NovelToon NovelToon
Tak Sengaja Membangun Surga Di Hutan Kematian (I Accidentally Built A Paradise In The Death Forest)

Tak Sengaja Membangun Surga Di Hutan Kematian (I Accidentally Built A Paradise In The Death Forest)

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Fantasi / Slice of Life
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Kūkyo

Di saat teman sekelasnya dipanggil ke dunia lain sebagai Pahlawan dan memperoleh kemampuan legendaris, Haruto Mirakawa hanyalah korban yang ikut terseret.
Karena bukan bagian dari ritual pemanggilan, semua skill hebat sudah habis saat gilirannya tiba.
Yang tersisa hanya satu kemampuan biasa:
Shadow Tool.
Kemampuan untuk menciptakan satu alat dari bayangannya.
Bukan pedang suci.
Bukan sihir penghancur.
Hanya... alat.
Merasa bersalah, sang dewa memberinya berkah kecil untuk bertani dan sebuah tombak tua yang kemudian menyatu dengan skillnya.
Lalu Haruto dikirim ke tempat yang katanya tenang dan jauh dari perang.
Tempat itu ternyata adalah...
Hutan Kematian.
Di hutan yang ditakuti seluruh dunia, Haruto hanya ingin menjalani hidup santai, menanam sayur, membangun rumah, dan menikmati hari-harinya.
Namun sedikit demi sedikit, para monster cerdas, buronan, dan orang-orang yang kehilangan tempat pulang mulai berdatangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kūkyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pedagang Terpilih

​Beberapa hari setelah proses seleksi yang melelahkan itu rampung, sekitar tiga puluh pedagang dari berbagai penjuru berkumpul di dalam aula utama istana Kerajaan Iblis. Udara di dalam ruangan terasa tegang; seluruh peserta berdiri berjajar rapi dalam keheningan, menunggu keputusan akhir dengan napas tertahan.

​Seorang pejabat tinggi logistik istana melangkah maju membawa gulungan perkamen, lalu mulai membacakan satu per satu nama peserta yang harus gugur dari daftar misi.

​Satu per satu, ekspresi wajah para pedagang berubah menjadi muram. Ada yang menghela napas panjang dalam kekecewaan, ada pula yang berbisik-bisik kesal, merasa bahwa diri mereka jauh lebih layak dibandingkan nama-nama yang lolos. Pembacaan itu terus berlanjut hingga suasana semakin menciut.

​Hingga akhirnya, suara pejabat istana terhenti, dan hanya menyisakan lima orang pedagang yang masih berdiri di barisan depan.

​Di antara lima orang yang tersisa itu, terdapat Roven. Pria paruh baya tersebut tampak sangat terkejut, bahkan sempat menoleh ke belakang sejenak untuk memastikan apakah yang dipilih benar-benar dirinya.

​Kelima pedagang terpilih itu kemudian digiring menuju ruang pertemuan privat. Di dalam ruangan megah tersebut, Jenderal Varkas Vane, beberapa menteri senior, kepala logistik, dan sang Raja Iblis sendiri sudah menanti kedatangan mereka.

​Raja Iblis menyambut mereka dengan senyuman tipis. "Selamat. Kalian adalah lima pedagang terbaik yang berhasil bertahan dari seluruh rangkaian seleksi ketat ini."

​Kelima pedagang segera membungkuk hormat secara bersamaan. Namun, kalimat berikutnya yang meluncur dari bibir sang raja seketika mengubah atmosfer ruangan.

​"Sekarang, saatnya kalian mengetahui tujuan sebenarnya dari misi ini."

​Jenderal Varkas melangkah maju menggantikan posisi raja. Ia membentangkan sebuah peta besar di atas meja tengah, lalu menunjuk sebuah area luas yang ditandai dengan warna hitam pekat di ujung utara wilayah teritorial.

​"Hutan Kematian," ucap Varkas tegas.

