NovelToon NovelToon
Hati Sang Pewaris

Hati Sang Pewaris

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Action / Tamat
Popularitas:1.9M
Nilai: 5
Nama Author: La Lu Na

Ayah adalah cinta pertama seorang anak perempuan. Bagaimana jika seorang anak perempuan memiliki dua orang ayah? Haruskan cinta pertamanya terbagi? Atau harus memilih, kepada siapa dia harus berbakti?

Anak yang dilahirkan karena suatu kesalahan, dan harus ikut menanggung akibatnya seumur hidup. Pada kenyataannya memiliki dua orang ayah yang sangat menyayanginya tidak bisa merubah julukan sebagai anak haram yang telah melekat pada dirinya.

Sebaik apapun anak itu, bagaimanapun usahanya menjadi orang baik, tetap saja cap sebagai anak haram telah melekat padanya seumur hidup. Kisah yang dimulai dari sebuah kesalahan, akankah berakhir dengan kebahagiaan?

Bagaimana seorang anak tetap harus berbakti kepada orang yang telah membuatnya terlahir tanpa mempunyai nasab seorang Ayah.

‘Tidak bisakah aku hanya menjadi seorang anak seperti yang lain?’

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Lu Na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

❤ Teman boleh datang dan pergi, tapi ada seseorang yang tidak pernah hilang, yaitu saudara perempuanmu. Bahkan saat Ayah dan Ibumu tidak mengerti, justru Kakak perempuanmu bisa paham apa yang sedang kau rasakan.❤

Banyak yang bilang hari senin itu hari malas sedunia. Bagaimana tidak, setelah menikmati weekend dengan bersantai, menikmati hari libur, nyatanya banyak orang yang enggan menyambut datangnya hari senin.

Padahal sebenarnya hari senin adalah hari yang istimewa. Hari dimana catatan amal kita diperlihatkan kepada Alloh SWT, dan pintu surga dibuka. Senin yang merupakan awal pekan menjadi tolak ukur pencapaian kita selama sepekan nanti. Jadi tidak ada alasan bermalas-malasan pada hari senin.

Seperti seorang gadis yang sedang berjalan penuh semangat, menyusuri koridor sekolah tempatnya berbagi ilmu. Mengenakan setelan rok warna khaky dan kemeja putih yang ditutup blazer warna senada dengan roknya. lengkap dengan jilbab segiempat motif yang menutup kepalanya.

Seulas senyum mengembang kala berpapasan dengan beberapa siswa. Kegiatan yang Ia lakukan selama weekend sepertinya bisa membuatnya lebih bersemangat hari ini. Harusnya memang begitu, harus bersemangat setelah libur, bukan malah kebalikannya.

“Aneesha!” seseorang memanggil gadis itu dari arah belakang. Sontan Dia berbalik, dan melihat seorang perempuan sedang berlari kecil kearahnya.

“Ada apa, bu Thalia?”

“Mau ke kantin, kan? Bareng, ya?” ucap Thalia dengan nafas yang masih memburu.

Aneesha hanya mengangguk, kemudian keduanya berjalan beriringan menuju ke kantin sekolah sambil mengobrol.

Setelah sampai di kantin mereka berdua segera mencari tempat yang masih kosong, setelah sebelumnya memesan makanan pada penjaga kantin. Sambil menunggu pesanannya datang, kedua guru itu berbincang ringan. Tentu saja sambil sesekali memainkan benda pipih yang hampir tak terpisahkan dari kehidupan umat manusia jaman sekarang.

“Chattingan sama siapa, sih? Sampai senyum-senyum sendiri gitu?” tanya Thalia ketika mendapati Aneesha tersenyum sambil, ibu jarinya mengetuk pada layar ponsel.

“Teman, bu.” jawab Aneesha sambil tersenyum.

“Halah, teman atau teman? Kalau pacar bilang aja, Sha. Gak akan aku bilang ke yang lain.” selidik Thalia tidak puas dengan jawaban Aneesha.

Obrolan mereka terhenti ketika seorang wanita mengantarkan pesanan mereka. Wanita itu segera berlalu setelah meletakkan semua pesanan di meja.

“Saya nggak punya pacar, Bu. Ayah Saya kolot banget, nggak ngebolehin kami pacaran. Bahkan pernah jen-” kalimat Aneesha terpotong ketika indra penglihatannya menangkap sesuatu.

