Rania Almira, gadis buta yang membawa rahasia keluarga Aristama, mengira telah berhasil meninggalkan suaminya, Brian Aristama.
Namun, ia tidak tahu bahwa pria yang ditinggalkannya sedang datang untuk merebutnya kembali dari tangan Daffa.
Saat obsesi, cinta, dan dendam saling bertabrakan, mampukah Brian merajut kembali rumah tangganya dan memberikan Daffa pelajaran yang membuat pria itu menyesal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibewok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 - Meracuni Makanan
Siang harinya, setelah cukup lama mendengarkan penjelasan Rio mengenai perkembangan kerja sama antara dirinya dan PT. Herbalife, Rania akhirnya menyandarkan punggungnya ke sofa.
Kepalanya terasa sedikit berat.
Beberapa berkas masih berada di atas meja, sementara laptop di hadapannya menampilkan sejumlah rancangan pengembangan perusahaan.
Rio berdiri beberapa langkah di depannya. "Untuk sementara, itu yang perlu Nona ketahui mengenai kelanjutan kerja sama ini."
Rania mengangguk. "Baik. Terima kasih, Rio."
Rio membungkuk sopan. "Sama-sama, Nona."
Saat Rio hendak meninggalkan ruangan, Brian muncul dari ambang pintu.
Tatapannya langsung tertuju kepada Rania yang terlihat kelelahan.
Brian bersandar sebentar pada kusen pintu. "Kau sedang hamil muda."
Rania menoleh.
Brian mengangkat ponselnya yang sejak tadi berada di tangannya. "Biasanya wanita hamil suka mengidam."
Jarinya kembali menggulir layar. "Kau ingin makan apa? Aku bisa membelikannya."
Rania mengernyit. "Semua wanita yang sedang hamil muda memang suka mengidam."
Ia kemudian mengangkat bahu. "Tapi tidak denganku."
Jari Brian yang sedang menggulir layar berhenti. Tatapannya beralih kepada Rania.
"Kau tidak perlu repot-repot, Tuan Brian Aristama," ucap Rania.
Brian memasukkan ponselnya ke dalam saku, kemudian berjalan mendekat. Ia duduk di sisi Rania. "Benarkah?" ucap Brian.
Rania menoleh jarak mereka terlalu dekat. Rania spontan menegakkan tubuhnya.
Namun ia tidak menjawab, ia justru bergegas berdiri. Namun baru saja tubuhnya terangkat...
"Tak!" Brian menahan lengannya.
Rania kehilangan keseimbangan. "Ah!" Tubuhnya jatuh kembali, tepat ke pangkuan Brian.
"Brian, kau—" kalimat Rania terhenti.
Brian tidak langsung menatap wajahnya. Tatapannya justru tertuju kepada perut Rania.
Perlahan, tangannya terangkat. Jemarinya menyentuh perut Rania dengan sangat lembut.
Rania membeku. Beberapa detik mereka hanya diam. Ada sesuatu yang berbeda dari tatapan Brian kali ini.
Tidak ada senyum menyebalkan.
Tidak ada godaan.
Hanya tatapan yang begitu dalam.
Seolah-olah pria itu sedang mencoba membayangkan kehidupan kecil yang sedang tumbuh di sana.
Rania akhirnya tersadar, ia segera mendorong dada Brian. "Sudah." Rania berdiri dan merapikan pakaiannya. "Aku tidak membutuhkan bantuanmu."
Brian tidak mengatakan apa-apa.
Rania mengambil ponselnya. "Kau juga tidak perlu repot-repot memesan makanan." Ia menunjukkan layar ponselnya. "Aku sudah memesannya."
Namun Brian tidak melihat layar tersebut. Tatapannya justru tertuju pada sesuatu yang melingkar di jari Rania.
Sebuah cincin berlian.
Senyum di wajah Brian perlahan menghilang. Ia berdiri. Tangannya kembali menggenggam pergelangan Rania.
"Brian, lepaskan." Rania mencoba menarik tangannya. "Apa maumu?"
Brian tidak menjawab. Ia justru menunjuk cincin di jari Rania. "Kau benar-benar bertunangan dengan Daffa?"
Rania menatapnya tajam. "Kau di sini untuk urusan bisnis." Ia menarik kembali tangannya. "Bukan untuk mencampuri urusanku."
Brian terdiam, ia melangkah mendekat.
Rania tidak sempat mundur.
Brian membungkukkan tubuhnya sedikit. Lalu berbisik tepat di dekat telinganya. "Ah... aku suka cara bicaramu, Rania."
