“Aku tidak akan menceraikanmu, Tiara.”
Haikal mengucapkan kalimat itu tanpa sedikit pun keraguan.
“Dan aku mengizinkanmu tetap tinggal di rumah ini.”
Air mata Tiara mulai mengalir lagi.
“Tapi, izinkan aku untuk menikah lagi.”
Tiara menatap pria yang selama ini menjadi tempatnya menggantungkan seluruh hidup. Pria yang baru saja ia kira akan menerima kekurangannya yang divonis mandul oleh Dokter.
Ternyata, Haikal hanya tidak ingin kehilangan istrinya. Ia ingin mempertahankan Tiara sebagai istri pertama sekaligus mengambil wanita lain sebagai calon ibu bagi anak-anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoungLady, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
POV Haikal
Suara mesin jahit terdengar bersahut-sahutan dari dalam gedung garmen milik Haikal. Para pekerja sibuk menyelesaikan pesanan pakaian yang harus dikirim dalam beberapa hari ke depan. Haikal nampak berdiri sambil bertolak pinggang, mengamati kinerja para pekerjanya dari jauh.
Baru saja ia hendak kembali ke ruangannya, seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun memasuki area produksi.
"Selamat siang, Pak Haikal." Sapanya ramah.
“Selamat siang, Pak Permana!”
Haikal segera menghampiri dengan senyum lebar.
Permana adalah salah satu pengusaha muda yang cukup disegani di kota itu. Selain memiliki beberapa cabang bank, ia juga dikenal memiliki jaringan bisnis yang luas. Haikal mengenalnya sebagai pemilik bank tempat ia mendapatkan pinjaman modal dengan proses yang jauh lebih mudah daripada yang ia bayangkan.
Permana tersenyum dan mengulurkan tangan.
“Bagaimana kabarnya Pak Haikal?”
“Baik, Pak. Mari mari ikut keruangan utama.”
Haikal mempersilakan Permana berjalan menuju ruangannya. Sepanjang jalan, Haikal terus menunjukkan berbagai bagian garmen itu dengan bangga.
“Sekarang produksinya sudah mulai meningkat, Pak. Berkat tambahan modal dari pinjaman bank, aku bisa membeli beberapa mesin baru dan menambah jumlah karyawan.”
Permana mengangguk.
“Itu bagus. Aku memang senang melihat anak muda menggunakan pinjaman untuk mengembangkan usaha, bukan sekadar menghamburkannya.”
Haikal tertawa kecil.
“Tentu saja, Pak. Aku sangat berterima kasih kepada Bapak.”
“Untuk apa?”
“Karena Bapak sudah memberikan kepercayaan kepadaku. Proses pinjamanku waktu itu sangat mudah. Kalau bukan karena bantuan dan kepercayaan Bapak, mungkin aku masih kesulitan mengembangkan bisnis ini.”
Permana hanya tersenyum.
Haikal kemudian menambahkan dengan nada bangga.
“Bahkan berkat modal itu, aku juga bisa membeli rumah baru dan mobil baru.”
Permana mengangkat alis.
“Rumah baru, Mobil baru?”
“Iya, Pak.”
Haikal tersenyum puas.
“Iya, Pak. Aku membelinya untuk investasi jangka panjang."
Permana terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis. Ia sudah mengetahui sedikit mengenai kehidupan rumah tangga Haikal. Pria itu pandai berbohong, juga berkata manis.
"Aku dengar, kau mau menikah lagi."
"Iya, Pak."
“Dengan Intan?”
Haikal mengangguk.
“Benar, Pak. Bapak kenal Intan?”
"Kenal. Dia teman baik Tiara."
Permana menepuk bahu Haikal. “Tidak masalah kau mau menikah lagi. Selama kau bisa bersikap adil pada istri pertama dan kedua nanti."
“Siap, Pak.”
“Dan satu lagi.”
“Apa, Pak?”
“Jangan mengecewakan aku. Pinjaman yang aku berikan harus dibaya tepat waktu. Aku ingin cicilanmu lancar setiap bulan.”
Haikal segera mengangguk.
“Tenang saja, Pak. Aku siap membayar semuanya tepat waktu.”
“Bagus.”
Mereka akhirnya tiba di ruangan Haikal.
Setelah duduk, seorang karyawan datang membawa dua cangkir kopi. Haikal sendiri yang mempersilakan Permana menikmati minuman tersebut.
“Silakan, Pak.”
“Terima kasih.”
Beberapa saat mereka berbicara mengenai perkembangan bisnis Haikal. Permana tampak cukup puas melihat garmen tersebut berkembang.
Namun tiba-tiba, Permana mengingat sesuatu.
“Oh iya, bagaimana kabar Tiara?”
Senyum Haikal tidak langsung hilang, tetapi wajahnya sedikit berubah.
“Tiara?”
“Iya. Mantan pegawaiku itu. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya.”
Haikal tertawa.
“Dia baik-baik saja, Pak.”
