NovelToon NovelToon
Identitas Yang Tertukar

Identitas Yang Tertukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perjodohan / Anak Genius
Popularitas:10.2k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Marina

Taniza dan Tania.
Saudara kembar yang terpisah sejak kecil.
Taniza dan Tania merupakan kembar identik, hanya saja sifat mereka bertolak belakang.
Taniza adalah sosok anak yang lemah lembut, baik hati, tidak pernah menyakiti siapapun, ia gadis yang sangat penurut.
sedangkan Tania , ia gadis yang lebih liar, tidak mau di atur, suka seenaknya,dan lebih suka hidup semaunya..
namun di balik sifat keduanya yang sangat bertolak belakang, mereka sama-sama saling menyayangi, namun takdir berkata lain, mereka mengalami kecelakaan dan membuat nya terpisah,namun sebelum kecelakaan itu terjadi, mereka iseng-iseng bertukar nama, tapi ternyata pertukaran identitas itu terbawa sampai dewasa.

Bismillahirrahmanirrahim....
Yuk ikuti kisahnya....
kawal mereka sampai tuntas...
jangan lupa beri dukungan ya ...
salam sehat semua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Sinar matahari pagi menyiram hangat halaman rumah perdesaan yang asri. Mobil camperVan abu-abu milik Niza, kendaraan yang biasa ia gunakan dengan teman-temannya kalau ingin camping, sudah terparkir rapi. Bagasi belakangnya telah terisi penuh oleh carrier, matras, dan perlengkapan mendaki lainnya.

Sebelum masuk ke dalam mobil, Niza melangkahkan kaki mendekati kedua orang tua angkatnya. Niza meraih jemari tangan Ibu Sumiyati dan Pak Harto dengan kedua tangannya, menatap wajah sepuh mereka dengan tatapan santun dan penuh rasa hormat.

"Ibu... Ayah... Niza berangkat mendaki Gunung Salak bersama teman-teman, ya," pamit Niza lembut, suaranya sarat akan rasa hormat. "Niza janji akan selalu jaga diri baik-baik, ikut arahan ketua rombongan, dan tidak akan ceroboh di jalan mau pun di gunung. Boleh ya, Bu, Yah? Mohon doa restunya."

Ibu Sumiati mengelus lembut pipi Niza yang kini merona segar tanpa sisa rasa sakit. "Iya, Nak... Ibu dan Ayah izinkan. Ingat pesan Ibu, jaga adab di gunung, jangan tinggalkan sholat, jangan buka aurat, jangan sombong, selalu berdoa, dan jangan pernah terpisah dari rombongan. Paham?"

"Siap, Ibu, Ayah! Terima kasih," sahut Niza gembira, lalu mencium punggung tangan kedua orang tua angkatnya bergantian dengan khidmat.

Saat Niza berbalik hendak melangkah menuju pintu camperVan, tiba-tiba suara derap langkah tergesa-gesa memotong momen hangat tersebut.

"Tunggu! Jangan jalan dulu!" seru sebuah suara yang sangat familiar.

Seorang pemuda dengan tas carrier besar di punggungnya dan matras terikat rapi di samping berjalan cepat mendekati mereka. Dialah Dias, tetangga sebelah rumah sekaligus PNS kecamatan yang sudah dianggap Niza seperti kakaknya sendiri.

Niza dan teman-temannya Yoga dan Nina terbelalak kaget melihat penampilan Dias yang sudah siap tempur dengan pakaian lapangan lengkap.

"Mas Dias? Mau ke mana rapi begitu bawa carrier?" tanya Niza bingung sambil menaikkan sebelah alisnya.

"Ya mau ikut kalian mendaki Gunung Salak-lah! Mumpung kalian berangkat, Mas tidak mau ditinggal!" tegas Dias sambil melempar tasnya santai ke dalam bagasi Niza tanpa minta izin terlebih dahulu.

Yoga dan Nina saling bertukar pandang penuh keheranan. "Lho, Mas Dias... bukannya Mas Dias ini PNS kantor kecamatan? kerja begini kok malah bisa ikut naik gunung berhari-hari?" tanya Yoga heran.

Dias terkekeh renyah, merapikan tali jaket outdoor-nya dengan gaya santai.

"Kalian ini serba ingin tahu saja," jawab Dias sambil tersenyum lebar. "Dengarkan ya hitungannya... Kebetulan besok hari Selasa itu tanggal merah hari libur nasional. Hari Seninnya ditetapkan pemerintah jadi libur cuti bersama. Nah, sisanya, hari Rabu, Kamis, dan Jumat, Mas sudah ajukan izin cuti tahunan dari jauh-jauh hari! Jadi seminggu penuh ini Mas bebas tugas!"

