Tiga tahun lalu, Reno Wijaya dijebak dan difitnah oleh keluarga angkatnya sendiri demi menyelamatkan putra kandung mereka. Dipaksa melarikan diri dalam keadaan terluka, Reno terpaksa menyembunyikan identitas aslinya dan menjadi menantu numpang yang dihina di keluarga Pramudya. Di mata ibu mertua dan orang-orang kota, ia hanyalah pria miskin tak berguna yang hanya bisa mencuci piring dan menerima makian.
Namun, tidak ada satu orang pun yang tahu bahwa penyamaran miskin itu adalah cara Reno menguji hatinya sekaligus memulihkan teknik kultivasi kuno "Sutra Naga Kuno" demi menyelesaikan ujian kesembilan dari organisasinya.
Puncaknya terjadi ketika keluarga mertuanya yang matrealistis memaksa Alya untuk menceraikan Reno demi menikahkan wanita itu dengan seorang tuan muda kaya yang sombong, Brandon Pratama. Di hari yang sama ketika surat cerai dilemparkan ke wajahnya, masa pengasingan Reno resmi berakhir! Kelompok elit terkaya dan terkuat di dunia—Grup Naga Hitam—berlutut menyambut kembali
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deddy kris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: TAMPARAN PERTAMA TUAN MUDA
"Kumpulkan pasukan di luar rumah ini sekarang," perintah Reno dingin ke ponselnya.
"Siap, Tuan Muda! Tiga puluh detik lagi kami mendarat!" sahut Bagas mantap di ujung telepon.
Reno langsung mematikan sambungan teleponnya.
Dia memasukkan kembali ponsel tua itu ke dalam saku celana.
Brandon yang berada di depannya mendadak tertawa terpingkal-pingkal.
"Bwahahaha! Gaya lu sok iya banget, Cok!" ledek Brandon sambil menunjuk muka Reno.
'Sialan, nih orang aktingnya niat banget pake telepon segala,' batin Brandon mengejek.
"Palingan yang telepon lu tadi tukang tambal ban!" seru Maya ikut menyindir.
"Iya tuh! Pura-pura panggil pasukan segala, geli banget gue dengernya!" timpal Hendra sambil mendengkus kasar.
Alya hanya bisa mengusap matanya yang basah. Dia memegang lengan baju Reno pelan.
"Reno... udah, jangan begini. Mending kamu pergi dulu," bisik Alya cemas.
Reno menatap Alya halus, memegang jemari istrinya itu.
"Kamu tenang aja, Alya. Mulai detik ini, nggak akan ada satu orang pun yang bisa nindas kamu lagi," ucap Reno lembut.
"Halah! Bacot lu makin gede aja, Sampah!" teriak Brandon murka.
Brandon memajukan badannya, mengayunkan tinjauan mentah tepat ke arah wajah Reno.
"Mati lu!" jerit Brandon.
Plak!
Gerakan Reno terlalu cepat untuk mata telanjang.
Tangan kanan Reno menepis pukulan itu, lalu menampar pipi Brandon dengan sangat keras.
Brakkk!
Tubuh Brandon terpental tiga meter, menabrak meja kaca sampai hancur berkeping-keping.
Darah segar mengucur deras dari sudut bibir Brandon.
Dua gigi depannya tanggal seketika.
"Aduh! Aduhh! Muka gue!" jerit Brandon kesakitan sambil memegang pipinya yang bengkak.
"Brandon!" teriak Maya panik setengah mati.
"Waduh! Berani-beraninya lu mukul Mas Brandon?!" bentak Hendra gemetaran.
'Hadeuhhh, ini si Reno kesurupan setan mana sih?! Kok tenaganya kayak gajah?!' batin Hendra panik.
"Gue nggak cuma mukul. Gue bisa bikin dia lenyap dari kota ini kalau dia masih berani berisik," sahut Reno datar.
Aura membunuh memancar kuat dari tubuh Reno.
Suasana ruangan langsung mencekam, membuat napas Maya dan Hendra terasa sesak.
Tiba-tiba...
*Brmmmm! Brmmmm! Brmmmm!*
Suara deru mesin mobil mewah meraung-raung di halaman luar rumah keluarga Pramudya.
Suaranya begitu berat dan bergemuruh, membuat kaca-kaca jendela rumah bergetar hebat.
Helikopter militer hitam juga melintas rendah di atas atap rumah.
*Gubrakkk!*
Pintu depan rumah Pramudya didobrak kasar dari luar.
Puluhan pria berjas hitam rapi dengan pin Naga Emas di dada masuk berbondong-bondong.
Mereka semua berbaris rapi membentuk barisan barikade dari pintu luar sampai ke hadapan Reno.
Seorang pria tinggi tegap dengan luka parut di wajahnya melangkah maju dengan gagah.
