari istrinya.

“Babe, kamu di mana?” teriak Hardy lirih.

Di lantai dua ini, pria itu tidak dapat menemukan istrinya. Sehingga dia turun ke lantai dasar untuk mencari wanitanya di ruang kerja.

Namun, di sana juga dia tidak dapat melihat sosok wanita yang 9 tahun dia nikahi.

“Nindy ... kau di mana?” Hardy mempercepat langkahnya untuk mencari di sekitar ruang tamu, tapi dia tetap tidak menemukan sang istri.

Tampak gurat kekhawatiran di wajah pria itu, kerutan di keningnya terlihat sangat dalam. Dia benar-benar gusar memikirkan istrinya yang entah di mana saat ini berada.

Kaki panjang itu berlari kecil menuju bagasi, dilihatnya mobil sang istri masih ada, tapi ada satu mobilnya yang tidak terlihat.

Bergegas dia keluar sambil berteriak memanggil Kafi—satpam di rumah ini.

“Kaf— Suaranya terhenti ketika melihat mobil Range Rover terpakir sembaran di halaman depan.

“Di mana kamu, Nindy?” Mata itu nyalang memandangi halaman rumah.

Saat dia hendak melangkah terdengar samar-samar suara rintihan istrinya.

Wanita Berdress merah jambu itu menatap kosong ke arah akuarium di sudut teras. Giginya gemeletuk, menggigit kuku-kukunya sampai berdarah.

“Wajahmu sangat pucat, kau sakit? Ayo, kita ke rumah sakit! Kamu ini bikin khawatir saja.” Hardy berdecak, tanpa tahu alasan istrinya bersikap seperti ini.

“T-tadi aku ....” Nindy menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

“Tenangkan dirimu! Lalu bicara,” saran Hardy dengan tangan menarik kedua tangan istrinya.

“I just hit someone,” katanya gugup dan kedua mata bergulir ke sana ke mari.

Pengakuan Nindy berhasil membuat Hardy berhenti langkahnya dan tangan besar itu melepas genggaman tangan mereka.

Sorot mata itu Hardy tidak dihiraukan oleh Nindy, bahkan dia masih sibuk menatap sudut taman kecil di depan rumah megah itu.

“Nindy, fokuskan dirimu!” bentak Hardy tidak paham akan sikap istrinya.

Sekali lagi pria bertubuh tinggi besar itu mencoba berkali-kali menyadarkan istrinya dari lamunan.

“Sebenarnya apa yang kamu cari?” desak Hardy agar istrinya menceritakan hal yang sesungguhnya.

Wanita itu masih saja sibuk dengan pikirannya sendiri tanpa menghiraukan suaminya bertanya.

“Nindy! Apa yang terjadi padamu?” Kedua kali sudah pria itu membentak Nindy.

Nindy yang tersesat dalam pikirannya kini sudah kembali ke alam sadarnya. Tangisannya pecah ketika dia menyadari sang suami berdiri tepat di depannya, dalam tangis tersebut dia kembali mengakui kesalahan fatalnya.

“Tadi aku ... nabrak orang.”

“Ngomong apa sih, kamu?”

“I'm serious honey. I just hit someone!” akunya di tengah Isak tangis. Saking bingungnya harus bagaimana, dia menarik surainya sangat kuat.

“Bagaimana keadaan orang itu? Parah?” tanya Hardy mendesak.

Wanita itu menggeleng lemah, “Aku tidak tahu, yang jelas pria itu mengeluarkan banyak darah.”

“Enggak tahu gimana?” todong Hardy dengan sorot mata yang menukik.

“Ayo, jawab Nindy!” teriak Hardy tidak menghiraukan keadaan rumah lagi.

“I'm scared honey. Aku sangat takut, waktu itu hujan lebih deras dan jalanan sepi banget. Aku sama sekali enggak tahu harus ngapain. Aku bingung banget, aku harus bagaimana?” beber Nindy panjang lebar, dia benar-benar tidak memikirkan keadaan keluarga orang yang dia tabrak.

“Sejak kapan kamu jadi pengecut? Di mana otakmu saat itu, huh?” pekik Hardy seraya mengguncang tubuh istrinya kuat-kuat.

Pria itu berbalik sambil mengusap wajahnya, “Bagaimana, jika orang itu mati? Seharusnya kau meneleponku atau telepon ambulance, Nindy!”

Nindy kembali berjongkok tanpa tenaga. Pikirannya kalut. Sempat terbersit dalam kelapanya tentang kemungkinan paling buruk.

Bagaimana jika orang itu benar-benar mati?

“Bodoh!” Hardy berdecak sampai-sampai kacamata yang ditaruh di atas kepala turun menyugar rambutnya dengan kasar.

Dalam keheningan itu, Nindy menangis tanpa suara. Dia menyesali emosinya yang meledak-meledak? Andai saja waktu itu dia tidak berdebat dengan Zainul mungkin dia tidak akan mengendari mobil dengan penuh emosi yang menyelimuti.

Kejadian tadi benar-benar diluar dugaannya. Dalam perjalanan itu, Nindy melihat jalanan tampak sepi, tidak ada tanda-tanda kendaraan lain akan melintas di sana. Sementara lampu tracfic sudah berkedip kuning. Daripada terjebak lampu merah, Nindy buru-buru menginjak pedal gas dalam-dalam.

Secepat hujan yang turun saat itu, Nindy nyaris tidak menyadari bagaimana mobilnya menghantam seseorang pengendara dari arah kiri. Ketika helm korban terpental, Nindy merasa lehernya tengah dicekik hingga membuatnya kesulitan bernapas.

