NovelToon NovelToon
The Shadow'S Sanctuary

The Shadow'S Sanctuary

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Iblis / Akademi Sihir
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Lucius Aurelius

Di tengah cemoohan keluarga dan stigma sebagai produk gagal bangsawan Pendragon, Wiliam Pendragon menyembunyikan kenyataan bahwa dirinya adalah seorang jenius Level 12 pencipta Pernapasan Pedang Kegelapan sekaligus pemilik Domain Expansion yang ditakuti. Menjalani kehidupan ganda sebagai murid biasa demi menjaga kedamaian ibunya, Wiliam berubah menjadi "Hantu Topeng" saat malam tiba—sosok vigilante bertopeng bertanduk dan berjubah gelap yang membantai kejahatan tak tersentuh hukum secara dingin tanpa memedulikan pahlawan atau villain. Namun, aksinya yang menyisakan jejak sihir unik mulai mengguncang tatanan politik benua, memicu perburuan massal dan menarik perhatian empat entitas Level 20 terkuat di dunia yang mempertanyakan apakah Hantu Topeng adalah pelindung atau justru bom waktu yang siap membumihanguskan tatanan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lucius Aurelius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 28

Bab 28: Benang Takdir Dua Wanita, Penyelusuran Istana Takdir Olympus, dan Sumpah sang Dewa Pengrajin

​Hari demi hari bergulir di Koloseum Aethelgard dengan gema kebrutalan yang kian membumbung tinggi. Setiap kali pintu besi raksasa terangkat dan sosok berselimut jubah hitam dengan Topeng Bertanduk Iblis melangkah masuk ke tengah pasir arena, aura ketakutan seketika menyelimuti seluruh peserta di ruang tunggu. Nama Darkness tidak lagi dianggut sebagai lelucon dari ras yang dianggap lemah, melainkan dieja sebagai sinonim dari malaikat pencabut nyawa yang paling dingin dan mematikan.

​Ren memenangkan pertandingan demi pertandingan dengan dominasi absolut. Bilah pedang Pandora’s Eclipse miliknya menari di udara, membelah zirah, memotong senjata, dan memenggal leher setiap musuh pria yang mencoba menantang atau mencaci jiwanya. Pertarungan demi pertarungan ia selesaikan tanpa ragu sedikit pun. Namun, di tengah pembantaian yang dingin itu, ada satu aturan tak tertulis yang selalu dijaga oleh Ren secara mutlak: ia tidak pernah membunuh satu pun kontestan wanita. Jika musuhnya adalah seorang wanita, Ren hanya melumpuhkan gerakan mereka, melemparkan senjata mereka keluar dari garis pertarungan, atau membuat mereka tidak berdaya hingga panitia menyatakan kemenangan untuknya.

​Seusai menghabiskan energi di dalam Koloseum, Ren selalu menghabiskan sisa harinya untuk menempa dan meningkatkan kekuatan fisiknya di bawah bimbingan langsung Hephaestus. Di dalam gubuk kayu rahasia di distrik barat, ren memanipulasi alir mana, mengasah penggunaan Pernapasan Pedang Kegelapan, dan menyelaraskan denyut Demon Heart agar tidak kembali bergejolak liar tanpa kendali.

​Namun, di tengah rutinitas penempaan yang keras itu, sesosok eksistensi bersinggasana Mythic terus mengawasi pergerakannya dari balik bayang-bayang.

​Nona Kitsune—sang keturunan Dewi Rubah Ekor Sembilan—hampir setiap hari mendatangi kediaman sederhana Hephaestus. Wanita berparas amat sangat cantik dengan tujuh ekor perak yang mengembang anggun itu tidak pernah absen untuk melihat Ren. Setiap kali Ren kembali dalam keadaan terluka atau kelelahan pasca-pertarungan sengit di Koloseum, Kitsune secara pribadi akan turun tangan mengobatinya.

​"Aku bisa mengobati lukaku sendiri dengan energi manaku, Nona Kitsune," tolak Ren dingin pada suatu sore, mencoba menarik lengannya yang dipenuhi goresan tebasan berdarah.

