NovelToon NovelToon
Bima

Bima

Status: tamat
Genre:Romantis / Badboy / Tamat
Popularitas:351.6k
Nilai: 4.8
Nama Author: aisy hilyah

Sekuel dari novel Abang Penjual Sate, Imamku dan Ibu pengganti. Selamat membaca.

Seorang bayi yang masih merah, terlempar ke dalam jurang yang dalam. Ia ditemukan oleh wanita paruh baya, istri seorang preman pasar yang disegani. Ia dirawat sepasang suami istri itu dengan penuh kasih sayang walaupun cara didikan keduanya berbeda. Bayi itu diberi nama BIMA.

Hingga suatu hari ia bertemu dengan seorang gadis yang memiliki wajah hampir serupa dengannya. Dengan mempercayai sebuah mitos bahwa jodoh itu pasti memiliki kesamaan, keduanya pun menjalin hubungan pertemanan.

Namun, hal itu membuat ayah angkat Bima ketakutan. Ia memutuskan untuk pergi meninggalkan kampung dan menetap di kota. Hal itu membuat mereka harus mempelajari cara hidup di lingkungan baru itu.

Sampai sebuah pertemuan tak terduga terjadi, menguak siapa sesungguhnya Bima.

"Kak, kenapa wajah kita terlihat sama?" Gadis misterius.

"Kata Nyak gua kalo muka kita mirip ntu artinya kita jodoh. Neng, lu mau kagak jadi bini gua?" Bima.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part. 19

"Kenapa gua ngerasa kagak asing ma tu rumah, ya? Padahal, 'kan, gua baru di sini. Ah ... dah lah!" Bima mengibaskan tangan sebelum mengayuh sepedanya. Ia tak tahu jika Dewa sempat melihatnya tadi.

Dikayuhnya pedal sepeda itu, lebih cepat. Sebentar lagi Maghrib akan datang menyeru. Sementara di rumah besar itu, Revan berjalan lesu di teras. Ia menunduk sambil menenteng tas di tangan.

"Ada apa denganmu, anak manja? Kenapa kau terlihat lesu?" sambar seorang remaja laki-laki sambil menepuk bahu Revan. Bocah seusia Bima itu, menghendikan bahu tak ingin diganggu. Hatinya sedang kecewa karena Bima menolak ajakannya memasuki rumah.

Anak remaja itu memiringkan kepala, melihat kondisi adiknya yang terus menunduk. Bibir maju beberapa centi, cemberut dan sedih terlihat.

"Hei, ada masalah? Katakan saja pada Kakakmu ini! Apa anak itu mengganggumu lagi?" tanya sang Kakak sambil merangkul bahu kecil Revan dan meremasnya.

Kepala bocah itu menggeleng, tak ingin menyahut. Ia terus membawa kakinya melangkah memasuki rumah. Revan membanting dirinya pada sofa di ruang tengah. Raut kecewa jelas terlihat di wajahnya itu.

Sang Kakak mengangkat bahu tak acuh tatkala dua pasang mata bertanya lewat sorotannya. Ia ikut mendaratkan bokong di samping Revan, menelisik wajah yang ditekuk di sampingnya itu.

"Hei, jika ada masalah jangan memendamnya sendirian. Kau masih punya Kakak di sini, dan orang tua di sana. Jadi, katakan apa yang membuatmu menjadi seperti ini?" seru remaja itu lagi sambil menyentuh punggung adiknya.

"Sayang! Ada apa denganmu? Kenapa wajahmu murung seperti ini? Apa temanmu itu menyakitimu?" Suara wanita yang lembut diikuti sapuan di kepala membuatnya mendongak.

Maniknya yang sendu menusuk tepat pada biji coklat di hadapannya. Ia berhambur memeluk wanita itu.

"Apa aku masih boleh bermain di rumah dia, Mamah? Ibunya mengizinkan aku bermain di sana setiap hari," ucapnya dengan kepala terangkat. Pancaran maniknya penuh harap, ada kebahagiaan juga keraguan di dalamnya.

"Apa kau begitu senang bermain di sana? Hei, lihat! Baju siapa yang kau kenakan ini, sayang?" Wanita itu menjauhkan tubuhnya sedikit, menatap pakaian yang dikenakan putranya.

Revan memandangi tubuhnya sendiri, ia lupa mengganti baju sebelum pulang tadi. Wajah polos itu terangkat, bibirnya merekah membentuk senyuman yang meminta rasa maklum. Tangannya menggaruk pelipis antara malu dan bingung.

