NovelToon NovelToon
Melarikan Diri Dari Raja

Melarikan Diri Dari Raja

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Time Travel
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Saasaa

Esmera, gadis yatim piatu yang dibesarkan oleh pelayan istana, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah Raja Edris Ruan memilihnya.

Mereka menikah, namun pernikahan itu serasa neraka bagi Esmera. Dan puncaknya, muncul seorang gadis bernama Lyra Arabella, dia mengaku sebagai adik kandung Esmera. Dan akan menggantikan posisi kakaknya sebagai Ratu.

Saat itulah Esmera mengetahui kebenaran yang mengerikan. Pernikahannya dengan Edris bukan sekadar kisah cinta. Dia telah dipersiapkan sejak bayi untuk menjadi pengantin keturunan raja pengkhianat, demi mematahkan kutukan keluarga Raja Edris.

Esmera dibunuh oleh Lyra, adiknya sendiri. Karena Lyra berpikir, jika kakaknya masih hidup, dia akan selalu menjadi yang kedua.

Namun keajaiban itu datang. Esme kembali ke masa lalu, disaat dia belum menjadi Ratu.

Kali ini Esmera tahu apa yang akan terjadi.

Sebelum Raja Edris menemukannya, Esmera akan melarikan diri dan mengubah takdirnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan Sang Raja

Setelah bekerja sama dengan Esmera, Edris tidak membutuhkan waktu lama untuk membersihkan bibit-bibit pembelotan yang selama ini diam-diam tumbuh di dalam kerajaannya.

Penyelidikan yang dilakukan Bidam dan para ksatria kerajaan semakin memperkuat informasi yang diberikan Esmera. Satu demi satu bukti ditemukan.

Surat-surat rahasia, pergerakan pasukan yang mencurigakan, hubungan tersembunyi dengan beberapa bangsawan, hingga rencana yang seharusnya tidak pernah diketahui oleh istana.

Dan pada akhirnya, nama Gareth muncul sebagai pusat dari semuanya. Duke muda itu tidak bisa lagi mengelak.

Dengan bukti yang cukup untuk membungkam segala pembelaan, Edris menjatuhkan hukuman mati kepada Gareth.

Tidak ada pengampunan.

Tidak ada kesempatan kedua.

Gareth dihukum penggal di hadapan para saksi kerajaan, sementara seluruh anggota keluarganya yang terlibat ditangkap dan dipenjara. Harta benda mereka disita, kedudukan mereka dicabut, dan nama keluarga mereka dihapus dari jajaran bangsawan yang memiliki pengaruh di kerajaan.

Keputusan Edris sempat membuat beberapa bangsawan terkejut. Namun keterkejutan itu tidak berlangsung lama. Bukti yang diberikan kerajaan terlalu kuat untuk dibantah.

Justru sebagian besar bangsawan merasa lega karena raja bertindak cepat sebelum pemberontakan itu berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih besar.

"Yang Mulia telah mengambil keputusan yang tepat."

"Jika Duke Gareth dibiarkan, entah berapa banyak pasukan yang sudah berhasil dia kumpulkan."

"Kerajaan ini nyaris memiliki pemberontakan besar tanpa kita sadari."

Suara-suara dukungan terdengar di berbagai sudut istana.

Bahkan beberapa bangsawan yang sebelumnya ragu terhadap kemampuan Edris sebagai raja mulai mengubah pandangan mereka.

Raja muda itu ternyata tidak hanya pandai duduk di singgasana. Dia juga tahu kapan harus menghunus pedang. Namun ada satu keluarga yang tidak terseret dalam hukuman tersebut.

Keluarga Arabella.

Hubungan mereka dengan Gareth memang cukup mencurigakan. Gareth bahkan diketahui sering mengunjungi kediaman keluarga Arabella dan memiliki hubungan yang cukup dekat dengan mereka.

Tetapi kedekatan bukanlah bukti keterlibatan dalam pemberontakan.

Setelah penyelidikan dilakukan lebih jauh, tidak ditemukan bukti yang cukup untuk menyatakan bahwa keluarga Arabella ikut merencanakan pemberontakan.

Karena itu, Edris tidak mengambil tindakan apa pun terhadap mereka.

Esmera sendiri memiliki dugaan mengenai alasan Gareth mendekati keluarga tersebut.

"Sepertinya Gareth mengincar Lyra," gumam Esmera suatu hari ketika membicarakan masalah itu bersama Edris.

Edris yang sedang membaca laporan mengangkat pandangannya."Putri keluarga Arabella? Adikmu?"

Esmera mengangguk."Lyra Arabella berdarah biru. Keturunan Raja terdahulu. Jika Yang mulia mengincar ku, maka Gareth juga mengincar Lyra, tujuannya pun sama, yaitu untuk bisa memiliki keturunan yang agung. Darah para Raja."

