NovelToon NovelToon
TAI CHU : KITAB TAKDIR

TAI CHU : KITAB TAKDIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Spectree Je

Saat semua pendekar berkumpul untuk berebut kekuasaan, seorang anak gembala datang membawa akhir dari dunia mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Spectree Je, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7 - TIGA MURID YANG DITAKDIRKAN

Puncak Teratai Emas, Gunung Huashan, akhirnya kosong.

Api unggun sudah padam. Hanya menyisakan abu hitam dan bau arak Jiangnan yang tumpah. Ratusan jejak kaki, ratusan lubang anak panah beracun, dan satu kalimat emas yang masih menggantung samar di langit — TUJUH TAHUN LAGI, MURID MENENTUKAN LANGIT — menjadi saksi bahwa kemarin, sejarah Wulin hampir terulang menjadi lautan darah.

Para pendekar telah kembali ke wilayah masing-masing. Janji 7 Tahun telah mengikat mereka.

Tapi tidak semua kembali dengan rombongan besar.

Di kaki Gunung Huashan, di jalan setapak kecil menuju ke timur, menuju Gunung Zhongnan.

Qiu Mingyu, Ketua Sekte Quanzhen generasi sekarang, berjalan sendirian. Jubah Tao ungu dengan simbol Yin Yang besar di punggungnya berkibar pelan. Kitab Tao usang di tangannya. Wajahnya yang penuh keadilan kini terlihat lelah. Di belakangnya tidak ada murid Quanzhen, hanya Duan Zhen, murid Kaisar Selatan yang berjalan sambil memegang payung untuknya, meski tidak ada hujan.

Mereka berjalan dalam diam sejak meninggalkan puncak. Kisah Zhuo Fan 15 tahun lalu masih menghantui mereka.

Tiba-tiba, Qiu Mingyu berhenti.

"Keluarlah. Kau sudah mengikutiku sejak dari puncak. Jika kau ingin membunuhku, setidaknya jangan menginjak bayanganku. Itu tidak sopan menurut kitab Tao."

Dari balik pohon pinus yang tumbuh miring di tebing, keluar seorang pemuda.

Umurnya sekitar 18 tahun. Wajahnya tampan, sangat tampan, tapi bukan tampan licik seperti Li Qingzhou atau tampan dingin seperti Huang Yuchen. Tampan yang... tenang. Seperti permukaan danau yang tidak pernah berombak, bahkan saat badai.

Jubah putih sederhana, tanpa bordir, tanpa simbol. Rambutnya diikat rapi dengan tali bambu biasa. Di pinggangnya, tidak ada pedang besi. Hanya sebuah pedang kayu. Pedang kayu yang sama persis seperti yang dibawa oleh Ling Feng, murid inti Wudang, tapi kayunya lebih tua, lebih hitam di ujungnya karena sering terkena minyak lampu saat membaca.

Aura di sekelilingnya... tidak ada. Jika Yang Lie memancarkan hawa matahari 9 Yang yang membakar, jika Mu Chen memancarkan cahaya emas Tai Chu yang kacau, pemuda ini... tidak memancarkan apa-apa. Ia seperti batu. Seperti udara. Jika kau memejamkan mata, kau tidak akan merasakan ia ada.

Tapi Qiu Mingyu yang adalah Ketua Quanzhen langsung tahu. Semakin tidak ada aura, semakin dalam tenaga dalamnya. Ini adalah Wu Wei — Tanpa Keinginan — tingkat tertinggi Tao.

Pemuda itu membungkuk hormat, sangat dalam, dengan etika murid Quanzhen yang paling sempurna.

"Guru Besar. Murid Li Changsheng, 18 tahun, murid dalam Sekte Quanzhen, penjaga Perpustakaan Tersembunyi di lantai 9."

Qiu Mingyu mengerutkan kening. "Li Changsheng? Aku ingat kau. 3 tahun lalu kau masuk Quanzhen karena tersesat mencari kambing. Kau tidak pernah turun gunung, hanya membaca kitab. Kenapa kau ada di sini?"

Li Changsheng tetap membungkuk, suaranya tenang, tidak ada naik turun.

"Guru Besar memerintahkan saya 7 hari lalu, sebelum berangkat ke Huashan. Guru bilang, 'Jika di Huashan muncul seorang bocah goni dengan kitab emas bernama Mu Chen, dekati dia. Jadikan dia saudara seperguruan. Karena takdir Quanzhen ada di tangannya.' Saya sudah berusaha."

Ia mengangkat kepala, matanya yang tenang menatap Qiu Mingyu.