“Masih bekerja?”
“Tidak. Sekarang dia hanya di rumah.”
Permana mengangguk.
“Oh, begitu.”
Haikal terkekeh.
“Tiara sekarang malah semakin gemuk.”
Permana tertawa.
“Benarkah?”
“Iya. Kerjanya cuma makan dan tidur di rumah.”
Permana ikut tertawa.
“Wah, kamu pandai sekali memanjakan istrimu.”
Haikal langsung tersenyum lebar.
“Kebetulan aku memang ingin membuatnya bahagia, Pak.”
“Kamu memang suami yang baik.”
Pujian itu membuat dada Haikal mengembang.
Ia senang sekali mendengar orang lain mengatakan dirinya sebagai suami yang baik.
“Terima kasih, Pak.”
Dalam hati Haikal merasa bangga.
Menurutnya, tidak semua laki-laki bisa memiliki kehidupan seperti dirinya.
Ia memiliki bisnis.
Rumah baru.
Mobil baru.
Dan sekarang, ia bahkan memiliki kesempatan untuk memiliki dua wanita sekaligus.
Tiara sebagai istri pertama.
Intan sebagai calon istri kedua.
Dan ia yakin keduanya nantinya bisa hidup berdampingan.
Atau setidaknya, Haikal ingin semua orang percaya bahwa keduanya bisa hidup berdampingan.
Permana tiba-tiba mengambil sebuah amplop putih dari tas kerjanya.
“Oh, hampir lupa.”
Ia menyerahkan amplop tersebut kepada Haikal.
“Ini untuk kalian.”
Haikal menerima amplop itu dengan bingung.
“Undangan?”
“Betul.”
Haikal membuka bagian depannya perlahan.
Matanya langsung membaca tulisan yang tercetak indah di dalamnya.
Undangan tasyakuran kepulangan ibunda Permana dari tanah suci.
Sekaligus perayaan ulang tahun sang ibu yang ke-70 tahun.
Dan yang membuat Haikal semakin terkejut, acara tersebut juga menjadi perayaan pembukaan kantor cabang baru bank milik Permana.
“Wah!”
Haikal tersenyum lebar.
“Selamat, Pak. Semoga ibunda selalu diberikan kesehatan dan keberkahan.”
“Amin.”
Permana tersenyum.
“Kami mengadakan acara kecil-kecilan. Aku ingin orang-orang terdekat hadir.”
Haikal kembali melihat undangan itu.
Orang-orang terdekat.
Kalimat tersebut membuat Haikal merasa tersanjung.
Selama ini ia memang berusaha masuk ke lingkaran para pengusaha muda sukses di kota itu. Ia ingin namanya dikenal. Ia ingin garmennya dianggap besar. Ia ingin berdiri sejajar dengan orang-orang yang selama ini hanya bisa ia lihat dari jauh.
Dan sekarang, seorang Permana sendiri yang mengundangnya.
Itu berarti dirinya sudah dianggap penting.
“Terima kasih banyak, Pak. Kami pasti datang.”
“Jangan lupa ajak ibumu.”
“Tentu.”
“Dan istrimu juga.”
Haikal terdiam sesaat.
“Tiara?”
“Iya.”
Permana tersenyum.
“Sudah lama aku tidak bertemu dan mengobrol dengannya. Dulu dia salah satu pegawai yang cukup baik di bankku.”
Haikal mengangguk.
“Baik, Pak. Aku akan mengajaknya.”
Permana menatapnya.
“Jangan sampai tidak datang.”
“Siap.”
Percakapan mereka berlanjut beberapa menit sebelum akhirnya Permana berpamitan. Haikal mengantarnya sampai ke depan garmen.
“Terima kasih sudah datang, Pak.”
“Sama-sama. Aku tunggu di acara nanti.”
Setelah mobil Permana menghilang dari pandangan, Haikal kembali menatap undangan yang masih berada di tangannya.
Senyumnya perlahan melebar.
Acara itu bukan sekadar tasyakuran.
Bukan sekadar ulang tahun.
Bukan sekadar peresmian cabang bank baru.
Baginya, acara itu adalah kesempatan.
Kesempatan untuk menunjukkan kepada semua orang bahwa dirinya sudah berhasil.
Namun kemudian sebuah pikiran lain muncul.
Intan.
Haikal tersenyum licik.
Tentu saja ia akan membawa Intan.
Ia bahkan membayangkan bagaimana reaksi orang-orang ketika melihat dirinya datang bersama Tiara dan Intan.
Dua wanita.
Satu pria.
Dan keduanya terlihat akur.
Haikal ingin memperlihatkan bahwa dirinya berbeda.
Ia ingin membuat para pengusaha muda di sana iri.
Lihatlah dirinya.
Tidak hanya memiliki bisnis yang berkembang, tetapi juga memiliki dua wanita yang mencintainya.
“Aku pasti akan terlihat keren disana, besok,” gumamnya.
Bersambung...