Ibu Sumiati dan Pak Harto tertawa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah tetangga mudanya itu.

"Alasan saja kamu ini, Dias. Bilang saja mau memantau Niza supaya tidak kenapa-kenapa di gunung," goda Pak Harto yang disambut tawa renyah warga sekitar.

Dias tersenyum jahil sambil melirik Niza. "Ah, Pak Harto tahu saja. Lagipula kalau ada Mas Dias, kan ada yang bisa gantian menyetir mobil camperVan ini. Iya kan, Za?"

Niza menyunggingkan senyum tegar dan hangat, menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Dias yang selalu punya cara untuk melindunginya layaknya seorang kakak. "Ya sudah, ayo naik! Jangan sampai kita kemalaman di jalur pendakian!"

Dengan bergabungnya Dias, rombongan kecil itu masuk ke dalam mobil camperVan milik Niza. Suara mesin mobil meraung halus, membelah udara pagi perdesaan menuju kaki Gunung Salak.

Niza memegang liontin patah NiZa di dadanya, menatap pemandangan luar jendela. Semangatnya membara untuk menaklukkan puncak gunung. Namun jauh di dalam batinnya, takdir sedang merajut benang-benang gaib yang akan membawa perjalanan sederhana ini menuju takdir yang jauh lebih besar.

____

Mansion Hasanuddin tampak begitu tenang dari luar. Namun, di balik dinding-dinding marmernya yang dingin dan megah, sebuah konspirasi jahat sedang dirancang dengan sangat rapi dan berdarah dingin.

Sepeninggal Ameer ke Amerika, Filio dan Chana tidak berani terang-terangan menyiksa atau memaki Tania seperti dulu. Mereka tahu betul bahwa Ameer tidak main-main dengan ancamannya. Terlebih lagi, Ameer telah menempatkan beberapa orang kepercayaan dan pengawal berbadan tegap di sekitar mansion untuk mengawasi setiap gerak-gerik dan memastikan keselamatan Tania selama 24 jam.

Di depan para pengawal itu dan di hadapan Kakek Hamzah, Filio bersandiwara sempurna. Ia menyapa Tania dengan lembut, bahkan pura-pura membantu Tania membawa buku-buku kuliahnya. Tania yang berhati polos dan berjiwa lembut, jiwa asli Taniza yang selalu merindukan kedamaian, tersenyum hangat, benar-benar percaya bahwa sepupunya telah berubah menjadi lebih baik.

Malam makin larut. Suasana mansion sudah sepi. Di dalam kamar utama yang terkunci rapat, Chana berdiri di dekat jendela, memegang kaleng berisi minuman bersoda dengan raut wajah frustrasi. Di depannya, Filio duduk di tepi ranjang, meremas sprei dengan jemarinya yang gemetar oleh rasa dengki dan amarah yang menumpuk.

"Aku tidak sudi, Ma! Aku tidak sudi melihat anak angkat pembawa sial itu bertingkah seperti Ratu di rumah ini!" desis Filio dengan suara tertahan, matanya menyala merah oleh kebencian. "Lihat bagaimana para pelayan dan pengawal Kak Ameer memperlakukannya! Kalau Kak Ameer pulang dan benar-benar menikahinya, kita cuma bakal jadi benalu di rumah kita sendiri!"

Chana meminum sodanya sedikit, lalu berbalik menatap putri kandungnya. Wajah cantiknya ternoda oleh keserakahan dan dendam.

"Sabar, Filio. Jangan ceroboh," pangkas Chana dingin, suaranya pelan namun sarat akan racun. "Ameer menaruh mata-mata di mana-mana. Kalau kita sampai menyentuhnya secara langsung di rumah ini, Ameer akan langsung tahu dan mencoret kita dari hak waris Hasanuddin Group."

"Lalu kita harus diam saja, Bu?!" bentak Filio setengah berbisik, matanya berkaca-kaca menahan emosi. "Melihat si bisu dan sok alim itu menang atas kita?!"

Chana melangkah mendekati Filio, lalu duduk di sampingnya. Ia menggenggam jemari Filio dengan cengkeraman yang dingin.

"Siapa bilang kita akan diam?" bisik Chana dengan senyum kelam yang mengerikan. "Kalau kita tidak bisa menyentuhnya di rumah ini... kita buat dia lenyap di luar."

Filio menahan napasnya, menatap ibunya dengan mata membelalak. "Maksud Mama..?"

