Adli Aplosso suami dari Almara memutuskan menikah lagi karena nyaris lima tahun pernikahan mereka tidak dikaruniakan anak.
Saat frustrasi tidak disentuh lebih dari tiga bulan oleh suaminya sendiri yang sibuk dengan istri keduanya Alma tidak sengaja memiliki hubungan skandal dengan sepupu suaminya.
Sean Aplosso, yang selalu menganggap dirinya sebagai pemerkosa karena sudah menodai Alma.
Seharusnya itu menjadi hal yang buruk. Saat Sean menawarkan penjara, hukum, polisi dan jaksa kepada Alma, agar Sean dipenjara, Alma menolak karena berpikir ini bukan salah Sean, tapi kesalahan di kedua pihak jadi saya tidak perlu menjebloskan diri sendiri ke penjara. Alma tidak mau berurusan dengan hukum apalagi suaminya. Toh tak ada bayi yang akan dikandung karena dia mandul.
Tapi saat terbukti sebagai perempuan sempurna yang tidak mandul, Alma ternyata hamil. Dan Sean memaksa untuk bertanggungjawab untuk menikahi Alma, suami dari Alma dan Ayah dari bayi itu. Meskipun Sean akan menjadi Ayah dan Suami dari penjara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ollane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19: Anak Sulung Rehan Mahendra
"Tentu saja, kehadiran saya ingin membahas bisnis."
Sean tersenyum maskulin. Khas sekali. Ini yang Sean sebut professional, apapun alasannya tetap pekerjaan yang utama.
Rehan tersenyum tipis, "tentu saja. Saya tahu Anda tidak mungkin rela menanggung resiko."
"Saya bukan tidak menghormati mendiang Aldo, hanya saja, di sini saya butuh kepastian itu saja. Atau kontrak kerjasama harus dibatalkan."
Rehan menghela napas. "Baiklah, proyek kali ini aku yang akan menanganinya secara langsung. Tenang saja, semua proyek yang sudah kita sepakati akan berjalan dengan baik."
"Baiklah, saya senang mendengarnya."
"Perlu dibawakan minuman lain, Tuan Sean?" Rehan menawarkan, "sepertinya Anda tidak puas hanya minum dengan kopi hitam. Sebotol wiski, mungkin akan menyegarkan raga Anda." Tahu tabiat Sean yang suka minum, Rehan memberikan saran. Sekalipun stock minuman beralkohol di keluarga Mahendra itu terbatas, tersimpan hanya untuk tamu. Karena keluarga Mahendra terkenal berbudi-luhur yang menjauhi alcohol dan pergaulan bebas. Sehingga itulah sejak muda Aldo memiliki prinsip untuk tidak berbuat serong dengan Alma, karena kesucian pasangan itu perlu dijaga. Aldo tahu, tabiatnya dengan prinsip keluarga Mahendra amat berbeda.
"Tidak perlu, Tuan Rehan. Saya minum apa yang Anda minum," Sean memperlihatkan secangkir cairan hitam di gelas kecilnya. Keluarga Mahendra memang lebih suka kopi dan susu daripada minuman beralkohol. "Saya juga ingin menghentikan kebiasaan saya yang suka minum." Selalu yang diperlihatkan oleh ekpsresi mereka adalah ketakjuban saat mendengar niat Sean untuk berhenti minum-minum, padahal kebiasaan itu sudah mandarah-daging. Dahulu, Sean biasa minum alkohol 3 jam sekali, akan gila jika tidak minum sehari saja. Dan sekarang Sean bisa menahan diri sampai berhari-hari.
"Kalau begitu, secangkir kopi hitam lagi untukmu, Tuan Sean." Mengambil wadah kopi hitam panas, Rehan menuangkan kembali cairan tersebut ke cangkir kecil di tangan Sean. Sean mengucapkan terimakasih dengan tegas, lalu menyeruputnya. Ternyata kopi yang pahat cukup memanjakan lidahnya, memang tidak baik untuk lambung tapi setidaknya kopi tidak seberbahaya alcohol.