​"Diamlah dan jangan banyak bergerak, Pria Keras Kepala," balas Kitsune dengan nada manja namun penuh penekanan sihir yang lembut. Tangannya yang seputih salju mengusapkan minyak herbal beraroma bunga purba ke kulit Ren, menyalurkan pendar sihir penyembuh tingkat Mythic yang seketika menutup luka-luka Ren tanpa meninggalkan bekas parut sedikit pun. "Tanganmu adalah aset berharga untuk memegang pedang. Biarkan aku yang mengurus sisanya."

​Meskipun Ren berulang kali menolak perlakuan istimewa tersebut dan menjaga jarak ketat demi kesetiannya pada Anya, Kitsune tetap tersenyum manis, mengabaikan penolakan dingin Ren dan merawat sang pendekar bertopeng dengan ketelatenan yang luar biasa.

​Malam harinya, setelah Ren tertidur lelap di kamar bawah tanah akibat kelelahan fisik yang menumpuk, suasana di ruang tamu gubuk kayu Hephaestus terasa begitu hening dan remang. Cahaya dari lentera minyak tanah memantul pelan di atas meja kayu tebal tempat Hephaestus dan Nona Kitsune duduk berhadapan.

​Kitsune sedang menyesap secangkir teh herbal yang dihidangkan oleh Hephaestus. Tujuh ekor peraknya terhampar lembut di lantai kayu, menyebarkan aroma keharuman yang menenangkan.

​Hephaestus menuangkan sedikit anggur tanah liat ke dalam cangkirnya sendiri, lalu mendongak menatap wanita cantik berderajat Mythic di hadapannya dengan sepasang mata tua yang penuh pengalaman bertualang ribuan tahun.

​"Nona Kitsune," sapa Hephaestus dengan suara berat dan dalam. "Kita sudah saling mengenal keberadaan satu sama lain selama bertahun-tahun di benua ini. Tolong jawab pertanyaanku dengan jujur... Apa sebenarnya maksudmu yang sesungguhnya mendekati anak itu?"

​Kitsune menghentikan cangkir tehnya di depan bibir merah nyalanya, menatap Hephaestus dengan binar mata emas kemerahan yang tenang.

​"Apakah kau mengincarnya hanya karena kau mengejar kekuatan alami dari Demon Heart dan potensi tulang Demigod yang ada di dalam tubuhnya?" lanjut Hephaestus, suaranya mengandung nada protektif seorang mentor terhadap muridnya. "Apakah Ren hanyalah sarana bagimu untuk membangkitkan ekor kedelapan dan kesembilan garis keturunanmu?"

​Nona Kitsune menghela napas panjang. Keanggunan godaannya yang biasa terlihat perlahan memudar, digantikan oleh raut wajah yang teramat sangat jujur, lembut, dan sedikit redup.

​"Kau salah menilaku, Dewa Pengrajin," ujar Kitsune dengan suara merdu yang dipenuhi kejujuran murni. "Pada awalnya... mungkin aku memang tertarik padanya karena potensi jiwanya yang luar biasa saat melihatnya bertarung di arena. Namun... setelah melihat kegigihannya, keteguhan jiwanya, dan bagaimana dia menolak seluruh tawaran hartaku demi menjaga janji pada istrinya... aku sadar bahwa hatiku telah jatuh padanya."

​Kitsune menyandarkan jemari lentiknya di dada kirinya sendiri, tempat jantungnya berdenyut hangat.

​"Aku telah hidup selama ribuan tahun di alam semesta ini, Hephaestus," bisik Kitsune dengan mata berbinar lembut. "Aku telah melihat ribuan pria paling tampan, paling kaya, dan paling berkuasa berlutut di bawah kakiku meminta perhatianku... tapi tidak ada satu pun dari mereka yang membuat dadaku berdebar seperti ini. Ini adalah pertama kalinya dalam ribuan tahun hidupku... aku merasakan apa yang disebut jatuh cinta pada pandangan pertama."

​Hephaestus tertegun sejenak, mendengarkan pengakuan tulus dari eksistensi tingkat Mythic di hadapannya.

