Sinta Aniswari (23) dulunya adalah mahasiswi kedokteran paling ceria dan cerewet se-FK.
Sampai ayahnya bangkrut dan satu-satunya cara menyelamatkan rumah sakit keluarga adalah dengan menikahi Dean Galang Wijaya (30).
Pengusaha muda, perfeksionis, kaku seperti robot, dan sedingin kulkas dua pintu.
Dua tahun menikah tanpa cinta. Sinta berubah menjadi Nyonya Wijaya yang anggun dan penurut. Dari luar, semua orang mengira ia adalah istri yang tidak disayang. Pernikahan yang kaku seperti dua orang asing yang tinggal di rumah yang sama.
Sampai mereka tau sisi lainnya.
Bahwa Dean yang kaku itu ternyata menjadwalkan segalanya. Bahkan untuk menyentuh istrinya. Satu bulan empat kali. Setiap tanggal 5, 12, 19, dan 26. Jam 21.00 tepat.
Dan selalu diawali dengan kalimat yang sama, dengan wajah datar yang sama:
"Apa mau main?"
Sinta pikir pernikahan ini hanya soal peran. Sampai Dean yang kaku itu mulai membuatnya bingung, berubah menjadi lebih aktip.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SISI LAIN SUAMIKU.DEAN GALANG WIJAYA Bab 18 - Distorsi Informasi dan Variabel Ke
SISI LAIN SUAMIKU.DEAN GALANG WIJAYA
Bab 18 - Distorsi Informasi dan Variabel Ketiga
Pukul sepuluh pagi di lantai eksekutif Gedung Wijaya Group.
Anita duduk di kubikal sekretarisnya dengan jemari yang bergerak cepat di atas papan ketik. Sejak insiden dompet beludru merah muda di rumah sakit kemarin, sistem rasa ingin tahunya mendadak aktif seratus persen. Melalui jaringan internal dan data administrasi yang berhasil dia selidiki dari berkas jaminan kesehatan darurat Wijaya Group, sebuah nama akhirnya muncul: Sinta Aniswari.
Anita menyandarkan punggungnya ke kursi kerja, lalu tersenyum sinis dengan bibir merah meronanya yang tebal.
"Jadi perempuan ini yang namanya tertulis di kartu keluarga Pak Dean?" gumam Anita meremehkan.
Dari hasil analisis mandirinya, nama Sinta Aniswari sama sekali tidak pernah tercantum dalam daftar manifes tamu VIP perusahaan, tidak pernah diajak ke acara makan malam korporat, bahkan foto pernikahannya pun tidak ada satu milimeter pun terpajang di ruang kerja sang CEO. Bagi Anita, fakta ini adalah kesimpulan mutlak: Sinta hanyalah istri kontrak atau istri pajangan yang sama sekali tidak diakui oleh bosnya. Sebuah pernikahan bisnis hambar demi menyelamatkan aset keluarga Aniswari yang hampir kolaps.
"Hanya istri di atas kertas. Pak Dean pasti sangat jenuh dengan pernikahan formalitas seperti itu," bisik Anita penuh percaya diri, merasa posisinya sebagai sekretaris seksi jauh lebih bernilai di mata Dean.
Dua jam kemudian, di Rumah Sakit Pendidikan Santika.
Anita melangkah dengan anggun di koridor lobi utama, mendampingi Dean Galang Wijaya yang siang itu mendadak melakukan inspeksi pasca-rapat direksi kemarin. Anita sengaja mengenakan pakaian yang cukup ketat, berjalan sangat dekat di sisi kiri Dean hingga bahu mereka sesekali bergesekan secara sengaja.
Dari arah berlawanan, Sinta yang baru saja menyelesaikan visitasi pasien anak melangkah terburu-buru dengan jas almamater co-ass-nya. Begitu matanya menangkap sosok tegap suaminya yang berjalan bersama seorang wanita modis yang super seksi, langkah Sinta seketika terkunci.
Mata cokelat Sinta membelalak sekilas. Itu... sekretarisnya yang membelikan koyo cabai jam empat pagi kemarin? batin Sinta, mendadak merasakan ada sengatan aneh yang tidak nyaman di dalam dadanya melihat kedekatan mereka.
Saat jarak mereka mengikis menjadi dua meter, mata hitam Dean yang tajam langsung mengunci siluet Sinta. Namun, mengingat komitmen legal untuk menjaga kerahasiaan domestik dari publik, wajah tampan Dean langsung berubah menjadi sekaku manekin toko pakaian. Pandangannya menjadi luar biasa lempeng, menatap Sinta lurus-lurus seolah wanita di depannya adalah salah satu komponen dinding rumah sakit yang tidak bernyawa.
