Kebebasan dari balik jeruji ternyata bukanlah akhir dari hukuman.
Setelah bertahun-tahun mendekam di penjara, Indri berharap dapat memulai hidup yang baru. Namun, dosa masa lalu yang telah menghancurkan kehidupan seseorang membuatnya menjadi sasaran balas dendam.
Di balik kepulangannya, Evan telah menyiapkan sebuah permainan yang dirancang dengan sempurna. Bukan untuk membunuh Indri, melainkan membuat wanita itu merasakan penderitaan yang jauh lebih menyakitkan daripada kematian. Sedikit demi sedikit, kehidupan Indri direnggut—harga dirinya, kebebasannya, hingga harapan untuk hidup bahagia.
Namun, semakin jauh Evan melangkah menjalankan rencana balas dendamnya, semakin dalam pula ia terjebak dalam perasaan yang tak pernah ia duga.
Lantas... Akankah Indri berhasil terbebas dari belenggu dendam yang mengikat hidupnya? Ataukah justru Evan yang akan terperangkap dalam rasa yang sama beracunnya dengan kebencian yang selama ini ia pelihara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syitahfadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Udara dini hari terasa begitu dingin. Mobil yang dikendarai Indri berhenti di depan rumah Haris.
Beberapa detik ia hanya terdiam di balik kemudi, memandangi rumah yang selama ini menjadi tempat paling aman baginya.
Kini... Ia merasa dirinya tidak lagi pantas memasuki rumah itu. Air matanya kembali jatuh. Tangannya masih gemetar ketika mencoba membuka pintu mobil.
Begitu memasuki rumah, lampu ruang tamu masih menyala. Cinta yang sejak tadi menunggu langsung berdiri.
"IndriK. Kamu dari mana? Papa sampai khawatir nungguin kamu."
Indri memaksa tersenyum. "Maaf, Kak. Rapatnya molor."
Cinta mendekat. "Kamu kelihatan pucat. Apa kamu sakit?"
Refleks, Indri mundur satu langkah. "Enggak. Aku hanya sedikit lelah."
Gerakan kecil itu tidak luput dari perhatian Cinta. Namun ia memilih tidak bertanya lebih jauh.
"Kalau begitu istirahatlah."
Indri mengangguk pelan. "Selamat malam." Ia segera berlari menuju kamarnya.
Begitu pintu tertutup, tubuhnya langsung luruh ke lantai. Tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah. Ia memeluk lututnya sambil terus menggeleng.
"Kenapa... Kenapa harus seperti ini..."
Pagi harinya.
Indri tidak keluar dari kamar. Laura kecil beberapa kali mengetuk pintu.
"Tante... Tante belum bangun, ya?"
Indri yang tidak tidur sejak semalam, buru-buru menghapus air matanya sebelum membuka pintu. "Iya, Sayang."
Laura kecil tersenyum. "Ayo sarapan, Tante."
Indri berjongkok dan memeluk keponakannya erat. Pelukan itu begitu kuat hingga membuat Laura kecil kebingungan.
"Tante?"
"Tidak apa-apa. Tante hanya ingin peluk kamu."
Laura kecil membalas pelukannya tanpa mengerti apa yang sedang terjadi.
Sementara itu... Di kantor Evara Capital. Rio memasuki ruang kerja Evan.
"Pak. Bu Indri tidak masuk kantor."
Evan menghentikan aktivitasnya. "Kenapa?"
"Katanya sedang kurang sehat."
Untuk beberapa saat, Evan hanya menatap kosong ke arah jendela. Ia seharusnya merasa puas. Bukankah ini yang ia inginkan. Indri mulai hancur. Namun entah mengapa, dadanya justru terasa semakin sesak.
Menjelang siang. Ponsel Indri berdering. Sebuah panggilan dari nomor yang tak dikenal. Meski begitu, ia tahu siapa pemiliknya. Dengan tangan gemetar, ia mengangkat panggilan itu.