"Saya dengar Aldo belum dimakamkan ... kenapa Anda menunda?"
Rehan hanya tersenyum, "butuh sebuah 'penutup' agar anakku bisa tenang di sana. Saya akan segera memakamkannya setelah melakukan apa yang harus saya lakukan."
Sean hanya menautkan kedua alis. "Penutup?" Kata itu sedikit membuatnya bingung.
"Anda tidak akan mengerti, Tuan Sean. Ada satu hal yang sangat mengikat anak saya di dunia ini. Sebelum dikubur, anak saya harus bertemu dengan hal yang mengikatnya itu. Seseorang yang menjadi alasannya hidup dan seseorang pula yang menjadi alasannya untuk mati."
Senyum Sean terukir. Menarik. Ternyata mendiang Aldo memiliki kisahnya sendiri.
"Mungkin ini permintaan yang lancang, Anda boleh menolaknya. Bisakah saya melihat Aldo untuk terakhir kali sebelum dia dikubur ... kami pernah akrab sebelumnya." Sean hanya bersikap sebagai teman, karena meskipun hanya membicarakan bisnis dengan Aldo saat keduanya masih sama-sama di Paris, Sean pikir mereka cukup akrab sekalipun bagi Aldo tidak.
"Silahkan," Rehan tidak terlihat keberatan. Malah dia lebih senang jika mayat anaknya yang kesepian itu banyak yang menjenguk. Rehan sudah berdiri diikuti oleh Sean yang bangkit dari duduknya. Sean memperbaiki pakaiannya yang cukup berantakan, lalu mengikuti langkah Rehan yang mengantarnya. Sesampainya mereka di ruangan di mana tubuh kaku Aldo berada, Sean diam di tempat. Kabar itu tidak salah maupun mengada-ngada, Aldo benar-benar sudah tiada. Ajaibnya lelaki yang selalu dipuji-puji tangguh itu mati karena bunuh diri tapi belum diketahui alasan di balik tindakannya.
"Foto siapa yang dia peluk?" Sean terlihat cukup penasaran. Tangannya tanpa sengaja meraih foto tersebut. Sean tersentak kaget. Alma. Yang lebih muda 10 tahun. Mendadak ekspresi Sean berubah. Kembali diletakkannya foto Alma ke tempat semula. Kenapa ada foto Alma dalam dekapan mayat Aldo?
Sean berusaha mengendalikan pikirannya. Diraihnya tangan Aldo, hanya membawanya untuk berjabat. Layaknya mereka dahulu, berjabat formal dan hanya bicara bisnis. Setelah ini mereka sudah tidak bisa bekerjasama lagi. Sean hanya bisa mendoakan—jika doa Sean didengarkan Tuhan—dan Aldo hanya bisa meratap di bawah kubur.
>><<
Perjalanan pulang dari kediaman Mahendra, Sean Aplosso sibuk dengan ponselnya saat Dex menyetir. Dia berusaha menghubungi Adli, sepupunya. Tentu saja, kabar kematian Aldo harus dia sampaikan. Mungkin Adli kurang menahu, karena Adli adalah orang baru yang berpatisipasi dengan keluarga Mahendra. Proyek kerjasama pertamanya dengan keluarga Mahendra adalah proyek baru yang dia kerjakan bersama Sean. Yang Sean tawarkan padanya sebelumnya. Lebih dari empat panggilan Adli tidak membalas. Sean yang kali ini kesal nyaris melempar ponsel barunya ke luar kaca mobil andai Adli tidak keburu menelponnya balik.
"Ada apa?" Adli bertanya. Di seberang sana lelaki itu tengah makan siang bersama Yura.
"Mungkin bagimu ini kurang penting. Tapi sepertinya kamu perlu kuberitahu. Aldo Mahendra bunuh diri."
