HIATUS
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tespek
Setelah kepergian Oma Jelita, Dilan iseng membuka buku harian yang ia dapat tadi. Ia tersenyum saat membaca buku harian yang begitu menarik baginya.
"Gadis ini lumayan berbakat dalam seni" gumam Dilan setelah membaca buku harian itu, yang terdapat gambar di setiap cerita yang ia baca.
Dilan merongoh kantong celana kain yang ia pakai untuk mengambil ponselnya,Setelah menemukan no ponsel pemilik buku tersebut.
setelah memegang benda pipih miliknya ia mengetik beberapa angka dan menekan tombol hijau yang tertera di layar pipih itu.
Tidak butuh waktu lama pemilik no ponsel itu menjawab panggilannya. "Akhirnya aku menemukanmu, datanglah ketaman dekat museum untuk mengambil bukumu!" perintah Dilan setelah sambungan terhubung.
"Baiklah" jawab Anin singkat setelah menyadari buku hariannya hilang.
Anin segera memnghampiri kasir untuk membayar tespek yang ia ambil dari rak, dengan menahan rasa malu. Apa lagi kasirnya adalah seorang pria.
Setelah membayar barang yang ia ambil, ia segera berlari menuju taman yang tidak jauh dari minimarket tersebut. Karena ia tidak ingin membuat seseorang menunggunya.
"Maaf mambuatmu menunggu" ucap Anin sembari mengatur nafasnya yang ngos-ngosan karena berlari.
"Ini bukumu !" ucap Dilan mengembalikan buku yang ia dapat tadi.
"Terimakasih" jawab Anin memperlihatkan senyum tulusnya.
"Dan ini untukmu" Dilan memberikan sebuah bingkisan pada Anin.
Anin dengan senang hati menerima pemberian Dilan, ia membuka bingkisan itu dan mengembangkan senyumnya setelah mengetahui isinya. Bagaiman tidak ia sangat senang bisa mendapatkan lukisan yang ia inginkan tadi.
"Terimakasih" ucap Anin lagi dengan wajah yang berseri-seri saking senangnya.
"Kamu sangat menyukai lukisan ini ?" tanya Dilan yang juga ikut tersenyum melihat wajah bahagia gadis kecil di depannya itu.
"Ya, karena gambar ini membuatku merasakan keberanian saat kesepian" jawab Anin.
"Apakah kesepian juga membutuhkan keberanian ?" tanya Dilan
"Hm... menurutku begitu, oh iya, berapa harganya lukisan ini? saya akan membayarnya" ucap Anin.
"Itu gratis untukmu, tapi jika kau keberatan karena tidak membayarnya, maka kau bisa meneraktirku makan dessert" pinta Dilan.
"Tapi aku ada urusan" tolak Anin halus karena hari mulai gelap ia harus pulang.
"Urusan apapun itu, uruslah setelah kita selesai makan" ucap Dilan sedikit memaksa.
Mau tidak mau Anin menerima ajakan Dilan. Kini mereka berdua sedang duduk didalam sebuah kafe yang terkenal dengan dessert nya yang sangat enak.
Pelayan menghampiri mereka berdua setelah sedikit lama menunggu "Mau pesan apa tuan, nyonya ?" tanya pelayang sembari memberikan daftar menu.
"Dessert dan jus jerus, kau mau apa ?" tanya Dilan karena Anin diam saja tidak memesan apapun.
"Samain aja" jawab Anin singkat.
"Baiklah, dessert dan jus jeruknya masing-masing dua porsi" ucap Dilan pada Pelayan.
"Baik, mohon menunggu sebentar !" ucap pelayan itu sopan dan berlalu pergi.
"kenalkan nama saya Dilan" ucap Dilan sembari mengulurkan tangannya.
Anin menyambut uluran tangan Dilan "Nama saya Anin" jawab Anin "Saya ketoilet sebentar" ucap Anin yang dijawab anggukan oleh Dilan. Ia Bangkit dari duduknya dan berjalan kearah toilet.
Setelah berada didalam toilet, Anin mengeluarkan tiga tespek dengan merek berbeda-beda yang sudah ia beli tadi sebelum betemu dengan Dilan. Ia membaca dengan seksama petunjuk yang tertera di kemasan tespek tersebut.
Setelah membaca petunjuknya ia membuka kemasan tespek tersebut dan memakainya. Beberapa menit terdiam di dalam toilet, Anin mengumpulkan keberaniannya untuk memeriksa ketiga tespek yang ia gunakan.
"Ah......"
TBC
Jangan lupa meninggalkan jejak