NovelToon NovelToon
Keliru Mengenal Sang Kapten

Keliru Mengenal Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:430
Nilai: 5
Nama Author: Madelyn_Sa

Amira tidak pernah menyangka hari pertamanya di SMA Dirgantara akan mempertemukannya dengan Alfian—sang kapten basket arogan yang wajah dan suaranya sangat mirip dengan "Sky", teman masa kecil yang memberinya kalung bintang sebelum pergi meninggalkannya bertahun-tahun lalu.
Sayangnya, Alfian bersikap seolah tidak pernah mengenal Amira dan menganggapnya sebagai cewek aneh yang sengaja mencari perhatian, membuat hari-hari sekolah Amira penuh dengan perdebatan sengit dan emosi yang naik turun.
Di balik dingin dan marahnya sang kapten, tersimpan rahasia besar serta memori masa lalu yang terkunci rapat, memaksa Amira terjebak dalam dilema antara rasa rindu pada masa lalu atau membenci kenyataan pahit di hadapannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Madelyn_Sa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Antara Logika, Gengsi, dan Insting

"Tunggu! Maksud kamu apa panggil aku Lily dengan nada kayak gitu?!" seru Amira nyaring.

Kakinya refleks berlari kecil, mengejar langkah kaki Alfian yang panjang-panjang menyusuri koridor lantai dua.

Jujur saja, Amira benci harus mengejar cowok.

Apalagi cowok menyebalkan yang notabene adalah kakak kelasnya sendiri.

"Woi, Kulkas! Berhenti nggak!" panggil Amira lagi karena cowok di depannya sama sekali tidak menoleh.

"Bisa nggak sih nggak usah teriak-teriak?" balas Alfian akhirnya.

Cowok itu menoleh sedikit dari balik bahunya, tapi langkah kakinya sama sekali tidak melambat.

"Ini sekolah, bukan pasar induk tempat lo bisa teriak-teriak sesuka hati," tambah Alfian dengan nada super dingin.

"Ya makanya jawab dulu! Kenapa kamu tiba-tiba panggil aku Lily?" Amira makin geregetan.

Napasnya mulai ngos-ngosan karena harus setengah berlari mengimbangi langkah sang kapten basket yang santai tapi cepat itu.

Alfian tiba-tiba berhenti mendadak di depan deretan loker siswa yang berbaris rapi.

Amira yang tidak siap mengerem langkahnya hampir saja menabrak punggung lebar cowok berjaket varsity hijau tua itu.

"Heh, kalau mau berhenti tuh pakai aba-aba dong!" omel Amira sambil memegangi dahinya.

Alfian membalikkan badan dengan gerakan patah-patah yang anehnya terlihat penuh intimidasi.

Lalu, tanpa aba-aba, cowok itu melangkah maju satu langkah.

Satu lengannya terangkat dan disandarkan ke pintu loker di samping kepala Amira.

Brak!

Amira tersentak kaget.

Tubuhnya otomatis mundur sampai punggungnya menabrak pintu loker besi yang dingin.

Alfian sengaja mengurung Amira di antara dinding loker dan tubuh jangkungnya.

Wangi parfum mint bercampur aroma maskulin menguar tipis, menyerbu indra penciuman Amira dan membuat otaknya sedikit nge-blank.

"Lo tanya kenapa gue panggil lo Lily?" suara bariton Alfian terdengar pelan, namun nadanya berat dan menuntut.

Cowok itu menatap mata Amira lekat-lekat.

Tatapan itu beda dari biasanya—jauh lebih mengintimidasi, tajam, tapi ada sebersit rasa penasaran yang mati-matian ia sembunyikan di balik wajah datarnya.

"I-iya! Kenapa?" balas Amira terbata, meski ia berusaha keras mempertahankan raut wajah garangnya.

Dadanya mendadak terasa sesak.

Bukan karena takut pada sosok kakak kelas di depannya ini, tapi karena jarak wajah mereka yang sama sekali tidak aman untuk kesehatan jantungnya.

"Gue denger lo sendiri yang ngenalin diri pakai nama aneh itu di kantin kemarin," jawab Alfian enteng.

