NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Menantu Keluarga Miskin

Transmigrasi Menjadi Menantu Keluarga Miskin

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi / Romansa Fantasi
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: BabyKucing

Xian Yue tewas setelah bertahun-tahun menjadi seorang penyintas di dunia Distopia.

Tapi, bukannya bangkit di alam kubur dan menerima semangkuk sup reinkarnasi dari Meng Po, Xian Yue justru terlempar ke tanah antah berantah.

Dalam perjalanan menuju rumah mertuanya, Xian Yue tak tau tubuh yang dimasukinya ternyata sudah dijual sebagai menantu yang menumpang, pada keluarga miskin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BabyKucing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 12 Menanam Benih

Fajar baru saja menyingsing ketika embun masih menggantung di ujung daun jagung.

Lian Yue membawa sebuah ember kayu menuju ladang keluarga Han. Di tangannya terdapat sekop kecil bambu yang ia buat sendiri semalam. Meski bentuknya kasar, alat itu cukup ringan untuk mengaduk tanah di sekitar tanaman.

Begitu menginjak pematang, ia langsung berhenti.

Matanya tertuju pada petak kecil yang beberapa hari lalu ia beri kompos.

Daun-daun jagung yang semula layu kini tampak sedikit lebih tegak. Warnanya memang belum hijau pekat, tetapi tidak lagi menguning seperti sebelumnya.

Lian Yue berjongkok. Lalu mengulurkan jarinya untuk menyentuh permukaan tanah. Masih kasar, namun tidak lagi sekeras batu.

Ia menggali sedikit menggunakan ujung sekop. Di balik lapisan tanah yang mulai gembur, tampak seekor cacing tanah menggeliat pelan sebelum kembali bersembunyi.

Sudut bibir Lian Yue terangkat. "Cacing sudah kembali..."

Di dunia asalnya, kemunculan cacing selalu menjadi pertanda bahwa tanah mulai hidup. Ia tidak menyadari, seekor belalang hijau sedang bertengger di batang jagung.

["Aku bilang apa."]

["Tanahnya kenyang sekarang."]

Lian Yue tersenyum kecil. "Aku belum memberi makan sebanyak itu."

Belalang menggerakkan sungutnya. ["Sedikit demi sedikit. Kalau terus begini...kami akan punya rumah lagi."]

Kalimat sederhana itu membuat Lian Yue memandang hamparan ladang dengan perasaan yang sulit dijelaskan.

Mungkin...

Bukan hanya keluarga Han yang menunggu tanah ini pulih. Makhluk-makhluk kecil yang hidup di dalamnya pun menunggu hari itu.

.

.

Menjelang tengah hari, Han Zheng kembali dari pasar desa sebelah. Di pundaknya tergantung keranjang bambu yang kini hampir kosong.

Begitu memasuki halaman, Nyonya Han segera menyambutnya.

"Bagaimana?"

Han Zheng tersenyum lebar. "Laku." ujarnya senang, "Laku semua."

Tuan Han yang sedang membelah kayu menghentikan ayunannya. "Semuanya?"

Han Zheng mengangguk. "Tanaman obat habis. Jamur kering juga."

Nyonya Han tampak tidak percaya. "Jamur kering?"

"Siapa yang membelinya?"

"Ada tabib dari kota yang kebetulan lewat."

"Katanya jamur yang dikeringkan lebih mudah dibawa dibanding yang masih segar."

Han Zheng mengeluarkan kantong kain dari balik bajunya. Saat isinya dituangkan ke atas meja, suara kepingan uang tembaga bergemerincing memenuhi ruangan. Jumlahnya hampir dua kali lipat dari hasil penjualan mereka biasanya.

Nyonya Han menutup mulutnya. "Sebanyak ini..."

Han Zheng mengangguk. "Masih belum banyak. Tapi untuk pertama kalinya...kita bisa membeli garam, minyak, dan benih sekaligus."

Tuan Han tertawa kecil. Sudah lama sekali ia tidak melihat putranya pulang dengan wajah secerah itu.

.

.

Keluarga Han pergi bersama ke pasar kecil di desa. Bagi mereka, perjalanan itu terasa lebih ringan dibanding biasanya. Di toko benih, Lian Yue memperhatikan berbagai jenis biji yang dijual.

Jagung, kacang, sawi, juga lobak.

Namun matanya berhenti pada sekantung kecil benih kedelai. "Pak Tua. Sekantung ini berapa?"

Penjual menatapnya sekilas. "Murah. Tapi tidak banyak yang membeli."

Lian Yue mengangguk pelan. Ia justru tersenyum. Kedelai bukan hanya bisa dimakan. Akarnya juga membantu memperbaiki tanah. Meski warga desa belum memahami hal itu.

"Yang ini juga."

Han Zheng sedikit heran. "Kita belum pernah menanam kedelai."

Lian Yue menjawab pelan. "Aku ingin mencoba."

Melihat keyakinan di wajah istrinya, Han Zheng akhirnya mengangguk.

"Baik."

Saat mereka keluar dari toko, seseorang memanggil dari belakang.

"Han Zheng."

Mereka menoleh bersamaan.Seorang pria kurus berusia sekitar empat puluh tahun berjalan mendekat. Namanya Liu Shan.

Tetangga keluarga Han yang ladangnya berbatasan langsung dengan milik mereka.

"Katanya hasil jualanmu lumayan hari ini."

Han Zheng tersenyum sopan. "Hanya kebetulan."