"Kita buat sebuah kecelakaan yang sangat rapi," tutur Chana, matanya menyipit penuh intrik. "Kita bayar orang luar, orang yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan keluarga ini. Kita culik Tania saat dia berpergian di luar jangkauan pengawal Ameer, atau kita sabotase kendaraannya. Kita buang dia ke tempat yang sangat jauh di mana tidak ada seorang pun yang bisa menemukannya... Atau bila perlu, kita lenyapkan dia selamanya dari muka bumi ini."

Filio tertegun sejenak. Namun, rasa iri dan dendam yang sudah menguasai pikirannya membuat rasa takut itu menguap seketika. Sebuah senyum iblis terukir di bibir Filio.

"Bagus, Ma..." bisik Filio penuh kemenangan. "Buat seolah-olah dia hilang karena musibah atau kecelakaan tragis. Biar Kak Ameer menangis darah saat pulang nanti, dan Kakek akan sadar kalau anak angkat kesayangannya itu memang ditakdirkan mati tragis seperti orang tua angkatnya!"

Sementara itu, di kamar belakangnya yang sederhana, Tania sedang duduk di tepi ranjang. Ia baru saja selesai menunaikan shalat Isya. Gaun tidurnya tertutup rapi, dan wajah tirusnya memancarkan keheningan yang suci.

Tania mengelus pergelangan tangannya yang masih sedikit memar, lalu menatap foto almarhum Akhtar dan Alina di mejanya serta foto usang kedua orang tua kandungnya.

"Ayah... Ibu..." bisik Tania pelan dengan suara yang mengalun lembut. "Filio dan Bibi Chana sekarang sudah baik pada Tania... Rumah ini sudah mulai damai. Kak Ameer juga sedang berjuang di Amerika... Tania berdoa semoga semua orang di rumah ini selalu dilindungi dan dibukakan hatinya... S moga kalian bahagia di sana."

Tania sama sekali tidak menyadari bahwa di saat ia memanjatkan doa-doa kebaikan untuk keluarga angkatnya, rencana pembunuhan dan pembuangan dirinya sedang dimatangkan di kamar atas.

Sifat dasarnya yang merupakan Taniza, selalu berserah diri, tidak pernah menaruh curiga, dan pasrah pada takdir, membuatnya berjalan lurus menuju perangkap maut yang sedang disiapkan.

1
suti markonah
siap² filio chana..pembalasan dendam akan segera di mulai
suti markonah
ameer dah ada rasa sm tania tp blm menyadari
Sri Supriatin
g sabar nunggu lanjutannya🤭👍👍👍
M⃟3💋AisyahRendra
Lihatlah Chana... Lihatlah Filio....
sebentar lagii, Ameer dan Tania akan Sah menjadi pasangan suami isteri, mungkin ya..kmu akan menghadirkan sosok Venera dihari yg sakral ini, tapiiii semua itu tidak akan membuat Ameer dan Tania goyah akan keputusan mutlak dr sesepuh Hasanuddin 😁 gaskuyyyy kakk, up lagiii yaaa.. krn kemarin aku tunggu dan bolak balik kesini ga ada muncul² 😆
Sri Supriatin
Tks thor upnya🙏🙏🙏
Sri Supriatin
Bravo Tania sy support mendekati 17 aug. Merdeka😍😍😍
Sri Supriatin
akhirnya menuju bahagia n cepat sehat Tanisa 🙏🙏🙏
suti markonah
suatu saat kakek akan mendapatkan dua tania yg sm persis kek..yg 1 nya lg ngungsi di desa kaki gunung
Sri Supriatin
tks upnya Thor semangat Agustus n mereka /Heart//Heart/
Sri Supriatin
lanjut thor dimulai dgn bau2 cinta di desa n masion 🤣🤣🤣
suti markonah
tania jangan lupa stempel setrika panas di tubuh filio ya..klo bisa di muka nya..klo yg di siksa filio aku rela..tp klo yg di siksa taniza hatiku sebagai pembaca mendidih..
Sastri Dalila
😅😅😅
Sastri Dalila
🤭🤭
suti markonah
bab nya salah ketik ya thor?.harus bab 22
Meiny Gunawan
selamat pagi othor semangaatt ya💪 semoga sehat selalu😍
M⃟3💋AisyahRendra
jadi kalau Tania asli nikah sm Ameer kuat plus kuat 🤭 dan Dias sm Taniza 😅 tapi klo kebalik yaa gapapalah krn jodoh ga akan lari kemana.. gaskuy lanjut lagi kak, baca beberapa bab ini bikin aku tegang tahan napas krn dag dig dug hmm 🤣🤣
Anonim
lanjuuutt thor
Sri Supriatin
lanjuuut thoor😍😍😍
Sri Supriatin
cerita dong Taniza...please👍👍
Sri Supriatin
kasian Ameer...Tanianya sdh slmt...semoga cepat dipertemukan 🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!