"Apakah... adik seperguruan saya itu berhasil direkrut? Apakah Mu Chen mau menjadi murid Quanzhen?"

Qiu Mingyu terdiam. Ia menatap pemuda 18 tahun di depannya. Li Changsheng. Murid yang ia sendiri lupakan. Murid yang 3 tahun hanya membaca kitab di perpustakaan dan tidak pernah berlatih pedang, tapi tiba-tiba muncul di Huashan tanpa ada yang menyadarinya.

Qiu Mingyu tertawa pelan, pahit.

"Berhasil? Tidak. Gagal. Bocah goni itu memilih untuk tidak memilih siapa-siapa. Ia memilih Janji 7 Tahun. Ia memilih untuk menjadi dirinya sendiri. Sama seperti seseorang 15 tahun lalu."

Ia menepuk bahu Li Changsheng.

"Tapi kau... kau yang selama 3 tahun aku kira hanya tukang sapu perpustakaan, ternyata sudah mencapai Tao Xin Tong Ming — Hati Tao yang Memahami Kegelapan — tanpa aku sadari. Bagus. Bagus sekali."

Qiu Mingyu melanjutkan langkahnya, tapi kini dengan senyum.

"Kembalilah ke Zhongnan. Beritahu 7 Tetua Quanzhen, mulai besok, kau bukan lagi penjaga perpustakaan. Kau adalah... Muriku. Murid Tertutup Ketua Quanzhen generasi ke-3. Dan 7 tahun lagi, kaulah yang akan mewakili Quanzhen di Puncak Teratai Emas untuk melawan Mu Chen, melawan Yang Lie, melawan murid Pengemis Utara dan Pulau Bunga Persik."

Li Changsheng tidak terlihat kaget, tidak terlihat senang. Ia hanya membungkuk lagi, sedalam tadi.

"Baik, Guru Besar. Saya akan kembali membaca kitab. Kitab tentang cara mengalahkan 18 Tapak Penakluk Naga."

Di wilayah barat. Gurun Gobi. Angin pasir mengamuk.

Ouyang Lie, Racun Barat, berjalan sendirian. Dua murid pucat yang menggotong peti kelabang raja sudah ia suruh pergi lebih dulu karena terlalu lambat. Tanah di setiap injakannya menghitam, lalu kembali menjadi pasir.

Ia sedang memikirkan Zhuo Fan. Pangeran Mahkota yang seharusnya mati. Jika Zhuo Fan masih hidup, maka racun yang membunuh 10 Tetua Sekte Iblis 15 tahun lalu...

Tiba-tiba, dari dalam badai pasir di depannya, muncul seorang pemuda.

Umurnya sekitar 18 tahun juga. Tapi auranya berbanding terbalik dengan Li Changsheng.

Jika Li Changsheng tenang seperti danau, pemuda ini dingin seperti puncak Gunung Kunlun yang tidak pernah terkena matahari.

Wajahnya tampan, tapi pucat seperti mayat. Bibirnya tipis, matanya sipit, tanpa alis. Jubah hitam ungu dengan bordir kalajengking perak, sama seperti jubah Ouyang Lie, tapi kalajengkingnya lebih kecil dan matanya merah. Di tangannya, ia tidak memegang senjata. Tangannya telanjang, tapi kukunya panjang dan hitam, meneteskan cairan ungu yang membuat pasir di bawahnya mendesis dan meleleh.

Ia berlutut dengan satu kaki di depan Ouyang Lie. Gerakannya sempurna, seperti ular yang membungkuk.

"Guru."

Ouyang Lie berhenti. Matanya yang hijau menyala menyipit.

"Kau... Ouyang Feng... anakku..."

Pemuda berekspresi dingin itu — Ouyang Feng, 18 tahun, putra kandung Ouyang Lie, dinamai sama persis dengan leluhur besar Gunung Baituo — mengangkat kepalanya. Wajahnya tanpa ekspresi.

"Guru memerintahkan saya 7 hari lalu, sebelum berangkat ke Huashan. Guru bilang, 'Jika di Huashan muncul bocah goni dengan kitab emas, racuni dia. Jika tidak bisa diracuni, jadikan dia saudara. Karena darahnya pasti bisa membuat Racun Kehidupan dan Kematian.' Saya sudah mencoba dari jauh. Tiga jarum kelabang raja saya meleleh sebelum menyentuhnya karena hawa 9 Yang di sebelahnya."

Ia menatap gurunya, matanya dingin tanpa rasa bersalah karena gagal.

"Apakah adik seperguruan saya itu berhasil direkrut? Apakah Mu Chen mau menjadi murid Gunung Baituo?"

