NovelToon NovelToon
Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:713
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Aisyah, seorang gadis solehah dan mandiri, mengira pernikahannya dengan Dimas, pria tampan dari keluarga terpandang yang berkata sangat mencintainya akan berjalan manis. Namun, kehidupan pasca nikah Aisyah berubah menjadi ujian kesabaran yang pada kenyataannya Dimas adalah seorang anak mami sejati.
Hampir seluruh hidup Dimas dikendalikan oleh Tante Rosma, ibunya yang dominan. Mulai dari urusan rumah tangga, keuangan, hingga keputusan pribadi, kalimat "Kata Mami..." selalu jadi hukum mutlak bagi Dimas. Aisyah pun terjepit di antara kewajiban menghormati suami dan tekanan mertua yang terlalu campur tangan.
Tak ingin rumah tangganya hancur, Aisyah memutuskan tidak menyerah. Berbekal kesabaran, kelembutan, dan prinsip agama yang teguh, ia memulai misi, melunakkan hati mertuanya sekaligus membentuk Dimas agar berani menjadi pemimpin keluarga yang mandiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: DMAM

Kini, suasana di dalam kediaman mewah milik Bu Rosma malam itu terasa bagaikan ruang sidang bertembok kaca yang dingin dan mencekam.

Lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit ruang tamu memancarkan cahaya keemasan, menyoroti deretan perabot impor berkilau yang bertolak belakang dengan kekacauan di hati pemiliknya.

Rosma berjalan mondar-mandir di atas karpet Persia dengan langkah yang cepat dan keras. Ketukan sepatu hak tingginya berdentang teratur, memecah kesunyian rumah yang megah.

Wajahnya yang biasa dipoles senyum keanggunan kini memerah padam. Amarahnya meluap-luap, seakan membakar sisa-sisa kesabarannya.

"Pernikahan?! Menikah dengan perempuan kampung itu?!" teriak Rosma seraya menghentakkan kakinya. Tangannya melayang dani5fdd GG vvvvvvmenepis sebuah vas bunga porselen mahal di atas meja hingga jatuh dan hancur berkeping-keping di lantai pualam.

PRANG!

Dimas yang duduk meringkuk di sofa kulit hanya bisa memejamkan matanya erat-erat. Tubuhnya gemetar, kepalanya tertunduk makin dalam.

Luka memar di pipinya yang sudah diberi obat oleh dokter pribadi masih tampak kebiruan, hingga menambah kesan ringkih pada penampilannya.

"Mami... tolong jangan marah-marah terus, Dimas takut, Mi..." rengek Dimas dengan suara yang agak serak. Tangannya meremas ujung celana bahan mewahnya lalu melanjutkan perkataannya, "Dimas kan gak tau kalau jadinya bakal kayak gini. Warga-warga itu galak banget, Mi. Dimas takut dipukuli..."

"Kamu ini memang anak tidak berguna!" bentak Rosma, lalu berbalik menatap putranya dengan mata yang menyala-nyala. "Dulu Mami suruh kamu dekati Aisyah baik-baik, perempuan itu sok jual mahal dan menolak kamu! Sekarang, gara-gara kebodohan kamu yang sok jadi pahlawan semalam, kita malah dijebak sama warga kampung miskin itu!"

Rosma menarik napas panjang dan mencoba menahan emosi yang membuat dadanya sesak. Bayangan saat dirinya diintimidasi oleh Pak RT dan para tokoh masyarakat kampung tadi pagi kembali membakar harga dirinya.

Seorang Rosma, pengusaha kaya raya yang disegani di lingkungan elite, harus berlutut pada keputusan hukum adat desa? Sungguh penghinaan yang luar biasa.

Ia memutar badannya, menatap bayangan dirinya di cermin besar.

"Tidak... Ini tidak boleh dibiarkan," gumam Rosma lambat, matanya lalu menyipit licik. "Kalau berita ini bocor ke media atau rekan bisnis Mami bahwa anak tunggal keluarga Wiraguna dinikahkan secara paksa dan diam-diam di rumah kayu reyot gara-gara skandal... nama baik keluarga kita hancur lebur!"

"Terus Mami mau gimana?" tanya Dimas pelan, seraya mendongak menatap ibunya dengan raut yang bingung.

Rosma langsung berbalik, dan menatap Dimas dengan senyum dingin yang penuh perhitungan.

"Kalau memang kamu harus menikah dengan Aisyah gara-gara desakan warga bangsat itu... Mami tidak akan biarkan pernikahan ini kelihatan seperti pernikahan murahan untuk menutupi aib!" tegas Rosma, dengan menekankan setiap katanya. "Mami yang akan tanggung semua biayanya! Mami akan gelar pernikahan kalian secara besar-besaran, super mewah di ball room hotel bintang lima!"

"Hah?! Pesta mewah, Mi? Dalam waktu singkat begini?" tanya Dimas yang terperanjat.

"Iya!" seru Rosma. "Kita buat narasi di depan publik bahwa pernikahan ini adalah pernikahan megah yang sudah kita rencanakan sejak lama! Mami akan panggil semua pengusaha, pejabat, dan wartawan media gaya hidup. Kita bungkam mulut warga kampung itu dengan kemewahan! Kita tunjukkan kalau Aisyah itu bukan dinikahkan karena skandal, tapi karena Mami 'berkemurahan hati' memungut dia jadi menantu!"