Sudut bibirnya menyunggingkan senyum miring yang sukses bikin Amira merasa sedang dihakimi.

"Oh," Amira mendengus kasar, berusaha menetralkan debaran jantungnya yang mendadak tidak karuan.

Amira membuang muka ke arah samping, menghindari kontak mata langsung dengan mata elang Alfian.

"Cuma itu alasannya?" sambung Amira lagi menantang, kembali menatap cowok itu.

"Bukan karena kamu diam-diam ingat masa lalu kita?"

"Emang lo berharap apa lagi, Anak Baru?" Alfian menaikkan satu alisnya tinggi-tinggi.

"Jangan panggil aku anak baru!" sentak Amira kesal.

"Lo mau gue ngakuin hal-hal nggak masuk akal kayak dongeng masa kecil di bawah pohon mangga itu?" tanya Alfian sarkas, nadanya terdengar sangat meremehkan.

"Itu bukan dongeng! Itu masuk akal! Kalung ini buktinya!"

Amira kembali menarik kalung berbandul bintang dari balik Seragam sekolahnya, menyodorkannya tepat di depan dada Alfian.

Alfian tidak langsung menjawab.

Dia hanya menatap bandul bintang berwarna Gold itu cukup lama dalam diam.

Hening menyelimuti mereka berdua selama beberapa detik, hanya terdengar sayup-sayup suara murid lain dari kejauhan koridor.

Lalu, Alfian tertawa pelan.

Sebuah tawa hambar, kering, dan terdengar sangat menyebalkan di telinga Amira.

"Aksesoris pasaran," cibir Alfian tanpa rasa bersalah sedikit pun. "Banyak dijual di toko online murah. Lo nggak usah halu."

Setelah mengatakan kalimat pedas itu, Alfian menjauhkan tubuhnya.

Cowok itu melangkah pergi begitu saja menyusuri koridor, sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana abu-abunya dengan gaya sok keren.

"Dasar cowok batu! Kakak kelas arogan!" teriak Amira meluapkan kekesalannya.

Namun suaranya sengaja ia tahan setengah volume supaya tidak terlalu menarik perhatian guru yang mungkin lewat.

Sial, dia benar-benar menyebalkan tingkat dewa.

Amira merosot pelan, menyandarkan punggungnya ke loker yang dingin.

Napasnya ditarik dan dihembuskan perlahan, diatur sedemikian rupa supaya tidak kelihatan kalau dia baru saja hampir kehilangan akal sehat.

Gila saja.

Jantungnya berdebar kencang hanya karena dideketin oleh cowok yang bahkan menuduhnya halu.

Tapi kenapa sikapnya, cara jalannya, dan nada bicaranya mirip banget sama Sky? batin Amira frustrasi.

Logikanya menyuruhnya berhenti berharap, tapi instingnya berteriak keras kalau cowok itu adalah orang yang sama.

Jam sekolah akhirnya merangkak habis dengan lambat.

Bel pulang sekolah yang ditunggu-tunggu berbunyi nyaring, membuat seisi kelas XI bersorak kegirangan.

Amira berjalan menuju gerbang utama dengan langkah gontai dan wajah ditekuk.

Kepalanya masih dipenuhi bayangan wajah Alfian yang sok cool dan kata-kata pedasnya di depan loker tadi.

Matahari bersinar terik, membuat udara siang itu terasa sangat panas dan membakar kulit.

"Mana sih ojolnya, lama banget," gerutu Amira sambil mengipasi wajahnya dengan buku tulis tipis.

Dia tidak sadar, kalau dari kejauhan, ada sepasang mata yang terus memperhatikannya.

Sepasang mata itu menatap dari balik kaca gelap sebuah mobil sedan hitam mewah yang terparkir nyaman di bawah rindangnya pohon ketapang seberang jalan.

"Gimana, Fian? Itu cewek anak kelas XI yang lo maksud?" suara cowok dari bangku pengemudi memecah keheningan kabin ber-AC itu.

Alfian yang duduk di kursi penumpang depan hanya terdiam.

Matanya masih terkunci pada sosok Amira yang sedang berdiri kepanasan menunggu jemputan.

