Menjadi pengantin yang tak direstui membuat Aiza dan Akhmar harus berperang dengan perasaan masing- masing meski sebenarnya saling cinta. Bahkan Akhmar bersikap dingin pada Aiza supaya Aiza menyerah dan mundur dari pernikahan, tapi Aiza malah melakukan sesuatu yang tak diduga. Membuat Akhmar menjadi takluk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Shu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masih Sayang
Di ruangan makan, sudah duduk Ismail, Qanita dan menyusul Aiza yang baru saja selesai mandi. wajahnya tampak segar. Pakaiannya rapi. Jilbab pasmina yang dililit- lilit dan diputar- putar hingga terlihat indah di kepala.
“Laki- laki itu mana? Suruh dia kemari!” titah Ismail.
Aiza mengernyit mendengar perintah abahnya. Ia mengedarkan pandangan, tidak ada Akhmar di sana. pasti yang dimaksud Ismail dengan menyebut ‘laki- laki itu’ adalah Akhmar.
“Akhmar itu menantumu, Mas. Dia punya nama. Sebut aja namanya,” ucap Qanita yang menyadari suaminya sangat keberatan menyebut nama Akhmar semenjak pria itu menjadi menantu di rumah itu.
Bagaimana mungkin lidah Ismail akan menyebut nama Akhmar? Dia tidak sudi. Dendamnya masih membara. Kebenciannya juga masih menggunung. Perubahan Akhmar yang terlihat lebih baik pun tidak mengubah segalanya.
“Baik, biar Aiza panggil!” Aiza meninggalkan ruang makan, berlalu menuju ke kamar Akhmar.
Saat ia sudah berdiri menghadap pintu kamar, ia enggan untuk memanggil. Akhirnya ia memilih untuk mengetuk pintu.
“Masuk!” Suara menggemaskan itu terdengar dari arah dalam kamar.
Hati Aiza bergetar mendengar suara itu. Seberapa banyak Akhmar melukainya, tetap saja perasaan tidak bisa dipungkiri. Aiza masih sayang.
Aiza membuka pintu. Akhmar tengah duduk di kursi sambil sibuk menulis sesuatu di kertas. Pria itu tengah mencatat barang- barang di tokonya. Dia tidak sedang leyeh- leyeh, melainkan sibuk bekerja.
“Abah mengajak sarapan!” ucap Aiza.
“Hm. Nanti aku menyusul.” Akhmar hanya sekilas menoleh ke arah aiza, kemudian lanjut menulis lagi.
Ck ck ck… Lebih dingin dari gunung salju. Sebenarnya apa yang membuat Akhmar berubah sedrastis ini? bahkan setelah menikah pun, Akhmar berubah begini. Apakah sebenarnya sejak awal Akhmar memang nggak niat menikah denganku? Dia berharap menikah dengan Aisha? Dan malah ujung- ujungnya nikah sama aku, makanya dia jadi benci begini sama aku?
Ada banyak pertanyaan menyerang benak Aiza. Ia berlalu meninggalkan kamar Akhmar dan kembali ke meja makan.
“Mana dia? Kok nggak ikut?” tanya Ismail yang melihat Aiza kembali tanpa Akhmar.
“Lagi ada kesibukan. Bentar lagi nyusul,” jawab Aiza, lagi- lagi harus membela suaminya di hadapan abahnya.
“Abah mau tau bagaimana perilakunya saat di meja makan. Nggak kebayang, tadinya udah berangan- angan bakalan makan bareng bersama dengan Aldan, malah begudalan itu yang menggantikan. Ini benar- benar seperti sinetron. Sudah sekuat apa abah memisahkan kamu dan Akhmar, tapi akhirnya malah menyatu dalam ikatan pernikahan. Benar- benar!” Ismail geleng- geleng kepala.
“Inilah yang dinamakan jodoh. Tuhan sudah menggariskan jodoh itu untuk Aiza,” jawab Qanita. “Sekarang tinggal bagaimana menjadikan rumah tangga Akhmar dan Aiza supaya terjaga dengan baik.”
Ismail tidak bicara lagi.
Tepat saat itu Akhmar muncul. Pria yang berpenampilan rapi dengan rambut disisir belah tengah hingga anak rambut menghias kening di kiri kanan itu langsung menarik kursi kosong yang berada tepat di sisi Aiza.
“Selamat pagi!” ucap Akhmar dengan rileks. Tidak ada beban meski ia menyandang sebagai menantu baru di rumah itu.
“Ayo, makan!” ajak Qanita ramah.
Qanita mengambilkan sedikit nasi uduk ke piring Ismail lalu menaruh lauk. Aiza melirik sikap uminya dnegan canggung, haruskah ia melakukan hal yang sama? Ah tidak. Aiza memilih untuk diam, menunggu Akhmar mengambil sarapan sesuai selera. Ada nasi uduk lauk pepes ikan dan ada bubur ayam. Tinggal pilih mana yang sesuai selera.
Akhmar mengambil nasi uduk sedikit, lalu mengambil ikan pepes.
Yes, Akhmar bakalan mencicipi masakan Aiza.
Sedangkan Aiza mengambil bubur. Ia tadi sudah memakan ikan pepes buatannya sendiri tanpa nasi, rasanya lezat sekali.
Bersambung