Edris menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya memahami maksud gadis itu."Jadi kau berpikir Gareth mengincar Lyra?"

"Kurasa begitu." Esmera menyandarkan tubuhnya pada kursi."Dimasa depan, Gareth juga berusaha mendekati keluarga Arabella. Aku tahu informasi itu dari bibi Daisy ketika dia berusaha menekankan ku, saat itu aku tidak terlalu memikirkannya. Tapi setelah mengetahui rencana Gareth sekarang, semuanya terasa masuk akal."

"Dia ingin menikahi Lyra, atau setidaknya menjadikannya calon ratu." Esmera menghela napas.

"Jika dia berhasil mendapatkan dukungan keluarga Arabella, kedudukannya akan menjadi jauh lebih kuat. Lyra memiliki darah bangsawan yang cocok untuk menjadi pasangan seorang raja. Dan Gareth mungkin berpikir dengan menjadikan Lyra sebagai calon ratunya, dia bisa mendapatkan dukungan politik yang lebih besar."

Edris terdiam. Kemudian sudut bibirnya terangkat tipis."Sayangnya rencananya gagal."

"Gagal total," jawab Esmera datar.

Gareth tetap mati. Baik sekarang maupun dimasa depan. Hanya saja ada satu perbedaan besar. Di masa depan yang pernah dijalani Esmera, kematian Gareth bukanlah akhir dari masalah.

Sebelum akhirnya tewas, pemberontakan itu sempat berkembang menjadi perang besar. Pasukan bergerak. Wilayah-wilayah kerajaan menjadi kacau. Banyak bangsawan harus menentukan pihak.

Dan Edris, yang saat itu telah menjadi raja, harus menghabiskan waktu dan tenaga untuk meredam semuanya. Perang tersebut bahkan sempat membuat Edris kewalahan.

Sekarang?

Semua itu tidak pernah terjadi.

Gareth mati sebelum sempat menyalakan api yang lebih besar. Dan tanpa Esmera sadari, gadis itu telah mengubah masa depan dengan cukup drastis.

Namun ada satu masalah lain yang mulai mengganggu Esmera.

Dirinya sendiri.

Semenjak bekerja sama dengan Edris, Esmera semakin sering berada di sekitar raja tersebut. Awalnya dia hanya memberikan informasi. Itu saja.

Dia akan mengatakan apa yang dia ketahui tentang masa depan, memberikan peringatan mengenai orang-orang tertentu, kemudian kembali ke rumah barunya dan menjalani hidupnya sendiri.

Setidaknya, itulah yang ada di dalam pikirannya.

Kenyataannya?

Sangat jauh berbeda.

Esmera mulai ikut dalam berbagai urusan Edris, dan entah kenapa pria itu selalu ada alasan yang kuat untuk bisa membuat Esmera patuh.

Ketika Edris pergi menemui para bangsawan, Esmera kadang ikut. Ketika Edris pergi ke kediaman salah satu keluarga bangsawan untuk melakukan penyelidikan, Esmera ada di sana. Bahkan ketika Edris pergi ke istana, entah bagaimana Esmera sering kali ikut terseret.

Awalnya Esmera tidak terlalu mempermasalahkannya. Dia mengira itu hanya sementara. Tetapi semakin lama, dia mulai menyadari sesuatu.

Rumah barunya hampir tidak pernah dia tempati.

Suatu sore, Esmera berdiri di depan jendela salah satu ruangan di kediaman Edris sambil menatap halaman.

Dia mengerutkan kening."Aku kan punya rumah." Dia mengatakannya pelan.

Seorang pelayan yang berada tidak jauh darinya menundukkan kepala, berusaha menahan senyum.

Esmera berbalik."Tapi kenapa aku hampir tidak pernah berada di sana?"

Tidak ada yang menjawab.

Esmera menghela napas panjang. Semakin dipikirkan, semakin dia merasa ada sesuatu yang tidak beres. Dia datang ke tempat ini untuk memberikan informasi kepada Edris.

Bukan untuk menjadi bayangan raja. Bukan untuk mengikuti setiap langkahnya. Dan terlebih lagi, dia bukan pelayan pribadi Edris. Namun entah sejak kapan, kehidupannya mulai berputar di sekitar pria itu.

Yang lebih menyebalkan?

Esmera seperti tersihir oleh kesibukan barunya itu?

Namun rupanya hari itu, akhirnya Esmera tidak tahan lagi. Edris baru saja selesai membaca beberapa laporan ketika pintu ruangannya terbuka.

