Setelah lulus kuliah, kamu mau ngapain nih bestie? Kerja? Lanjut S2? Atau bahkan langsung nikah?? Xixixi.
Buat yang lanjut S2 semangat, yang kerja ga usah lesu letih dan lunglai, yuk mampir baca kisah seorang tokoh yang berakhir di jodohkan, dan hidup bahagia (?) setelahnya.
Kirana Putri yang baru saja lulus dari pendidikannya, harus merelakan mimpinya dan menikah dengan seseorang yang belum pernah ia temui sebelumnya. Lelaki penyayang, lembut dan setia, tentu saja bukan. Ia menikah dengan orang yang terlihat begitu membencinya, bahkan ia bukanlah wanita satu-satunya bagi suaminya. Mampu kah ia bertahan dalam kehidupan rumah tangga seperti itu? Atau justru ia akan menyerah dan kembali mengejar mimpinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raisya_BC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Reuni
Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya Ran perlahan membuka matanya. Melihat Ran bergerak, Rei mulai panik. Bagaimana jika Ran tau apa yang ia lakukan tadi.
"Aduh... Kenapa kepalanya nyut-nyutan banget ya..." Batin Ran
"I-istirahat dulu, jangan banyak ngomong" Ucap Rei membuat Ran seketika menatapnya, dan itu membuat lelaki itu semakin terlihat gelagapan. "Apa liat-liat?!" Tanya Rei ngegas.
"Aku mau pulang..." Sepertinya perempuan itu sadar kalau dirinya berada di rumah sakit.
"Udah sehat emangnya?"
"Udah.."
"Yaudah sebentar" Rei keluar dan menemui dokter. Hari ini Ran sudah bisa pulang. Sesampainya di rumah Rei memerintahkan Ran untuk beristirahat.
"Kenapa? Aku mau masak" Tanya Ran ketika Rei memegang tangannya yang hendak memotong sayur.
"Ga usah, nanti saya bisa masak sendiri" Ucap lelaki itu.
"Emang bisa?" Tanya Ran.
"Bisa! Udah ga usah bawel, tidur sana!" Titah Rei mendapat anggukan paham dari Ran. Perempuan itu memasukkan sayur yang belum ia potong ke dalam kulkas dan melenggang melewati Rei menuju kamar.
"Tidur di kasur" Ran berbalik dan menatap Rei yang sedang mengambil telur dari dalam kulkas. Mata mereka bertemu ketika Rei juga menoleh dan menatapnya.
"Denger ga?" Tanya Rei memastikan, namun dengan nada jutek. Ran mengangguk dan melanjutkan langkahnya menuju kamar.
Rei duduk di sofa dengan camilan yang sudah ia bawa, dan menyalakan televisi. Saat sedang asyik menonton, ponselnya berdering. Segera ia mengangkat panggilan yang masuk.
"Halo!"
"Ais, iya halo"
"Kamu apa-apaan sih?!" Bentak seseorang yang berada diseberang.
"Apanya?"
"Aku baru baca pesan kamu tadi, kenapa ga pergi sama aku malah sama istri kamu, hah?!"
"Kamu ngapain aja baru baca? Udah lama loh itu" Tanya Rei santai, ia menekan tombol remot, mencari siaran lain yang lebih bagus.
"Ya.. Ya ada lah! Kok malah nanya balik sih?!" Ucap Nadine tak mau kalah.
"Dine, kalau papah liat gimana? Kalau ada temen kantor yang liat gimana?"
"Loh emang kenapa?" Tanya Nadine entah tak peduli atau bodoh.
"Kok malah nanya sih? Kamu mau liat aku babak belur dipukulin papah?"
"Ah kamu nyebelin! Marah aku, marah!!"
"Jangan gitu ah"
"Bodo ah! Kesel!!" Nadine mengakhiri telepon.
"Hadeuuuh..." Rei melempar ponselnya ke meja, sudah malas dengan drama ini.
Keesokan harinya, Rei bangun dan melihat Ran sudah tidak ada di tempatnya. Saat melihat jam, ternyata sekarang sudah jam tujuh pagi. Rei keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur.
"Ran?" Panggil Rei, ia menyembulkan kepalanya di pintu dapur.