"Ikut aku sekarang!" Hardy beranjak dari hadapan Nindy, lalu pria itu masuk ke ruang kerja. Tangannya menyambar jaket yang tadi sore dia kenakan.

"Hardy!" Suaranya tercekat memanggil sang suami.

"Kamu enggak bisa seperti ini! Kamu akan menjadi tersangka dalam kejadian ini jika orang itu mati."

"Aku takut, Babe."

"Ada aku. Kita kembali ke tempat di mana kamu nabrak orang itu. Kita harus bertanggung jawab atas kesehatannya," ajak Hardy sambil menarik paksa istrinya.

"Tapi, bagaimana jika dia sudah tiada?"

Hardy mengernyit, "Jangan bicara sembarangan!"

"Darah orang itu keluar terlalu banyak, aku yakin jika dia sudah tiada."

Suara petir dan kilat yang menyambar muncul tepat setelah wanita itu mengusap wajahnya dan meringkuk di dekat kaki Hardy. Setelah disekap keheningan, Hardy tidak punya banyak waktu untuk tetap diam di sana.

Tak peduli meskipun hujan turun lebih deras. Tidak peduli sekalipun angin yang berhembus malam itu terasa seperti menusuk tulang. Hardy tetap menyeret Nindy keluar dari ketakutannya, tanpa sepatah kata Hardy membiarkan istrinya duduk gelisah di sebelahnya.

sementara dia melajukan mobil Nindy dengan kecepatan tinggi. membelah hujan yang memburamkan jalanan, hanya butuh waktu 15 menit untuk kembali sampai di tempat di mana kecelakaan itu terjadi di depan lampu traffic yang menyala hijau Nindy dan Hardi duduk dalam kegamangan.

sosok pria yang dia tabrak sudah tidak ada di sana, hanya ada sisa darah laki-laki itu yang mengalir bersama hujan. Beberapa pecahan kaca dan body motor masih nampak berserakan. Jalanan masih sepi seperti yang terakhir kali Ning dilihat, tidak ada siapa-siapa di sana.

untuk sesaat Nindy bisa bernafas lega mengaliri paru-parunya. pria itu sudah diselamatkan, itulah kalimat yang terpikir di otaknya.

"Kita mau ke mana, babe?" tanya Nindy bingung.

Pria yang dia panggil 'babe' itu tidak menjawab sepatah kata, dia hanya sibuk mengendarai mobil dengan sangat fokus.

1
hasian077
next 👏, btw kepoin profil aku kakak hehehe baru belajar nulis butuh banyak saran juga.
👑⁹⁹Fiaᷤnͨeͦ🦂
wkwkwkw🤣
👑⁹⁹Fiaᷤnͨeͦ🦂
Jangan dibujuk lagi ras jangan
👑⁹⁹Fiaᷤnͨeͦ🦂
sensor
pєkαᴰᴼᴺᴳ
sedih😭😭😭
jangan jangan sudah firasat ini😑😑jangan bikin mereka kehilangan ayah 🥺
pєkαᴰᴼᴺᴳ
kakek ngegombal gak ingat usia 🤣🤣🤣jangan genit 😏
pєkαᴰᴼᴺᴳ
pak azmi melamun jangan2 karena thr belum turun🙈🙈
k⃟K⃠ B⃟ƈ ɳυɾ 👏🥀⃞༄𝑓𝑠𝑝⍟𝓜§
hayo siapa itu yang manggil 🤔🤔🤔🤔
k⃟K⃠ B⃟ƈ ɳυɾ 👏🥀⃞༄𝑓𝑠𝑝⍟𝓜§
konyol sekali kelakuan kalian 😂😂😂😂😂
sabar yah mue , ingin kuliah tapi liat kondisi keuangan 😓😓😓😓😓😓
pєkαᴰᴼᴺᴳ
jawab pertanyaan saja susah amat, pki gugup segala🤣🤭
pєkαᴰᴼᴺᴳ
jangan jangan bosnya juga suka ini🤭
pєkαᴰᴼᴺᴳ
untung ada bang jarwo yang anterin kamu mue🤣🤣🤣
pєkαᴰᴼᴺᴳ
gak mau ngaku kalau naksir 😄
🍒⃞⃟🦅𝐍𝐔𝐑𒈒⃟ʟʙc𝐙⃝🦜
mungkin Mue tau kalau keadaan ekonomi keluarganya saat ini sedang tidak baik baik saja makanya ia memutuskan untuk bekerja saja
🍒⃞⃟🦅𝐍𝐔𝐑𒈒⃟ʟʙc𝐙⃝🦜
Laras usil sengaja buat muez jadi salting sampe samoe muez keringatan
🍾⃝Ɲͩᥲᷞⅾͧเᥡᷠᥲͣh❤️⃟Wᵃf࣪ˢ⍣⃟ₛᯓℛ𓍝
sadar diri ya muezza wkwk
🍾⃝Ɲͩᥲᷞⅾͧเᥡᷠᥲͣh❤️⃟Wᵃf࣪ˢ⍣⃟ₛᯓℛ𓍝
aduh siapa sih yang gk pengen jadi pacar Andhika yg populer, ku juga pengen
🍾⃝Ɲͩᥲᷞⅾͧเᥡᷠᥲͣh❤️⃟Wᵃf࣪ˢ⍣⃟ₛᯓℛ𓍝
wkwk gak gitu juga, ngakak plis
🍒⃞⃟🦅𝐍𝐔𝐑𒈒⃟ʟʙc𝐙⃝🦜
semangat dan sukses buat authornya
🍒⃞⃟🦅𝐍𝐔𝐑𒈒⃟ʟʙc𝐙⃝🦜
masa putih abu abu adalah masa paling indah teringat jaman SMA dl pulang sekolah dikejer² ama fans 😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!