NovelToon NovelToon
BATAS 2 TAHUN

BATAS 2 TAHUN

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Perjodohan / Nikahmuda
Popularitas:966
Nilai: 5
Nama Author: Ainun masruroh

Aleea nama panggilannya, Putri dari seorang pemilik pesantren yang cukup ramai di kotanya, aleea dikenal ramah dan santun, dia juga mengajar di pesantren milik abahnya namun aleea juga sibuk dengan dunianya sebagai penulis.

Areez seorang ustadz muda yang mengajar di pesantren milik abahnya aleea, tingginya yang semampai dengan badannya yang gagah membuat setiap orang melihat tak berkedip mata. sangat tampan memang tapi areez tidak banyak bicara hanya seperlunya, kecuali abahnya aleea.

Kebanyakan lingkungan pesantren memegang teguh adat dan senioritas, begitupun pesantren milik abahnya aleea. perbedaan umur terkadang seperti jurang yang dalam, rasa sulit untuk mengungkapkan terbatas rasa sopan seringkali menjadi pikiran.yang lebih tua merasa umurnya menghalangi untuk menunjukkan perasaan sedangkan yang lebih muda selalu bersikap sopan, bahkan terasa terlalu sopan hingga sulit di bedakan, entah itu rasa hormat, takdim atau justru menyimpan perasaan lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ainun masruroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

italia

Cahaya matahari pagi di Paris masih menyisakan semburat emas di atas Sungai Seine saat aku melangkah keluar dari hotel. Di tanganku, sebuah koper kecil berbahan kulit tua cukup berat, bukan oleh pakaian, melainkan oleh gulungan-gulungan mimpi. aku bukan turis biasa yang datang untuk memotret Menara Eiffel. saat ini aku adalah seorang "pemburu makna" untuk menemukan kain-kain dengan narasi terdalam di dunia.

​Perjalanan di Prancis baru saja usai. Di sebuah desa kecil di utara, ia berhasil mendapatkan beberapa meter kain linen murni yang ditenun dengan teknik tradisional abad keke. Namun, aku belum selesai. Prancis adalah tentang keanggunan yang terstruktur, namun kini mendamba sesuatu yang lebih hidup, lebih berani, dan lebih menyatu dengan gairah manusia.

​Tujuannya berikutnya sudah pasti Italia.

Italia tidak jauh dari Prancis, aku tak perlu naik pesawat hanya

​Kereta cepat melesat menembus perbatasan, membawaku dari keteraturan Prancis menuju lanskap Italia yang dramatis. Saat tiba di Milan, udara terasa berbeda. Ada aroma kopi yang tajam bercampur dengan wangi kulit mewah dan parfum maskulin yang memenuhi udara di Stazione Centrale.

​aku memang tidak lama di Milan. Kota mode ini terlalu "industri" . aku menuju ke arah utara, menuju Biella, sebuah kota kecil di kaki pegunungan Alpen yang dikenal sebagai jantung produksi wol terbaik dunia.

​Di Biella, aku bertemu dengan Signor Lorenzo, seorang pria tua dengan tangan yang kasar namun matanya berbinar saat menyentuh serat. Mereka berdiri di dalam gudang yang dipenuhi dengan gulungan kain wol yang terasa seperti sutra di kulit.

​"Di Prancis, mereka membuat kain untuk dilihat dunia," ujar Signor Lorenzo dalam bahasa Inggris beraksen Italia yang kental.

"Tapi di sini, aleea, kami membuat kain agar pemakainya merasa seperti sedang dipeluk oleh Tuhan." sambungnya

​aku menyentuh sebuah gulungan wol vicuña berwarna cokelat tanah. Rasanya begitu ringan, hampir tak terasa, namun memberikan kehangatan yang instan. Ia membayangkan kain ini menjadi sebuah cardigan panjang yang akan melindungi seseorang dari dinginnya dunia, bukan hanya dinginnya cuaca. aku membeli satu potong kecil, bukan untuk dijual kembali, tapi untuk dipelajari dan tentu dengan kesepakatan ibu.

" jika ibu ikut, pasti dia tidak akan mau pulang setelah melihat kain kain ini" gumamku

Selanjutnya ​Perjalanan berlanjut ke Danau Como. Jika Biella adalah tentang wol yang tangguh, Como adalah tentang sutra yang merayu. Di sebuah bengkel kecil yang tersembunyi di balik gang-gang sempit yang menanjak, aja... Aku menemukan apa yang ia cari.

​Nama tempat itu adalah La Seta Viva—Sutra yang Hidup. Di sana, proses pencetakan motif masih dilakukan menggunakan blok kayu tradisional, sebuah teknik yang mulai ditinggalkan oleh pabrik-pabrik besar.

​aku terpaku melihat seorang pengrajin wanita bernama Sofia yang sedang memulas warna biru kobalt di atas hamparan sutra putih bersih. Motifnya adalah bunga-bunga liar yang tumbuh di tebing Como.

