NovelToon NovelToon
Terjebak Pesona Sahabat Ayahku

Terjebak Pesona Sahabat Ayahku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Sugar daddy
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: A.J Lim

​"Bagi dunia, aku anak dari sahabatnya. Bagi hatiku, dia pria yang harus kumiliki."
​Aluna (20 tahun) menyembunyikan cinta rahasia pada Marko Janitra (45 tahun), sahabat karib ayahnya sekaligus CEO dingin Janitra Group. Demi mendekat, Aluna nekat magang di kantor Marko.
​Marko membentengi diri rapat-rapat demi etika dan persahabatan. Namun di antara perbedaan usia 25 tahun dan godaan manis sang anak sahabat, sanggupkah benteng dingin sang CEO bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.J Lim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 : Api Kecemburuan

Suasana di meja makan pagi itu terasa sangat canggung. Keheningan menyelimuti ruang makan megah milik Marko, hanya terdengar denting halus sendok yang beradu dengan piring.

Marko duduk tegap dengan kemeja kerjanya, sesekali mencuri pandang ke arah gadis di hadapannya. Luna, yang mengenakan kemeja kasual untuk magang, hanya fokus mengunyah rotinya tanpa niat membuka percakapan sedikit pun. Wajahnya dipasang kaku, menjalankan rencana yang sudah disusun bersama Rania semalam.

Teeet.

Suara klakson motor dari luar pagar memecah kecanggungan. Luna langsung berdiri, menyambar tas kerjanya.

"Om, aku berangkat dulu. Kenan udah jemput di depan," pamit Luna singkat, sama sekali tidak menatap mata Marko.

Marko menghentikan gerakan tangannya yang memegang cangkir kopi. "Bukannya kemarin kamu bilang mau pakai supir?"

"Nggak jadi. Lebih cepat naik motor," sahut Luna santai lalu berjalan cepat menuju pintu depan.

Marko mengekor pelan di belakang, berdiri di ambang pintu untuk melihat langsung. Di luar gerbang, Kenan sudah menyodorkan helm ke arah Luna. Sambil pura-pura membetulkan tali helm, Luna sengaja memiringkan badannya dan merapatkan tubuhnya ke bahu Kenan. Dari ambang pintu, rahang Marko mengetat keras menyaksikan pemandangan itu. Tangannya mengepal di samping paha, menyimpan panas cemburu yang kian membakar.

Tiba di kantor Janitra Group, Luna langsung menarik Rania ke area tangga darurat begitu ada kesempatan.

"Ran, gue kok ngerasa bersalah ya sama Kenan?" bisik Luna dengan raut wajah cemas. "gue terkesan kayak memanfaatkan perasaan dia cuma buat bikin Om Marko cemburu. Kenan tuh tulus banget sama gue ..."

Rania menepuk-nepuk bahu Luna lembut. "Gue ngerti, Lun. Tapi lu harus jujur sama diri lu sendiri dan sama Kenan secepatnya. Jangan biarin Kenan makin berharap kalau hati lu sebetulnya cuma buat Pak Marko. Itu bakal lebih menyakitkan buat dia."

Luna mendesah pelan, menundukkan kepalanya. "Iya sih... Gue harus cari waktu buat ngomong baik-baik sama Kenan."

Sementara itu di lantai paling atas gedung, suasana ruang kerja eksekutif mendadak riuh. Jessi datang tanpa janji. Wanita itu melangkah anggun mengenakan gaun merah ketat dengan belahan dada rendah yang cukup mencolok, langsung duduk di lengan kursi kerja Marko.

"Marko~ Nanti makan siang bareng yuk? Aku kangen nih sama kamu," goda Jessi dengan suara merayu, sengaja memiringkan tubuhnya agar aromanya tercium oleh Marko.

Marko melirik penampilan Jessi sekilas, namun anehnya, tak ada sedikit pun desiran atau dorongan dalam dadanya. Pria matang yang sudah menduda belasan tahun itu malah merasa risih dan asing melihat tingkah Jessi yang sengaja menggodanya.

Akal sehat Marko mendadak membandingkannya dengan bayangan Luna beberapa hari lalu di rumah—saat gadis itu hanya memakai pakaian santai rumahan tanpa riasan sama sekali. Penampilan polos dan santai Luna justru jauh lebih ampuh membuat pertahanan diri Marko goyah dan memicu gairahnya ketimbang godaan terbuka dari Jessi.

Marko berdeham dingin, merapikan dokumennya. "Saya sibuk hari ini, Jessi."

Pria itu langsung menyambar gagang telepon interkom di mejanya. "Yoga, masuk ke ruangan saya sekarang."

Cuma butuh beberapa detik sampai Yoga melangkah masuk.

"Ada apa, Ko?" tanya Yoga.

"Tolong kamu yang handle semua urusan berkas perpanjangan kontrak brand ambassador Mbak Jessi," perintah Marko tegas, lalu menatap Jessi datar. "Segala urusan pekerjaan kamu mulai hari ini langsung lewat Yoga. Permisi, saya ada rapat direksi."

