Reno Sebastian seorang Mafia yang kejam di dunia bawah tanah, sifat kejamnya tidak luput dari kejadian masa lalu yang menyakiti dirinya, hingga dia memulai membalas dendam dengan seorang wanita yang diduga anak dari dalang penyebab kematian orang tuanya yaitu Dara Pratiwi.
"Mas, sakit mas tolong jangan siksa aku lagi, sudah cukup mas aku mohon ada anak kita di dalam tubuh ku ini" ucap Dara dengan pasrah.
"Aku tidak peduli dengan anak sialan itu, yang penting orang tuamu harus mengalami kesakitan yang sama denganku!"
Bagaimana jadinya, jika ternyata selama ini Reno salah paham sehingga dengan tega dia menghabisi nyawa anak kandungnya sendiri yang bahkan belum lahir, apakah Dara akan memaafkan kesalahan Reno atau Dara kembali berbalik membalas dendam dengan Reno.
Semua itu dapat terungkap di dalam cerita "Penyesalan Balas Dendam"
Note, baca terlebih dahulu season 1 yang berjudul "Istri Kejam Milik Devan" agar teman-teman paham dengan alurnya nanti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mimicoco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertengkaran Dara dan Reno
Keesokan harinya, Dara mulai membuka kedua kelopak matanya dengan bersusah payah, sebab rasanya untuk membuka kedua matanya sangat terasa berat, apa lagi dirinya seperti sedang merasakan kantuk yang sangat berat.
"Dara, akhirnya kamu bangun juga," ucap Putri yang sedari kemarin masih terus menjaga Dara.
"Maaf, kamu siapa ya dan aku kenapa ada di sini," kata Dara yang masih bingung situasinya saat ini.
"Perkenalkan namaku Putri Aditya, adik dari Kak Reno, jadi ya intinya adalah kamu kakak ipar aku dan di sini aku menjaga kamu dari pria bajingan yang bernama Reno." Jawab Putri tanpa dosa karena telah mengolok-olok kakaknya sendiri.
"Oh, kamu adalah adik dari Mas Reno, pasti setelah ini kamu ikut membenciku juga bukan, karena pikiranmu sama dengan Mas Reno kalau ayahku penyebab kematian kedua orang tua kalian," ujar Dara.
"Tentu saja kami berbeda, aku memang tulus mau merawat kamu kakak ipar, bukan karena maksud dendam yang tidak jelas atau apalah itu, intinya kakak ipar tenang saja, Kak Reno tidak akan mengganggu kakak lagi," balas Putri dengan raut wajah tersenyum.
Mendengar perkataan Putri, tentu saja Dara lega karena akhirnya dia bisa terbebas dari jerat hukum suaminya. Namun, saat masih berbicara dengan Putri yang ternyata adalah adik iparnya. Tiba-tiba saja, sesuatu dari bawah Dara terlihat sangat perih, bahkan saat ini perutnya juga merasakan lebih kecil dari biasanya.
Melihat tingkah laku dari Dara, membuat Putri langsung menebak kalau sebentar lagi pasti kakak iparnya meminta penjelasan terkait keadaan nya, terutama keponakannya yang sekarang sudah tidak ada lagi di dalam perutnya.
Dara yang merasa ada sesuatu yang aneh dari tubuhnya, tentu saja langsung bertanya dengan Putri.
"Maaf Adik Ipar, kakak mau menanyakan sesuatu dengan kamu, kira-kira kenapa sekarang bagian bawah kakak merasakan sakit ya dan juga perut kakak tampak sedikit mengecil dari biasanya, apa jangan-jangan," langsung terhenti ucapannya, karena Dara teringat membayangkan kejadian dirinya saat diseret oleh Reno. Ingatan Dara kembali saat Reno menyeret Dara, sampai mengeluarkan sesuatu cairan berwarna merah dari kedua pangkal pahanya.
"Dek, tidak mungkin kan kakak keguguran." Sambung Dara yang langsung menatap Putri untuk meminta kejelasannya dari adik iparnya.
Putri yang melihat kakak iparnya sudah membicarakan calon keponakannya, hanya terdiam sambil menundukkan kepalanya.
"Jadi benar, kalau aku sudah keguguran."
"Maaf kak, karena Putri terlambat sehingga tidak bisa menjaga keponakan Putri," ungkap Putri yang masih menundukkan kepalanya, sembari menahan tangis.
Mendengar perkataan Putri, membuat Dara menangis sejadi-jadinya, sebab dia sudah berjanji kepada kedua orang tuanya dan juga dirinya sendiri, kalau anak yang sedang dikandungnya akan dia jaga dengan baik. Bahkan saat janinnya masih di dalam kandungan, Dara pasti selalu rajin mengeceknya, apa lagi untuk kebutuhan nutrisinya. Namun, sekarang kenyataannya adalah janinnya sudah tidak bisa diselamatkan lagi, karena gara-gara Reno, suaminya yang sekarang telah membunuh buah hatinya sendiri.