Liu Shan melirik isi keranjang mereka. "Beli banyak juga. Sepertinya keluarga Han mulai kaya."

Nada bicaranya terdengar ringan. Namun Lian Yue menangkap sesuatu di balik senyum pria itu. Rasa penasaran sekaligus sedikit iri.

Han Zheng tertawa canggung. "Mana mungkin." ujarnya, "Kami hanya membeli yang benar-benar diperlukan."

Liu Shan mengangguk. "Kalau begitu baguslah."

Ia pergi setelah mengucapkan beberapa patah kata lagi. Namun sebelum benar-benar menjauh, ia sempat menoleh ke arah Lian Yue.

Tatapannya penuh pertimbangan. Seolah sedang mencoba mencari tahu...

Apa yang sebenarnya berubah pada keluarga Han.

Dalam perjalanan pulang, Han Zheng menghela napas. "Paman Liu sebenarnya orang baik."

"Hanya saja... Sejak panennya gagal tahun lalu, dia sering memikirkan banyak hal."

Lian Yue mengangguk. "Aku mengerti."

Kemiskinan membuat orang mudah curiga. Bukan karena hati mereka buruk. Melainkan karena mereka takut tertinggal.

Ia memandang keranjang benih di tangannya. Kalau keluarga Han berubah terlalu cepat, mereka akan menjadi pusat perhatian. Itu bukan hal yang ia inginkan.

Perubahan harus terjadi perlahan. Cukup cepat untuk menyelamatkan keluarganya. Namun cukup lambat agar tidak menimbulkan kecurigaan.

Sore menjelang.

Lian Yue mulai membersihkan sebidang kecil tanah di belakang rumah. Luasnya bahkan tidak sampai sepersepuluh ladang utama.

Han Zheng memperhatikannya sambil membawa cangkul. "Untuk apa bagian ini?" tanyanya dengan antusias.

Lian Yue menaburkan beberapa biji kedelai ke dalam tanah. "Tempat mencoba."

"Mencoba?"

"Kalau semua benih langsung ditanam di ladang utama lalu gagal...kita akan kehilangan semuanya. Tapi kalau dicoba sedikit dulu, kita masih punya kesempatan memperbaikinya."

Han Zheng terdiam.Cara berpikir seperti itu belum pernah terlintas di benaknya. Selama ini, para petani di desa selalu menanam seluruh benih sekaligus.

Berhasil atau gagal. Mereka hanya bisa pasrah.

Melihat ekspresi suaminya, Lian Yue tersenyum tipis. "Dalam hidup...kadang kita tidak perlu bergerak lebih cepat."

"Cukup bergerak lebih hati-hati."

Han Zheng mengangguk pelan. Kalimat itu terus terngiang di kepalanya bahkan setelah matahari tenggelam. Sementara di balik pagar bambu, sepasang mata kecil mengintip dari semak-semak.

Seekor anak kelinci putih keabu-abuan berdiri dengan kaki belakang yang kini sudah jauh lebih baik.

Ia tidak mendekat. Hanya memandangi halaman rumah keluarga Han dari kejauhan.

Lalu bergumam pelan. ["Manusia baik... Aku akan datang lagi nanti."]

Sesaat kemudian, ia melompat kembali menuju hutan. Tak ada seorang pun yang menyadari kehadirannya. Kecuali seekor burung pipit yang bertengger di atas pohon jujube.

["Lihat... Apa dia benar-benar kembali."]

Angin sore berembus lembut, membawa aroma tanah yang mulai dipenuhi kehidupan.

Dan tanpa disadari siapa pun...

Benih-benih harapan telah mulai berkecambah, bukan hanya di ladang keluarga Han, tetapi juga di hati para penghuni hutan yang perlahan belajar mempercayai seorang manusia.

1
tinie
masih rumit dan terlalu rumit untk memahami
di otak saya🤣🤣
tinie
ya kamu harus tau masa lalumu apa hubungmu dgn mereka
sehingga apa yg membuat mereka ingin membuang mu jauh jauh dan dilarang kesana bertemu batu merah
tinie
tetep semangaat 💪💪💪
tinie
kenapa mengulangi faragraf yg sama
dgn diatas
tinie: ok
semangaaat thor
total 2 replies
tinie
ada dgn mereka
apakah mereka sengaja membuang kian Yue .agar tidak mampu membangkitkan ilmunya
makanya dia dilarang bertemu batu merah
Srie Ncii Herdiansyah
aku baru nemu cerita ini, padahal aku pecinta cerita Time travel kok gk muncul awal2 yah?? semoga rajin up thorr
tinie
makin penasaran🤔🤔
tinie
wah apakah itu batu apa

sehingga para burung dan binantang lainnya sangat ketakutan
tinie
ya kecambah pertumbuhanmu sedikit lamban namun pasti
semoga kau bisa menyelamatkan keluarga han
tinie
yang gak tumbuh
mungkin terlalu tua 💪💪
tinie
meskipun dekat dgn gunung ternyata
disaat kemarau juga sama ya kadang tak kunjung datang hujan
tinie
saking baiknya ya keluarga Han
sampai sampai mendoakan kejayaan untk mereka
tinie
apa kalian tidur dikamar sang sama
saling bertanya
deep talk gitu😁😁🤔
tinie
war biasa
bisa mendengar BHS binatang
tinie
h a d i r 💪 💪 💪
Fauziah Daud
trusemangattt
Fauziah Daud
trusemangattt n lanjuttt
Fauziah Daud
lanjuttt
Fauziah Daud
luar biasa
Fauziah Daud
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!