Marko langsung berdiri dan berjalan keluar ruangan tanpa memedulikan wajah Jessi yang ditekuk kesal karena diabaikan.

Pukul lima sore, jam pulang kantor tiba.

Kenan sudah bersiap di samping motornya di area parkir bawah tanah, menunggu Luna turun. Tak lama, Luna berjalan keluar bersama Rania.

Namun, sebelum Luna sempat melangkah mendekati motor Kenan, sebuah SUV hitam mengkilap berhenti tepat di depan mereka. Kaca mobil turun, memperlihatkan sosok Marko yang menatap lurus ke arah Luna.

"Aluna, masuk. Kita pulang bareng," panggil Marko kaku tapi penuh penekanan, mengabaikan keberadaan Kenan.

Kenan melongo kaget. "Lho... Pak Marko? Tapi saya udah siap mau mengantar Aluna pulang, Pak."

Marko menatap Kenan dingin. "Saya ada urusan keluarga yang harus dibicarakan sama Aluna di rumah sore ini. Jadi dia pulang sama saya."

Luna mengutuk dalam hati. Tak punya alasan untuk membantah 'urusan keluarga' di depan Kenan, Luna akhirnya menghela napas pasrah.

"Yaudah deh, Ken. Aku pulang sama Om Marko aja," ujar Luna pelan, lalu menoleh ke Rania. "Ken, mending kamu antarin Rania pulang aja ya? Kasihan dia naik transportasi umum jam sibuk begini."

Kenan yang masih agak bingung akhirnya mengangguk. "E-eh... iya deh, Lun. Biar Rania aku yang antar."

Luna melangkah masuk ke dalam mobil Marko. SUV hitam itu langsung melaju pergi meninggalkan area parkir.

Kenan menyodorkan helm cadangan ke arah Rania. "Ayo, Ran. Aku antar kamu pulang sekalian jalan-jalan sebentar yuk? Aku mau nyari makan."

Rania membeku sejenak, menatap helm di tangannya dengan jantung yang mendadak berdebar liar.

Ada rahasia besar yang disimpan Rania rapat-rapat dari siapa pun, termasuk dari Luna. Sebenarnya, Rania sudah menyukai Kenan sejak mereka berdua masih duduk di bangku SMA. Namun, karena Kenan sama sekali tidak pernah meliriknya dan selalu memandang Rania hanya sebagai 'teman', Rania memilih memendam perasaan itu dalam-dalam hingga detik ini.

"E-eh... boleh deh, Ken," jawab Rania mencoba bersikap biasa saja sambil menerima helm itu dan naik ke boncengan motor Kenan.

Mereka akhirnya berhenti di sebuah kafe pinggir jalan yang cukup tenang. Setelah memesan dua cangkir minuman, Kenan menyandarkan badannya dan menatap Rania dengan raut wajah serius.

"Ran..." panggil Kenan pelan. "Aku boleh tanya sesuatu nggak soal Aluna?"

Dada Rania terasa agak sesak, namun ia memaksakan senyum tipis. "Tanya apa, Ken?"

"Sebenarnya... Aluna itu punya perasaan nggak sih sama aku?" tanya Kenan jujur, menatap mata Rania penuh harap. "Akhir-akhir ini aku merasa Aluna dekat sama aku... tapi hatinya kayak jauh banget. Dia kayak lagi mikirin cowok lain. Apa dia pernah cerita apa-apa sama kamu?"

Rania menatap wajah Kenan yang tampak sangat tulus itu. Rasa bersalah dan rasa sesak di dadanya bercampur aduk. Ia tahu betul hati Luna sepenuhnya milik Marko, tapi ia juga tidak tega melihat cowok yang dicintainya sejak SMA ini terus diombang-ambingkan harapan palsu.

Rania menarik napas panjang, meremas jemarinya di bawah meja. "Ken... sebenarnya..."

1
Adiba Adisa
ada ada aja nih pak tua 😄
Adiba Adisa
kayanya akal akalan marko aja, biar acara nembak kenan gagal 😄
Adiba Adisa
pasti nyesek banget tuh aluna
A.J Lim
ditunggu kelanjutannya yaa kak
Reni Anjarwani
doubel up
Reni Anjarwani
lanjut thor
A.J Lim: siap kak, terimakasih udh mampir
total 1 replies
A.J Lim
iya kak, ke makan gengsi nya 🤭
Adiba Adisa
luna bakalan ngaku ngga yaa
Adiba Adisa
panik sendiri kan om marko 😄
Adiba Adisa
hayoh loh ketahuan kan 🤭
Adiba Adisa
bagus ngga ngebosenin, bab awal udh dibikin penasaran kelanjutan nya
Adiba Adisa
bab awal udah bikin panas dingin 😄
Adiba Adisa: lanjutkan kak, ditunggu bab selanjutnya
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!