“Jenar?” Aneesha menatap dua orang gadis yang sedang duduk di salah satu bangku kantin. Ada beberapa anak laki-laki mengelilingi dua gadis itu. Bahkan ada seorang laki-laki duduk disebelah adiknya yang tampak merasa tidak nyaman.

“Jenar kenapa, Bu?” Thalia mengikuti arah pandang Aneesha.

“Astaga! Varen!” pekik Thalia, sampai menjatuhkan sendok yang baru saja Ia pegang. Membuat suara dentingan sendok beradu dengan mangkok.

“sepertinya Saya tidak mengajar di kelasnya, ya? Baru pertama kali ini saya melihatnya, Bu?” tanya Aneesha, matanya terus menyorot tajam pada anak laki-laki disebelah Jenar.

“Dia kelas 12, Sha. Kamu nggak mengajar di kelasnya. Asal kamu tahu, ya. Dia itu anak tak tersentuh disini.”

“Maksudnya, Bu?” tanya Aneesha bingung dengan penjelasan Thalia.

“artinya Dia bisa melakukan apapun sesuka hati disekolah ini. Dia anak pemilik yayasan, Sha.” jelas Thalia dengan suara lirih, takut didengar oleh orang lain. Thalia juga ikut melihat ke arah pandang Aneesha.

Jenar terlihat tidak nyaman dengan laki-laki yang duduk disebelahnya. Berkali-kali Ia akan beranjak tapi tidak diperbolehkan oleh laki-laki di sebelahnya. Bahkan laki-laki itu tak segan merangkul Jenar, meskipun berkali-kali Jenar menepis tangannya.

“Tidak bisa dibiarkan.” aneesha meninggalkan tempat duduknya, menghampiri adiknya yang sedang diganggu.

“Sha, mau apa Kamu?” thalia hendak mencegah tapi Aneesha terlanjur berjalan jauh dari jangkauan Thalia.

“Lepaskan Dia!” ketus Aneesha saat sampai di depan laki-laki yang sedang merangkul Jenar.

Semua mata melihat kearah Aneesha termasuk Jenar. Laki-laki yang duduk disebelah Jenar bergeming. Tangannya tetap bersandar di bahu Jenar. Jenar mencoba menepisnya, tapi laki-laki itu malah makin mengeratkan rangkulannya.

“Lepaskan Dia! Kamu dengar atau tidak?” Aneesha bersedekap, matanya menyorot tajam pada pria disebelah Jenar.

“Varen, jangan bikin gaduh. Biarkan Jenar dan arsya pergi!” Thalia memberanikan diri meminta Varen berhenti mengganggu muridnya.

“siapa kau? Guru baru?” ketus Varen menatap Aneesha.

Thalia menarik tangan Aneesha, berbisik ditelinga gadis itu,”Sha, udahlah. Berani kita berurusan dengannya, karir kita ancamannya.”

Aneesha bergeming, matanya masih menyorot tajam Varen. Jenar makin merasa tidak nyaman. Apalagi Aneesha menunjukkan raut wajah tidak suka dengan apa yang dilakukan Varen. Jenar menatap kakaknya dan menggeleng pelan, memberi kode agar tidak melanjutkan kegaduhan itu.

“singkirkan tanganmu dari bahunya!” aneesha bergerak maju, beberapa pria yang ada disitu segera berdiri menghadang Aneesha.

“Kalau aku tidak mau bagaimana? Apa hakmu melarangku berdekatan dengan Dia?” Ucap Varen dengan nada mengejek dan tetap merangkul Jenar.

Wajah Thalia berubah pucat pasi. Aneesha naik pitam, melihat adiknya berkali-kali menepis tangan Varen. Tapi tidak digubris oleh pemilik tangan itu.

Aneesha mendorong dua pria yang menghadangnya, lalu berdiri dibelakang Varen dan menarik paksa tangannya. Varen hendak melawan, tapi kalah cepat karena Aneesha telah memelintir tangan Varen, dan menguncinya di dengan kepala menunduk diatas meja.

“Aku punya hak melarangmu, karena Dia adikku!” ucap Aneesha pelan tapi cukup terdengar tegas di telinga Varen.