Ouyang Lie tertawa. Tawanya seperti kaca pecah di dalam gua, tapi kali ini ada kebanggaan.

"Gagal? Bagus! Jika ia berhasil kau racuni, ia tidak pantas menjadi muridku! Jika ia tidak bisa kau racuni, berarti darahnya memang istimewa!"

Ia mengangkat tangan, meneteskan satu tetes darahnya sendiri yang berwarna ungu kehitaman ke kuku Ouyang Feng.

"Minum. Ini adalah hadiah karena kau berani gagal dan kembali hidup-hidup. Mulai hari ini, kau bukan lagi murid luar yang menjaga peti kelabang. Kau adalah Putra Racun Barat. Murid tertutupku. 7 tahun lagi, di Huashan, kaulah yang akan mewakili Gunung Baituo. Racuni mereka semua! Racuni bahkan Pangeran Mahkota Zhuo Fan itu jika ia berani menghalangi!"

Ouyang Feng membuka mulutnya, meminum darah beracun ayahnya tanpa ragu. Bibirnya yang pucat menjadi ungu, tapi matanya semakin dingin.

"Baik, Ayah. Dalam 7 tahun, saya akan membuat racun yang bisa membunuh bahkan 9 Yang."

Mereka berdua hilang ditelan badai pasir Gurun Gobi.

Di wilayah timur. Kota Suzhou, Jiangnan. Pasar paling ramai di seluruh negeri.

Siang hari. Orang berdesakan. Bau bakpao, bau ikan bakar, bau parfum wanita, bau keringat bercampur menjadi satu.

Di tengah keramaian itu, seorang gadis manis dan cantik berumur sekitar 16 tahun berlari-lari sambil mengangkat roknya yang berwarna pink persik.

Wajahnya bulat, matanya besar seperti kelinci, pipinya merah karena berlari. Rambutnya dikuncir dua dengan pita persik. Di punggungnya, ia membawa keranjang bambu besar berisi... bukan bunga persik. Berisi bakpao. Bakpao yang masih mengepul panas.

Ia cantik, tapi cantik yang membuat orang ingin mencubit, bukan cantik dingin seperti Su Meiyin.

Ia berlari dari satu kios ke kios lain, menabrak orang, membuat pedagang marah, tapi semua orang yang marah langsung tidak jadi marah saat melihat wajahnya.

"Guru! Guru! Guruuuu!"

Ia berteriak-teriak di tengah pasar, suaranya jernih seperti lonceng kecil.

"Guru Huang Yuchen! Guru pemilik Pulau Bunga Persik! Di mana kau?! Aku sudah membuat bakpao rasa bunga persik seperti yang Guru mau! Jangan tinggalkan aku lagi!"

Orang-orang di pasar menatapnya aneh. Pemilik Pulau Bunga Persik? Bukankah itu dewa yang hanya ada di cerita?

Dari atas atap sebuah kedai arak tertinggi di Suzhou, di mana tidak ada orang yang bisa naik tanpa tangga, duduk seorang pria berjubah biru langit bordir bunga persik, memainkan suling giok putih dengan malas. Di sampingnya, ranting bambu yang tadi dipakai untuk berdiri di Huashan kini ia pakai untuk mengaduk arak di dalam guci.

Huang Yuchen.

Ia mendengar teriakan gadis itu, menghela napas panjang, menutup wajahnya dengan tangan.

"Anak itu... lagi-lagi..."

Gadis manis itu akhirnya melihat sosok di atas atap. Matanya berbinar.

"Guru! Aku melihatmu! Tunggu! Jangan terbang lagi!"

Ia melempar keranjang bakpaonya ke atas. Keranjang itu melayang tinggi, sangat tinggi, melewati atap. Dan gadis itu... melompat. Bukan melompat biasa. Kakinya menginjak kepala-kepala orang di pasar, menginjak lentera, menginjak bendera toko, ringan seperti kupu-kupu, dan menangkap keranjang bakpaonya di udara, lalu mendarat dengan ringan di atas atap, tepat di depan Huang Yuchen.

Gerakan itu... adalah Ling Bo Wei Bu — Langkah Ombak Ling — jurus ringan Pulau Bunga Persik yang bahkan Li Qingzhou dari 7 Bintang Jiangnan belum tentu bisa.

Huang Yuchen menatapnya dengan tatapan pasrah.

"Tao Yaoyao... sudah kubilang berapa kali, jangan panggil aku guru di depan orang banyak. Aku belum pernah setuju menjadikanmu murid."

