Yun Sheren seorang Putri Mahkota dari Kekaisaran Awan Emas terseret melintasi waktu. Dia terjebak di dalam raga sang ibu ketika masih muda di zaman modern.
Namun alih-alih takut--- Yun Sheren justru menikmati semua itu. Ia bersumpah akan membalaskan dendam ibu dan neneknya pada keluarga benalu yang telah merampas seluruh hak ibunya.
Namun--- perjalanan Yun Sheren tidak semudah itu, saat ia harus berhadapan dengan para kultivator iblis dari zaman modern--- kelompok kultivator tersembunyi yang ternyata bekerja sama dengan keluarga Jia.
Dalam perjalanan nya, Yun Sheren di pertemukan kembali sama kedua kakaknya yang ternyata juga terlempar ke zaman modern. Kini, sama seperti sang ibu yang menjalankan takdirnya di zaman kuno. Mereka juga harus menjalankan takdirnya di zaman modern.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Ammoera(_), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berbicara
Restoran lantai atas itu memperlihatkan panorama metropolis malam hari yang megah; hamparan lampu-lampu kota yang berpendar laksana lautan permata di balik dinding kaca setinggi langit-langit.
Namun, kontras dengan kemegahan di luar, atmosfer di dalam ruangan itu justru tampak begitu hening, mencekam, dan nyaris tanpa kehidupan.
Tidak ada gelak tawa pengunjung lain, tidak ada gumam obrolan samar, pun tidak ada alunan musik latar. Hanya ada resonansi dari dentingan halus ujung pisau makan perak yang berpadu dengan garpu, bergesekan ritmis di atas piring porselen.
Liu Han telah mengosongkan seluruh restoran malam itu, memesan privasi hanya karena ego dan kerinduannya tidak ingin diusik oleh siapapun dalam momen yang telah ia tunggu dengan saksama selama lima tahun penuh.
Di hadapannya, Jia Li tampak begitu tenang—atau setidaknya, ia berhasil mengendalikan ketenangan yang sempurna. Wanita itu memasukkan potongan daging steik ke mulutnya dengan gerakan yang terukur tanpa banyak bicara.
Ia bukannya tidak sadar; sejak tadi ia tau jika Liu Han terus memperhatikan nya.
Namun, Jia Li memilih untuk abai, mengubur kecamuk batinnya sendiri, meskipun jauh di sudut hatinya ada sebuah getaran halus yang asing, sebuah debaran samar yang enggan ia akui maknanya.
Setelah tiga puluh menit yang berlalu layaknya sebuah keabadian yang menyiksa, suara Jia Li akhirnya memecah keheningan yang padat itu.
"Aku sudah memenuhi persyaratan mu, duduk di sini dan menyelesaikan makan malam ini bersamamu," katanya, meletakkan alat makannya dengan anggun namun tegas. "Sesuai dengan kesepakatan sebelumnya... kau akan menyerahkan hak kepemilikan tanah itu kepadaku tanpa penundaan lagi."
Liu Han terdiam untuk beberapa detik, membiarkan kalimat menuntut itu menggantung di udara.
Pria itu kemudian menyesap anggur merah dari gelas kristalnya dengan perlahan, menikmati cecap rasa pahit yang familiar, sebelum meletakkan gelas itu kembali ke atas meja dengan gerakan yang teramat halus.
Ia melirik wanita di depannya, menyorotkan tatapan yang sarat akan kerinduan, rasa bersalah, sekaligus kepedihan yang sulit diartikan.
"Baik," kata Liu Han, mengangguk pelan sembari melipat kedua tangannya di atas meja. "Aku akan memegang janjiku. Tapi sebelum kita melangkah pada penandatanganan berkas itu... aku rasa masih ada yang harus kita bicarakan. Sesuatu yang mungkin--- tentang masa lalu." Pria itu memajukan tubuhnya, menatap lurus ke dalam netra Jia Li, mencoba meruntuhkan benteng pertahanan wanita itu.
Jia Li tertegun sejenak. Meskipun ia sempat curiga, namun ia segera menggelengkan kepalanya.
"Aku datang ke tempat ini bukan untuk membicarakan tentang masa lalu, Tuan Liu," tukasnya dengan nada suara yang sedingin es, berusaha menegaskan batasan profesional di antara mereka.
