NovelToon NovelToon
Cemara Juga Punya Luka

Cemara Juga Punya Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Idola sekolah / Teen / Balas Dendam
Popularitas:425
Nilai: 5
Nama Author: Sifanursiami

Di balik rumah yang hangat, semua orang memakai topeng paling rapi
Bagi dunia luar, Haseena adalah remaja berprestasi kebanggaan Abah. Namun di balik tawanya, Haseena menderita gangguan kecemasan dan terpaksa meminum obat penenang secara sembunyi-sembunyi selama lima tahun lalu.
Haseena mengira hanya dia yang punya rahasia. Sampai suatu malam, dia menemukan botol obat misterius di saku jaket abangnya, melihat kode lampu senter berkedip tiga kali di kegelapan sawah belakang rumah, dan kakak perempuannya yang bersikeras ingin pergi jauh
"Kini, Haseena terjebak dalam sandiwara sempurnanya. Berpura-pura menjadi gadis ceria untuk menutupi paranoia, sambil diam-diam mengumpulkan kepingan teka-teki yang mungkin akan menghancurkan hidupnya selamanya. Haseena harus memilih: tetap menjadi 'Ahli Ngeles' yang dicintai publik, atau membuka kotak Pandora tentang hilangnya sang kakak—meskipun itu berarti ia harus kehilangan segalanya, termasuk pria yang baru saja ia percayai."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sifanursiami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

siara kembali menyala 2

Tak lama kemudian, pesanan mereka akhirnya datang.

Seorang pelayan meletakkan tiga gelas minuman di atas meja, disusul beberapa piring berisi makanan yang masih mengepulkan uap hangat. Aroma ayam geprek dan kentang goreng langsung memenuhi meja mereka.

"Nah, akhirnya datang juga," ucap Wafiza sambil meraih gelas es tehnya. "Dari tadi aku nahan lapar."

Aretha tertawa kecil. "Makanya jangan kebanyakan ngomong pas live."

"Lah, yang paling banyak ngomong kan kamu."

"Kan aku MC."

"MC apanya? MC kondangan?"

Mereka bertiga tertawa bersamaan.

Untuk sesaat, Haseena lupa pada beban yang beberapa hari terakhir terus menghimpit dadanya.

Di layar ponsel, komentar masih terus berdatangan meski mereka sudah tidak banyak berbicara.

"Kalian lucu banget."

"Semangat terus ya, Trio."

"Jangan lama-lama off lagi."

"Aku suka lihat persahabatan kalian."

Aretha membaca beberapa komentar itu sambil tersenyum.

"Aku jadi nggak enak kalau jarang upload."

"Iya," timpal Wafiza. "Followers kita ternyata setia juga."

Haseena ikut melihat layar ponsel.

Jumlah penonton masih terus bertambah.

Beberapa nama bahkan sudah sangat familiar. Mereka hampir selalu hadir setiap kali ketiganya melakukan siaran langsung.

"Terima kasih ya buat yang masih nungguin kita," ucap Haseena tulus. "Insyaallah setelah ini kita bakal mulai aktif lagi."

Kolom komentar kembali bergerak.

"Yang penting Kak Haseena sehat dulu."

"Jangan dipaksa kalau masih sedih."

"Semangat terus, Kak."

Haseena tersenyum kecil.

"Insyaallah."

Beberapa menit kemudian, mereka mulai menikmati makanan masing-masing.

Siaran langsung berubah menjadi obrolan santai. Sesekali mereka membahas tugas sekolah, rencana kelulusan, hingga cerita-cerita lucu selama menjadi panitia perpisahan.

Suasana yang sempat dipenuhi duka perlahan kembali hangat.

Namun...

Saat Haseena hendak mengambil tisu, tanpa sengaja pandangannya tertuju ke arah jendela.

Di seberang jalan...

Seorang pria bertopi hitam masih berdiri di bawah pohon yang menghadap ke arah kafe.

Wajahnya tidak terlihat jelas.

Ia hanya berdiri diam.

Tidak memainkan ponsel.

Tidak berbicara dengan siapa pun.

Tatapannya seolah mengarah ke dalam kafe.

Ke arah meja mereka.

Haseena mengernyitkan dahi.

"Kenapa, Seen?" tanya Aretha yang menyadari perubahan ekspresi sahabatnya.

Haseena kembali melihat ke arah luar.

Pria itu masih ada.

"Nggak..."

"Mungkin aku cuma salah lihat."

"Apa?" tanya Wafiza penasaran.

"Itu..."

Haseena menunjuk pelan ke arah jendela.

"Ada orang dari tadi berdiri di sana."

Aretha dan Wafiza spontan menoleh.

Namun...

Tempat yang ditunjuk Haseena sudah kosong.

"Hah?" gumam Wafiza. "Nggak ada siapa-siapa."

Aretha ikut mengangguk.

"Mungkin tadi orang lagi nunggu ojek."

"Iya kali ya..."

Haseena mencoba mengabaikan firasat aneh yang muncul di hatinya.

Mungkin benar.

Mungkin ia hanya terlalu lelah.

Atau mungkin...

Sejak kehilangan orang-orang yang paling ia sayangi, pikirannya menjadi lebih sensitif terhadap hal-hal kecil.

"Udah, makan lagi," ucap Aretha sambil menyodorkan sepiring kentang goreng.

"Nanti keburu dingin."

Haseena tersenyum tipis.

"Iya."

Mereka kembali mengobrol seperti biasa.

Tidak ada satu pun yang menyadari...

Di layar siaran langsung yang masih menyala, seorang penonton menuliskan sebuah komentar.

Komentar itu muncul hanya beberapa detik.

Lalu tenggelam di antara ribuan komentar lainnya.

> "Hati-hati, Kak. Orang yang berdiri di luar itu bukan kebetulan."

Tak ada seorang pun yang membacanya.

Bahkan Haseena sendiri.

Sebab beberapa detik setelah komentar itu muncul...

Aretha menekan tombol Akhiri Siaran Langsung.

Dan misteri itu pun berlalu begitu saja... untuk sementara.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!