NovelToon NovelToon
Terpisah Oleh Takdir

Terpisah Oleh Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cintapertama
Popularitas:199
Nilai: 5
Nama Author: Diah Lubis27

Mengisahkan tentang seorang pria yang sudah beristri yang mengalami sebuah kecelakaan hingga mengakibatkan ia kehilangan ingatan dan menikah dengan wanita beda keyakinan.
Akan kah kisah cinta mereka bertahan?
Bagaimana akhir kisah cinta mereka?.....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Lubis27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 18

"Abi sepertinya itu keluarga mas Amar sudah tiba. "

Aisyah menahan kegugupan di hatinya. Ia tidak pernah menyangka pria yang selama ini ia kagumi ternyata datang untuk melamarnya.

Amar adalah kakak kelas di kampus Aisyah. Wajahnya sangat tampan dan berwibawa namun tutur katanya lembut dan sangat sopan juga selalu aktif dalam kegiatan amal di kampus mereka. Hal ini lah yang membuat Aisyah diam-diam jatuh cinta padanya.

Ingatan Aisyah menerawang, teringat kejadian dua tahun lalu.

"𝘈𝘥𝘶𝘩 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘵𝘪𝘣𝘢-𝘵𝘪𝘣𝘢 𝘩𝘶𝘫𝘢𝘯, 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘩𝘢𝘭 𝘵𝘢𝘥𝘪 𝘱𝘢𝘯𝘢𝘴.Aisyah pun segera berlari ke sebuah halte di depan halaman kampus untuk berlindung dari hujan. Setelah sampai di halte itu Aisyah mengibas-ngibaskan bajunya yang basah terkena air hujan.

Matanya terbelalak kaget karena ternyata bahan pakaian yang ia pakai menerawang saat terkena air.

"Aduh bagaimana ini. " Aisyah berusaha menutupi bagian tangannya yang terlihat menerawang karena tidak tertutup hijab. Setelan yang di pakai Aisyah saat ini adalah sebuah kemeja lengan panjang berwarna putih, rok panjang Lee berwarna coklat serta hijab segi empat berwarna putih dengan motif garis-garis kecil berwarna coklat.

Saat Aisyah berada dalam kebingungan seorang pemuda datang menghampirinya dan memberika sebuah jaket kepadanya lalu segera berbalik dan pergi tanpa mengatakan sepatah katapun.

"Terimakasih. " Ucap Aisyah pelan yang bahkan mungkin tidak terdengar oleh pemuda yang tak lain adalah Amar.

Sejak kejadian itu rasa suka Aisyah semakin dalam kepada Amar, Namun sebagai seorang wanita dia sama sekali tidak berani tidak berani mengutarakan perasaannya. Selama ini dia hanya berani menatap Amar diam-diam dari kejauhan.

Tapi siapa sangka dia minggu yang lalu keluarga Amar datang ke rumah Aisyah untuk membicarakan soal lamaran, benar-benar seperti do'a yang langsung terbayar tunai.

"Ehemmm.. " Kiyai Usman berdehem membuat Aisyah tersadar dari lamunannya.

"Mau melamun sampai kapan lihat tu rombongan nak Amar sudah mau masuk.

"Ih... Abi!" Aisyah langsung berlari menuju kamarnya.

Sementara Kiyai Usman hanya bisa geleng kepala lalu pergi untuk menyambut rombongan keluarga Amar.

"Albert di cariin ayah tu!" Jessica menghampiri Albert yang sedang membersihkan bak mobil pickup yang tadi ia bawa untuk mengantar semangka.

"Iya baiklah aku segera ke sana." Albert melompat turun dari bak mobil pickup itu lalu berdiri tepat di samping Jessica.

"Nanti malam jangan lupa di pakai. " Bisiknya.

"Jangan mimpi. " Ucap Jessica sambil berlalu pergi meninggalkan Albert.

"Sayang tunggu aku. " Albert juga berlari menyusul Jesica.

"Kata Jessica ayah mencariku, ada apa?"

"Hasil panen kita kali ini benar-benar melimpah, ini berkat sistem irigasi yang kamu buat. Melihat hal itu beberapa tetangga kita minta di buat kan juga irigasi untuk ladang mereka, bagaimana menurut kamu?"

Kampung tempat Jesica dan keluarganya ini tinggal memang masih agak terbelakang bahkan untuk memasakpun mereka masih menggunakan kayu bakar belum ada yang menggunakan kompor gas.