Gadis manis dan cantik bernama Tao Yaoyao, 16 tahun, cemberut, pipinya menggembung seperti bakpao yang ia bawa.

"Tapi Guru sudah memakan 100 bakpao buatanku! Ibu bilang, jika seorang pria memakan 100 bakpao buatan seorang wanita, pria itu harus menjadi suaminya atau gurunya! Guru tidak mau menjadi suamiku karena Guru sudah tua, jadi Guru harus menjadi guruku!"

Huang Yuchen hampir menjatuhkan sulingnya.

"Siapa yang mengajarkan logika sesat itu?!"

"Ibu!"

"Ibumu itu..."

Huang Yuchen menghela napas lagi. Ia menatap gadis 16 tahun di depannya. 2 tahun lalu ia menemukan gadis ini pingsan di pantai Pulau Bunga Persik, memeluk sebuah batu persik aneh yang bercahaya. Saat ia bangun, ia tidak ingat siapa orang tuanya, hanya ingat namanya Tao Yaoyao dan ia suka membuat bakpao. Tapi bakatnya dalam formasi dan musik... bahkan lebih hebat dari Huang Yuchen saat umur 16 tahun.

Huang Yuchen mengambil satu bakpao dari keranjang, menggigitnya. Rasa bunga persik yang aneh tapi enak.

Ia menatap ke arah barat, ke arah Huashan yang jauh.

"Yaoyao."

"Ya, Guru!"

"Apakah kau ingin punya adik seperguruan? Seorang bocah goni bernama Mu Chen yang membawa kitab emas yang bisa membuat langit terbelah?"

Mata Tao Yaoyao berbinar lebih terang dari sebelumnya.

"Adik seperguruan? Apakah dia tampan? Apakah dia suka bakpao?"

Huang Yuchen tersenyum untuk pertama kalinya hari ini. Senyum jahil.

"Dia sangat bodoh. Dan dia pasti suka bakpaomu. Karena ia yatim piatu dan belum pernah makan bakpao enak seumur hidupnya."

Tao Yaoyao langsung melompat berdiri, mengangkat keranjang bakpaonya tinggi-tinggi.

"Ayo, Guru! Kita ke Huashan! Kita rekrut adik seperguruan! Kita beri dia bakpao!"

Huang Yuchen memukul kepala gadis itu pelan dengan sulingnya.

"Bukan sekarang, bodoh. 7 tahun lagi. Dalam 7 tahun, aku akan menjadikanmu... Putri Pulau Bunga Persik. Dan 7 tahun lagi, kaulah yang akan mewakili Pulau Bunga Persik di Puncak Teratai Emas, untuk melawan murid Pengemis Utara, murid Quanzhen, murid Racun Barat, dan... bocah goni itu."

Tao Yaoyao memeluk keranjang bakpaonya erat-erat, wajahnya merah karena semangat.

"7 tahun! Aku akan membuat 7.000 bakpao! Dan adik seperguruan Mu Chen harus makan semuanya!"

Di tiga wilayah yang berbeda — di jalan menuju Zhongnan, di badai pasir Gurun Gobi, dan di atap kedai arak di Suzhou — tiga murid yang ditakdirkan telah muncul.

Li Changsheng yang tenang dari Quanzhen, Ouyang Feng yang dingin dari Gunung Baituo, dan Tao Yaoyao yang manis dari Pulau Bunga Persik.

Dan di Puncak Huashan yang sudah kosong, Hong Wei Jun, Pengemis Utara, yang masih menjaga Mu Chen yang tertidur kelelahan karena memeluk kitab emas terlalu lama, menatap langit dan bergumam.

"Zhuo Fan... kau sudah menyiapkan semua ini sejak 15 tahun lalu, ya? Kau gila... kau benar-benar gila..."

Angin Huashan membawa gumamnya jauh, menuju Lembah Api di Kunlun, di mana seorang pria bertopeng perunggu retak dan seorang pemuda dengan kitab 9 Yang sedang berjalan menuju takdir mereka.

1
Dhewa Iblis
Next....
Dhewa Iblis
Laaaannnjjuuutt...
Dhewa Iblis
Laaaannnjjuuttt...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Laaaannnjjjuuuttt....
Dhewa Iblis
Nice...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Laaaannnjjjuuuttt....
Dhewa Iblis
Nice...
Dhewa Iblis
Laaaaannnjjuuttt..
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Laaaannnjjuutt...
Dhewa Iblis
Nice....
Dhewa Iblis
Laaaannnjjuutt...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Next....
Dhewa Iblis
Nice....
Dhewa Iblis
Maaaannnttaapp..
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Laaaannnjjuutt...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!