Suara gemericik air hujan yang menabrak kaca jendela kamar menjadi satu-satunya dentang yang memecah keheningan di dalam ruangan bernuansa minimalis itu. Riana duduk di tepi tempat tidur berukuran king size, jemarinya meremas pinggiran sprei satin yang dingin. Di sudut ruangan lain, berdiri seorang pemuda berpostur jangkung yang sedang merapikan kerah kemeja hitamnya di depan cermin besar. Dialah Reza, sosok pria yang sejak dua bulan lalu secara sah menyandang status sebagai suaminya.
Dua bulan bukan waktu yang singkat untuk hidup di bawah satu atap tanpa suara. Dua bulan berjalan seperti rentetan hari tanpa warna, di mana keberadaan satu sama lain dianggap layaknya bayangan yang tak memiliki wujud. Pernikahan ini bukanlah impian yang dianyam oleh cinta, melainkan sebuah simpul paksaan yang dijahit oleh warisan janji masa lalu.
Nenek moyang dari kedua keluarga besar mereka pernah membuat kesepakatan tertulis puluhan tahun lalu, sebuah amanah keluarga yang tak boleh dilanggar oleh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alibi Dan Keraguan
Sinar matahari pagi menembus celah gorden kamar utama, namun kehangatannya tak mampu mengusir ketegangan yang menggantung di udara. Hari ini hari Minggu. Kampus libur, dan suasana perumahan terasa tenang. Namun bagi Reza, ketenangan itu pecah seketika ketika ponsel di meja samping tempat tidurnya bergetar hebat diiringi nada dering yang nyaring.
Reza yang terbangun dengan kepala berat langsung menyambar ponselnya. Nama "Mama" tertera di layar. Jantungnya berdegup kencang. Ia mengusap wajahnya yang masih terasa kaku, lalu menggeser tombol hijau.
"Halo, Ma?" suara Reza serak, berusaha menutupi kepanikannya.
"Reza! Apa-apaan rekaman CCTV semalam?!" suara Mamanya menggelegar dari seberang telepon, penuh nada nada interogasi dan amarah yang tertahan. "Siapa perempuan yang kamu bawa masuk ke rumah, bahkan sampai ke kamar utama jam delapan malam?! Kamu ingat janji kamu dan Riana ke keluarga, kan?!"
Reza mengepalkan tangannya di atas sprei. Otaknya berputar cepat di bawah tekanan hebat. Ia tahu satu kesalahan ucap saja bisa membuat pernikahan perjodohan ini meledak di tangan keluarga besar.
"Ma, tenang dulu. Mama salah paham," potong Reza cepat, suaranya diatur sedemikian rupa agar terdengar meyakinkan. "Perempuan semalam itu bukan teman Reza. Dia itu... sahabatnya Riana dari fakultas sebelah. Dia datang malam-malam cuma mau ambil catatan kuliah dan balikin barang Riana yang ketinggalan."
Hening sejenak di seberang telepon. Mamanya terdengar menimbang alibi tersebut.
"Sahabat Riana? Kenapa harus sampai masuk ke kamar tidur kalian?" cecar Mamanya masih curiga.
"Riana yang nyuruh dia naik ke atas buat ambil barangnya langsung karena Riana lagi sibuk di kamar mandi waktu itu," alibi Reza berbohong tanpa berkedip. "Habis itu dia langsung pulang kok, Ma. Reza yang anterin ke depan."
Di seberang sana, hembusan napas panjang Mamanya terdengar. "Awas ya kalau kamu bohong. Nanti siang Mama sama Papa mau ke rumah kalian."
Telepon terputus. Reza terduduk di tepi kasur, mengusap pelisirnya yang berdenyut.
Sementara itu di kamar tamu, Riana baru saja terbangun dari lelapnya. Tubuhnya masih terasa pegal akibat hawa dingin semalam, namun amarahnya sudah sedikit mereda berganti dengan rasa lelah emosional. Ia merapikan rambutnya, memutar kunci pintu kamar tamu, lalu melangkah keluar.
Di koridor, ia berpapasan dengan Reza yang baru saja keluar dari kamar utama. Wajah Reza tampak pucat dan kusut. Matanya langsung tertuju pada Riana, ada rasa canggung dan bersalah yang terpancar jelas dari tatapannya.
"Mama baru aja telepon," ucap Reza pelan, menghentikan langkah Riana.
Riana tidak berhenti, ia terus melangkah menuju tangga namun menyahut datar, "Terus? Kamu udah siapin alasan apa buat menyelamatkan muka kamu?"
Reza menyusul langkah Riana dari belakang. "Aku bilang ke Mama kalau perempuan semalam itu sahabat kamu. Dia cuma datang mau ambil barang kamu yang ketinggalan."
Langkah Riana terhenti di anak tangga pertama. Ia membalikkan badan, menatap Reza dengan tawa hambar yang sinis. "Sahabat aku? Kamu bikin cerita konyol kayak gitu? Bagaimana kalau Mama nanya langsung ke aku nanti siang?"
"Tolong, Riana," suara Reza melemah, untuk pertama kalinya ada nada memohon di balik bicaranya. "Siang ini Mama sama Papa mau datang ke sini. Tolong bantu aku kali ini aja. Kalau orang tua kita tahu itu Sela, masalahnya bakal panjang dan rumit buat kita berdua."
Riana menatap iris mata Reza dalam-dalam. Ada pertempuran batin di dadanya—antara keinginan untuk membongkar semuanya agar kebebasannya kembali, atau menjaga nama baik keluarga yang selama ini ia hormati.