NovelToon NovelToon
Kapten Hatiku

Kapten Hatiku

Status: tamat
Genre:Asmara / Cinta setelah menikah / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: Olivia Renata

Keira Liem cuma mau hidup tenang.
Setelah dikhianati mantan pacar dan dijebak rekan kerja, pilot muda ini nyaris kehilangan segalanya—karier, reputasi, bahkan harga diri. Satu-satunya jalan keluar? Nikah siri dengan pria asing yang ditemuinya di parkiran bawah tanah SCBD di malam terburuk hidupnya.
Pria itu bilang namanya Kai. Katanya pengangguran. Senyumnya menyebalkan, mulutnya pedas, tapi entah kenapa... Keira merasa aman di dekatnya.
Yang tidak Keira tahu: "Kai" adalah Kaizan Tanujaya—CEO Nusantara Airlines, pewaris konglomerat Tanujaya, dan legenda penerbangan yang fotonya sudah ditempel Keira di dinding kamar sejak SMA.
Setiap hari, Keira memuja Kapten Kaizan Tanujaya di kantor.
Setiap malam, Keira memarahi "suami kontrak pengangguran"-nya di rumah.
Mereka adalah orang yang sama.
Dan Kaizan? Dia menikmati setiap detiknya.
Tapi rahasia tidak bisa bertahan selamanya. Ketika topeng terbuka, ketika masa lalu yang kelam menyerang, ketika satu-satunya orang yang pernah membuatnya jatuh cinta berbalik pergi—Kaizan harus membuktikan bahwa cinta yang dimulai dari kebohongan bisa menjadi hal paling nyata di hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Bab 18

Nenek Siapa?

Keesokan paginya, Oma Suhui muncul di lobi NusAir dengan kartu pengunjung bertuliskan Suhui Ong.

Moreno berjalan di sampingnya. "Oma hanya boleh di area umum dan restoran karyawan. Jangan masuk lantai eksekutif."

"Oma datang untuk melihat Keira, bukan mencuri data pesawat."

"Bos menelepon tujuh kali sejak menerima pesan."

"Biarkan. Dia perlu belajar rasanya tidak diberi jawaban."

Di meja keamanan, petugas bertanya hubungan mereka.

"Saya omanya Moreno," jawab Oma sebelum Moreno sempat bicara. "Dia terlalu sibuk bekerja sampai tidak pernah mengajak Oma makan. Jadi Oma datang sendiri."

Petugas tersenyum dan memberi petunjuk menuju restoran karyawan.

Moreno merendahkan suara. "Sekarang seluruh gedung akan mengira Oma keluarga saya."

"Kamu keberatan punya oma secantik ini?"

"Saya tidak berani."

Restoran berada di lantai dua puluh dan terbuka untuk karyawan serta tamu terdaftar. Oma memilih meja dekat jendela. Moreno pergi menghadiri rapat, meninggalkan pesan agar dia tidak berjalan sendirian ke area lain.

Belum lima menit, Wenny datang membawa kopi.

"Oma-nya Pak Moreno?" tanyanya.

"Katanya begitu."

Wenny duduk tanpa diundang. Setelah kejadian di bandara, dia tampaknya ingin memperbaiki kesan di depan orang yang dianggap keluarga asisten CEO.

"Soal kemarin, saya sedang stres. Pekerjaan kru kabin berat. Kadang orang tua tidak memahami aturan bandara."

Oma mengaduk teh. "Oma memahami cukup banyak."

"Tentu." Wenny tersenyum kaku. "Saya hanya khawatir Pak Moreno mendapat cerita yang salah. Akhir-akhir ini ada pilot yang suka membesar-besarkan masalah untuk mencari simpati manajemen."

"Siapa?"

"Keira Liem."

Oma menjaga wajah tetap polos. "Pilot yang mendapat nilai pertama itu?"

"Nilai bisa diatur. Dia dekat dengan seseorang di atas. Lihat saja hadiah miliaran yang dipakainya. Katanya dari suami, tapi tidak ada yang tahu pria itu bekerja apa."

"Kalau kamu tidak tahu, bagaimana kamu yakin ceritamu benar?"

Wenny terdiam sesaat. "Semua orang membicarakannya."

"Semua orang atau kamu?"

Wenny menurunkan suara, seolah kerahasiaan dapat membuat fitnah terdengar lebih masuk akal. "Dia pernah diskors, lalu mendadak kembali terbang setelah manajemen berganti. Mantan pacarnya juga dipermalukan di depan seluruh perusahaan. Kebetulan yang terlalu rapi, kan?"

"Oma kemarin melihat dia membantu penumpang mencari dompet setelah selesai bertugas. Apakah itu juga diatur manajemen?"

"Dia pandai membuat citra."

"Kalau begitu, kamu pasti punya bukti selain dugaan."

Wenny menggenggam gelas lebih erat. Uap kopi telah hilang, tetapi jemarinya masih memutarnya di atas meja. "Saya hanya tidak ingin keluarga Pak Moreno tertipu orang seperti dia."

"Orang seperti apa?"

"Perempuan yang memakai laki-laki untuk naik."

Oma tersenyum tipis. "Aneh. Sejak tadi kamu yang memakai nama Moreno supaya Oma mendengarkan."

Sebelum Wenny menjawab, Keira masuk membawa nampan. Dia mengenali Oma dari penerbangan kemarin.

"Ibu!"

Oma melambai. "Kita bertemu lagi."

