Di balik hilangnya seorang gadis, tersimpan rahasia yang selama ini disembunyikan. Seorang ibu bertekad mengungkapnya, meski harus melawan kekuasaan yang selama ini tak tersentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maaf, ibu.
"Lyn... kamu di mana, Nak?"
Elea terus menatap ponselnya, berharap putrinya membalas pesannya. Matahari hampir terbenam, tetapi Lyn belum pulang. Tidak biasanya putrinya seperti ini.
Wanita berusia empat puluh tahun itu, terus mondar mandir di teras menanti putrinya yang belum pulang sekolah.
"Siapa yang harus aku hubungi?" gumamnya bingung, anaknya jarang memperkenalkan temannya padanya membuatnya tidak tahu harus menghubungi siapa.
Krek! Pintu pagar terbuka.
"Ibu, Lyn pulang."
Elea langsung menoleh.
Lyn pulang dengan keadaan berantakan, bajunya basah kuyup tetapi Lyn masih menampilkan wajah yang ceria.
"Lyn..." Elea segera menghampiri putrinya.
"Sayang apa yang terjadi? Kenapa kamu bisa seperti ini?" suara Elea terdengar khawatir.
Lyn tersenyum tipis. "Aku tadi nolongin kucing Bu di selokan, jadi baju aku basah deh," jawab Lyn dengan dengan tenang, tidak ingin ibunya tahu apa yang terjadi padanya.
Elea menatap putrinya lekat-lekat. Ia merasa Lyn sedang menyembunyikan sesuatu.
"Benar cuma nolongin kucing?" tanyanya pelan.
Lyn mengangguk sambil tersenyum. "Iya, Bu. Maaf ya, bikin Ibu khawatir."
Elea menghela napas pelan, lalu mengusap kepala putrinya dengan lembut.
"Lain kali hati-hati, ya. Ibu sedari tadi khawatir mikirin kamu, kamu nggak biasanya seperti ini."
Lyn menggenggam tangan Ibunya, dia merasa bersalah telah membohonginya. "Iya, Bu. Lain kali Lyn nggak akan buat Ibu khawatir."
"Sekarang cepat mandi, lalu makan. Ibu sudah siapkan makanan kesukaanmu."
"Siap, Bu."
Elea tersenyum tipis, hatinya terasa lega setelah melihat putrinya sudah tiba dengan selamat.
~~
Di dalam kamar Lyn, ia menatap cermin.
Wajah babak belurnya disamarkan dengan riasan yang ia pungut dari tumpukan sampah.
"Semoga bedak ini belum kadaluwarsa," ucapnya pelan sambil menatap kotak riasan yang dia dapat di tempat sampah, cuma cara ini yang bisa ia lakukan agar ibunya tidak curiga.
Lyn menatap dirinya di cermin.
Wajahnya penuh luka, kepalanya masih berdenyut nyeri, dan ia bahkan nyaris kehilangan nyawa akibat ulang Geng Aster.
Tangan Lyn mengepal erat.
"Lagi-lagi aku gagal," kesalnya.
"Lyn, ponsel kamu mana? Ibu mau pinjam!" ucap Elea dari luar.
Deg!
Lyn menelan ludahnya dengan kasar, ponselnya telah hancur.
"Lyn!"
Elea tersentak.
"Iya, Bu."
Ia buru-buru kembali memakai riasan, lalu menghampiri Ibunya.
"Sayang, Ibu pinjam ponselmu. Ponsel ibu dayanya habis, Ibu mau telepon Bunda Vanesa," ucap Elea.
Lyn tak menjawab, ia menggigit bibirnya.
"Bu..."
Elea mengerutkan keningnya, merasa ada yang tidak beres dengan putrinya.
"Kamu kenapa, sayang?" tanyanya.
"Sebenarnya..." Lyn menatap ibunya sambil terus berpikir, alasan apa yang tepat agar ibunya tidak curiga.
"Sebenarnya apa Nak?"
"Sebenarnya saat aku nolongin kucing, ponsel aku hanyut di selokan Bu. Ibu tahu kan, selokan di jembatan sekitar sekolahku cukup besar, airnya juga mengalir deras. Jadi, aku nggak bisa selamatkan ponselku, Bu. Maafkan Lyn, Bu."
Lyn menundukkan kepalanya, terus menggerutu dalam hati karena telah membohongi ibunya.
Elea terdiam sesaat. Alih-alih marah, ia menghela napas pelan.