​"Lagipula..." Kitsune melanjutkan pembicaraannya seraya menatap ke arah jendela yang menembus langit malam, "...ini bukan sekadar kebetulan biasa. Seribu tahun yang lalu, di puncak Gunung Seribu Kabut, aku menerima sebuah ramalan purba dari Benang Takdir Alam Semesta."

​Mata Hephaestus menyipit tajam. "Ramalan...?"

​"Benar," sahut Kitsune pelan. "Ramalan itu menyatakan secara gamblang... bahwa suatu hari nanti, seorang pria Manusia yang berasal dari benua kecil yang terisolasi akan melangkah melintasi batas dunia dan menjadi suamiku yang sah. Dalam ramalan tersebut diterangkan dengan sangat jelas... pria itu memiliki Hati Iblis (Demon Heart) di dadanya dan struktur Tubuh Setengah Dewa (Demi God) yang ditempa dari api takdir."

​BOOM!

​Mendengar detail ramalan tersebut, Hephaestus seketika terpaku bungkuk di kursinya!

​Pikiran sang Dewa Pengrajin berguncang hebat! Ingatannya mendadak melayang kembali pada percakapan pribadinya dengan Ren beberapa waktu lalu. Ren pernah menceritakan secara detail tentang bagaimana istrinya—Anya, sang wanita suci dari ras Elf—juga telah hidup dalam isolasi dimensi selama ratusan tahun dan menerima takdir serta penglihatan jiwa yang sama, di mana Ren ditakdirkan secara mutlak untuk menjadi suaminya!

​'Bagaimana mungkin...?' batin Hephaestus bergulat dalam-dalam dengan rasa heran yang teramat sangat besar. 'Anya memiliki takdir mutlak sebagai istri Ren... dan sekarang, Kitsune juga memiliki takdir ramalan purba seribu tahun lalu yang merujuk secara persis pada Ren?! Apakah benang takdir anak ini diikat oleh hukum kosmik pada dua wanita dari garis keturunan tertinggi ini...?'

​Hephaestus memegang dahi tuanya, tenggelam dalam pemikiran yang sangat dalam dan membingungkan.

​Namun... baik Hephaestus maupun Kitsune tidak menyadari—

​Di balik pintu kayu kamar bawah tanah yang sedikit terbuka... Ren berdiri diam di dalam kegelapan.

​Ren telah terbangun sejak beberapa menit lalu dan mendengar seluruh percakapan jujur antara Kitsune dan Hephaestus!

​Di balik bayang-bayang lorong, sepasang mata kelabu Ren membelalak penuh rasa terkejut yang tak terkira! Jantungnya berdegup kencang saat mencerna kenyataan terlarang tersebut.

​'Takdir yang sama...?' batin Ren bergejolak hebat, tangannya memegang erat dada kirinya. 'Nona Kitsune memiliki ramalan takdir yang sama persis dengan takdir yang mengikatku dengan Anya?! Bagaimana mungkin garis takdirku terhubung pada dua eksistensi ini...?'

​Setelah beberapa saat mengobrol, Nona Kitsune berpamitan pada Hephaestus dan melenyap menjadi pendar asap perak menuju kediamannya di pegunungan utara.

​Suasana gubuk kayu kembali diselimuti keheningan malam.

​Hephaestus berdiri di tengah ruangan bawah tanah, menatap tempat tidur Ren yang kembali hening. Rasa penasaran, rasa khawatir, dan dorongan kebenaran akan masa depan murid penempaannya meledak tidak tertahankan di dalam jiwa sang Dewa Pengrajin.

​'Aku tidak bisa hanya berdiam diri dan menerka-nerka...' tegas Hephaestus dalam hatinya. 'Aku harus melihat ini dengan mataku sendiri! Aku harus mengetahui kebenaran hakiki di balik garis takdir anak itu!'

​Hephaestus mengangkat tangan kekarnya yang penuh luka bakar purba. Dengan otoritas keilahiannya yang tersisa sebagai bekas Dewa Olympus, Hephaestus menggoreskan garis sihir emas melingkar di udara!

​HUMMMMM—CRACK!