"Hm?" Sahut Ran tanpa melihat wajah Rei di belakangnya.
"Kenapa ga bangunin?" Tanya Rei, tumben.
"Hari ini kan cuma ada janji sama klien, jam sebelas, kan?" Balas Ran mendapat deheman dari Rei.
"Masak apa?" Tanya Rei mulai kepo.
"Nasi goreng"
"Kamu udah sehat belum?"
"Sudah"
"Nanti kita pilih-pilih baju"
"Iya"
"Susunya udah jadi belum?"
"Sudah"
"Saya bawa ya?"
"Iya bawa aja" Rei mengambil segelas susu vanila hangat yang telat di siapkan oleh Ran dan duduk di depan tv.
Ketika sore hari tiba, Rei dan Ran sampai di butik tempat biasa mamah membeli pakaian. Mereka masuk ke dalam dan segera disambut oleh pegawai di sana.
"Selamat siang pak Rei, ada yang bisa saya bantu?" Sapa salah satu pegawai di butik tersebut.
"Ya. Tolong carikan gaun yang pas untuk istri saya" Ucap Rei lalu duduk di sofa dekat ruang ganti.
"Baik pak. Mari mba?"
Setelah pegawai itu memilihkan beberapa gaun, mereka melangkah menuju ruang ganti. Dan setelah beberapa menit menunggu, Ran kembali dengan dress panjang berwarna merah muda.
"Ganti" Ucap Rei setelah melihat Ran keluar dari ruang ganti.
"Kenapa di ganti?" Tanya Ran heran, padahal menurutnya gaun ini sudah bagus.
"Lengannya ga ada gitu, kamu mau pamer bahu kamu yang putih itu? Ganti" Balas Rei ketus, ia kembali membaca majalah yang disediakan butik.
Ran dan pegawai itu kembali ke ruang ganti. Mengganti yang sebelumnya dengan dress biru yang cantik. Bagian belakang gaun panjang, namun depannya hanya sepanjang paha saja.
"Haaa tadi panjang tapi ga ada lengannya. Ini ada lengannya malah bawahnya yang pendek. Ada yang serba panjang ga sih?" Omel Rei pada pegawai butik yang menemani Ran.
"Maaf pak, tapi menurut saya gaun ini cocok sama mbanya, jadi terlihat semakin manis"
"Kamu suka yang ini?" Tanya Rei seraya mengernyitkan dahinya.
"Iyaa" Ran mengangguk.
"Ha... Yaudah. Saya ambil ini" Setelah itu Rei berjalan ke arah kasir untuk membayar.
Setelah selesai bersiap, mereka berangkat menuju lokasi reuni. Mereka masuk ke dalam sebuah gedung yang sangat besar. Saat masuk, mereka berpapasan dengan Nadine. Ia mengenakan dress berwarna putih sepanjang paha. Rambutnya di kesampingkan dan memperlihatkan lehernya yang putih. Ia hanya menatap sinis Rei dan Ran kemudian berlalu.
"Mas, itu ga papa?" Tanya Ran merasa tak enak.
"Biarin aja. Ayo masuk" Mereka masuk dan mulai mencicipi berbagai macam hidangan kue.
Setelah mereka selesai mencicipi berbagai macam makanan, Ran harus ke toilet untuk mencuci tangannya dan merapikan tataan rambutnya. Jadi Rei berjalan sendiri, menyalami para tamu yang merupakan teman Rei saat masih SMA dulu. Dan di sana ia juga bertemu dengan rekan kerjanya yang sama-sama alumni SMA harapan 2. Untung dia tidak bersama Nadine. Ia juga tidak melihat Nadine sedari tadi.
"Halo bro, pa kabar?" Sapa seseorang yang terdengar familiar.
Rei membalikkan badannya ketika mendengar suara orang itu. Raja, merupakan teman satu kelasnya yang di cap bad boy. Semasa sekolah ia sering bolos, seminggu hanya tiga kali masuk. Tugas tidak pernah dikerjakan, bahkan merokok di sekolah. Ia juga kadang memalak adik kelas. Tapi entah kenapa dia bisa naik kelas dan lulus. Masih menjadi misteri.
"Baik" Balas Rei lalu tersenyum.
