Monique "Momo" Salim — gadis Tionghoa dari gang sempit Pecinan Semarang, anak haram yang dijual ayahnya sendiri, tabungan Rp 300.000 — terbangun di sebuah pulau mewah yang tak pernah ada di peta mana pun.
Di hadapannya berdiri seorang pria yang menguasai separuh ekonomi Asia Tenggara.
Renard Aurelius Widjaja.
CEO Widjaja Group. Konglomerat paling berkuasa — dan paling berbahaya — di Indonesia. Matanya amber seperti matahari terbenam, tapi tatapannya lebih dingin dari es.
"Kamu milikku," katanya. Bukan pertanyaan. Bukan permintaan. Itu pernyataan.
Momo dikurung. Bajunya diganti. Ponselnya disita. Satu-satunya yang tersisa: setengah gelang sakura di pergelangan tangannya — dan ingatan samar tentang pil putih yang memulai segalanya.
Tapi Momo bukan gadis yang mudah tunduk.
Di balik tembok emas penjara Renard, ada rahasia yang lebih gelap dari obsesinya:
— Seorang hacker jenius yang menawarkan kebebasan... dengan harga yang tak terduga.
— Sebuah password sembilan huruf yang menyimpan cinta bertahun-tahun.
— Dan kebenaran tentang keluarga Widjaja yang bisa menghancurkan segalanya.
Ketika cinta paksa berubah menjadi cinta sungguhan — siapa yang sebenarnya menjadi tahanan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Bab 22: "Tidak Mau Cinta, Kupaksa Cinta"
Tiga hari setelah kolam ular, Renard masih terlihat seperti orang yang menolak diingatkan bahwa ia hampir mati.
Ia pindah dari kamar medis ke kamarnya sendiri, tetapi Anthony melarangnya bekerja lebih dari dua jam sehari. Larangan itu, tentu saja, diabaikan. Infus sudah dilepas. Bekas gigitan di lengan dan kaki ditutup perban. Wajahnya kembali dingin, tetapi dinginnya tidak bisa menyembunyikan pucat di bawah kulit.
Momo membawa nampan makan ke kamarnya pada malam ketiga.
Albert yang seharusnya melakukan itu berdiri di koridor, wajahnya sangat tidak bersalah untuk seseorang yang jelas-jelas sengaja menghilang.
"Anthony bilang dia harus makan," kata Momo.
"Benar, Nona."
"Dan kamu tiba-tiba sibuk?"
"Sangat sibuk."
Momo menatapnya.
Albert menunduk. "Semoga berhasil."
Momo hampir melempar sendok ke arahnya.
Renard duduk di sofa dekat jendela ketika Momo masuk. Kemeja hitamnya terbuka di lengan, memperlihatkan perban. Ia menatap nampan di tangan Momo seolah benda itu lebih mengejutkan daripada ular berbisa.
"Albert?"
"Sibuk."
"Dia tidak pernah sibuk tanpa perintahku."
"Mungkin ini pemberontakan kecil."
Renard menatapnya lama. "Kau membawakan makanan untukku."
"Jangan membuatnya terdengar romantis. Anthony bilang kau harus makan."
"Kau mendengarkan Anthony?"
"Aku mendengarkan akal sehat. Sesuatu yang tampaknya tidak kau punya saat melompat ke kolam ular."
Renard tidak menjawab. Momo meletakkan nampan di meja. Bubur hangat, sup ayam, obat, air putih. Ia merasa canggung begitu semua berada di tempatnya. Merawat Renard terasa salah, seperti membuka pintu yang selama ini ia tahan dengan kedua tangan.
"Kenapa?" tanyanya tiba-tiba.
Renard mengangkat mata.
"Kenapa kau melompat? Kenapa selalu menyelamatkanku? Laut. Kolam ular. Gala. Kenapa?" Momo mengepalkan tangan di sisi tubuh. "Apa maumu sebenarnya dariku?"
Keheningan turun.
Di luar jendela, laut malam bergerak pelan. Di dalam kamar, jarak mereka lebih berbahaya daripada sentuhan.
Renard berdiri, tetapi terlalu cepat. Wajahnya memucat sedikit. Momo refleks maju satu langkah.
"Duduk," katanya.
Renard menatapnya.
"Jangan lihat aku seperti itu. Kau masih lemah."
"Kau memerintahku?"
"Kalau perlu."
Sesuatu yang hampir seperti senyum lewat di bibir Renard, lalu hilang.
Ia duduk kembali.
"Aku menyelamatkanmu karena kau milikku," katanya.
Momo merasa kemarahan lama bangun. "Aku bukan barang."
"Aku tahu."
Jawaban itu membuatnya terdiam.