​Sebuah portal dimensi berwarna emas legam yang memancarkan pendar sihir ruang dan waktu yang sangat kuno terbuka lebar di tengah ruangan! Portal itu mengarah lurus ke ranah tertinggi yang pernah ditinggalkannya: Istana Takdir Olympus (Hall of Fates)!

​Tanpa ragu sedikit pun, Hephaestus melangkah masuk menerobos portal tersebut, melintasi ribuan lipatan dimensi kosmik.

​SWOOSH!

​Dalam sekejap mata, Hephaestus menginjakkan kakinya di atas lantai kristal bening Istana Takdir yang mengapung di atas lautan awan keemasan Olympus. Di sekelilingnya membentang pilar-pilar batu pualam raksasa yang dililit oleh jutaan Benang Takdir Keemasan yang bergetar memancarkan jalan hidup seluruh eksistensi di alam semesta.

​Namun, kedatangan Hephaestus seketika memicu alarm keilahian!

​FLASH-FLASH!

​Tiga sosok wanita tua berpakaian jubah tenun perak yang memegang gunting emas dan benang kosmologis—tiga Dewi Takdir Olympus (The Fates: Clotho, Lachesis, Atropos)—muncul membendung jalan Hephaestus!

​"Berhenti, Dewa Pengrajin Terbuang!" seru Clotho dengan suara bergema agung. "Kau telah meninggalkan Olympus dan dipotong dari takhta! Kau tidak memiliki hak untuk melangkah ke dalam Istana Takdir dan melihat Benang Kehidupan makhluk mortal!"

​Hephaestus mengepalkan tangannya, memancarkan pendar aura api penempaan Demigod di sekujur tubuhnya dengan raut wajah yang teramat sangat gigih!

​"Biarkan aku lewat!" tegas Hephaestus dengan suara bagaikan guruh yang menggetarkan pilar-pilar takdir. "Aku tidak datang untuk mengubah atau merusak tatanan takdir para dewa Olympus! Aku datang hanya untuk melihat garis hidup satu anak Manusia yang membawa masa depan alam semesta ini! Jika kalian menghalangiku, aku akan membakar seluruh gulungan tenun ini dengan Api Vulkanik terlarangku!"

​Melihat tekad absolut dan nekat dari Hephaestus yang siap bertarung hingga hancur demi melihat benang takdir anak tersebut, ketiga Dewi Takdir saling memandang sejenak. Akhirnya, Lachesis menghela napas panjang dan melepaskan pegangan gunting emasnya.

​"Baiklah..." kata Lachesis pelan. "Kami akan mengizinkanmu melihatnya satu kali saja, Hephaestus. Namun ingat... apa yang terukir di dalam Kitab Takdir Absolut tidak dapat diubah oleh tangan mortal atau dewa mana pun."

​Ketiga Dewi Takdir melambaikan tangan mereka, membuka sebuah gulungan benang keemasan raksasa yang melayang turun di hadapan Hephaestus.

​Hephaestus melangkah mendekat, matanya menyapu lembaran-lembaran cahaya tulisan kuno di dalam gulungan tersebut.

​Ia mencari nama: Ren.

​Namun... di dalam Kitab Takdir Absolut tersebut, nama 'Ren' tidak ditemukan sama sekali!

​"Tidak ada...?" bisik Hephaestus tertegun.

​Tiba-tiba, gulungan takdir itu bergetar hebat, dan pendar cahaya keemasan mereorganisasi huruf-huruf kuno tersebut menjadi satu nama sejati yang terpatri di inti jiwa sang anak:

​WILLIAM PENDRAGON.

​Mata Hephaestus membelalak tajam! "William Pendragon... nama sejati jiwanya!"

​Hephaestus menyentuh nama tersebut dengan jemarinya, dan seketika itu juga... seluruh bayangan garis takdir masa depan William Pendragon meledak masuk ke dalam penglihatan jiwa Hephaestus!

​FLASH-FLASH-FLASH!