Saat sekolah, Rei memang sering main dengan Raja, tapi ia tidak mencontoh perilaku buruk Raja seperti merokok dan memalak adik kelas. Tapi bisa dikatakan mereka cukup dekat.
"Udah nikah ya? Mana istrinya?" Tanya Raja seraya menoleh mencari sosok perempuan milik Rei.
"Lagi ke toilet" Balas Rei kemudian tersenyum kecil. Mereka berjalan dan duduk di kursi yang tersedia. Bercerita dan mengenang masa-masa nakal mereka ketika SMA.
"Eh, tadi gue liat ada cewek, cakep loh" Kata Raja memulai cerita.
"Wis, siapa tuh?" Sahut Erpan gercep.
"Alumni sekolah kita kan ya berarti?" Tanya Zack ikut menimbrung.
"Ga tau sih, selama sekolah ga pernah liat. Operasi plastik apa ya?" Timpal Raja menerka-nerka.
"Hahahaha parah!"
"Yang mana sih? Penasaran" Tanya Zack antusias.
Rei hanya diam mendengarkan sambil melihat ke sana dan kemari, mencari Ran yang tak kunjung datang. Ia bangun dari duduknya dan berniat mencari Ran.
"Eh itu tuh itu!" Ucap Raja heboh.
"Apaan?"
"Itu loh ceweknya, yang pakai dress biru" Ucap Raja membuat teman-temannya menajamkan penglihatan mencari sosok perempuan yang dimaksud.
"Dress biru?" Batin Rei. Ia menghentakkan langkahnya dan memalingkan pandangannya pada wanita yang dimaksud teman-temannya. Ternyata itu adalah Ran. Entah mengapa ia merasa sedikit kesal karena teman-temannya membicarakan Ran.
"Hm? Yang lagi ngambil kue?" Tanya Zack memastikan.
"Iyaaa cakep kan?" Balas Raja.
"Wiih beneran cakep" Sahut Erpan.
"Waduu make up tipis aja cantik bangeet" Ucap Zack yang masih asik memandangi sosok Ran.
"Buat gue ya? Gue masih jomblo nih, ga pada kasian apa?" Erpan berdiri hendak beraksi.
"Yah, gue juga jomblo" Zack menarik jas Erpan dan menarik lelaki itu untuk duduk kembali.
"Udah diem, gue yang liat duluan" Raja bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan teman-temannya.
Rei kembali duduk dan memperhatikan Raja yang mulai berjalan mendekati Ran. Ia ingin tahu reaksi apa yang akan perempuan itu berikan ketika didekati pria setampan dan segagah Raja.
"Permisi..." Ran berbalik dan menatap Raja.
"Ya?"
"Lagu ngambil kue ya?" Raja memperhatikan kue-kue manis yang ada di piring Ran.
"Suka kue manis ya?" Tanya laki-laki itu kemudian.
"Iya"
"Oh suka coklat? Di sana ada kue coklat loh, yuk ambil sama-sama?" Ajak Raja.
"Makasih sebelumnya. Tapi maaf, saya sudah makan itu tadi. Ini saja sudah cukup" Ucap Ran seraya menutup kembali piring kue.
Setelah melihat ekspresi Ran yang cemas dan sibuk melihat ke sana kemari seperti mencari seseorang, Rei berdiri dan perlahan menjauh dari teman-temannya.
"Hm, begitu ya. Kamu alumni SMA harapan 2 juga? Kok kayaknya lebih muda ya? Hahahaha" Ucap Raja lalu tertawa, namun berusaha tetap terlihat keren.
"Ah, bukan kok" Balas Ran.
"Pantesan, kayak ga pernah lihat. Nemenin seseorang?" Tanya Raja mendapat deheman dari Ran.
"Kita kan udah ngobrol nih, tapi kita belum kenalan. Nama kamu siapa?" Raja mengulurkan tangannya pada Ran.
Belum sempat menyalami Raja, Rei datang dan berdiri di samping Ran. Lelaki itu membalas uluran tangan Raja. "Halo."
"Loh, kok Lo di sini?" Raja memalingkan wajahnya dan menatap teman-temannya, kemudian kembali menatap Rei.
"Dari tadi juga di sini Ja" Sahut Rei lalu menarik kembali tangannya.