Renard menatap tangannya sendiri, pada perban putih yang menutup bekas gigitan. Suaranya ketika bicara lagi lebih rendah, tidak sekeras biasanya.
"Kau bukan barang. Justru karena itu aku tidak tahu cara memilikimu."
Jantung Momo berdetak tidak teratur.
"Kalau kau tahu, berhenti mengurungku."
"Aku berhenti, kau pergi."
"Itu hakku."
"Aku tahu."
"Lalu?"
Renard menatapnya. Mata amber itu tidak dingin malam ini. Terlalu hidup, terlalu gelap, terlalu terluka.
"Lalu aku tetap tidak bisa membiarkanmu pergi."
Momo membenci betapa jujurnya kalimat itu. Lebih mudah membenci Renard ketika ia hanya monster. Lebih mudah melawannya ketika ia hanya memberi perintah. Tetapi pria di depannya berkata hal paling salah dengan suara orang yang sedang berdarah dari tempat yang tidak terlihat.
"Itu bukan cinta," kata Momo.
"Mungkin."
"Itu obsesi."
"Mungkin."
"Itu gila."
"Aku tidak pernah mengaku waras."
Momo menarik napas gemetar. "Lalu kau mau apa? Memaksaku tinggal sampai aku lupa cara pulang?"
Renard berdiri lagi, kali ini lebih pelan. Ia mendekat satu langkah. Momo tidak mundur, meski tubuhnya ingin. Aroma hujan dan obat antiseptik dari perbannya bercampur di udara.
"Kalau kau tidak mau mencintaiku," kata Renard, lembut untuk pertama kalinya, dan kelembutan itu justru membuat kalimatnya lebih berbahaya, "aku akan memaksamu mencintaiku."
Momo membeku.
Seharusnya ia takut.
Ia memang takut.
Tetapi di balik kata memaksa, ia melihat mata pria yang pernah kehilangan Rola, pria yang tidur dengan foto Lucia, pria yang menangis di samping ranjangnya. Bukan ancaman kosong. Bukan rayuan. Itu pengakuan keputusasaan dari seseorang yang tidak tahu cara meminta.
"Kau tidak bisa memaksa cinta," bisik Momo.
Renard menatapnya. "Maka ajari aku cara lain."
Momo tidak punya jawaban.
Ia keluar dari kamar Renard dengan langkah kaku. Di koridor, tangannya naik ke dada sendiri.
Jantungnya berdebar terlalu keras.
Momo kira kalimat itu akan membuatnya marah sampai langsung keluar.
Ia memang marah.
Namun kakinya tidak bergerak.
Renard duduk di sofa dengan tubuh lemah, tetapi kata-katanya memenuhi kamar seperti rantai yang dilempar ke lantai. Kalau kau tidak mau mencintaiku, aku akan memaksamu mencintaiku. Tidak ada pria waras yang mengucapkan itu kepada perempuan yang ia culik. Tidak ada perempuan waras yang mendengar itu lalu masih memperhatikan bahwa tangan pria itu gemetar menahan sakit.
Momo menaruh mangkuk bubur ke meja terlalu keras. "Kamu dengar dirimu sendiri?"
"Ya."
"Itu bukan cinta. Itu ancaman."
"Mungkin."
"Mungkin?"
Renard menatapnya. "Aku tidak punya kata yang lebih bersih."
"Kalau tidak punya, diam."
"Aku sudah diam bertahun-tahun."
Kalimat itu membuat Momo berhenti.
Renard memalingkan wajah ke jendela. Di luar, laut Pulau Raja gelap. Di dalam, lampu membuat bayangan tulang pipinya lebih tajam. Racun ular belum sepenuhnya pergi, tetapi tatapan matanya kembali hidup dengan cara yang berbahaya.
"Aku melihatmu sebelum kau melihatku," katanya.
Momo menegang. "Apa maksudmu?"
Renard tidak menjawab langsung. "Aku melihat orang-orang menjualmu, meremehkanmu, mematahkan pilihanmu sedikit demi sedikit. Aku melihatmu tetap berdiri. Aku tidak tahu apa namanya waktu itu."
"Obsesi."
"Mungkin."
"Berhenti mengatakan mungkin seolah itu membuatmu tidak bersalah."
"Aku tidak bersalah."
Momo tertawa pahit. "Setidaknya kamu konsisten."
Renard bergerak untuk berdiri, lalu meringis. Momo refleks menahan bahunya. Begitu tangannya menyentuh tubuh Renard, keduanya diam.
Kain kemejanya tipis. Panas kulitnya menembus telapak Momo. Di bawah tangan itu ada otot, perban, luka gigitan ular, dan detak yang masih keras kepala. Momo sadar ia terlalu dekat. Sadar napas Renard berubah. Sadar mata pria itu turun ke tangannya, lalu ke wajahnya.