"Gak tau, Rio," jawab Alfian pelan, suaranya terdengar tidak yakin seratus persen.

Rio menoleh ke arah sahabatnya itu, alisnya berkerut heran.

"Tumben lo sampai merhatiin cewek segitunya. Aneh, atau lo yang emang lagi amnesia dan nggak mau ingat?" goda Rio sambil menyalakan mesin mobilnya perlahan.

"Gue nggak amnesia, sialan," umpat Alfian kesal.

Alfian mendengus keras, lalu membuang muka ke arah jendela samping, enggan menatap Rio.

Jujur saja, Alfian merasa sangat terganggu hari ini.

Bukan karena kehadiran Amira mengancam ketenangannya atau posisinya sebagai kapten basket.

Tapi karena setiap kali dia melihat kilatan marah di mata cewek itu, ada sesuatu yang salah dalam dirinya.

Setiap kali ia menatap kalung bintang murahan itu, ada memori buram yang mendadak menusuk kepalanya.

Alfian memijat pelipisnya perlahan.

Kepalanya memang sering berdenyut sakit, nyeri yang tak kasat mata namun selalu sukses merusak mood-nya seharian penuh.

Rasa sakit itu selalu muncul setiap kali dia mencoba memaksa otak logisnya untuk mengingat hal-hal detail di masa lalunya yang kosong.

Makanya, ia memilih untuk menutup rapat-rapat lembaran masa lalu itu.

Membuangnya jauh-jauh seolah itu adalah penyakit yang harus dihindari.

Bagi Alfian, masa lalu adalah hal tidak penting yang hanya membuang-buang waktu dan bikin kepalanya mau pecah.

...***...

Keesokan paginya, Amira memutuskan untuk mengambil jalur damai demi kewarasannya sendiri.

Atau setidaknya, dia bertekad akan pura-pura buta, tuli, dan tidak peduli pada eksistensi Alfian di sekolah ini.

"Capek gue, Ra. Cowok kayak gitu emang nggak pantes buat ditangisin, apalagi dipikirin," kata Amira berapi-api.

Dia sedang mengunyah risoles hangat di kantin dengan gaya gemas, seolah risoles itu adalah kepala Alfian yang sedang ia gigit.

Rara yang duduk di depannya mengangguk setuju sambil menyeruput es jeruknya.

"Nah, gitu dong, Mir! Waras juga akhirnya lo," kata Rara santai.

"Lagian hidup lo di SMA ini masih panjang. Ngapain mikirin kakak kelas es batu berjalan kayak dia."

"Dih, siapa juga yang mikirin dia? Emangnya dia pusat tata surya?" cibir Amira sengit.

Maya yang baru datang membawa nampan siomay ikut menimpali pembicaraan mereka dengan antusias.

"Lagian ya, Mir, lo mending mundur teratur deh sebelum dilabrak," bisik Maya dengan nada sok rahasia.

"Dilabrak? Sama siapa?" dahi Amira berkerut bingung.

"Ya sama pacarnya Alfian lah!" celetuk Maya tanpa rasa bersalah.

Uhuk! Uhuk!

Amira langsung tersedak risolesnya sendiri.

Dia terbatuk-batuk sampai wajahnya memerah, buru-buru meraih gelas es teh manisnya dan meneguknya tandas.

"P-pacar? Dia punya pacar?" tanya Amira setelah napasnya kembali normal.

"Lah, lo nggak tahu?" Rara membelalakkan mata.

"Satu sekolahan juga tahu kali gosipnya."tambah Rara

"Gosipnya sih gitu. Anak kelas XII, kakak kelas kita juga, yang ikut tim cheerleader utama," jelas Maya sambil mengunyah siomaynya.

"Namanya Kak Sisca. Cantik, hits, body goals, pokoknya perfect deh."

Amira terdiam.

Tangannya yang memegang garpu mendadak kaku di udara.

Ada rasa perih yang aneh, seolah-olah hatinya baru saja dicubit oleh tangan tak kasat mata.

Rasa yang entah datang dari mana, seolah dia baru saja kehilangan sesuatu yang berharga.

Bodoh banget sih kamu, Amira! makinya dalam hati.

