Teror yang mengguncang Desa Keramat sudah melahirkan kondisi yang mencekam bagi warga.
Dimana ada banyak anak-anak yang menghilang, wanita hamil, dan bahkan orang dewasa tak luput dari serangan tersebut.
Siapakah penerornya?
Ikuti kisah selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maghrib Mencekam Di Sungai Mahakam
Warna jingga merona di langit Kalimantan sore ini. Goresan cahayanya tampak terang, tetapi menimbulkan semburat yang mulai meremang.
Matahari perlan mulai tenggelam dengan perlahan, di balik hutan yang tebal, dan menyisakan kabut tipis yang mulai naik.
Angin bertiup dari arah hulu. Membawa aroma yang tak biasa... Aroma anyir yang bercampur dengan asap dapur yang mengepul.
Di tepian sungai yang membentang luas, empat anak laki-laki masih asik bermain air. Kaki mereka telanjang tanpa alas kaki, celana dilipat sampai paha.
"Sebentar lagi, Bu!" teriak Dika, bocah berusia delapan tahun, anak Pak Salim yang merupakan seorang nelayan.
Tangannya memegang dayung kecil yang terbuat dari kayu ulin. Teriakan Aminah yang memanggilnya dari arah dapur tak di hiraukannya.
"Kakek bilang maghrib harus pulang!" sahut Rian sembari melempar lumpur ke arah Bima. Tangan kecilnya membuat bola lumpur dengan cekatan.
Mereka saling tertawa. Bermain kejar-kejaran. Cipratan air kemana-mana.
Bagi mereka anak kampung, sungai itu taman bermain. Dari kecil mereka sudah mengenal arus, mengenal ikan, dan juga mengenal suara burung di rumpun bambu.
Tapi hari ini sangat berbeda.
Tak ada yang sadar dari keempat bocah itu, di balik rumpun bambu yang lebat, air sungai berputar pelan. Bukan pusaran karena batu yang menyembul dari dasar sungai.
Air di situ berwarna hitam pekat, sedangkan di tempat lain masih berwarna coklat jernih. Dan dari pusaran itu keluar gelembung-gelembung kecil.
"Wuuuusss..."
Angin dingin lewat dengan tiba-tiba. Sedangkan sejak tadi udara cukup gerah.
Saat bersamaan, terdengar anjing-anjing kampung yang biasanya tidur, mendadak melolong semua dan saling bersahutan dengan suara yang panjang. Seolah mereka ingin memberi isyarat, ada sesuatu di balik sana.
Dika berhenti bermain. Tengkuknya merasa meremang. Ia merasa seperti ada yang sedang memperhatikannya.
"Kalian ada denger suara nggak?" bisiknya.
"Denger apa?" tanya Bima, ia masih sibuk menyipratkan air.
"Seperti ada suara orang yang tertawa... Mirip cewek."
Mereka menoleh ke arah belakang secara bersamaan. Tak ada sesiapapun, dan kekosongan yang mereka temui. Hanya pohon, dan rimbunnya rumpun bambu yang di sertai kabut yang semakin tebal dan naik dari sungai.
"Ah, ikam halu." Anto menepuk bahu Dika. "Udah ah pulang!" bocah itu beranjak dari duduknya. "Besok sepulang sekolah main lagi," ia ngeloyor pergi.
Rian lebih dulu yang berlari ke atas tepi. Lalu Dika, Bima, dan Anto ikut nyusul.
Tiba-tiba saja...
Braaak!
Air memercik tinggi bagaikan sebuah semburan yang besar.
Anto yang paling belakang mendadak tersentak ke belakang. Tangannya ke atas, mulutnya terbuka ingin berteriak.
Tetapi tidak ada suara yang dapat ia keluarkan. Seperti tercekat di tenggorokan.
Dalam sedetik tubuhnya ditarik ke bawah. Lalu hilang begitu saja.
"ANTOOO!" teriak Bima sampai suaranya melengking.
Dika langsung terjun ke bawah. Ia mencoba meraba-raba air yang berwarna gelap dan dingin. Tetapi tidak ada yang ia dapatkan.
.
Yang muncul hanya gelembung besar. Dan dayung kecil milik Anto mengapung, dan berputar-putar diatas pusaran.
Bima dan Dika saling pandang. Wajah mereka pucat seperti kertas.
Tanpa berpikir panjang mereka langsung berlari. Lari sekuat tenaga di atas tanah yang becek.
Teriakan mereka memecah sore ini.
"ABAH! UMA! ANTO HILANG! DI SUNGAI!"
Suara teriakan para bocah tersebut, membuat para warga keluar dari rumahnya.
Salim tampak pucat. Sedangkan Aminah yang baru saja selesai memasak ikan gurami pindang untuk makan malam mereka, langsung terdiam.
Praaang!
