Pencapaian tertinggi setelah lulus kuliah bagi Kinan adalah bisa rebahan dengan tenang di kamarnya.
Untuk apa hidup dibuat rumit dengan bekerja keras atau menikah kalau tidur siang saja sudah menjadi surga dunia? Menurut prinsip Work Smart-nya, energi harus dihemat seminim mungkin demi kedamaian jiwa.
Namun, kedamaian itu hancur berantakan saat sang ibu menjodohkannya dengan Arga, seorang CEO workaholic akut yang hidupnya diatur oleh Google Calendar dan target. Melihat Arga bekerja saja sudah membuat Kinan merasa kelelahan setengah mati.
Di bawah satu atap, benturan dua dunia tidak terhindarkan. Arga menuntut disiplin, sementara Kinan selalu punya cara unik untuk memotong waktu pekerjaan rumah demi bisa kembali ke kasur.
Siapa yang akan menyerah lebih dulu? Arga yang terpaksa belajar cara melambat, atau Kinan yang akhirnya mengikuti ritme hidup suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 18
Arga buru-buru mengalihkan pandangannya dari layar ponsel Kinan dan merapikan ikatan dasinya yang sebenarnya sudah rapi.
"Saya tidak punya waktu mengamati kehidupan selebriti. Dan itu sama sekali tidak penting. Simpan ponsel kamu," cetus Arga datar sambil melempar pandang ke luar jendela taksi. "Kita hampir sampai ke hotel. Jangan sampai ada barang kamu yang tertinggal di mobil."
Kinan mengerjap, menatap Arga yang mendadak ketus dan mengalihkan pembicaraan secara sepihak.
Lah... Ketus banget sih ini orang, padahal kan cuma tanya. Fix ini kalau enggak kecapekan ya lagi kebelet... batin Kinan heran.
Namun, ia hanya mengangguk santai lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Sisa perjalanan di dalam taksi diisi oleh keheningan dari Arga yang sibuk menatap keluar jendela, sementara Kinan santai saja menikmati pemandangan kota Singapura yang mulai diterangi lampu-lampu jalan.
**
Begitu pintu suite Raffles Hotel terbuka, Kinan langsung melepas sepatu ketsnya, menaruh tas di sofa, dan melangkah menuju kamar tidur. Tanpa cuci muka atau mengganti pakaian, ia menjatuhkan diri tengkurap di atas kasur king size yang empuk.
Arga yang baru selesai memesan makanan lewat layanan telepon kamar menghampiri ambang pintu. Keningnya berkerut.
"Kinan, bangun. Bersihkan diri kamu dan ganti baju," tegur Arga.
"Nanti saja, Pak... tubuh saya sudah memasuki mode hemat energi," gumam Kinan dengan suara teredam bantal.
"Tubuh kamu bukan ponsel," balas Arga datar.
Kinan memiringkan kepalanya sedikit, menatap Arga dengan sebelah mata. "Justru ponsel saja ada mode hemat daya. Masa saya enggak boleh? Tolong hargai hak istirahat saya malam ini, Pak CEO..."
Arga menatap wanita yang kembali menimbun wajahnya di bawah bantal itu dengan napas terhela kasar. Mengatur ratusan karyawan perusahaan terasa jauh lebih mudah daripada menghadapi logika-logika ajaib wanita di hadapannya. Pria itu akhirnya memilih membiarkannya dan kembali ke ruang tengah.
Hampir satu jam berlalu. Suasana suite terasa tenang. Arga sedang membuka laptopnya ketika sebuah surel baru masuk dari Mr. Chen. Surel tersebut berisi undangan digital beserta brosur VIP Preview & Gala Dinner pameran seni dan perhiasan mewah untuk besok sore.
Arga menatap brosur di layar laptopnya dalam diam. Secara profesional, menghadiri acara ini adalah investasi relasi yang penting. Namun fakta bahwa Natasha Vanya berada di sana sebagai Brand Ambassador membuat benaknya tertahan sejenak.