​"Sutra ini punya ingatan," bisik Sofia tanpa menoleh. "Ia mengingat air danau yang jernih, ia mengingat angin pegunungan. Jika kau memakainya dengan hati yang gelisah, sutra ini akan terasa panas. Tapi jika hatimu tenang, ia akan mendinginkan jiwamu." lanjutnya

​aku menghabiskan waktu tiga hari di sana, belajar bagaimana benang-benang halus itu dipilin. aku tidak hanya membeli kain aku "membeli" waktu Sofia untuk bercerita tentang filosofi di balik setiap helai benang. Pada hari terakhir, Sofia memberinya sebuah selendang sutra dengan motif gradasi warna senja di Como.

​"Bawa ini," kata Sofia. "Ini adalah petamu untuk perjalanan selanjutnya. Baik sekali, aku memeluknya untuk berpisah dengannya.

​Dari utara, aku bergerak ke arah selatan menuju Florence (Firenze). Kota ini adalah tentang tekstur. Di sini, aku tidak hanya mencari kain, tetapi bagaimana kain berinteraksi dengan material lain.

​Di sebuah pasar terbuka dekat San Lorenzo, aku melihat bagaimana kain linen kasar dipadukan dengan jaket kulit buatan tangan yang sangat lembut. Aku terinspirasi oleh bagaimana orang Italia tidak takut mencampuradukkan sesuatu yang maskulin dan feminin, yang kasar dan yang halus.

​aku mengunjungi sebuah butik kecil milik seorang desainer muda bernama Marco. Di sana, aku melihat eksperimen luar biasa, kain beludru yang ditenun dengan serat logam tipis, menciptakan efek pantulan cahaya seperti air di bawah sinar bulan.

​"Kau tahu, aleea," kata Marco sambil menyesap espresso-nya. "Menjelajahi dunia untuk mencari kain itu seperti mencari potongan-potongan diri kita sendiri yang tercecer. Setiap negara memberikanmu satu warna. Prancis memberimu garis yang tegas. Italia memberimu emosi yang meluap. Dan kau? Kau adalah kanvas yang menyatukan semuanya." sambungnya.

​Malam itu, aku duduk di sebuah balkon kecil di penginapannya di wilayah Tuscany, menghadap ke hamparan kebun anggur yang luas. Di depanku, koper kulit kini sudah penuh sesak. Ada linen dari Prancis, wol dari Biella, sutra dari Como, dan beludru logam dari Florence.

​aku menyadari bahwa perburuannya bukan sekadar tentang tekstil. Setiap inci kain yang ia dapatkan adalah simbol dari ketekunan manusia, sejarah keluarga, dan kecintaan pada keindahan yang melampaui logika ekonomi.

​Di Prancis, belajar tentang prestige.

Di Italia, belajar tentang passion.

​Keesokan paginya, aku siap berangkat menuju bandara di Roma. Namun, sebelum pergi, aku mengenakan selendang sutra dari Como di lehernya dan mantel wol dari Biella di pundaknya. Saat aku berjalan menyusuri jalanan berbatu di Italia untuk terakhir kalinya, orang-orang menoleh. Bukan karena aku mengenakan barang mewah bermerek, tapi karena kain yang aku kenakan tampak "berbicara".

​Kain-kain itu bergerak seperti mengikuti langkah kakiku, berkibar tertiup angin Mediterania, menceritakan sebuah kisah tentang seorang wanita yang tidak takut tersesat demi menemukan sehelai keajaiban.

​Perburuan kain ini jauh dari kata selesai. Baginya, setiap benang adalah jembatan yang menghubungkan satu budaya dengan budaya lainnya. Dan selama mesin tenun masih berputar di pojok-pojok dunia, mungkin nanti setelah aku selesai menulis, aku bisa mengajak ibu berburu kain bersama. Ini sangat menyenangkan, bertemu dengan pengerajin kain dan bertemu dengan literasi buku sangat berbeda tapi keduanya memberikan kenyamanan masing masing, jadi aku tidak bisa memilih diantara.

​Sebab, mengenakan kain yang tepat bukan hanya soal menutup tubuh, tapi soal membungkus jiwa dengan martabat dan sejarah. Dari Paris ke Milan, dari tradisi ke inovasi, perjalanannya baru saja dimulai. Koper kulit ini mungkin sudah berat, tapi hati jauh lebih ringan dari sebelumnya.

Aku mengambil gulungan kertas dengan gambar-gambar di dalamnya, satu per satu gambar sudah tercukupi kainnya, sebenarnya aku juga membeli beberapa kain untuk di jadikan sample, agar bisa di pilih dan di sesuaikan jika ada ide lain yang muncul.

Kenapa bukan kain dari Indonesia saja?.... Kebutuhan,klien membutuhkan yang berbeda apalagi untuk gaun wedding dan mudah untuk memenuhi keinginan klien, kita hanya menjembatani mereka agar lebih percaya diri dan gaunnya yang berbicara.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!