NovelToon NovelToon
Sang Kaisar Abadi Yang Terlahir Kembali

Sang Kaisar Abadi Yang Terlahir Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Seorang Kaisar Abadi yang berkuasa dan ditakuti di seluruh alam semesta dikhianati dan dibunuh oleh orang-orang terdekatnya. Namun, alih-alih jiwanya hancur, ia terbangun kembali sebagai seorang pemuda tak berguna di sebuah klan kecil yang hampir punah, ribuan tahun di masa depan. Dengan semua ingatan dan pengetahuannya yang luas dari kehidupan sebelumnya, ia memulai kembali perjalanan kultivasinya. Kali ini, ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Sang Bayangan yang Tak Terduga

Keheningan yang menyelimuti Lapangan Batu Hitam terasa lebih memekakkan daripada sorak-sorai sebelumnya.

Beni Wirya terduduk di tanah arena, tangannya gemetar menekan dada yang kini dihiasi lima goresan merah. Darah menetes di antara jari-jarinya, membasahi jubah merah marun kebanggaan klannya. Matanya menatap Arga dengan campuran rasa sakit, tidak percaya, dan ketakutan yang sama seperti yang ia tunjukkan di hutan sebulan lalu.

"Pe... pertarungan selesai!" suara wasit terdengar ragu, seolah ia sendiri tidak yakin dengan apa yang baru saja disaksikannya. "Pemenang... Arga Sanjaya!"

Tidak ada sorakan. Hanya bisik-bisik yang mulai merebak seperti api di rumput kering.

"Itu tadi apa?" "Cakaran energi? Dia bahkan tidak mengeluarkan Qi!" "Bukankah dia si sampah klan yang tidak bisa berkultivasi?"

Arga tidak mempedulikan bisikan itu. Ia menurunkan tangannya dan berbalik, berjalan kembali ke area tunggu Klan Sanjaya. Langkahnya tenang, seolah baru saja melakukan hal paling biasa di dunia.

Di tepi arena, ia melintas di depan Arman. Sang paman menatapnya dengan mata menyipit—bukan kekaguman, melainkan kewaspadaan yang semakin dalam. Ada sesuatu dalam sorot matanya yang membuat Arga yakin: pria itu mengenali energi di balik cakarannya tadi.

Dia tahu sesuatu tentang warisan ibuku.

Arga menyimpan pikiran itu dan melanjutkan langkahnya.

"Arga!" Suara Raka memanggilnya. Pemuda dari Sekte Awan Kelabu itu berdiri di dekat area tunggu, lengannya masih diperban setelah pertarungannya melawan Surya. Wajahnya menunjukkan ekspresi yang sulit dibaca—antara kagum dan curiga. "Apa yang kau lakukan tadi... itu bukan teknik biasa."

"Aku menang," jawab Arga singkat.

Raka tertawa kecil, lalu meringis karena luka di rusuknya. "Ya, kau menang. Tapi pertanyaannya adalah bagaimana."

Sebelum Arga sempat menjawab, suara berat terdengar dari arah arena.

"Arga Sanjaya."

Ia menoleh. Surya berdiri di seberang arena, di antara perwakilan Klan Wirya. Tinggi, berambut perak, dengan mata dingin yang kini menatapnya lurus-lurus. Di sampingnya, dua petugas klan sedang membantu Beni yang terpincang-pincang keluar arena.

"Kau melukai adikku," lanjut Surya, suaranya tidak meninggi tapi entah bagaimana bisa terdengar oleh seluruh arena. "Di hutan, kau mempermalukan Rudi. Hari ini, kau merobek dada Beni. Kau pikir kau bisa bertindak sesuka hati terhadap Klan Wirya?"

Arga balas menatapnya. "Mereka yang memulai. Aku hanya menyelesaikan."

Beberapa orang di kerumunan menahan napas. Tidak ada yang bicara seperti itu pada Surya Wirya—jenius nomor satu di generasi muda klan tersebut, yang katanya sudah menyentuh puncak Pemurnian Qi tahap keenam.

Surya tersenyum. Senyuman yang tidak mencapai matanya. "Baik. Kalau begitu, mari kita selesaikan di arena. Kalau kau bisa mencapai babak final."

Ia berbalik dan berjalan pergi.

Arga menatap punggungnya hingga menghilang di antara kerumunan. Di dalam Dantian-nya, Benang Perak berdenyut pelan—seolah merasakan tantangan yang baru saja dilayangkan.

---

Babak demi babak berlanjut.

