Edwin, sosok lelaki yang tegas dan dingin. Dengan statusnya yang menduda karena divonis tidak bisa mempunyai keturunan, Edwin memilih hidup sendirian alias melajang.
Karena sebuah insiden kecelakaan pada adik laki-lakinya, dengan terpaksa Edwin harus menuruti permintaan kedua orang tuanya untuk menikahi perempuan yang sedang mengandung anak dari mendiang adik laki-lakinya itu.
Tidak dapat menolak dan membuat alasan apapun, pihak keluarga perempuan tetap akan menuntutnya agar segera menikahi putrinya.
Kedua orang tua Edwin yang tidak ingin nama baik keluarganya hancur, terpaksa Edwin lah harus menjadi penutup aib keluarganya. Mau tidak mau pernikahan harus berlanjut secepatnya.
Akankah Edwin mampu untuk jatuh cinta lagi dan menerima anak dari mendiang adiknya? tentu saja akan banyak konflik dan lika-liku nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak menyangka
Acara pengucapan kalimat sakral pun, akan segera dimulai. Pengantin mempelai laki-laki tengah duduk sambil menunggu calon istrinya datang.
Gugup, tidak sama sekali. Edwin sudah terbiasa menghadapi orang banyak, sedikitpun tidak ada kegugupan pada dirinya.
Sesekali ia menoleh ke samping, tidak juga melihat sosok calon istrinya itu seperti apa. Apakah calon istrinya itu cantik dan dengan perut buncitnya? atau ... dirinya hanya mendapatkan jebakan jika alasan menikahi perempuan hamil adalah akal-akalan semata, pikir Edwin yang mulai memikirkannya.
Karena malas berpikir dan menerka-nerka, Edwin segera menepisnya. Apapun kondisi istrinya nanti, mau tidak mau akan tetap menjadi istrinya. Edwin lebih memilih untuk tidak terlalu memikirkannya.
Cukup lama menunggu, akhirnya calon istrinya tengah berjalan mendekati tempat duduknya. Edwin sendiri tidak begitu memperhatikan sosok calon istrinya sendiri.
Begitu juga dengan Aluv, dirinya yang belum mengetahui siapa calon suaminya nanti, Aluv berusaha untuk tetap tenang dan tidak banyak pikiran.
Tuan Gentaram yang diminta untuk ikut duduk bersama calon besannya, mau tidak mau mengiyakan.
Kemal yang sudah mengetahui siapa calon suami adik perempuannya, hatinya terasa berat untuk melepaskan adiknya. Ditambah lagi tengah duduk berdekatan, membuat napasnya terasa bergemuruh.
"Kemal, tenangkan pikiran mu. Tahan emosi kamu, jangan bikin gaduh atau malu."
"Ya, Pa. Tenang saja, Kemal tidak akan berbuat gaduh maupun merusak acara pernikahannya Aluv." Jawab Kemal meyakinkan orang tuanya.
"Ya sudah kalau begitu, fokus dengan adikmu." Ucap sang ayah memberi pesan.
Kemal hanya mengangguk pelan, pandangannya lurus ke depan.
Sedang di tempat duduk calon pengantin perempuan maupun laki-laki, Aluv duduk dengan sangat hati-hati karena kondisi perutnya serta pakaian pengantin yang dikenakannya cukup membuatnya terasa tidak nyaman.
Sepasang suami istri pun, sama sekali tidak saling menoleh. Keduanya bagai Tommy dan Jerry, yang mana sama-sama acuh tak acuh.
Setelah keduanya sudah siap untuk memulai acaranya, Edwin menarik napasnya pelan dan membuangnya dengan kasar.
Edwin masih dengan posisinya yang menatap lurus ke depan, pandangannya sama sekali tidak berpindah. Sama halnya dengan calon istrinya yang juga tidak menoleh sedikitpun.
Begitu juga dengan Tuan Gentaram sendiri, Beliau juga tidak melihat sosok calon menantunya itu. Yang Tuan Gentaram tau, Edwin orang cukup terkenal dengan namanya, tetapi tidak untuk sosok fisiknya.
"Tuan Edwin," panggil dari pembawa acara pernikahannya untuk memastikan sosok calon pengantin lelaki.
Takut, pengantin lelakinya itu palsu.
"Ya, benar. Saya Edwin." Jawab Edwin dengan tegas.
"Apakah disebelah Tuan adalah calon istrinya? lebih jelasnya agar tidak salah orang, lebih baik untuk melihatnya sebentar. Karena saya tidak ingin kejadian yang tidak baik akan terulang lagi. Jadi, saran saya untuk melihatnya serta memastikan jika di samping Tuan benar calon istrinya." Ucapnya mencoba untuk memastikannya.
"Dan untuk calon istrinya, saya harap untuk menoleh ke calon suaminya." Sambungnya lagi.
Edwin yang memang penasaran dengan sosok istrinya, ia pun menoleh ke sampingnya.
Begitu juga dengan Aluv, dirinya ikut penasaran dan tentunya ingin melihat seperti apa calon suaminya itu.
Tanpa menggunakan hitungan, keduanya sama-sama menoleh kesamping-nya.
"Kak-kak-kamu!"
Keduanya sama-sama terkejut dan sama-sama membulatkan kedua bola matanya karena keterkejutan-nya.
Semua dibuat heran, lantaran sepasang calon suami-istri sama-sama melakukan pertemuan. Yang jelas, layaknya seperti membeli kucing dalam karung.