Sinta pun dengan sigap menurunkan pandangannya, memeluk papan klip medisnya erat-erat, dan berjalan melewati Dean dengan kepala sedikit menunduk. Di depan publik rumah sakit, mereka benar-benar berpura-pura tidak saling kenal dengan sangat rapi.
Anita yang menyadari keberadaan mahasiswi bernama Sinta Aniswari itu langsung melancarkan taktik provokasinya. Begitu posisi mereka sejajar dengan Sinta, Anita sengaja mencondongkan tubuhnya ke arah Dean, memegang lengan kemeja abu-abu bosnya dengan gerakan yang terkesan sangat intim, sengaja pamer kedekatan agar Sinta berpikir hubungan mereka lebih dari sekadar bos dan bawahan.
"Pak Dean, setelah agenda inspeksi bangsal ini selesai, saya sudah memesankan meja di restoran Prancis favorit Anda untuk makan siang kita berdua," ucap Anita dengan suara yang sengaja dikeraskan dan mendayu manja, memastikan setiap kata itu terdengar jelas oleh telinga Sinta. "Anda belakangan ini pasti sangat lelah, biar siang ini saya yang melayani semua kebutuhan agenda Anda."
Sinta yang mendengar kalimat ambigu itu dari belakang seketika menggigit bibir bawahnya. Ada rasa perih yang mendadak muncul di hatinya, bukan karena luka iritasi fisik yang kemarin, melainkan karena bayangan bahwa bapak robotnya ternyata memiliki interaksi yang terlihat "terlalu dekat" dengan sekretaris seksinya di luar rumah.
[POV Dean]
Akurasi pendengaran: Anita baru saja melakukan tindakan pelanggaran jarak fisik sebesar empat puluh persen dari standar interaksi profesional. Kalimat mengenai 'melayani semua kebutuhan agenda' juga memiliki distorsi semantik yang sangat tidak efisien dan berpotensi memicu kesalahpahaman data. Namun, fokus utama saya terkunci pada Nona Sinta yang baru saja melewati saya tanpa memberikan sinyal pengenalan visual sedikit pun. Mengapa dia memeluk papan klip itu begitu erat? Apakah area iritasinya kembali mengalami malfungsi akibat tekanan aktivitas berjalan hari ini? Sistem emosional saya mendadak mendeteksi adanya fluktuasi ketidaknyamanan melihat dia mengabaikan saya secara mutlak di koridor ini, meskipun itu adalah bagian dari protokol kesepakatan rahasia kita.
Namun, belum sempat Dean menarik lengannya dari cengkeraman Anita, sebuah anomali baru yang jauh lebih masif muncul di ujung koridor poli anak.
"Dokter Sinta, tunggu sebentar."
Sebuah suara bariton yang ramah memecah keheningan koridor. Seorang dokter senior muda berusia 25 tahun dengan jas putih bersih melangkah mendekati Sinta. Wajahnya sangat tampan, dengan senyuman hangat yang sanggup membuat para perawat di poli anak meleleh seketika.
Dia adalah dr. Reza, Sp.A, dokter spesialis anak yang dulu sempat menjadi cinta terpendam Sinta semasa kuliah pre-klinik sebelum pernikahan kontrak dengan Dean terjadi. Sinta yang kini sudah berstatus istri orang telah mengubur perasaan itu sedalam mungkin demi menghormati komitmen legalnya dengan Dean.
"Eh, Dokter Reza? Ada apa, Dok?" tanya Sinta, mencoba mengembalikan fokusnya, tersenyum manis nan teduh—senyuman tulus yang sangat jarang dia perlihatkan di depan Dean.
Dr. Reza terkekeh pelan, menyerahkan sebotol minuman yogurt rasa stroberi dingin ke tangan Sinta. "Ini, saya lihat kamu lemas sekali sejak diskusi kelompok tadi pagi. Jangan sampai lupa menjaga nutrisi tubuh sendiri saat merawat pasien anak."
Tangan dr. Reza sempat tidak sengaja menyentuh ujung jari Sinta saat menyerahkan botol tersebut, dan Sinta menerimanya dengan pipi yang merona merah tipis karena canggung.
Tepat di koordinat dua meter di belakang mereka, langkah kaki Dean Galang Wijaya mendadak berhenti total.