Wadah mangkuk di tangannya jatuh tertumpah dan membuat ikan pindangnya jatuh berserakan di lantai kayu dapurnya.
Ia mencoba ikut menyusul Salim yang sudah berlari keluar dari rumah. Ia merasakan tubuhnya seperti melayang saat menapaki anak tangga rumah panggungnya.
Sat ia tiba di bawah, orang-orang sudah ramai berkumpul. Aminah semakin merasakan kakinya lemah, seperti tak bertulang. Ia jatuh terduduk di atas tanah yang becek.
Salim yang jago berenang dan merupakan ayah Anto, langsung melompat dan menyelam. Ia mencari keberadaan anaknya dan hanya kegelapan yang ia temui.
Warga lainnya ikut menyelam, dan mereka membantu mencari tempat dimana Anto di nyatakan pertama kali tenggelam.
Setelah satu jam lamanya melakukan pencairan, mereka tak menemukan hasil. Anto menghilang seperti di telan air Mahakam, tanpa meninggalkan jejak.
Pencairan di hentikan, dan akan di lanjutkan esok hari.
Aminah yang mendapati kenyataan pahit tersebut, langsung pingsan. Ia tidak dapat lagi berpikir. Semuanya tampak gelap.
Dua jam berlalu. Rumah panggung Bubungan Tinggi yang sudah sangat tua dan berusia ratusan tahun tampak ramai di kunjungi warga.
Lampu bohlam temaram dinyalakan semua. Rumah panggung Damang penuh sesak dengan warga.
Warga berdiri saling berdesakan. Anak-anak disuruh masuk ke dalam. Tidak lagi di biarkan bermain di luaran. Ibu-ibu tampak menangis. Mereka cemas dan juga takut.
Pak Damang Tua Jaya duduk di tengah, di atas tikar anyaman pandan berduri. Ia terlihat sangat dingin.
Usianya tujuh puluh delapan tahun. Rambutnya putih, tetapi mata masih tajam. Di depannya ada mangkuk putih berisi air, beras kuning, dan kemenyan yang mengepulkan asap, dan menebarkan aroma yang menyengat.
"Ini yang keberapa kalinya?" tanya Pak Lurah Hadi. Kemejanya basah oleh keringat. Suaranya terdengar bergetar. Sebab sudah menyangkut keselamatan warganya.
"Yang ketiga bulan ini, Pak." jawab Pak RT, tangannya juga gemetar memegang catatan. "Yang dua sebelumnya... sampai sekarang belum ketemu jasadnya."
Ibu Anto pingsan lagi di pangkuan tetangga. Bapaknya, Pak Salim, memukul-mukul dada sembari meraung menahan rasa sakit tak berdarah yang sedang ia alami.
"Anakku... anakku main di situ setiap hari! Kenapa baru sekarang terjadi!" ratapnya.
"Salim, Ikam tak bisa berbicara seperti itu. Ini sudah takdir kamu harus sabar," ucap salah satu warga. Mencoba menenangkannya.
"Ulun yakin. Jika di desa ini ada yang punya ilmu Kuyang," ucapnya dengan sangat yakin.
"Tetapi kita belum tau pasti," shut yang lainnya.
"Bisa saja ada buaya Riska yang mulai berkeliaran. Sebab semua anak yang hilang dii sungai. Ini pasti buaya," yang lain menimpali.
"Jangan sembarangan. Buaya Riska di sungai Guntung, Bontang, tidak mungkin menyeberang ke Mahakam dengan jarak yang cukup jauh," salah satu warga menolak pendapat tersebut.
Sedangkan Damang menutup matanya. Ia tak menghiraukan perdebatan para warga. Bibirnya bergetar berkomat-kamit membaca mantra. Tangan keriputnya tampak cekatan menabur beras ke empat penjuru mata angin.
"Om... Induk Penjaga Sungai... Ampunkan dosa kami. Jauhkan bala dari kampung Sepaso ini." ucapnya dengan tenang. Meskipun hatinya bergolak.
Angin bertiup dengan kencang. Membawa aroma yang sangat asing. Damang Jaya merasakan hatinya sangat resah.
Novel Leak Tamat Hari ini.
Semoga Dayang Sari dan Arkan menemukan cara agar bisa memutus mata rantai kutukan itu..
Kasihan kan Dayang Sari kalau harus jadi Kuyang terus 😭
Secara ilmu hitam itu katanya turun temurun, dan harus punya pewaris, isshh geri juga ya. 😫
Sumpah deh takut bngt, waktu itu aku lg haid, pas waktu hampir tengah malem diganggu.
Nafas nya berat dan nyaring,😫persis diatas atap dikamarku.
Saking takut nya aku baca ayat kursi, Allhamdulillah dia pergi juga, dan trdengar dia jatuh.
Sya sendiri punya suami orang Banjar, tetapi saya asli suku Dayak, salam persahabatan dan salam sehat thor ku. ☺