“Kak….” Jenar menarik lengan blazer milik Aneesha, takut jika Kakaknya dikeroyok teman-teman Varen yang sudah bersiap menyerang.

“Pengecut kalian jika mengeroyok seorang guru perempuan,”pandangan Aneesha tajam menyorot teman-teman Varen sambil menekan tangan Varen yang dipelintirnya.

Suasana kantin berubah mencekam, Aneesha menciptakan keributan yang membuat semua orang mengerumuninya. Thalia panik, segera berlari untuk memanggil bantuan.

“Sudah kubilang tadi, kan? Lepaskan tanganmu dari adikku, atau kupatahkan tanganmu ini sekarang?” Aneesha berkata tanpa membuka mulutnya, membuat suaranya terdengar sangat mengancam.

“AAaaa….. lepasin! Kau belum tahu siapa aku?” Ucap Varen sambil menahan sakit di tangannya.

“Kamu pikir, saya takut hanya karena kamu anak pemilik Yayasan?” jawab Aneesha ketus, sambil makin menekan tangan Varen membuat pria itu mengaduh lebih keras.

Jenar terlihat panik, Dia menarik kembali lengan blezer kakaknya, “Kak, sudah. Lepaskan dia! Kakak bisa berurusan dengan orangtuanya.”

“Aku tidak takut, Dek. Anak bandel seperti Dia ini harus dikasih pelajaran.”

“Ada apa ini?” kepala sekolah masuk ke dalam kantin, menyapu pandangan ke segala arah.

“Apa yang Anda lakukan, bu Aneesha!” mendengar kepala sekolah yang bicara, Aneesha mengendurkan kunciannya, membuat Varen segera melepaskan diri.

Ia menatap Aneesha dari atas sampai bawah sambil memegang pergelangan tangannya yang terasa sakit akibat diplintir oleh Aneesha tadi.

“Sudah, bubar! Bubar! Kembali ke kelas kalian masing-masing.” ucap kepala sekolah membubarkan kerumunan siswa yang tadi menonton aksi Aneesha.

“Kalian juga kembali ke kelas!” kepala sekolah menunjuk Varen dan teman-temannya. Sambil berlalu bersama teman-temannya Varen menatap tajam pada Aneesha. Wajahnya merah padam menahan amarah. Bagaimana tidak, Varen yang terkenal arogant telah dipermalukan oleh Aneesha didepan teman-temannya.

“Anda harus menjelaskan ini bu Aneesha.” Ucap kepala sekolah tegas, seraya melenggang pergi, Aneesha segera mengikutinya.

Aneesha tersenyum ketika melihat Thalia menangkupkan kedua tangannya didadanya, merasa bersalah.

Agak lama Aneesha berada diruang kepala sekolah, entah apa yang mereka bicarakan. Yang pasti tentang tindakannya di kantin tadi. Belum ada tiga bulan Ia menjadi guru di sekolah itu, Aneesha sudah membuat onar. Semua itu Ia lakukan karena membela adiknya. Kakak mana yang tega melihat adiknya diganggu.

Khawatir terjadi sesuatu dengan kakaknya, Jenar menyusul ke ruang kepala sekolah. Sudah beberapa menit yang lalu Jenar memandangi pintu ruang kepala sekolah yang tertutup rapat. Ingin mengetuk tapi ragu, akhirnya Ia putuskan untuk menunggu sampai pintu itu terbuka.

Tak selang berapa lama, pintu ruangan kepala sekolah terbuka dari dalam. Jenar segera menghampiri Aneesha yang baru saja keluar dari ruangan itu.

“Kakak!” panggil Jenar.

“Lho, kamu koq disini? Nggak masuk kelas?” tanya Aneesha dengan dahi berkerut.

“Kakak nggak diapa-apain, kan? Nggak disuruh berhenti ngajar, kan, Kak?” cecar Jenar, mengabaikan pertanyaan Aneesha sebelumnya.

“ha ha ha…. Kamu pikir kakak akan dipecat cuma gara-gara masalah tadi?” Aneesha tertawa sambil mencubit satu pipi Jenar.

Jenar mengangguk, “Orang tua kak Varen kan yang punya sekolah, Kak. Semua guru-guru disini nggak ada yang berani sama Kak Varen. Apapun yang dia lakukan dibiarkan gitu aja.”