​Hephaestus melihat ribuan adegan masa depan membentang secara instan:

​Ia melihat William Pendragon bertarung menerobos benua demi benua, bersimbah darah di bawah pembantaian musuh-musuh tingkat kosmik, dikhianati, dihancurkan hingga hampir tewas berulang kali, menanggung beban amarah Demon Heart, bertarung melawan para Raja Iblis, Dewa Iblis, hingga berhadapan langsung dengan para Dewa Olympus yang serakah!

​Ia melihat penderitaan, kesepian, dan rasa sakit yang teramat luar biasa yang harus dipikul oleh pahlawan muda ini sendirian di atas pundaknya demi melindungi orang-orang yang dicintainya!

​Dan di akhir garis takdir yang terurai di dalam gulungan tersebut... Hephaestus melihat dengan sangat jelas dua benang merah keemasan yang terikat erat pada inti jiwa William Pendragon: Satu benang terikat mutlak pada Anya sang Wanita Suci Elf, dan satu benang terikat mutlak pada Kitsune sang Keturunan Dewi Rubah!

​Memang benar... secara takdir hukum alam semesta yang diukir oleh Sang Pencipta... William Pendragon ditakdirkan secara mutlak untuk memiliki dua istri utama yang akan mendampingi takhtanya sebagai Penguasa Kosmik!

​TAP... TAP...

​Air mata hangat menetes keluar dari sepasang mata tua Hephaestus, jatuh membasahi lantai kristal Istana Takdir.

​Sang Dewa Pengrajin yang legendaris, yang telah melewati ribuan tahun pengkhianatan dan kekejaman dunia... menangis terisak-isak saat menyaksikan betapa berat, betapa berdarah, dan betapa tragis namun agungnya jalan takdir yang harus ditempuh oleh murid mudanya, William Pendragon!

​"Anak itu..." bisik Hephaestus dengan suara parau yang gemetar memegang dadanya. "Dia menanggung takdir yang begitu berat... Dia harus melewati neraka yang tak terbayangkan hanya untuk berdiri di puncak..."

​Setelah merasa puas dan mencerna seluruh kebenaran takdir tersebut, Hephaestus mengusap air matanya, membungkuk pelan pada ketiga Dewi Takdir, lalu berbalik melangkah kembali menerobos portal dimensi menuju dunia mortal.

​SWOOSH.

​Portal emas tertutup rapat di dalam ruangan bawah tanah gubuk kayu Hephaestus.

​Hephaestus berdiri di tengah ruangan yang remang, menyapu pandangannya ke arah pintu kamar Ren. Rasa sedih, rasa kagum, dan rasa kasih sayang seorang mentor meluap memenuhi jiwa sang Dewa Pengrajin.

​Hephaestus meremas jemari tangannya yang penuh luka bakar hingga memutih. Di dalam hatinya, sebuah Sumpah Absolut terukir dengan sangat mantap dan tak tergoyahkan.

​'Aku... Hephaestus, sang Dewa Pengrajin yang pernah dibuang oleh Olympus...' batin Hephaestus bersumpah pada bintang-bintang dan hukum alam semesta. '...berjanji demi jiwa dan kehormatanku... aku tidak akan pernah meninggalkan anak ini! Aku akan menjadi rekan seperjuangan dan penempa setianya hingga akhir hayatku!'

​'Aku telah melihat betapa berdarahnya jalan yang harus kau tempuh ke depan, William Pendragon...' keluh Hephaestus dalam hatinya seraya menyunggingkan senyuman tegar yang penuh kehangatan. 'Aku tidak akan membiarkanmu berjalan di dalam neraka itu sendirian. Pedang terhebat, zirah terkuat, dan tempat berlindung paling kokoh akan selalu kuciptakan untukmu... hingga kau menduduki takhta puncak Mega Multiverse yang menjadi milikmu!'

​Hephaestus melangkah pelan menuju meja kerjanya, mengambil martil penempaannya, dan mulai menyalakan api tungku dengan tekad baru yang menyala-nyala di dalam matanya.

​Perjalanan sang pahlawan bertopeng di Koloseum Aethelgard mungkin baru saja dimulai... namun kini, di sampingnya, berdiri seorang Dewa yang siap menemani langkahnya menerobos batas takdir kosmik.

1
Ed Troivan
lnjt👍
Ed Troivan
👍👍👍💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!