Rania membeku.
Brian kembali berdiri tegak. Kemudian pria itu berbalik dan berjalan pergi.
Rania masih berdiri di tempatnya. Detak jantungnya berdetak lebih cepat. Ia menyentuh dadanya sendiri.
"Kenapa dia harus berbisik seperti itu?" Rania menghela napas panjang.
Kemudian tangannya turun menyentuh perutnya. "Lihat ayahmu mulai berulah." Ia menggeleng kecil. "Benar-benar menyebalkan."
Rania kembali menuju meja. Ia merapikan beberapa berkas, lalu menutup laptopnya.
Namun baru saja ia memasukkan dokumen ke dalam tas.
Ponselnya berdering. Nama Daffa muncul di layar.
Rania segera mengangkatnya. "Halo, Daffa."
"Bagaimana pertemuan bisnisnya?" Suara Daffa terdengar dari seberang. "Apakah Brian mempersulitmu?"
Rania terdiam sesaat, kemudian menjawab, "semuanya baik-baik saja."
"Syukurlah." Daffa terdengar sedikit lega. "Rania, aku sudah di rumah."
Rania berhenti memasukkan berkas ke dalam tas.
"Kau janji kita akan makan siang bersama di rumah," ucap Daffa.
Rania menunduk. "Daffa, maaf, aku tidak bisa," ucap Rania.
Keheningan terdengar beberapa detik.
"Kenapa?" tanya Daffa.
Rania menarik napas. "Aku sedang memeriksa proses pembukuan pabrik teh herbal di desa." Ia melihat beberapa dokumen di atas meja. "Aku sedang mempelajarinya untuk diterapkan di PT. Herbalife."
Rania melanjutkan, "Rio, asistennya Brian, juga sudah memberikan beberapa saran mengenai kerja sama ini."
"Aku ingin menyelesaikannya lebih cepat." Rania tersenyum kecil. "JJadi... maaf, Daffa."
Dari seberang terdengar helaan napas. Namun kemudian suara Daffa kembali terdengar. "Ya sudah."
Rania sedikit terkejut.
"Tidak apa-apa. Masih ada banyak waktu untuk kita berdua," jawab Daffa.
Senyum kecil muncul di wajah Rania. "Terima kasih sudah mengerti."
"Yang penting kau jangan terlalu lelah." Suara Daffa terdengar lembut. "Makanlah dengan baik." Kemudian ia menambahkan, "dan jangan lupa minum obat serta vitaminmu."
Rania mengangguk meskipun Daffa tidak bisa melihatnya. "Hm,"jawabnya singkat.
Tut! Panggilan berakhir.
Senyum Rania perlahan menghilang, ia menatap layar ponselnya beberapa saat sebelum memasukkannya ke dalam tas.
Sementara itu...
Daffa masih duduk di ruang makan.
Di hadapannya terdapat hidangan makan siang yang sudah tersaji.
Namun tidak ada seorang pun yang duduk di seberangnya.
Daffa menundukkan wajah, tangannya menggenggam sebuah botol kecil.
Di dalamnya terdapat obat yang sebelumnya sudah ia siapkan.
Tatapannya kemudian beralih kepada makanan yang seharusnya disantap Rania.
Rahangnya mengeras, tangannya mencengkeram botol itu semakin kuat.
"Maaf, Rania..."
Suara Daffa terdengar sangat pelan, ia menutup matanya sejenak. "Tapi aku tidak punya pilihan."
Daffa membuka matanya kembali, tatapannya kosong. "Kalau aku membiarkanmu terus mempertahankan kehamilan itu..." Ia terdiam.
Seolah bahkan dirinya sendiri tidak sanggup mengucapkan kalimat berikutnya.
Kemudian Daffa menarik napas panjang. "Tenang..." Ia menatap makanan di hadapannya. "Masih ada waktu Daffa."
Daffa perlahan menyimpan kembali botol tersebut. "Jangan terburu-buru."
Siang itu...
Daffa akhirnya duduk sendirian di meja makan.
Tidak ada percakapan.
Tidak ada tawa.
Hanya suara alat makan yang sesekali terdengar di tengah keheningan. Namun satu hal tidak pernah berubah.
Cengkeraman tangan Daffa tidak pernah benar-benar mengendur.
Siang ini, Rania selamat dari rencana busuk Daffa, namun tidak ada yang tahu apakah rencana Daffa selanjutnya akan berhasil atau tidak?
Bersambung...