“Kamu nggak usah khawatir, tadi kepala sekolah juga sudah cerita sama Kakak. Insyaalloh masalah tadi nggak akan bikin kakak dipecat dari sini.” Aneesha menangkup kedua pipi Jenar, meyakinkan adiknya itu bahwa dirinya baik-baik saja.

“Dia sering mengganggumu?” tanya Aneesha seraya berjalan beriringan dengan Jenar, menyusuri koridor sekolah.

“Tadinya nggak, Kak. Tadinya Kak Varen baik banget sama aku. Akhir-akhir ini aja, Dia sering ganggu aku. Karena-” Jenar terlihat ragu untuk melanjutkan kalimatnya.

“Karena apa, Dek?” Aneesha menghentikan langkah, menarik tubuh adiknya agar posisi mereka saling berhadapan.

Jenar sedikit menunduk, berbisik di telinga Aneesha, “karena aku tolak pernyataan cintanya.”

“Ha ha ha….” Aneesha tertawa, membuat Jenar segera menutup mulut Kakaknya itu.

“Jangan keras-keras, Kak!” Aneesha menepis tangan Jenas lalu menggeleng pelan.

“ternyata ada juga yang naksir adikku yang sudah tumbuh dewasa ini. Ha ha….” goda Aneesha.

“Tapi jangan bilang ayah sama bunda, ya, Kak. Ini rahasia kita.” Jenar bergelayut manja dilengan Aneesha. Padahal tubuhnya lebih tinggi dari pada Kakaknya itu.

“Oke, ini rahasia kita,” Aneesha berkata pelan, setengah berbisik.

Keduanya melanjutkan langkah. Menyusuri koridor sekolah yang sepi karena penghuninya berada di dalam kelas masing-masing.

.

.

.

Bersambung……

Tinggalkan komen menarik! Tekan like dan bintang lima. Kalau suka ajak teman kalian baca cerita ini.

Kalau ada lebihan poin boleh vote. Aneesha sayang kalian, hehe……

1
Yekti Utami
novel yg bagus, alurnya santai seperti kehidupan nyata....
Risty_Antiq
mas Tama... si duren sawit 😍😍😍
Risty_Antiq
recommend
Y.S Meliana
baru ketemu novel'y kak desi desma alias kak la lu na 😊😊😊
syuuukaaaa bgt sm novel yg pertama kali sy baca, ttg aneesha. nyandu bgt...
cerita'y ga pasaran, trs kalimat² nya ngena dan enak d baca'y.
terimakasih bnyk kak, udh bikin karya yg good abisss poko'y 😊
Desi Desma: terima kasih🤩
total 1 replies
Chalimah Kuchiki
siapa suamiiii jenarrr wweeeh
Chalimah Kuchiki
kami? kami siapa suami jenar.... mungkinkah pak hara
Chalimah Kuchiki
diganti sama pak hara kesayangankuuuu
Maria Kibtiyah
sesuatu yang di paksakan pada akhirnya pasti tidak bahagia ... menyesal pada akhirnya
Maria Kibtiyah
ica anaknya si tara
Maria Kibtiyah
kayaknya yg tunangan indira itu hamzah deh
Maria Kibtiyah
semua orang tau apa yang bakal terjadi sama tara dan aness kecuali aness
Maria Kibtiyah
tuh cewek apakah si maria .. hehe namaku juga maria😁
Maria Kibtiyah
pasti berhubungan sama ortu angkat si tara
Maria Kibtiyah
apa yg nelp si reyfan itu indira secara indira kan di prancis
Maria Kibtiyah
kayaknya bpk angkat si tara gak setuju deh
Chalimah Kuchiki
🤣 ya ampun adik kecil udh ga polos wkkw perasan aku dulu pas MP ga gini weh wkwk tetep malu2 akunya ga kaya aneesha
Chalimah Kuchiki
cie pak hara udh ngobrol aama jenar
Chalimah Kuchiki
sabar ya pak hara ada jenar dimasa depan
Chalimah Kuchiki
hadir enyong dari kebumen 🤭
Chalimah Kuchiki
2012-2018 aku di jkt sering bolak balik ke tangerang. karena punya temen cina benteng terus mainnya ke pasar lama tangerang. sekarang aku dibalikppn dari akhir 2018. ah jadi kangen pasar lama tangerang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!