Keira mendekat. "Ibu keluarga Ko Moreno?"

"Oma-nya," jawab Wenny cepat. "Kami sedang bicara tentang kamu."

"Aku dengar bagian terakhir."

Keira meletakkan nampan. "Kalau ada tuduhan soal nilai atau hadiah, sampaikan ke kepatuhan. Saya sudah menyerahkan faktur dan hasil evaluasi. Jangan pakai Oma orang lain sebagai tempat menyebarkan rumor."

Wenny berdiri. "Aku hanya memperingatkan beliau."

"Beliau tidak meminta."

Wenny mengambil kopinya dan pergi. Di pintu, dia sempat menoleh ketika Oma menggeser kursi untuk Keira.

"Duduk. Temani Oma makan."

Keira menurut. Makan siangnya sederhana: nasi, tumis sayur, ayam panggang, dan sambal terpisah.

"Kamu tidak mengambil makanan mahal?" tanya Oma.

Keira tertawa. "Ini restoran karyawan. Semua disubsidi."

"Tapi kamu punya kalung mahal."

Tangan Keira menyentuh Cloud. "Itu hadiah. Saya masih marah kepada pemberinya karena membeli tanpa bicara."

"Tapi dipakai."

"Karena saya suka. Marah dan suka bisa terjadi bersamaan."

Oma menyukai jawaban itu.

Mereka berbicara tentang penerbangan, Meilin yang masih mengingatkan putrinya makan, dan Mochi yang kini menguasai sofa. Keira tidak pernah mengubah suara menjadi manis berlebihan. Dia juga tidak mencoba bertanya tentang jabatan Moreno atau memanfaatkan hubungan keluarga.

Oma sengaja menyebut bahwa Moreno sering berada dekat direktur utama. Keira hanya mengangguk dan bertanya apakah teh Oma perlu ditambah air panas. Ketika Oma mengatakan biaya hidup di Jakarta pasti berat bagi pilot yang baru kembali bertugas, Keira tidak mengeluh. Dia malah bercerita sudah membuat pembagian pengeluaran rumah dan menyimpan dana darurat sendiri.

"Suamimu tidak menanggung semuanya?" tanya Oma.

"Dia ingin begitu. Saya yang tidak mau."

"Kenapa menolak kalau dia mampu?"

Keira memisahkan tulang kecil dari ayamnya sebelum menjawab. "Karena menerima perhatian berbeda dengan menyerahkan hidup. Kalau suatu hari kami bertengkar, saya tidak mau uang menjadi alasan saya harus bertahan atau pergi."

Jawaban itu membuat Oma berhenti mengangkat cangkir. Di keluarga Tanujaya, terlalu banyak orang mengira uang dapat menggantikan kejujuran, waktu, bahkan permintaan maaf.

"Kalung itu tetap kamu terima."

"Setelah kami bicara soal batas. Dia boleh memberi hadiah, tapi bukan membeli keputusan saya. Kalau dia melanggar, barang berikutnya saya kembalikan."

"Keras sekali."

"Dia lebih keras kepala. Kami impas."

Oma tertawa, kali ini sungguhan. Dari jauh, dua pegawai menoleh. Keira ikut tersenyum lalu mendorong piring buah ke tengah meja agar Oma mengambil lebih dulu.

"Suamimu tinggal bersamamu?" tanya Oma.

Keira hampir menjatuhkan sendok. "Dari mana Ibu tahu?"

"Perempuan tadi bicara cukup keras."

"Hubungan kami rumit."

"Namanya?"

"Kai."

"Dia baik?"

Keira berpikir. "Kadang menyebalkan. Boros. Suka menyembunyikan banyak hal. Tapi dia menunggu saya pulang, merawat Mochi, dan tidak pernah membuat saya merasa lemah karena butuh bantuan."

"Kamu mencintainya?"

Pertanyaan itu begitu langsung hingga Keira memandang jendela.

"Sepertinya iya."

"Sepertinya?"

"Saya takut mencintai orang yang belum sepenuhnya saya kenal."

Oma menahan napas. Kekhawatiran itu tepat mengenai rahasia cucunya.

Dia memilih pertanyaan lain. "Kamu juga mengagumi Kaizan Tanujaya. Oma baca beritanya."

Wajah Keira berubah cerah. "Dia alasan saya menjadi pilot."

"Kalau kamu harus pilih." Oma menaruh sendok. "Kaizan Tanujaya, pilot legendaris yang kamu kagumi bertahun-tahun, atau Kai yang tinggal bersamamu, kamu pilih siapa?"

Keira bahkan tidak membutuhkan satu tarikan napas.

"Kai. Tentu saja Kai."

"Walau Kaizan kaya, terkenal, dan bisa memberimu seluruh dunia?"

"Saya tidak mengenal Kaizan sebagai manusia. Saya berterima kasih pada sosok yang menginspirasi saya, tapi saya tidak bisa mencintai potongan koran."

Keira tersenyum kecil. "Kai mungkin tidak punya pekerjaan jelas dan membuat tagihan belanja naik. Tapi saya tahu dia diam-diam menyisakan bagian ayam paling lembut untuk Mochi. Saya tahu dia menunggu lampu pesawat saya mendarat sebelum tidur. Saya memilih orang yang hidup bersama saya, bukan legenda yang saya bayangkan."

Mata Oma panas.

Dia berpaling ke jendela dan mengusap sudut mata sebelum Keira sempat melihat jelas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!