"Sial, kenapa aku bisa menikah dengan laki-laki keji itu sih, gara-gara dia, aku kehilangan anakku!" ucap Dara dengan emosi. Setelah itu, Dara langsung turun dari ranjangnya untuk bertemu dengan Reno.
"Kakak Ipar, lebih baik kamu tidur saja dulu, jangan bergerak kemana-mana," kata Putri yang langsung mendapatkan tatapan melotot dari Dara.
"Diam lah Put, ini semua gara-gara kakak kamu, karenanya nyawa anakku melayang, pokoknya aku harus mengajar suami laknat sepertinya!" balas Dara yang kemudian berlari keluar dari ruangannya.
Saat Dara keluar dari ruangannya, tanpa sengaja dirinya melihat si suami laknatnya tengah duduk di dekat ruangannya.
"Akhirnya aku menemukan kamu suami laknat," batin Dara yang kemudian langsung menerjang Reno dan memberikan beberapa pukulan dan tamparan di wajah mulusnya.
Plak, bunyi suara tamparan yang Dara layangkan dengan sangat keras tepat mengenai pipi Reno.
Mendapat serangan dari istrinya, membuat Reno pun akhirnya ikut meladeninya.
"Enak sekali kamu menampar wajahku, wanita sial!" ucap Reno yang kemudian berbalik menyerang Dara.
Kegaduhan diantara keduanya pun sontak menjadi sorotan bagi para pengunjung dan pasien di rumah sakit, bahkan terlihat jika keduanya saat ini pun masih terus melakukan perkelahiannya hingga akhirnya Reno yang memenangkan perkelahian itu.
"Lepaskan tanganku laki-laki laknat, gara-gara kamu, nyawa anakku melayang begitu saja, kamu memang pembunuh Reno!" kata Dara dengan berteriak keras.
"Sejak kapan aku membunuh anakku sendiri Dara, kamu jangan macam-macam ya," gertak Reno yang dia tujukan ke Dara, karena sekarang Reno baru sadar bahwa dia dan Dara sedang dikelilingi oleh para pengunjung dan pasien lain yang ada di sekitar luar ruangan Dara.
"Kamu jangan berkilah lagi Mas, gara-gara kamu menyeret aku dengan kejam, membuat kandungan aku bermasalah dan akhirnya aku keguguran," balas Dara lagi yang membuat orang-orang terhenyak sebentar dan langsung menghina dan mencaci maki Reno.
Bahkan tak jarang, orang-orang yang mengelilingi mereka juga ikut membantu Dara dengan cara memukul Reno menggunakan botol minum atau sejenisnya.
"Kalian semua, jangan dengarkan apa kata istriku, karena istriku ini menderita cacat mental, sehingga dia bisa bicara semaunya," teriak Reno yang sekarang sedang berbohong, agar orang-orang yang mengelilingi mereka langsung bubar.
Benar saja, baru tadi Reno mengatakan kalau Dara menderita cacat mental, langsung orang-orang yang mengerumuni mereka pergi satu persatu. Bahkan tak lupa, dari mereka ada yang sedang menyemangati Reno untuk tetap tegar menjaga istrinya.
"Maaf ya Pak, saya tidak tahu kalau istri Anda ternyata cacat mental, pokoknya Bapak harus sabar, pasti nanti istri Bapak akan sembuh," ujar salah satu orang yang tadi sempat ikut melempari Reno.
"Iya, terima kasih sudah menyemangati saya," jawab Reno dengan senyuman yang dibuat-buat ikhlas.
Setelah semua orang bubar, barulah Reno menarik tangan Dara untuk memberikan wanita itu pelajaran karena telah membuat dirinya malu.
"Lepaskan tanganku suami keji!" ucap Dara yang meronta karena tangannya langsung dicekal oleh Reno. Namun, tak sekalipun Reno mengindahkan ucapan Dara. Saat Reno masih membawa Dara, tiba-tiba saja Putri dari arah belakang berteriak dengan keras yang membuat Reno maupun Dara langsung terhenti langkah kakinya.
"Kak, mau kamu bawa kemana kakak ipar ku," ucap Putri dengan menaik-turunkan napasnya, sebab setelah membiarkan sesaat Dara pergi keluar, Putri langsung mencarinya kembali dengan berlari dan ternyata kakak iparnya itu mau dibawa pergi oleh Reno, kakak kandungnya.
Mendengar ucapan Putri dan langkah kaki suami laknatnya terhenti, tentu saja menjadi kesempatan Dara untuk melepaskan tangannya dari Reno dan langsung berlari menuju ke arah Putri.
"Untung ada kamu adik ipar, kalau tidak ada kamu, pasti dia akan melakukan kekerasan fisik lagi," imbuh Dara sambil menunjuk ke arah Reno.
hajat Reno untuk bersatu kembali dengan Dara tak kesampaian....