"Ini pakaian Bima, dia meminjamkannya padaku. Aku lupa menggantinya, Mamah. Bagaimana ini?" katanya bingung. Apa dia perlu mengembalikannya atau bagaimana?

"Kau ... diberi hati malah meminta jantung pula. Kau harus mengembalikannya. Dia itu hanya meminjamkanmu, tidak memberimu. Faham? Sanah pergi! Antarkan ke rumahnya!" timpal Kakak memasang wajah yang serius.

Revan menunduk, wajahnya berkedut-kedut ingin menangis.

"Akmal! Jangan menggoda adikmu seperti itu!" sergah Ibu mereka sambil mengusap kepala Revan yang mulai berguncang, "tidak apa-apa. Kau bisa menanyakannya besok. Kalau tidak, bawa serta baju ini saat nanti kau bermain dengannya. Sudah, jangan menangis lagi." Ia memeluk putra bungsunya, tangisnya mulai mereda sesaat wajahnya terbenam di dada sang Mamah.

Remaja yang dipanggil Akmal itu, mendengus. Ia beranjak setelah melirik jam di dinding. Sementara, Revan masih memeluk mamahnya karena merasa bersalah pada Bima telah membawa serta pakaian yang dia pinjamkan.

Di jalan, di antara kendaraan yang tiada habis melintas, seorang anak dengan berani mengayuh sepeda. Menyusuri pinggiran, mendahului kemacetan. Kedua kakinya bergerak lincah mengayuh pedal tak terlihat lelah sama sekali.

Dewa yang terjebak di antara kemacetan, kembali melihat anaknya. Ia tersenyum, Bima tumbuh mandiri dan kuat. Tidak pernah merengek kepadanya, tidak pernah meminta ini dan itu.

"Ati-ati lu, Tong!" Bergumam sendiri meskipun tak dapat didengar Bima. Ia akan kembali ke kantor sebelum pulang ke rumah.

"Besok hari libur, gua mau ajak anak ama bini gua ke mol. Sekali-kali mumpung gua dapat jatah liburan. Kagak sabar gua lihat sikap noranya si Tina." Ia terkekeh terbayang Tina yang melongo di pintu mal, terbayang pula sikapnya yang pasti bengong.

"Makin cinta gua ama dia. Bau masakannya udah kecium ampe sini. Laper gua." Bibirnya terus bergumam memuji sang istri. Teringat akan Bima yang ia lihat berada di rumah majikannya.

Terbersit ribuan tanya dalam benak, kenapa anaknya ada di sana.

"Apa Bima temenan, ya, ama anak majikan gua? Ngapa dia ada di rumah besar ntu tadi?" Berkerut dahinya, jarinya mengetuk-ngetuk kemudi menunggu lampu berganti hijau. Ia melipat bibir, berpikir tentang Bima.

"Gua kudu tanyain ama dia entar." Ia menjalankan mobilnya menuju kantor. Memarkirnya berjejer dengan mobil-mobil lainnya. Dewa enggan membawa mobil tersebut ke kontrakan meskipun diperbolehkan sebagai fasilitas karyawan yang disediakan kantor.

Ia lebih memilih menaiki sepeda motor bekas yang ia beli. Tersenyum bibirnya, Dewa masih terlihat gagah meskipun usia perlahan mengikis waktunya. Sebuah kantong plastik menggantung di motor, oleh-oleh untuk anak dan istri.

Bima sampai lebih dulu, ia baru saja meletakkan sepeda saat motor Dewa terdengar menderu. Senyum bocah sepuluh tahun itu merekah menyambut kedatangan Babeh yang selalu ia tunggu.

"Babeh!" Ia melompat memeluk Dewa. Ditangkap sigap kedua tangan laki-laki itu. Dewa mencium dahinya sebelum menurunkan tubuh gembil itu dari pelukannya. Kesederhanaan dan keharmonisan mereka, kerap jadi perbincangan para tetangga.

Mereka kagum dan terkadang iri pada Tina yang amat dicintai anak dan suaminya.

"Apa ini, Beh!" Bertanya sambil menyambar kantong plastik di tangan Dewa.

"Cuma jajanan, bakal temen ngobrol kita," jawab Dewa sambil melangkah memasuki rumah. Tina keluar menyambut kedatangan suami dan anaknya. Mencium tangan Dewa takzim bergantian dengan Bima yang mencium tangannya.

"Eh, Tong, tadi Babeh liat lu di rumah majikan Babeh. Ngapain lu di sana?" Bima dan Tina saling lempar pandang bingung. Yang mereka tahu Dewa bekerja sebagai keamanan di sebuah perusahaan.