"Tapi aku datang ke sini karena menganggap ini adalah sebuah kesempatan... kesempatan untuk memperbaiki kesalahpahaman mu padaku di masa lalu," balas Liu Han, tidak mau kalah ataupun mundur satu langkah pun.
Jia Li mengangkat sebelah alisnya. Ia menatap bingung pada pria yang kini tampak begitu rapuh di balik setelan jas mahalnya. Sebenarnya ada hubungan emosional apa ibu dengannya di masa lalu? batin Jia Li, dipenuhi keheranan yang kian memuncak.
Namun, sebelum Jia Li sempat menyusun kata-kata untuk kembali bersuara dan memprotes, Liu Han lebih dulu memotong jalannya kalimat wanita itu dengan desakan yang emosional.
"Aku ingin menjelaskan semuanya... tapi kau tidak pernah memberikan kesempatan itu kepadaku. Kau memilih untuk menjauh dan membenciku. Tapi kau tidak pernah sekalipun memberiku ruang untuk bicara tentang kebenaran yang sebenarnya terjadi!" kata Liu Han, diakhiri dengan helaan napas berat yang sarat akan beban penyesalan lima tahun terakhir.
Sementara itu, Jia Li benar-benar dibuat pusing. Labirin kata-kata pria ini membuatnya tersesat, karena ia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang sedang pria di depannya ini bicarakan. Jia Li memejamkan matanya sejenak, mencoba mengusir rasa pening yang mendera pelipisnya.
"Tuan Liu, sebenarnya apa yang kau bicarakan? Aku sama sekali tidak mengerti," kata Jia Li tegas setelah sejak tadi memilih bungkam.
Liu Han seketika terdiam. Keheningan yang mencekam mendadak merayap di antara mereka. Ia menatap Jia Li dengan tatapan kosong, seolah wanita di depannya ini tiba-tiba berubah menjadi orang asing yang sama sekali tidak ia kenali.
"Kau... melupakan apa yang terjadi?" tanya Liu Han, memastikan dengan suara yang nyaris berbisik.
Jia Li mengepalkan kedua tangannya di balik gaun. Bukan karena marah, tetapi karena rasa kesal yang mulai menyulut kesabarannya.
Namun, ia menarik napas dalam-dalam, meredam emosinya hingga pancaran matanya berubah menjadi semakin dingin dan tak tersentuh.
"Apapun yang terjadi di masa lalu, aku sama sekali tidak peduli. Jika kau merasa melakukan kesalahan padaku, aku akan memaafkan mu. Meskipun, aku tidak tahu kesalahan apa yang kau maksud," kata Jia Li dengan nada datar. "Yang aku inginkan sekarang... hanyalah menyelamatkan masa depan yang tidak kau ketahui. Jadi, tolong penuhi janjimu malam ini."
Mendengar kalimat itu, gantian Liu Han yang mengepalkan tangannya kuat-kuat. Sendi-sendinya memutih, menahan gejolak emosi yang selama lima tahun ini ia pendam dengan rapi di dalam dada.
"Tidak peduli?" ulang Liu Han dengan kekehan getir.
Ia berdiri dengan kasar hingga kursinya terdorong ke belakang. Tanpa peringatan, ia mencengkeram dan menarik tangan Jia Li agar wanita itu ikut berdiri tepat di depannya, mengikis jarak di antara mereka. Jia Li sedikit tersentak, napasnya tertahan sebelum akhirnya ia mampu menguasai diri dan memasang topeng ketenangannya kembali.
"Tuan Liu—"
"Kau... bukan Jia Li."
DEG!
Jantung Jia Li rasanya ingin copot saat itu juga. Aliran darahnya seolah membeku mendengarkan bisikan tajam yang menghujam langsung ke rahasia terbesarnya.
Namun, sebagai wanita yang terlatih menghadapi badai situasi, ia tetap berdiri tegak. Matanya menatap balik dengan dingin, menolak untuk menunjukkan setitik pun kelemahan.
"Jika kau memang tidak ingin memberikan tanah itu sejak awal, katakan saja. Aku akan mencari tempat lain," katanya ketus, bersiap untuk memutus kontak mata dan melangkah pergi.
Namun, cekalan tangan Liu Han justru semakin mengerat, memaksa Jia Li untuk tetap tinggal dan menatap lurus ke dalam sepasang mata yang penuh dengan tuntutan dan luka itu.