Dia merutuki dirinya sendiri yang bisa-bisanya merasa cemburu pada cowok yang bahkan tidak menganggap eksistensinya ada.

"Emang ceweknya tahan pacaran sama es batu songong kayak gitu?" cibir Amira akhirnya, mencoba menutupi rasa gengsinya.

"Palingan juga pacaran settingan biar kelihatan keren."

"Hush! Mulut lo, Mir! Nanti kedengeran antek-anteknya Kak Sisca bisa habis lo," peringat Rara panik.

Amira mendengus panjang.

Dia berdiri dari kursinya, berniat membuang bungkus plastik ke tempat sampah di ujung kantin.

"Gue buang sampah dulu," pamitnya singkat.

Namun, langkah kakinya terhenti secara otomatis di tengah jalan.

Matanya tak sengaja menangkap pemandangan di meja tengah kantin yang selalu jadi wilayah kekuasaan geng basket.

Di sana, Alfian sedang duduk santai.

Cowok itu tidak terlihat dingin atau menakutkan seperti saat berhadapan dengannya kemarin.

Alfian sedang tertawa lebar menanggapi candaan Rio dan teman-temannya yang lain.

Tawa itu.

Amira mematung, matanya tak berkedip menatap wajah Alfian.

Tawa itu benar-benar mirip... tidak, tawa itu sama persis dengan tawa Sky saat mereka bermain petak umpet di bawah pohon mangga bertahun-tahun yang lalu.

Cara matanya menyipit saat tertawa, cara sudut bibirnya tertarik sempurna... semuanya sama.

Amira terpaku di tempat, kakinya terasa berat untuk digerakkan.

"Mir, ngapain berdiri di tengah jalan? Ayo balik ke kelas, bentar lagi bel!" panggil Maya dari meja mereka.

"Bentar," sahut Amira tanpa menoleh sedikit pun.

Rasa kesal dan cemburu yang tadi sempat mampir mendadak menguap, digantikan oleh dorongan insting yang sangat kuat.

Dia harus memastikan sesuatu.

Dia tidak peduli soal Kak Sisca, dia tidak peduli soal gosip satu sekolah, dia cuma ingin tahu kebenarannya.

Apakah cowok itu benar-benar Alfian si kakak kelas arogan, atau Sky yang sedang bersembunyi di balik topeng es batunya?

Amira memutar arah langkahnya, memberanikan diri berjalan mendekati meja tengah yang penuh dengan anak-anak populer itu.

Langkahnya mantap, tangannya mengepal di sisi tubuh.

"Alfian!" panggil Amira dengan nada suara yang sedikit lebih keras dari biasanya.

Seketika itu juga, suasana kantin yang tadinya ramai mendadak senyap.

Seperti ada yang menekan tombol mute secara serempak.

Alfian berhenti tertawa.

Senyum di wajahnya lenyap dalam hitungan detik berganti dengan raut wajah kaku.

Dia menoleh perlahan, menatap Amira dengan tatapan yang sudah sangat tidak bersahabat.

"Lo lagi?" desis Alfian tajam.

Kali ini nada suaranya benar-benar menunjukkan kalau batas toleransinya sudah habis.

Rio dan teman-teman satu gengnya saling pandang, menatap Amira dengan raut wajah antara kaget dan kasihan.

"Gue cuma mau nanya satu hal sama lo," Amira menelan ludah dengan susah payah.

Tangannya meremas ujung rok sekolahnya kuat-kuat, mencari keberanian dari sana.

Semua mata di kantin kini tertuju padanya.

Amira menarik napas panjang, menatap langsung ke dalam manik mata hitam milik Alfian.

"Dulu..." suara Amira terdengar pelan namun tegas di tengah kesunyian kantin.

"...lo pernah nanam biji mangga di belakang rumah nenek lo nggak?"

Pertanyaan itu seolah menjatuhkan bom tak kasat mata.

Seluruh penghuni kantin menahan napas, bingung dengan arah pembicaraan siswi baru yang berani menantang sang kapten ini.

Alfian terdiam kaku.

Wajahnya yang tadinya marah memerah, mendadak berubah sedikit pucat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!