"Lepas kalau takut," kata Renard pelan.
Tantangan itu salah.
Karena Momo memang takut.
Bukan hanya takut pada Renard. Ia takut pada dirinya sendiri, pada cara tubuhnya mengingat semua penyelamatan dan semua paksaan dalam warna yang sama, pada kemungkinan bahwa kebencian tidak cukup kuat untuk menahan rasa ingin tahu.
Ia melepaskan tangan.
"Aku tidak takut."
"Pembohong kecil."
"Jangan panggil aku kecil."
"Kalau kau berhenti terlihat seolah seluruh dunia bisa membuatmu jatuh, aku akan mempertimbangkan."
"Aku jatuh karena orang melepaskan tanganku."
Renard membeku.
Momo tidak bermaksud mengatakannya. Tetapi begitu keluar, udara berubah. Nama Sen tidak disebut, tetapi ada di antara mereka seperti luka terbuka.
"Dia tidak akan menyentuhmu lagi," kata Renard.
"Kamu juga tidak punya hak menyentuhku."
Renard menatapnya lama. Lalu, perlahan, ia mengangkat kedua tangan, telapak terbuka. "Kalau begitu larang aku."
Jarak mereka hanya dua langkah.
Momo seharusnya berkata, aku melarang.
Kalimat itu ada di lidah.
Namun ia teringat kolam ular, dada Renard yang hampir berhenti, suaranya memanggil Rola, dan bagaimana ia sendiri berbisik jangan mati.
Renard menunggu.
Ia tidak maju.
Justru karena ia tidak maju, Momo merasa seluruh ruangan mendorongnya.
"Aku tidak mau mencintaimu," katanya akhirnya.
Renard menurunkan tangan. Matanya gelap, tetapi suaranya lembut dengan cara yang lebih mengancam daripada perintah. "Aku tahu."
"Dan kalau suatu hari aku punya perasaan, itu bukan karena kamu memaksa."
"Kalau hari itu datang, aku akan mengambil apa pun alasannya."
"Kamu benar-benar sakit."
"Ya."
Kejujuran itu lagi. Kasar. Tidak rapi. Tidak meminta maaf.
Momo membalik badan, mengambil mangkuk, lalu menyodorkannya kembali. "Makan. Orang sakit tidak pantas membuat deklarasi gila dengan perut kosong."
Renard menerima mangkuk. Jari mereka bersentuhan sebentar.
Sebentar saja.
Tetapi cukup untuk membuat dada Momo berdebar seolah ia yang baru menantang ular.
Renard makan tiga suap, lalu berhenti.
"Habiskan," kata Momo.
"Kau memerintahku sekarang?"
"Aku sedang mencoba tidak sia-sia membawa makanan."
"Jadi kau peduli pada efisiensi."
"Aku peduli pada bubur."
"Kasihan bubur."
"Renard."
Ia akhirnya makan lagi. Kemenangan kecil itu seharusnya tidak membuat Momo merasa hangat. Tetapi ada sesuatu yang aneh dalam melihat pria yang bisa memerintah pulau, membeli hidup orang, dan membuat musuh gemetar, kini duduk patuh karena ia menyuruhnya menghabiskan makanan.
Kekuatan tidak selalu berada di tangan yang menggenggam.
Kadang berada di tangan yang menyuapkan.
Pikiran itu membuat Momo gelisah.
Renard menatapnya dari balik mangkuk. "Apa yang kau pikirkan?"
"Bahwa kamu lebih menyebalkan saat lemah."
"Karena kau sulit membenciku?"
"Karena kamu terlalu banyak bicara."
"Jawaban yang tidak menjawab."
Momo mengambil mangkuk kosong dari tangannya. Kali ini jari mereka tidak bersentuhan, tetapi Renard tetap melihat tangannya seolah mengingat sentuhan sebelumnya.
Tubuh Momo juga ingat.
Di ambang pintu, Momo berhenti.
"Renard."
Ia mengangkat mata.
"Kalau kamu benar-benar ingin aku mencintaimu, berhenti membuatku merasa semua pilihan sudah kamu tulis lebih dulu."
Untuk beberapa detik, pria itu hanya menatapnya.
"Aku tidak tahu caranya," katanya.
"Belajar."
Momo keluar sebelum melihat jawabannya.
Di koridor, ia menyentuh dada sendiri lagi. Detak jantungnya belum normal. Ia ingin menyalahkan marah, takut, racun ular yang masih menjadi ingatan, apa pun selain kemungkinan paling memalukan.
Di balik pintu, Renard tidak memanggilnya.
Keheningan itu lebih sulit dilawan daripada perintah.
Dan ia membenci dirinya karena itu.