Arga memenangi dua pertarungan berikutnya dengan cara yang membuat seluruh arena semakin tidak percaya. Lawan pertamanya setelah Beni adalah seorang kultivator tahap keempat dari klan kecil—ia mengakhirinya dalam satu gerakan. Langkah Bayangan Bulan membawanya ke belakang lawan sebelum sempat bereaksi, dan sebuah pukulan sederhana ke titik lemah di leher membuat lawannya roboh.

Terlalu mudah, pikir Arga. Tapi itu karena mereka meremehkanku. Mereka masih melihatku sebagai sampah.

Lawan keduanya berbeda. Seorang pemudi dari Sekte Angin Timur, tahap kelima, dengan teknik pedang yang cepat dan berbahaya. Ia tidak meremehkan Arga—ia menyerang dengan serius sejak detik pertama.

Sret! Sret! Sret!

Tiga tebasan beruntun. Arga menghindar dengan Langkah Bayangan Bulan, tubuhnya bergerak seperti asap yang tertiup angin. Setiap tebasan meleset dengan selisih beberapa senti—cukup untuk membuat penonton bergumam kagum, cukup untuk membuat lawannya frustrasi.

"Berdirilah diam!" bentak pemudi itu, mengayunkan pedangnya lebih cepat.

Arga tidak menjawab. Ia terus menghindar, memancing lawannya untuk mengeluarkan semua jurus. Dan saat sang pemudi mulai kelelahan, ia bergerak.

Teknik Cakaran Naga Penghancur.

Lima garis perak menyambar ke arah pedang, bukan ke tubuh. Logam bertemu energi dari Langit Kesepuluh.

Klang!

Pedang itu terlepas dari genggaman, terpelanting ke tanah. Pemudi itu menatap tangannya yang kosong dengan mata terbelalak.

"Aku... aku menyerah," bisiknya.

Sorakan mulai terdengar. Bukan sorakan mengejek seperti sebelumnya, melainkan sorakan kagum. Penonton mulai menyadari bahwa mereka sedang menyaksikan sesuatu yang tidak biasa.

Di area tunggu Klan Sanjaya, Ardi yang masih diperban menatap Arga dengan ekspresi pahit. Darmo tidak bisa menyembunyikan kekagumannya meski enggan. Hanya Raka yang tersenyum tipis.

"Aku sudah menduganya," gumam Raka. "Orang ini... dia bukan Arga yang dulu."

---

Matahari mulai condong ke barat ketika babak semifinal diumumkan.

"Arga Sanjaya melawan Bima Hutan Lestari!"

Arga melangkah ke arena dan mendapati Bima sudah berdiri di sana, pedang kayunya terselip di pinggang. Pemuda berambut cokelat kusut itu tersenyum lebar.

"Akhirnya," katanya. "Aku sudah menunggu ini sejak lama."

"Kau tidak akan mengalah, katamu?" tanya Arga.

"Tentu saja tidak." Bima mencabut pedangnya. "Aku ingin melihat seberapa jauh kau berkembang, teman misteriusku."

Pertarungan dimulai.

Berbeda dengan lawan-lawan sebelumnya, Bima tidak meremehkan Arga. Ia sudah melihat apa yang bisa dilakukan pemuda itu di Hutan Timur. Ia tahu Langkah Bayangan Bulan dan Cakaran Naga. Dan ia sudah menyiapkan strategi.

Serangan pertamanya ke arah kakiku, pikir Arga saat melihat sudut ayunan pedang Bima. Dia ingin membatasi pergerakanku.

Arga melompat, menghindari tebasan rendah, dan langsung meluncurkan Cakaran Naga. Tapi Bima sudah bergerak lebih dulu—ia berguling ke samping, dan cakaran energi itu hanya mengenai tanah, meninggalkan lima goresan dalam di batu hitam.

"Cih, cepat juga," gumam Bima sambil bangkit. "Tapi tidak cukup cepat!"

Ia menyerang lagi, kali ini dengan kombinasi tusukan dan tebasan yang memaksa Arga terus bergerak. Langkah Bayangan Bulan Arga diuji hingga batasnya—setiap gerakan harus tepat, setiap perpindahan berat badan harus sempurna.

Dia memaksaku bergerak lebih cepat dari biasanya. Dia tahu Cakaran Naga butuh waktu sekejap untuk diaktifkan.

Arga tersenyum tipis di tengah pertarungan. Dia benar-benar teman yang baik.

Pertarungan berlangsung selama sepuluh menit—yang terpanjang bagi Arga hari itu. Keduanya saling membaca gerakan, saling mengantisipasi, saling mendorong hingga batas kemampuan.