Pintu kamar mendadak terbuka pelan. Kinan keluar, matanya masih berat karena mengantuk, dengan rambutnya yang sedikit acak-acakan.
"Pak CEO..." panggil Kinan serak, berjalan ke arah meja makan. "Ada makanan enggak?"
Arga menoleh singkat. "Saya sudah pesan makanan. Seharusnya sebentar lagi sampai."
Kinan mengangguk lega. Sambil menunggu, ia berjalan mendekati meja Arga untuk mengambil segelas air putih. Pandangannya yang masih setengah terkumpul tanpa sengaja menangkap tampilan visual poster di layar laptop Arga yang sedang terbuka.
Kinan menghentikan tegukannya. Matanya mendadak terbuka penuh.
"Lho... itu kan poster yang tadi saya lihat di galeri?" celetuk Kinan, lalu menyunggingkan senyum penuh ledekan. "Dih... Ternyata kepo juga ya, sampai dicari tahu di laptop?"
Arga mendongak, menatap Kinan dengan alis terangkat. "Saya bukan kepo. Saya baru saja dapat undangan resminya."
"Serius?!" Binar mata Kinan langsung menyala antusias. Rasa kantuknya menguap seketika. "Mumpung Bapak punya akses VIP, saya ikut dong, Pak! Kalau keramaiannya kayak gitu sih saya masih bisa tahan!"
Arga mengamati Kinan sejenak. "Boleh," putus Arga akhirnya. "Tapi ada syaratnya."
"Syarat apa?" tanya Kinan cepat.
"Pertama, di sana nanti jangan panggil saya Pak CEO," tegas Arga. "Belajar panggil nama saya. Kamu tidak mungkin terus-terusan memanggil 'Pak CEO' di depan orang lain atau di depan orang tua kita nanti."
Kinan menaikkan alisnya. "Aneh banget rasanya... kayak manggil orang asing."
"Itu nama saya," balas Arga datar. "Syarat kedua, ikuti dress code acara. Dan ketiga, jangan berjalan terlalu jauh dari saya."
Arga menatap Kinan tajam, memperjelas poin terakhirnya. "Saya tahu kalau kamu sudah tertarik dengan sesuatu, fokus kamu suka buyar. Saya tidak mau harus repot mencari kamu lagi kalau kamu sampai hilang di tengah pameran."
Kinan langsung menyatukan ibu jari dan telunjuknya membentuk tanda oke dengan binar mata antusias. "Siap! Aman, Pak CEO! Saya akan patuhi syarat itu. Jujur saya belum pernah datang ke pameran seni VIP sekelas itu, jadi saya janji enggak bakal bikin malu."
"Bagus," sahut Arga. Pria itu mengamati penampilan Kinan dari atas sampai bawah. "Dan soal dress code... saya tahu kamu tidak membawa gaun malam atau pakaian formal ke sini."
Kinan mengerjap, lalu menepuk jidatnya pelan. "Eh... iya juga. Saya cuma bawa kaus, kemeja santai, sama celana bahan semua."
"Besok siang setelah rapat saya selesai, kita cari gaun yang sesuai sebelum berangkat ke pameran," ujar Arga tenang, seakan hal itu bukan masalah besar baginya.
Kinan tersenyum lebar. "Wah, siap! Duh... Saya jadi ga enak hati Pak CEO."
"Arga," koreksi pria itu cepat.
Kinan mendadak menghentikan senyumnya, lalu memiringkan kepala menatap Arga dengan raut wajah jahil.
"Coba tes dulu deh... Ar-ga?" panggil Kinan, menekan tiap suku katanya.
Arga menoleh datar. "Apa?"