​Seketika itu juga, ruangan mendadak sunyi senyap. Salah satu pedagang refleks melangkah mundur karena terkejut, sementara pedagang lainnya mengira sang jenderal sedang melontarkan lelucon yang buruk.

​Varkas mulai menjelaskan rincian situasinya: ada sebuah desa kecil tersembunyi di dalam hutan mematikan itu, dihuni oleh sedikit penduduk yang berhasil bertahan hidup, dan kerajaan berkeinginan untuk menjalin hubungan komunikasi serta perdagangan awal. Belum ada kewajiban mutlak, belum ada kontrak resmi, kerajaan hanya ingin membuka jalur pertama.

​Raja Iblis menambahkan dengan tenang, "Misi ini murni bersifat sukarela. Siapa pun di antara kalian yang merasa keberatan atau ingin mundur, dipersilakan keluar sekarang juga."

​Beberapa detik berlalu dalam ketegangan mutlak. Lalu, seorang pedagang mengangkat tangannya dengan gemetar, meminta izin untuk mundur, dan langsung melangkah keluar ruangan. Keputusan itu disusul oleh pedagang kedua, dan tak lama kemudian pedagang ketiga ikut menyerah. Alasan mereka seragam dan masuk akal: Keuntungan sebesar apa pun tidak ada artinya jika kita tidak bisa pulang hidup-hidup.

​Kini, di hadapan sang raja, hanya tersisa dua orang pedagang: Roven... dan seorang pedagang muda yang ambisius.

​Raja Iblis tersenyum tipis melihat keteguhan dua orang yang tersisa. "Masih ada satu ujian terakhir untuk kalian berdua."

​Keduanya saling berpandangan dengan bingung. Seorang pelayan istana kemudian membawa dua kotak kayu kecil, meletakkannya di atas meja, dan membukanya. Di dalam kotak itu berisi berbagai macam barang dagangan acak: gulungan kain sederhana, rempah-rempah dapur, perkakas rumah tangga, pisau kecil, dan beberapa barang harian lainnya.

​Raja memberikan skenario ujian terakhir. "Bayangkan kalian harus melakukan transaksi dengan seseorang yang sama sekali tidak mengetahui harga pasar barang-barang ini. Apa yang akan kalian lakukan?"

​Tanpa berpikir panjang, pedagang muda itu langsung menjawab dengan cepat, "Aku akan membeli barang dari mereka semurah mungkin, atau menjual barangku dengan harga setinggi-tingginya mumpung mereka tidak tahu apa-apa."

​Beberapa menteri di sekitar meja langsung mengangguk dan mencatat jawaban tersebut di lembaran penilaian.

​Kini giliran Roven. Pria itu terdiam cukup lama, menimbang-nimbang setiap kata di dalam kepalanya sebelum akhirnya mendongak. "Aku akan menjelaskan nilai asli dan kondisi barang itu secara jujur kepada pembeli."

​Raja Iblis menatapnya tajam, menguji prinsipnya. "Bukankah kejujuran seperti itu justru akan membuatmu merugi dan kehilangan potensi keuntungan besar?"

​Roven menggeleng pelan. "Kalau aku menipu seseorang yang tidak tahu harga... aku memang bisa meraup untung besar hari ini. Tapi setelah itu, aku kehilangan kepercayaannya selamanya." Ia menarik napas dalam-dalam. "Seorang pedagang sejati tidak hidup dari satu kali transaksi, melainkan dari kepercayaan yang dibangun selama bertahun-tahun."

​Ruangan kembali hening. Jenderal Varkas tersenyum kecil; jawaban itu persis seperti apa yang ia harapkan dari seseorang yang akan dikirim ke desa Haruto.

​Setelah pedagang muda dipersilakan meninggalkan ruangan secara hormat, Raja Iblis memanggil Roven untuk mendekat.

​"Tahukah kau alasan kenapa pada akhirnya aku memilih dirimu?" tanya sang raja.