"Halo..."
"Datanglah." Suara Evan terdengar tenang.
"Aku tidak mau." tolak Indri.
"Ini bukan permintaan, tapi perintah!"
Indri memejamkan mata. "Apa lagi yang kau inginkan dariku?"
"Tebus rasa bersalahmu."
"Aku sudah menjalani hukuman," ujar Indri dengan suara bergetar.
"Itu menurut hukum. Bukan menurutku."
Air mata Indri jatuh membas pipi. "Dan tadi malam, apa itu juga masih belum cukup untuk membalas semuanya?" pekiknya tertahan.
Hening sejenak, sebelum akhirnya sambungan telepon terputus. Tak lama kemudian, sebuah pesan masuk.
"Kalau kau tidak datang, jangan salahkan aku jika papamu mengetahui semua yang terjadi semalam."
Wajah Indri seketika memucat. Ia tahu kondisi jantung Haris belum stabil. Ia tidak sanggup membayangkan jika papanya mengetahui kejadian itu.
Sore harinya... Dengan langkah berat, Indri akhirnya mendatangi apartemen Evan.
Pintu terbuka bahkan sebelum ia sempat menekan bel. Seolah pria itu sudah mengetahui kedatangannya.
"Kau datang juga akhirnya."
Indri berdiri tanpa menatap wajah lawan bicaranya. "Apa yang kau inginkan?"
Evan berjalan mendekat. "Mulai hari ini, kau akan datang setiap kali aku memanggil."
Indri mengangkat wajahnya. "Kalau aku menolak?"
Tatapan Evan berubah dingin. "Aku punya banyak cara untuk menghancurkan ketenangan keluargamu."
Mendengar ancaman itu, bahu Indri bergetar. Ia sadar... Yang sedang dihadapi bukan lagi seorang rekan bisnis. Melainkan seorang kakak yang kehilangan adiknya dan menjadikan hidupnya sebagai alat pelampiasan balas dendam.
"Aku mohon... tolong jangan libatkan keluargaku."
"Itu tergantung padamu."
Keheningan menyelimuti ruangan.
Indri perlahan menundukkan kepala. Bukan karena ia menyerah. Melainkan karena untuk saat ini, ia benar-benar merasa tidak memiliki jalan keluar.
Di hadapan Evan, ia kembali menjadi seorang tahanan. Bukan di balik jeruji besi. Melainkan di dalam belenggu dendam yang diciptakan oleh pria yang bersumpah akan membuatnya membayar setiap tetes air mata Laura.
...
Sejak keluar dari apartemen Evan, hidup Indri berubah menjadi bayang-bayang yang tak pernah pergi.
Ia masih bekerja seperti biasa.
Masih tersenyum di hadapan Haris. Masih mengobrol dengan Cinta dan bermain bersama Laura kecil.
Namun setiap malam, ia sulit memejamkan mata. Ancaman Evan terus terngiang di telinganya.
"Hidupmu tidak akan pernah benar-benar bebas."
Pagi itu, Haris memanggil Indri ke ruang kerjanya.
"Wajahmu pucat sekali. Apa pekerjaanmu terlalu berat?" tanya Haris.
Indri menggeleng pelan.
"Mungkin hanya kurang istirahat, Pa," jawabnya.
Haris menghela napas. "Jangan memaksakan diri. Perusahaan bisa menunggu. Tapi kesehatanmu tidak."
Indri mengangguk sambil tersenyum tipis. "Iya, Pa."
Meski tersenyum, hatinya dipenuhi rasa bersalah.
Ia mulai menyimpan terlalu banyak rahasia dari papanya.
semoga saja benar Evan masih hidup... Evan jangan lama" sembunyi nya entar si Indri jadi milik Royco, cepat keluar ya bikin surprise Indri kamu masih hidup...mau ku 😩🤣🤣🤣🤣
sepertinya kecebong babang Evan udah berubah jadi berudu kecil ❤️😁