Pria itu adalah Bagas, Jenderal Naga Hitam!
Bagas langsung berlutut dengan satu kaki di depan Reno.
"Lapor Tuan Muda! Seratus personel elit Naga Hitam dan armada helikopter sudah mengepung area ini!" tegas Bagas berwibawa.
"Seluruh aset keluarga Pratama juga sudah kami bekukan dalam sepuluh detik terakhir!" tambah Bagas lagi.
Para pengawal berjas hitam di belakangnya ikut serentak menundukkan kepala.
"Salam Tuan Muda!" teriak puluhan pengawal itu menggema di seluruh ruangan.
Deggg...!
Mata Maya hampir melompat keluar dari kelopaknya.
Hendra mendadak lemas, terduduk layu di atas lantai yang kotor.
"N-Naga Hitam?! Organisasi rahasia paling berkuasa di negeri ini?!" gumam Hendra dengan bibir gemetaran.
'Sialan! Kenapa bos-bos mafia pada berlutut sama si gembel ini?!' batin Brandon ketakutan setengah mati.
Brandon yang masih terkapar di lantai mendadak merinding hebat.
Ponsel mahal milik Brandon di dalam saku jasnya mendadak berdering nyaring.
Brandon mengangkatnya dengan tangan gemetar.
"H-Hallo, Papi?" jawab Brandon gagap.
"Goblok lu Brandon! Lu ngelakuin kesalahan apa, Hah?!" teriak ayah Brandon hysteris dari balik telepon.
"P-Papi... ada apa?" tanya Brandon kebingungan.
"Perusahaan kita bangkrut seketika! Semua rekening diblokir negara! Papa ditangkap menteri pertahanan sekarang!" jerit ayahnya hancur.
"A-Apa?! Bangkrut?!" teriak Brandon histeris.
Ponsel di tangan Brandon terlepas dan jatuh ke lantai.
Wajah Brandon pucat pasi bagaikan mayat.
Dia mendongak, menatap Reno yang berdiri tegak bak seorang dewa penguasa.
Reno melangkah mendekati Brandon, lalu menginjak dada Brandon dengan sepatu kets tuanya.
"Lu bilang tadi gue anjing kurus yang cuma bisa numpang makan, kan?" tanya Reno dingin.
"A-Ampun... Tuan... ampunnn!" jerit Brandon sambil menangis ketakutan.
Maya dan Hendra ikut merangkak mendekati kaki Reno.
"Reno... eh maksud Mama, Tuan Reno! Maafin Mama! Mama cuma bercanda tadi!" ratap Maya sambil memohon-mohon.
"Iya Reno! Kita kan keluarga! Jangan hancurin kita!" tambah Hendra mengatupkan kedua tangannya.
Reno tersenyum sinis melihat kemunafikan mertuanya itu.
Dia melirik surat cerai yang tergeletak di lantai, lalu mengambilnya.
Reno meremas surat cerai itu hingga hancur menjadi bubuk kertas di dalam genggamannya.
*Sret...*
Serbuk kertas itu berhamburan di atas kepala Brandon.
"Keluarga? Dulu kalian anggap gue sampah. Sekarang kalian sebut gue keluarga?" ucap Reno penuh penekanan.
Alya menatap Reno dengan tatapan tidak percaya.
Suaminya yang selama tiga tahun ini selalu dihina dan diam saja, ternyata adalah sosok tertinggi di balik kekuasaan kota ini.
"Bagas," panggil Reno pelan.
"Siap, Tuan Muda!" sahut Bagas sigap.
"Bawa pria ini keluar. Patahkan kedua kakinya, lalu lempar dia ke sungai," perintah Reno tanpa keraguan.
"Baik, Tuan Muda!" jawab Bagas tegas.
Dua pengawal bertubuh kekar langsung menyeret Brandon yang berteriak-teriak histeris.
"Ampun Tuan Reno! Alya, tolongin gue Alya!" jerit Brandon menghilang di balik pintu.
Suasana ruang tamu menjadi sangat hening dan mencekam.
Reno membalikkan badannya, menatap Maya dan Hendra yang masih gemetaran di lantai.
"Sekarang... giliran kalian berdua," kata Reno pelan.
Tiba-tiba, suara sirine mobil polisi dan kendaraan militer meraung-raung dari arah luar rumah.
Bagas mendekati Reno lagi dengan wajah serius.
"Tuan Muda, ada laporan darurat dari Markas Pusat Naga Hitam," bisik Bagas cepat.
"Ada apa?" tanya Reno menaikkan alisnya.
"Keluarga Utama Wijaya di ibu kota baru saja diserang oleh sekte kultivasi terlarang. Nyawa Kakek Anda dalam bahaya kritis!"