Dahi Adli berkerut. "Aldo Mahendra, siapa itu?" Namanya familier, Adli meneguk air mineralnya.
"Anak sulung dari Rehan Mahendra, tidak mungkin kamu tidak tahu."
"Oh, namanya familier."
Adli menyudahi makannya, jika tidak ada Alma selera makan Adli selalu berkurang. Dia hanya menghabiskan kurang dari setengahnya. "Sampaikan pesan dukaku kepada Tuan Rehan. Lain kali aku akan datang untuk berziarah." Adli menutup sambungan, lalu dibukanya kolom pencarian. Mengetikkan nama Aldo Mahendra. Tak ada foto yang terekspos. Sepertinya status Aldo begitu privat, bahkan tak ada foto umum yang jelas memperlihatkan wajahnya. Adli berdecak, ganti diketiknya nama Rehan Mahendra sekeluarga. Adli membuka kumpulan gambar. Foto Rehan Mahendra berseliweran dimana-mana, foto tunggal atau bersama mendiang istrinya. Adli mencari foto Rehan yang terpotret sekeluarga. Dia sangat penasaran dengan sosok Aldo Mahendra, yang namanya menyerupai mantan pacar Alma yang selalu menganggu istrinya itu.
Adli menemukan foto yang lengkap. Saat itu juga diperbesarnya gambar ke seluruh wajah anak-anak Rehan Mahendra. Matanya melebar saat mendapati Aldo benar-benar ada di sana. Adli meringis, ternyata sosok yang masih mengejar-ngejar istrinya bukan orang biasa. Anak sulung dari Rehan Mahendra, Adli tidak menyangka selama ini dia begitu enteng menghadapi Aldo. Mengejutkannya lagi, Adli meninggal bunuh diri?
Kenapa? Kini menjadi pertanyaan untuk Adli. Ah, jelas! Tentu saja karena Alma lebih memilih Adli daripada lelaki itu. Apakah terjadi sesuatu? Adli berubah penasaran. Sekarang Adli sama sekali tidak takut, jika Aldo bunuh diri berarti Adli yang menang. Adli menandaskan sisa minumannya, lalu menepuk kepala Yura. "Aku duluan, habiskan semua sisa makanan. Anak lelaki lain yang kamu kandung itu harus tumbuh sehat, sebagai ibu kamu yang banyak berperan."
"Kenapa akhir-akhir ini kamu cemberut terus, hem?" Adli menyambar tubuh Alma dari belakang. Alma yang tengah melamun setelah duluan selesai makan, hanya menoleh tanpa ekspresi. Adli mengendus sela leher Alma. Astaga, sangat harum. Adli mengecupi perlahan bahunya. Usapan tangan Adli yang berpindah ke perutnya membuat Alma tidak nyaman. Mengingatkannya pada sentuhan tangan Aldo dua hari yang lalu.
"Perlu kuberitahu sesuatu?" Adli berbisik manja.
"Apa?" Alma menjawab lalu diam.
"Aldo bunuh diri. Kalau begitu, tak ada yang harus menganggumu lagi. Begitu bagus 'kan?" Saat Adli mengatakannya, tentu saja Adli sadar tubuh yang dia peluk gemetar hebat. Adli tersenyum kecut. Alma sedih 'kah? Takut? Merasa bersalah? Kenapa tidak merasa bahagia saja, itu yang Adli mau. Seharusnya Alma bahagia.
Alma diam. Tapi dia tidak bisa mengontrol tubuhnya untuk tidak gemetar. Air mata Alma menetes. Tapi posisi Adli yang memeluk punggungnya tidak bisa melihat wajahnya yang menghadap ke depan. Adli mengecup pipi Alma, hal itu menggoyahkan hati Alma untuk tidak terisak.
sampe lumutan akoh...
sampe2 ai selingkuh sama tetangga sebelah,eh ..pas ngintip ksni msh blom2 jga ..
semangat y Sean aku ad d pihakmu kok💪😊