Hampir seluruh warga di kampung ini mata pencariannya adalah berladang. Namun mereka sama sekali belum mengerti mengenai sistem irigasi. Selama ini mereka menyirami kadang mereka dengan cara manual yaitu dengan mengangkat air menggunakan ember dari sungai. Atau sekedar menunggu hujan turun.

Karena itu para warga kampung itu sangat takjub melihat Albert bisa mengalirkan air sungai langsung ke ladang miliknya tanpa harus bersusah-payah mengangkat air lagi.

"Terserah pada ayah saja, kalau memang ayah ingin agar ladang mereka juga bisa di aliri air besok akan aku kerjakan. " Kata Albert.

"Tidak bisa begitu, ide ini kan dari kamu jadi kalau mereka mau ladangnya juga bisa di aliri air mereka harus bayar enak saja mau gratisan. " Jesica memasang wajah kesal.

"Dulu aja waktu aku bilang mau menikah dengan Albert semua meremehkan dan berbicara yang tidak-tidak tentang Albert giliran sekarang malah minta bantuan. Jangan harap. "Omel Jesica.

"Jangan begitu bagaimana pun juga mereka itu tetangga kita. " Ucap Albert menenangkan istrinya itu.

"Nggak ada tetangga tetanggaan. Awas aja kalau kamu berani bantu mereka tanpa di bayar!" Jesica langsung pergi menuju kamarnya.

"Maaf kan Jesica ya, dia memang seperti itu kalau sudah tidak suka sama seseorang kita sama sekali tidak boleh membantu orang itu. " Tutur pak Pohan sambil menghela nafas.

"Tidak apa-apa ayah aku mengerti. Tapi kenapa Jesica sangat membenci mereka?" Tanya Albert penasaran.

"Emmm itu.... " Pak Pohan bingung harus menjelaskan bagaimana. Karena sebenarnya Jesica benci kepada mereka karena terus menyebut Albert menantu yang numpang hidup dengan keluarganya.

"Sudahlah sebaiknya kamu pergi istirahat saja. Kan besok masih harus mengantar semangka lagi. Dan soal masalah irigasinya kita bicarakan lagi lain waktu. "

"Baiklah ayah. " Albert pergi menuju kamarnya dengan membawa rasa penasaran tentang kemarahan Jesica kepada para tetangganya. Namun dia tidak enak untuk bertanya lebih lanjut.

"Kenapa belum di pakai?" Tanya Albert kepada Jesica begitu memasuki kamar mereka dan melihat Jesica sedang duduk di ranjang sambil bermain handphone.

"Jangan harap!" Kata Jesica sambil melipat tangannya di depan dada.

"Memangnya kenapa? Ayo pakai aku mau lihat. " Albert menaik turunkan alisnya.

"Tidak akan. " Teriak Jesica lalu masuk dan membungkus seluruh tubuhnya dengan selimut.

Hal ini membuat Albert terkekeh geli.

"Kamu pasti belum lihat isi bungkusan ini kan?" Tanya Albert yang merasa sudah cukup menggoda istrinya itu.

"Aku tidak mau lihat. " Jawab Jesica dari dalam selimut.

"Kalau tidak lihat kamu pasti menyesal. "

Albert menarik selimut Jesica lalu meletakkan sesuatu yang ia beli tadi tepat di depan Jesica dalam keadaan sudah tidak berbungkus.

Mata Jesica langsung berbinar.

"Jadi ini yang kamu beli?"

"Hmmm... " Albert mengangguk.

"Dasar kamu senang ya ngerjain aku?" Jesica memukul pelan bahu Albert.

"Suka?" Tanya Albert pada istrinya itu.

"Suka. Tapi bagaimana kamu tau kalau aku ingin baju ini?"

Jesica merentangkan sebuah dress cantik dengan warna pink muda yang sudah lama di inginkannya namun belum kesampean karena dress ini hanya di jual di kota.

"Beberapa kali aku melihat kamu memandangi dress ini di aplikasi belanja online. Jadi aku pikir kamu pasti suka. Tapi yang aku heran kenapa tidak kamu pesan saja kalau memang suka?"

"Tidak bisa COD, dan aku tidak punya rekening ucap Jesica sambil menunduk. "

Albert mencium kening istrinya. "Nanti kalau ada waktu luang aku ajak kamu ke kota untuk membuka rekening biar kamu bisa belanja apa yang kamu mau. " Ucap Albert.

"Terimakasih, Kamu baik banget. Tapi kenapa kamu bohongin aku bilang mau beli baju kurang bahan itu. Aku kan jadi malu." Protes Jesica.

"Siapa bilang aku bohong, Tara... " Albert mengeluarkan sesuatu dari balik punggungnya.

"Albert...... !!!!!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!