​Roven menggelengkan kepalanya jujur.

​Raja Iblis menatapnya lekat-lekat. "Karena aku tidak membutuhkan seorang pedagang yang paling pandai mencari selisih keuntungan sesaat. Aku membutuhkan seorang pedagang yang mampu menjaga hubungan baik selama puluhan tahun ke depan."

​Varkas menambahkan dengan nada serius, "Orang yang akan kau temui di sana bukanlah seorang bangsawan kota, dan ia juga bukan pedagang profesional. Ia bahkan tidak mengenal sistem harga pasar kita. Jika kau mencoba membohonginya walau sekecil apa pun... hubungan dagang itu akan hancur sebelum sempat dimulai."

​Roven mengangguk pelan, meresapi setiap kalimat tersebut. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama berjuang di dunia perdagangan yang keras, ia merasa bahwa prinsip kejujuran yang selalu ia pegang ternyata dihargai di tempat yang paling tidak disangka-sangka.

​Keesokan paginya, halaman utama istana tampak jauh lebih sibuk dari biasanya. Kerajaan Iblis menunjukkan keseriusan penuh dalam misi ini dengan menyiapkan dua kereta barang berukuran besar.

​Kereta pertama dipenuhi oleh komoditas kebutuhan pokok: karung-karung garam kasar, garam halus berkualitas tinggi, berbagai jenis rempah-rempah beraroma tajam, serta gulungan kain tenun sederhana yang tahan lama.

​Sementara itu, kereta kedua berisi material logam yang sangat berharga bagi desa terpencil: batangan besi mentah, lempengan besi siap pakai, kotak berisi paku berbagai ukuran, engsel pintu, palu cadangan, hingga beberapa set alat pertanian berbahan besi. Semua barang tersebut dicatat secara teliti satu per satu oleh petugas logistik istana.

​Karena muatan yang dibawa sangat berharga dan rute perjalanannya melewati wilayah berbahaya, jumlah pengawal yang dikerahkan jauh lebih besar dibandingkan kunjungan pertama Jenderal Varkas. Rombongan ekspedisi kali ini terdiri dari: Jenderal Varkas sendiri sebagai pemimpin, Roven, asisten pribadi Roven, dua belas prajurit pengawal elit, dua orang penyihir pendukung untuk deteksi bahaya, seorang tabib lapangan, serta dua orang kusir berpengalaman. Totalnya hampir mencapai dua puluh orang.

​Salah satu menteri sempat melontarkan keraguan saat melihat rombongan yang cukup besar itu, "Jenderal, bukankah jumlah ini terlalu berlebihan untuk misi perdagangan kecil?"

​Varkas menggeleng tegas. "Barang dagangan di kereta boleh hilang atau rusak jika keadaan mendesak. Tapi nyawa pedagang itu... tidak boleh ada yang mati."

​Gerbang besar ibu kota Kerajaan Iblis perlahan terbuka. Dua kereta kuda muatan berat itu mulai melaju beriringan dengan kecepatan stabil.

​Roven duduk di bangku kusir kereta paling depan, memegang kendali kuda sambil merenungkan nasibnya. Ia masih belum tahu seperti apa bentuk desa atau siapa sosok pemuda yang akan ia temui di ujung perjalanan nanti. Yang ia pegang erat di dalam hatinya saat ini hanyalah informasi bahwa di sana terdapat seseorang yang mampu menghasilkan panen luar biasa subur.

​Namun, keraguan kecil masih tebersit di benaknya. Sambil melirik tumpukan hasil bumi dalam bayangannya, ia bergumam pelan pada dirinya sendiri, "Apa iya... buah dan sayuran bisa memiliki nilai yang begitu berharga sampai-sampai kerajaan mengerahkan pengawalan sebesar ini?"

​Perjalanan hari pertama berlangsung dengan tenang. Memanfaatkan waktu senggang di sela perjalanan, Roven banyak berbincang dengan Jenderal Varkas yang menunggang kuda di samping keretanya, mencoba menggali informasi tentang tujuan mereka.