"Iya, kira apa. Nggak apa-apa, ponsel bisa dibeli lagi. Kamu pulang dengan selamat itu jauh lebih penting."
Lyn perlahan mengangkat wajahnya.
Elea menatap putrinya dengan senyum lembut.
"Kalau kue Ibu laku banyak, Ibu akan membelikan kamu ponsel baru."
Mendengar itu, dada Lyn terasa sesak. Rasa bersalahnya membesar, terus membohongi orang yang paling mengkhawatirkannya.
"Maaf, Bu..." lirih Lyn nyaris tak terdengar.
Elea mengelus kepala putrinya dengan lembut. "Sudah, jangan dipikirkan lagi. Ibu ke depan dulu, ya."
"Iya, Bu."
Lyn menatap punggung ibunya, air matanya lolos begitu saja.
"Maafkan Lyn, Bu... aku cuma nggak ingin Ibu khawatir padaku."
Lyn menghela napas pelan, ia berjalan ke meja makan. Masakan kesukaannya telah tersaji di sana.
Lyn duduk lalu mulai makan malam. Setelah selesai, ia mencuci piring dan membereskan semua peralatan yang kotor, termasuk tempat adonan kue. Sebenarnya, ibunya melarangnya bersih-bersih; Lyn hanya diminta fokus pada sekolah. Tetapi malam ini, demi menebus rasa bersalahnya, ia menyelesaikan pekerjaan Ibunya.
"Akhirnya selesai juga," ucapnya sambil menatap dapur yang sudah bersih.
Lyn menghela napas berat. "Ternyata cepek juga, ya, bersih-bersih kayak gini... Tapi Ibu selalu kelihatan baik-baik aja."
~~
"Kring... Kring... Kring!"
Alarm berbunyi nyaring, membuat Elea mulai membuka mata.
Elea menghela napas pelan, lalu tersenyum tipis.
"Selamat pagi dunia," ucapnya penuh semangat memulai hari.
Elea beranjak dari ranjang, lalu berjalan ke kamar mandi.
Hanya beberapa menit, Elea keluar dari kamar mandi lalu bergegas ke dapur, siap membuatkan sarapan untuk putrinya sebagai rutinitas wajib baginya.
Langkah Elea berhenti di meja makan.
Keningnya berkerut melihat sarapan pagi sudah tersaji, lalu tatapannya pada dapur. Dapur sudah bersih, tak ada cucian piring seperti sebelumnya.
"Siapa yang membuat sarapan ini?" ucapnya bingung.
Elea membalikkan badan, berniat membangunkan putrinya yang susah bangun pagi. Tapi, langkahnya terhenti saat pintu kamar putrinya terbuka.
"Pagi, Ibu," sapa Lyn dengan wajah ceria. Putrinya sudah rapi dengan pakaian sekolah.
"Pagi, sayang..." balas Elea dengan pelan dengan nada tidak percaya. Tumben putrinya sudah rapi secepat ini.
"Ayo sarapan, Bu," ajak Lyn menggandeng tangan ibunya ke meja makan.
"Sayang, kamu yang buat sarapan?" tanya Elea.
Lyn mengangguk. "Iya, Bu. Jangan diragukan ya, tanganku ini juga bisa buat makanan enak, lho." jawab Lyn sambil mengoleskan selai ke roti.
"Tumben banget kamu bangun pagi, hanya buat sarapan."
"Usiaku hampir 17 tahun, Bu. Aku nggak mau jadi anak manja, apa-apa Ibu yang siapkan."
Elea terkekeh, lalu menggenggam tangan putrinya dengan lembut. "Sayang, apa yang Ibu lakukan selama ini bukan karena kamu manja. Ibu hanya ingin kamu bisa fokus belajar dan mengejar cita-citamu."
Lyn tersenyum hangat.
"Aku tahu, Bu. Tapi mulai sekarang, izinkan aku bantu Ibu sedikit demi sedikit, ya."
Elea mengusap pipi putrinya dengan penuh kasih sayang. "Baiklah jika itu keinginanmu. Tapi, kamu tetap harus fokus pada sekolahmu. Ibu ingin lihat kamu menggapai cita-citamu."
Lyn mengangguk patuh. Dalam hati, ia berjanji di masa depan ia ingin melihat ibunya bangga padanya dan perjuangannya membesarkannya seorang diri terbayarkan.
"Siap, Bu!"
~~