"Arga... Arga... Arga..." Kinan mengulangnya tiga kali dengan intonasi berbeda-beda, hingga akhirnya ia tidak sanggup menahan tawa dan menutupi mulutnya dengan sebelah tangan. Bahunya terguncang pelan. "Aduh, enggak jadi deh! Geli banget ternyata, serasa lagi manggil teman seangkatan pas kuliah."
Arga memejamkan mata sejenak, mengurut pangkal hidungnya menahan sabar melihat kelakuan istrinya. "Lama-lama kamu juga akan terbiasa."
"Iya, iya... Saya coba pelan-pelan ya, Arga," goda Kinan lagi dengan nada jahil.
Tuk, tuk.
Ketukan sopan di pintu memecah percakapan mereka. Seorang petugas hotel berpenampilan rapi mendorong troli berisi sajian room service beraroma menggugah selera. Rasa kantuk Kinan yang tersisa seketika menguap total. Matanya berbinar terang, seakan lupa dengan rasa geli saat memanggil nama Arga beberapa detik lalu.
"Asyik, makanannya datang!" seru Kinan tanpa ragu, melangkah cepat menghampiri meja makan tempat petugas menata piring-piring berpenutup stanlis.
Arga hanya bisa memejamkan mata sejenak, seraya mengatur kembali napasnya. Pria itu akhirnya menutup laptopnya, lalu menyusul melangkah ke meja makan.
Di atas meja, tersaji hidangan steak dengan saus truffle dan sup krim hangat. Tanpa menunggu formalitas, Kinan sudah duduk tegak, memegang sendok dan garpu dengan binar puas.
"Wah... bau supnya aja udah berasa mahal banget ini, Pak--eh, Arga," celetuk Kinan, cepat-cepat mengoreksi panggilannya begitu melihat lirik tajam dari Arga.
Kinan menyuap supnya dengan lahap, menikmati cita rasa mewah yang memanjakan lidahnya. Sementara itu, Arga memotong steak-nya dengan gerakan yang sangat teratur, dan rapi.
"Makan yang pelan. Tidak ada yang akan merebut makanan kamu," tegur Arga datar saat melihat Kinan mengunyah dengan semangat tinggi.
"Cacing di perut saya dari tadi sore udah demonstrasi," sahut Kinan santai setelah menelan makanannya. Ia lalu menatap Arga yang memotong daging dengan ukuran yang sama di setiap potongan. "Gaya makan kamu kok kaku banget kayak lagi ujian kepribadian. Dinikmatin dong, Arga..."
Arga menahan sendoknya di udara sejenak. Mendengar namanya dipanggil secara kasual di sela-sela denting sendok dan piring. Pria itu memilih tidak membalas ledekan Kinan dan melanjutkan makan malamnya.
Sekitar dua puluh menit kemudian, Kinan menyandarkan punggungnya ke kursi sambil menepuk perutnya pelan. "Kenyang sempurna. Kalau begini caranya, fasilitas hotel bisa bikin saya malas pulang ke Jakarta."
"Habiskan air minum kamu, bersihkan diri, lalu tidur," ujar Arga memberi instruksi singkat seraya merapikan serbetnya. "Besok saya mulai rapat dari pagi. Setelah makan siang, saya jemput kamu ke hotel untuk cari gaun."
"Siap, Bos Besar!" Kinan bangkit dari kursi, meneguk air putihnya sampai habis. Sebelum melangkah masuk ke kamar tidur, ia menyempatkan diri menengok ke belakang, menyunggingkan cengiran tipis. "Selamat malam, Arga. Makasih makanan-nya ya."
Pintu kamar tidur tertutup pelan, meninggalkan Arga sendirian di ruang tengah. Ia tidak langsung tidur. Ia berjalan mendekati jendela kaca yang membentang menampilkan lanskap gemerlap lampu kota Singapura di balik malam.
Tangannya bersedekap. "Besok... semuanya harus tetap dalam kendali," batin Arga, sebelum akhirnya membalikkan badan dan mematikan lampu ruangan.