Rosma lalu melangkah mendekati Dimas, dan mengusap bahu putranya yang masih memar dengan tatapan tajamnya.

"Ingat Dimas... Aisyah boleh menang karena warga membela dia hari ini. Tapi begitu dia masuk ke rumah ini sebagai istri kamu, dia akan tau siapa penguasa sebenarnya. Mami akan bikin dia sadar diri setiap hari bahwa dia cuma wanita tak berharga yang Mami selamatkan dari kemiskinan!"

**

Sementara di sudut desa yang sepi, matahari sore menyinari rumah kayu bersahaja milik Aisyah.

Tak lama, pintu depan terbuka dengan lambat, dan menampilkan sosok Bu Rahmi yang baru saja turun dari mobil travel sewaan usai kunjungannya dari Bandung.

Wanita paruh baya itu membawa tas kain besar, wajahnya yang keriput tampak lelah dari perjalanan panjang.

Namun, begitu kakinya menginjak pekarangan rumah, ia merasakan hawa yang tidak biasa. Beberapa tetangga yang lewat menatapnya dengan pandangan bisik-bisik yang aneh dan penuh empati yang tertahan.

"Aisyah...? Ibu pulang, Nak..." panggil Bu Rahmi sambil melangkah masuk.

Di dalam ruang tengah, Aisyah sedang duduk bersimpuh di atas tikar. Wajahnya pucat, matanya sembap dan bengkak akibat tak berhenti menangis seharian.

Mendengar suara wanita yang sudah mengandung dan melahirkannya itu, pertahanan Aisyah langsung runtuh.

"Ibu...!" jerit Aisyah pelan. Ia bangkit dan langsung menghambur ke pelukan Bu Rahmi, untuk menumpahkan seluruh tangis histerisnya di dada wanita tua itu.

"Astagfirullahaladzim, Aisyah! Ada apa, Nak?! Kenapa kamu menangis seperti ini?" tanya Bu Rahmi panik, sambil mengusap-usap punggung Aisyah yang berguncang hebat.

Dengan suara terputus-putus dan napas yang sesak, Aisyah menceritakan seluruh kejadian kelam yang menimpanya sejak malam kemarin. Tentang rasa pusing usai minum, kedatangan Jaka, aksi nekat Dimas yang berujung perkelahian, ingatan samar ciuman di atas kasur, hingga tuduhan kumpul kebo oleh warga yang berakhir pada keputusan paksa pengurus RT untuk menikahkan mereka.

Bu Rahmi langsung terduduk lemas di lantai kayu. Tas kain yang dipegangnya pun terlepas begitu saja. Air mata bening perlahan mengalir membasahi pipinya yang sudah keriput.

"Ya Allah... Aisyah..." bisik Bu Rahmi meratap, lalu memeluk kepala Aisyah erat-erat. "Ibu baru tinggalkan kamu beberapa hari... kenapa musibah sebesar ini menimpa kamu, Nak?"

"Ibu... Aisyah takut..." aduh Aisyah di dalam dekapan Bu Rahmi. "Aisyah bingung... Aisyah tidak ingat sepenuhnya apa yang terjadi semalam... Aisyah ragu apakah Aisyah masih suci atau tidak... Dan sekarang, Aisyah harus menikah dengan Mas Dimas dalam waktu seminggu..."

Bu Rahmi memejamkan mata rapat-rapat dan mengelus lembut jilbab Aisyah. Sebagai wanita yang membesarkan Aisyah dengan didikan agama yang kental, hati Bu Rahmi hancur berkeping-keping.

Namun, sebagai warga desa yang paham betul kerasnya hukum adat dan pandangan masyarakat, ia tau tak ada jalan untuk berputar lagi.

"Nasi sudah menjadi bubur, Aisyah..." ujar Bu Rahmi dengan suara bergetar dan nada pasrah yang amat dalam. "Warga sudah mengetahuinya, Pak RT sudah mengetok keputusan. Jika kamu menolak pernikahan ini, nama baikmu dan ayahmu akan selamanya diinjak-injak fitnah kumpul kebo..."

Aisyah mendongak dan menatap Bu Rahmi dengan mata berair. "Tapi Bu... Tante Rosma dan Mas Dimas... mereka..."

"Ibu tau, Nak... Ibu tau betul siapa Bu Rosma itu," tutur Bu Rahmi sambil mengusap air mata di pipi Aisyah. "Tapi mungkin... mungkin ini jalan takdir yang harus kamu jalani. Berdoalah pada Allah... Jika memang ini takdirmu, semoga Allah melunakkan hati Dimas dan melindungi kamu di rumah mereka..."

Aisyah menundukkan kepalanya, lalu menyandarkan keningnya di lutut Bu Rahmi. Dalam kepasrahan yang menyiksa, ia merelakan masa depannya ditarik oleh arus takdir yang tak pernah ia kehendaki.

"Laa haulaa..."

Bersambung...

1
Tuti Nurhayati
up LG KK dtunggu
Aurora: udah update Kaka... yuk lanjut baca lagi 🤗. Kalau suka, jangan lupa kasih like nya ya...🥰
total 1 replies
Tuti Nurhayati
up LG y dtunggu
Aurora: siap kakak... makasih udah mau mampir 🤗🥰
total 1 replies
fans
Menarik, lanjutkan...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!