"Dari mana? Kenapa lama?" Rei menatap Ran dengan wajahnya yang datar. Raja memiringkan kepalanya dan memperhatikan mereka berdua.
"Tadi nyari-nyari mas ga ada, terus masih lapar, jadi ngambil kue" Jelas Ran lalu memanyunkan bibirnya.
"Kamu ga bawa telepon?"
"Engga"
"Kebiasaan!"
"..Maaf"
"Siapa nih Rei? Adik? Eh tapi perasaan Lo ga punya adik cewek deh. Sepupu?" Tanya Raja.
".. Istri" Jawab Rei singkat.
".. Istri? Ah yang bener" Raja menepuk lengan Rei tak percaya.
"Lo ga datang ke pernikahan gue ya?"
"Lah ga di undang!" Protes Raja.
"Oh iya. Lagian reuninya baru sekarang"
"Jadi ini beneran istri?" Tanya Raja tak ingin percaya.
"Iyaaa"
"Oh hahahaha iya iya, istri. Yaudah, gue balik ke sana ya? Di tungguin temen-temen" Raja menyengir sebelum kembali ke bangkunya. Saat duduk, teman-teman yang lain langsung menanyakan apa yang terjadi.
"Mas.. Ngakuin aku istri di depan temen?" Tanya Ran kini, ia tak percaya dikenalkan kepada teman suaminya.
"Memang kenapa? Ga suka? Lebih suka yang tadi? Putih berotot?!" Tanya Rei ngegas.
"Apasih..." Ran menarik lengan Rei dan berusaha menatap mata suaminya yang sedang memalingkan wajah kesal.
Lagu romantis mulai diputar. Semua pasangan berkumpul di ballroom. Waktu dansa sudah dimulai. Dan yang datang sendiri mungkin bisa menari sendiri jika mau.
"Udah waktunya dansa. Would you dance with me?" Rei mengulurkan tangannya pada Ran. Membuat gadis itu bingung.
"Tapi aku ga bisa dansa mas" Ucap Ran tak yakin.
"Ga papa, saya ajarin" Rei maju satu langkah mendekati Ran. Ia mengambil tangan kiri Ran dan meletakkannya di bahunya. Ia memegang tangan kanan Ran, dan meletakkan tangan kanannya di pinggang Ran.
"Nanti ke kanan ya, abis itu ke kiri"
"Iya..."
Setelah beberapa menit mencoba, semuanya lancar. Namun tak sengaja Ran menginjak kaki Rei. "Ah!" Ran menatap Rei yang sedang menatapnya kesal.
"Maaf mas..."
Rei memperhatikan sekitar dan tak sengaja menangkap sosok Raja. Raja sedang memperhatikan mereka yang sedang berdansa.
"Kenapa ngeliatin terus sih?" Batin Rei risih. Ia kembali menatap Ran di hadapannya.
Rei mendekatkan posisinya dengan Ran dan memajukan wajahnya. Jarak wajah mereka sangat sedikit, dekat sekali. Rasanya mereka bisa merasakan hembusan napas masing-masing.
"Kedeketan ga sih mas?" Bisik Ran merasa tak nyaman.
"Udah diem aja" Bisik Rei tepat di telinga Ran.
Mereka melanjutkan dansa mereka. Hingga jam menunjukkan pukul sembilan malam dan mereka harus pulang.
"Gue pulang ya, kalian hati-hati" Pamit Rei pada teman-temannya.
"Sip, kapan-kapan main lah ke rumah" Ajak Zack.
"Kapan-kapan lah ya" Balas Rei.
"Hati-hati ngab!" Erpan melambaikan tangannya, mendapat anggukan dari Rei.
Rei membukakan pintu mobil untuk Ran, lalu ikut masuk ke dalam mobil. Mesin menyala dan mobilpun melaju.
Ponsel yang disimpan di saku celana, tanpa ia sadari mendapat satu pesan masuk.
Nadine :
"Enak ya dansa sama ISTRI TERCINTA"
si ratu drama nadine minta di baigon nie
pengen ku bunuh dua orang itu😭👍
Cuss bacaa jan lupa tinglkan jejaakk🤗
tkn prfil q aja yaa😍
vielen danke😘