Esmera masuk tanpa mengetuk. Edris mengangkat kepala. Melihat wajah gadis itu yang terlihat kesal, dia sudah bisa menebak akan ada masalah.

"Ada apa?"

Esmera berjalan mendekat."Yang Mulia." Nada suaranya terdengar sangat formal. Terlalu formal.

Edris meletakkan laporan di tangannya.

"Aku ingin mengajukan keberatan."

Alis Edris terangkat."Keberatan?"

"Ya." Esmera berdiri tepat di depan meja Edris."Aku ingin tahu sampai kapan aku harus terus berada di samping Yang Mulia?"

Edris menatapnya. Lalu dengan tenang bertanya,"Maksudmu?"

Esmera menarik napas dalam-dalam."Aku bekerja sama dengan Yang Mulia untuk memberikan informasi. Aku sudah melakukan tugasku. Aku memberitahumu siapa yang akan memberontak, siapa yang berbahaya, bahkan apa yang mungkin terjadi di masa depan."

Dia menunjuk dirinya sendiri."Jadi kenapa aku harus ikut ke mana pun Yang Mulia pergi?"

Edris diam.

Esmera semakin kesal karena pria itu hanya menatapnya tanpa menjawab."Aku punya rumah, punya kehidupanku sendiri, tapi aku hampir tidak pernah berada di rumahku sendiri!"

Edris bersandar pada kursinya."Kau bisa pulang kapan pun kau mau."

Esmera terdiam. Jawaban itu justru membuatnya semakin kesal."Masalahnya bukan itu!"

"Kalau begitu apa?"

"Yang Mulia!" Esmera mengepalkan tangannya."Aku tidak mengatakan bahwa aku tidak mau membantu. Aku hanya mengatakan bahwa aku tidak perlu mengikuti semua kegiatan Yang Mulia!"

Edris menatapnya dengan wajah tenang."Kenapa?"

Esmera berkedip."Kenapa?"

"Kenapa kau keberatan berada di sisiku?" Pertanyaan sederhana itu justru membuat Esmera terdiam.

Dia tahu jawabannya.

Karena berada terlalu dekat dengan Edris berbahaya. Karena semakin lama dia berada di sisi pria itu, semakin sulit baginya untuk menjaga jarak.

Dan yang paling membuatnya kesal adalah kenyataan bahwa Edris sepertinya sengaja membiarkan hal tersebut terjadi.

Esmera menyipitkan mata."Jangan bilang Yang Mulia sengaja melakukan ini."

"Melakukan apa?"

"Membuatku terus berada di dekatmu."

Edris tidak langsung menjawab. Hanya senyum tipis yang muncul di wajahnya. Senyum yang membuat Esmera semakin curiga.

"Esmera," katanya tenang, "kau sendiri yang mengatakan bahwa masa depan bisa berubah."

"Benar."

"Kalau begitu aku tidak bisa membiarkan satu-satunya orang yang mengetahui kemungkinan masa depan berada terlalu jauh dariku."

Esmera memelototinya.

Tidak.

Ini jelas jebakan.

Dia mulai menyadarinya sekarang.

Edris tidak pernah secara terang-terangan memaksanya untuk tinggal. Dia tidak pernah mengatakan, kau harus ikut denganku. Namun setiap kali Esmera hendak kembali ke rumahnya, selalu ada alasan baru.

Ada informasi yang harus dibicarakan.

Ada penyelidikan yang membutuhkan pengetahuannya.

Ada keputusan yang ingin didiskusikan.

Dan tanpa sadar, Esmera selalu kembali lagi.

Sedikit demi sedikit.

Hari demi hari.

Sampai akhirnya rumah yang seharusnya menjadi tempat tinggalnya sendiri justru terasa seperti tempat yang hanya sesekali dia kunjungi.

Esmera menghela napas panjang."Aku merasa seperti masuk ke dalam perangkap."

Edris menatapnya."Aku tidak berbuat apa-apa."

"Untuk sementara waktu, tolong jangan mengirim Bidam ke tempatku, biarkan aku menikmati kehidupan baruku, Yang mulia." Gertak Esmera, dengan memasang wajah kesal.

Edris tentu saja masih bertahan dengan raut wajah datarnya."Baiklah, nikmati kehidupan barumu, Esmera." Jawabnya, dengan tatapan mata sinisnya.

Kau milikku Esmera, tempatmu adalah di sisiku. Aku akan selalu ada di kehidupanmu, baik sekarang atau pun nanti di masa depan.

1
Yuliana Hakim
jangan lama2 up'nya thor..
Saasaa: siap, aku usahain ya...
total 1 replies
Natasya
👌
cleona
lanjut
cleona
lanjut please..
Saasaa: Sudah di up ya, makasih udah baca
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!