Suasana di koridor itu seketika drop hingga mencapai titik beku kutub utara. Wajah lempeng Dean tidak berubah, namun sepasang mata hitamnya yang sepekat malam kini memancarkan kilatan permusuhan yang sangat pekat, mengunci tepat pada tangan dr. Reza yang baru saja menyentuh istrinya.
Memori otak Dean langsung melakukan penarikan data mundur ke hari Rabu sore di Hotel Mulia tempo hari. Pria berumur 25 tahun bersetelan jas biru yang dulu menyentuh lengan istrinya sebanyak empat kali, kini kembali berada dalam radius privasi Sinta dan bahkan berani menyentuh jemari istrinya.
[POV Dean]
Deteksi ancaman tingkat tinggi: Jarak fisik antara dr. Reza dan Nona Sinta berada di angka lima puluh sentimeter, melewati ambang batas toleransi interaksi sosial non-domestik. Kontak fisik mikro pada ujung jari mereka memicu lonjakan suhu internal di dalam dada saya hingga mencapai seratus derajat Celsius. Mengapa Nona Sinta menerima sediaan cairan yogurt stroberi itu dengan ekspresi wajah merona pekat? Dia bahkan tidak pernah tersenyum setulus itu selama enam minggu berada di dalam penthouse Kuningan bersama saya. Informasi retrospektif mengenai dr. Reza: Usia dua puluh lima tahun, spesialisasi pediatri, indikator visual di atas rata-rata. Sistem logika saya mendeteksi malfungsi masif akibat kecemburuan dengan persentase seratus persen. Dorongan impulsif untuk mengeliminasi pria itu dari koordinat istri saya kembali aktif seperti di malam acara amal tempo hari.
Dr. Reza yang sedang tersenyum mendadak merasakan sebuah aura intimidasi yang sangat pekat dan mencekam menusuk punggungnya. Dia menoleh sekilas, mendapati sang CEO Wijaya Group sedang berdiri kaku menatapnya dengan tatapan sedingin es yang penuh dengan rasa permusuhan mutlak.
Sebagai pria dewasa yang cerdas, dr. Reza tentu tidak lupa dengan tatapan mematikan Dean di atas karpet merah waktu itu. Dr. Reza tersenyum tipis, semakin yakin bahwa pria kaku di depannya ini adalah suami rahasia yang selama ini disembunyikan oleh mahasiswi co-ass-nya dengan ketat.
"Saya permisi dulu, Dokter Sinta. Ada pasien yang harus saya periksa," ucap dr. Reza sengaja menekankan nada ramahnya untuk memancing reaksi Dean, lalu melangkah pergi setelah memberikan anggukan sopan yang sarat akan arti ke arah sang CEO.
Sinta yang masih memegang botol yogurt stroberi berbalik, menatap punggung tegap Dean yang melangkah pergi dengan aura kemarahan robotik yang sangat dingin, meninggalkan wanita berpakaian ketat itu yang terpaksa setengah berlari mengejarnya.
Namun, Sinta tidak merasa bersalah sedikit pun kali ini. Berbeda dengan insiden di Hotel Mulia dulu, dada Sinta sekarang justru bergemuruh oleh rasa kesal dan curiga yang membakar.
Melayani semua kebutuhan agenda? Makan siang intim di restoran Prancis? Kalimat manis dari sekretaris seksi suaminya itu terus terngiang-ngiang dan mendistorsi ketenangan pikirannya.
Sinta diam-diam mencurigai ada sesuatu yang tidak biasa di antara suaminya dan wanita itu di luar jam kantor.
...----------------...
Malam ini di penthouse Kuningan, Sinta tahu ada badai yang siap meledak. Dan dia tidak berniat untuk mengalah begitu saja.
Pukul delapan malam tepat di penthouse Kuningan.
Suasana ruang tamu utama terasa mencekam dengan suhu pendingin ruangan yang mendadak terasa lebih dingin dari biasanya. Dean Galang Wijaya sudah duduk tegak sempurna di atas sofa kulit abu-abu gelapnya. Kemeja abu-abunya sudah berganti dengan kaus oblong hitam santai, namun wajahnya tetap sekaku manekin toko pakaian. Laptopnya tertutup rapat di atas meja kaca, menandakan konsentrasi penuhnya malam ini murni dialokasikan untuk satu agenda tunggal: Menginterogasi Nona Sinta.
Cklek.