Akhirnya, Arga melihat celah. Saat Bima melakukan tusukan lurus, ia tidak menghindar ke samping seperti biasanya. Ia melangkah masuk, masuk ke dalam jangkauan pedang, terlalu dekat untuk ditebas atau ditusuk.

Mata Bima membelalak.

Cakaran Naga meluncur—tapi bukan ke tubuh Bima. Hanya ke pedang kayunya, memotongnya menjadi dua bagian bersih.

Bima menatap potongan pedang di tangannya, lalu tertawa. "Baiklah, baiklah. Kau menang." Ia melempar sisa pedangnya dan mengangkat tangan. "Aku menyerah."

Sorakan membahana. Untuk pertama kalinya hari itu, nama "Arga" diteriakkan oleh penonton.

Bima mendekat dan menepuk bahu Arga. "Final nanti, hati-hati dengan Surya. Dia bukan lawan yang sama dengan yang kau hadapi hari ini."

Arga mengangguk. "Terima kasih, Bima. Untuk semuanya."

Pemuda itu tersenyum. "Panggil aku temanmu, itu sudah cukup."

---

Malam mulai turun ketika pengumuman final disampaikan.

"Pertarungan puncak! Arga Sanjaya melawan Surya Wirya!"

Seluruh arena bergemuruh. Dua nama yang paling tidak terduga bertemu di final—sang jenius Klan Wirya melawan sang mantan sampah yang kini menjadi sensasi.

Arga berdiri di arena, merasakan Benang Perak di Dantian-nya berdenyut kencang. Setelah rentetan pertarungan hari ini, panjangnya kini hampir mencapai tujuh ruas jari. Hampir menyentuh delapan—ambang batas untuk teknik warisan ketiga.

Di seberangnya, Surya melangkah masuk. Auranya berbeda dari lawan-lawan sebelumnya. Dingin. Padat. Berbahaya. Qi-nya berputar di sekelilingnya seperti ular tak kasat mata.

"Aku akan memberimu satu kesempatan," kata Surya, suaranya datar namun mengancam. "Berlutut dan minta maaf atas apa yang kau lakukan pada adik-adikku. Mungkin aku hanya akan mematahkan satu lenganmu."

Arga menatapnya. "Dan jika aku menolak?"

Surya tersenyum—senyuman yang sama sekali tidak ramah. "Maka aku akan memastikan kau tidak pernah bisa berkultivasi lagi. Selamanya."

Wasit mengangkat tangan. "Mulai!"

Surya menghilang.

Bukan dengan teknik ilusi—hanya kecepatan murni yang jauh di atas lawan-lawan sebelumnya. Sebelum Arga bisa bereaksi, sebuah pukulan menghantam perutnya.

Braakk!

Tubuh Arga terpental, menghantam tanah keras. Rasa sakit menjalar dari perutnya ke seluruh tubuh. Cepat. Terlalu cepat.

Surya sudah berdiri di atasnya. "Itu baru satu. Masih mau melanjutkan?"

Arga bangkit. Darah menetes dari sudut bibirnya. Tapi matanya tetap tenang. Benang Perak di Dantian-nya berdenyut lebih cepat, seolah merespons bahaya yang mengancam.

"Kita baru saja mulai," bisiknya.

1
Mommy Dza
Lanjut💪
Mommy Dza
Tetap semangat Arga 💪
Mommy Dza
Cara memperkuat segel adalah
Mommy Dza
Bravo Arga 👍💪
BlueHeaven
Sekelas Penguasa Tertinggi kok sampe nggak tau sih, apalagi setetes demi setetes tiap harinya
MyOne
Ⓜ️👣👣👣Ⓜ️
Mommy Dza
Arga kembali 💪
Mommy Dza
Arga mau dimangsa 🥹 haddehh
hancurkan dia Arga
Mommy Dza
Memperbarui segel dan mengurung pemangsa 💪
Mommy Dza
Arga semakin kuat 💪
Mommy Dza
Nasib apa yg menunggunya 🥹
Mommy Dza
Lanjut thor
Mommy Dza
Wah ketemu pecahan kedua yah 💪
Mommy Dza
Siapa lagi yg muncul /Smug/
Mommy Dza
Bunuh dia Arga 💪
Mommy Dza
Deg degan aku Thor 😁
Lanjutt
Mommy Dza
Mungkin ini saatnya 💪
Mommy Dza
Semoga lekas sembuh 🤲
Mommy Dza
Maju Arga 💪
Mommy Dza
Kita baru saja mulai 💪🥹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!