"Majikan Babeh? Tadi Bima nganterin Revan pulang, dia maen di mari sepulang sekolah." Tina mengangguk membenarkan saat mata Dewa melirik ke arahnya.

"Jadi den Revan itu teman lu, Tong?" Bima mengangguk. Pandangannya berubah setelah mendengar tentang siapa Revan.

"Revan temen baek Bima di sekolah, cuman dia temen Bima yang tulus. Kalo Revan anak majikan Babeh, jadi segen Bima ama dia." Bima menunduk, merasa telah berbuat salah kepada Revan.

"Kagak usah begitu, orang tua den Revan baek. Mereka ntu sering ngomongin anak yang suka nolong den Revan. Pengen ketemu ama ntu anak katanya. Babeh kagak ngira kalo temennya itu ternyata anak Babeh Dewa. Bangga bet, dah, ah!" Ia tersenyum sambil menarik tubuh Bima ke dalam pelukannya. Tina tersenyum ikut merasa bangga pada anaknya itu.

"Jadi, Beh. Bima masih boleh maen ama Revan?" Kepala anak itu mendongak menatap manik Dewa.

Tangan kekarnya mencubit pipi chubby Bima dengan gemas. "Maen aja, siapa yang larang lu buat maen. Babeh kagak larang lu mau maen ama siapa aja," ucap Dewa disambut pelukan erat Bima dan senyum di bibirnya.

"Maghrib. Dah, sono ke mushola. Entar abis ntu kita makan," ucap Tina memberi peringatan pada keduanya. Maghrib sebentar lagi menyeru, Dewa dan Bima gegas membersihkan diri bergantian sebelum berangkat ke mushola. Bersyukur, masyarakat di sekitar bisa menerima Dewa dan keluarganya.

Kasih sayang yang didapat Bima tak pernah berkurang, perhatian yang tak jemu mereka berikan, menghadirkan rasa bahagia yang selalu membuat semangat hari-hari yang mereka jalani.

1
菲菲 Dwi L Arema
G ingat cp dia dlu
菲菲 Dwi L Arema
Dari dlu kenapa aulia ttp bego thor
🌹🪴eiv🪴🌹
terimakasih untuk tulisan indah mu thor
udah bikin aku yg pilek tambah 🤧 ,🤣🤣🤣
🌹🪴eiv🪴🌹
lah salah bully, anak sultan itu
habis kau Yola dkk 🤣
🌹🪴eiv🪴🌹
si Akmal kenapa jadi arogan begini 😫
🌹🪴eiv🪴🌹
ya Allah, Ibrahim di gondol anjing 😫
Alhamdulillah masih hidup 🤗
Christina Dariyem
Ya Allah mulianya hati ni orang sekeluarga nyesek banget
Aisy Hilyah: Alhamdulillah
total 1 replies
Christina Dariyem
Sedih banget ampe ikutan mewek dada nysek jg
Aisy Hilyah: terima kasih sudah membaca
total 1 replies
Christina Dariyem
cerita ya bgs banget saya suka sekali baca ini
Aisy Hilyah: Alhamdulillah terima kasih banyak
total 1 replies
Mareew
alur. kisah nya.. semua bagus
Aisy Hilyah: terima kasih banyak
total 1 replies
Mardiati Badri
good enough
Aisy Hilyah: terimakasih banyak
total 1 replies
Karmilah Milah
lanjut lagih dong cerita bima seru untuk di baca ngabu burit
Aisy Hilyah: Alhamdulillah hehe terimakasih banyak
total 1 replies
Sri Juliani
akh..ngapa athor begitu romantis dan puitis islami..semoga..bima membawa oran yg dapat menyejukan pembaca...
Aisy Hilyah: aamiin
total 1 replies
Sri Juliani
lama benar author tuk buat tes DNA.ya
Sri Juliani
mudah2 babeh mau berlapang dada..menerima kenyataan yg akan terjadi,jgn sampai karena ke egoisan nyak dan babeh bima jadi benci..
Sri Juliani
hati2 pak dewa..takutnya terjadi percintaan sedara,ayyra ingatkan adikmu,ceritakan pada nassya,agar dia tahu bahwa dia punya kakak laki2..
Yurniati
extra part thorr
Aisy Hilyah: hmm nanti dipikirin lagi hhe
total 1 replies
Yurniati
lanjut thorr
Aisy Hilyah: terimakasih banyak
total 1 replies
sri mindaryati
pas bima ngrokok maskernya dibuka apa ga ya
Aisy Hilyah: dibuka masa dilubangi kayak si kakek 🤭
total 1 replies
Uliana Takbir
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!