Pintu utama terbuka. Sinta melangkah masuk dengan wajah yang terlihat luar biasa datar. Tidak ada senyum manis nan teduh buatan, tidak ada sapaan anggun yang biasanya dia pamerkan demi mematuhi kontrak pernikahan penurutnya. Sinta melepas flat shoes-nya dengan sentakan pelan, lalu berjalan melewati ruang tamu tanpa melirik Dean sedikit pun.
Dean berdeham pendek, sebuah gestur taktis untuk menghentikan pergerakan istrinya. "Nona Sinta, mohon alokasikan waktu kamu selama lima belas menit. Ada deviasi perilaku di koridor rumah sakit siang tadi yang membutuhkan klarifikasi data secara transparan."
Sinta menghentikan langkahnya tepat di pembatas ruangan. Dia membalikkan tubuhnya perlahan, menyilangkan tangan di depan dada sambil menatap Dean dengan sepasang mata cokelat yang memancarkan aura dingin dan sama sekali tidak bersahabat.
"Klarifikasi apa lagi, Pak Dean?" tanya Sinta, suaranya terdengar ketus dan pelit intonasi, sangat kontras dengan kepatuhannya selama ini.
Dean menggeser posisi duduknya menjadi lebih tegak, mempersiapkan algoritma interogasinya. "Berdasarkan parameter visual di koridor poli anak pukul dua belas siang tadi, tingkat kedekatan interpersonal kamu dengan dr. Reza kembali melewati batas efisiensi sosial. Penerimaan sediaan yogurt stroberi dan adanya kontak fisik mikro pada ujung jari mengindikasikan adanya hubungan di luar status profesional rekan medis. Mengapa kamu memperlihatkan ekspresi merona pekat di depan objek pria tersebut?"
Dean menuntut penjelasan dengan nada berat andalannya, yakin bahwa secara hukum kalkulasi cemburunya, dialah pihak yang memegang kendali penuh untuk marah malam ini.
Namun, alih-alih panik atau meminta maaf, Sinta justru membuang muka dan mendengus pendek penuh sarkasme. Sepasang matanya menatap Dean dengan tatapan penuh selubung kecurigaan yang tajam. Sinta memilih memendam rapat-rapat kekesalannya tentang sekretaris seksi itu di dalam hati. Dia terlalu gengsi untuk mengakui kalau dia cemburu, namun sikap defensifnya justru memancar kuat lewat gestur tubuh yang menolak berinteraksi.
"Kalau Pak Dean hanya ingin membahas masalah tidak penting itu, saya permisi. Saya lelah dan ingin segera tidur," ucap Sinta dingin tanpa emosi, lalu berbalik begitu saja dan melangkah tegap menuju kamar utama dengan entakan kaki yang sengaja diperkeras.
Brak!
Pintu kamar utama ditutup dengan bunyi yang cukup keras, menyisakan keheningan total di ruang tamu.
Di atas sofa, sang CEO Wijaya Group yang biasanya sanggup memprediksi pergerakan pasar saham global kini mendadak membeku total layaknya komputer yang mengalami kerusakan sistem operasi yang fatal. Dean mengerjap kaku beberapa kali. Otak jeniusnya dipaksa memproses sebuah anomali logika yang sangat aneh.
[POV Dean]
Evaluasi anomali pasca-interogasi: Berdasarkan hukum kausalitas rumah tangga, sayalah objek yang memiliki hak validitas seratus persen untuk mengeksekusi kemarahan malam ini akibat insiden dr. Reza. Namun, respons fisik Nona Sinta—tatapan mata yang tidak bersahabat, nada suara ketus, dan tindakan penutupan pintu dengan energi kinetik tinggi—menunjukkan bahwa dialah yang sedang berada dalam fase ofensif yang tidak menyenangkan. Mengapa dia bersikap tidak bersahabat kepada saya? Apakah ada kesalahan dalam pemilihan kosakata interogasi saya? Atau... apakah ada prosedur operasional domestik yang tanpa sengaja telah saya langgar hingga memicu kerusakan emosional pada dirinya? Sistem berpikir saya mengalami kelumpuhan total dalam mendeteksi variabel kesalahan saya sendiri. Ini... sangat membingungkan.
Dean memegangi tengkuknya yang tidak gatal dengan gerakan yang luar biasa canggung. Wajah tampannya tetap lempeng tanpa dosa, namun di dalam dadanya, si manusia kalkulator itu mulai didera rasa panik kaku yang luar biasa, menebak-nebak kesalahan apa yang sudah dia perbuat hingga membuat istri kontraknya berubah menjadi sedingin es kutub utara.