​Namun, Varkas hanya memberikan sedikit sekali petunjuk. "Pemimpin desa itu masih sangat muda. Penduduknya saat ini hanya berjumlah sembilan orang saja. Dan mereka hidup berdampingan bersama para Ras Kelinci."

​Roven semakin dibuat bingung. "Hanya sembilan orang? Lalu kenapa pihak istana sampai harus repot-repot mengirim ekspedisi sebesar ini?"

​Varkas menjawab singkat namun penuh makna, "Karena terkadang... nilai suatu tempat tidak diukur dari seberapa banyak jumlah penduduknya."

​Kalimat itu terus berputar-putar di dalam kepala Roven sepanjang sisa perjalanan hari itu.

​Menjelang matahari terbenam, rombongan akhirnya memutuskan berhenti untuk mendirikan perkemahan di area kaki pegunungan tinggi—titik perbatasan terakhir sebelum memasuki Hutan Kematian.

​Di hadapan mereka, puncak-puncak pepohonan lebat menjulang tinggi, membentuk siluet lautan hitam yang tampak tak berujung dan menelan seluruh cahaya senja. Beberapa prajurit muda yang baru pertama kali ikut dalam ekspedisi militer ke wilayah perbatasan menelan ludah mereka dalam-dalam, merasakan aura mencekam yang menguar dari dalam hutan.

​Salah satu prajurit berbisik cemas kepada rekannya, "Besok... kita benar-benar akan melangkah masuk ke tempat itu?"

​Tidak ada yang menjawab pertanyaan tersebut.

​Sementara itu, Jenderal Varkas berdiri seorang diri di tepi tebing kecil, memandang lurus ke arah hamparan kanopi Hutan Kematian dengan ekspresi tenang. Ia tahu persis bahwa di balik lebatnya pepohonan yang gelap gulita itu, ada sebuah desa kecil yang damai—sebuah anomali yang perlahan-lahan akan mengubah total arah hubungan antara Kerajaan Iblis dengan dunia luar.

1
Nadja 🎀
seruu merasa baca manga.. mengingatkan manga itu yg Isekai itu
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
Nadja 🎀
bagus ceritanya ✨
ラマSkuy
keren Thor mirip dua manga yang pernah kubaca tentang terpanggil ke dunia lain dan membangun desa didunia lain 👍👍
Nadja 🎀
seruuu bgt lanjut!
ラマSkuy
emang kehidupan santai itu paling enak untuk orang introvert 😁
ラマSkuy
mirip sekai nonbiri bertani didunia lain 👍
ラマSkuy
akhirnya ada juga novel yang bukan fantasy timur 👍👍 nice Thor lanjutkan
NURC
menarik ceritanya, untuk referensi saya yg menulis novel fantasy juga
Nurul
masih menantin apakah sampai tamat atau tidak/Doubt/
Luthfi Afifzaidan: tetap sehat n semangat thor
total 2 replies
Fiks_imajinasiku
Thor dagig asap itu tanpa api kalau mau berhasil, pakai inkubasi tungku besar bisa dari batu atau kayu yang dilapisi tanah liat jadi asapnya terpokus ke daging tidak menyebar keluar, juga cara panggang gunakan tanpa api dengan cara menekan api menggunakan daun tua atau hijau bukan kering.
Kūkyo: Makasih banyak infonya, Kak.
Mungkin bisa saya pakai di bab-bab selanjutnya. Soalnya di bagian yang sekarang Haruto juga belum punya pengetahuan tentang teknik seperti itu, jadi saya usahakan perkembangannya bertahap. Terima kasih sudah berbagi ilmunya.
total 1 replies
Fiks_imajinasiku
nice thor, apakah akan ada eps 2 dengan ambisi mendirikan kerajaan di hutan?, semangat 🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!