Seraphina Lim kembali ke Jakarta dengan label yang memalukan — anak haram keluarga konglomerat Lim.
Dibuang sejak kecil, dibesarkan oleh keluarga lain, dan kini dipanggil pulang hanya untuk dijadikan bidak politik. Saudari tirinya yang menggantikan posisinya selama 20 tahun menganggapnya sampah. Ayah kandungnya ingin menjodohkannya dengan putra keluarga paling korup di Jakarta.
Tapi Seraphina bukan gadis lemah yang bisa diinjak.
Di malam pertamanya di Jakarta, takdir mempertemukannya kembali dengan Reynard Hartono — pewaris tunggal Hartono Group, pria paling berkuasa dan paling berbahaya di kota ini. Dingin, posesif, dan tak pernah tersentuh oleh wanita manapun...
...kecuali dia.
"Kau adalah hartaku yang paling berharga."
Reynard sudah menunggunya selama empat tahun. Dan kali ini, dia tidak akan melepaskannya — tidak peduli berapa banyak musuh yang harus dihancurkan.
Identitas palsu. Cinta obsesif. Balas dendam yang manis.
Ketika rahasia terbesar keluarga Lim terbongkar, seluruh Jakarta akan tahu — gadis yang mereka injak-injak selama ini, justru adalah pewaris sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Bab 008
Topeng Keluarga Lim
"Empat tahun lalu, kau memakai gaun biru muda. Rambutmu tergerai. Kau berdiri di teras sendirian."
Seraphina tidak langsung menjawab.
Di meja makan Teluk Mutiara, uap bakmi masih naik tipis dari mangkuk. Sejuta tidur di dekat kakinya, sesekali mengibaskan ekor seperti sedang bermimpi indah. Semua hal di ruangan itu terlalu hangat untuk kalimat yang baru saja keluar dari mulut Reynard.
Karena kalimat itu berarti ia tidak hanya mengingat.
Ia menyimpan.
"Kau sering menghafal detail perempuan yang kau temui di pesta?" tanya Seraphina akhirnya.
Reynard menatapnya tanpa berkedip. "Tidak."
"Lalu kenapa aku?"
"Karena kau terlihat seperti orang yang seharusnya pergi, tapi memilih tetap berdiri."
Jari Seraphina berhenti pada sumpit.
Reynard tidak memaksa penjelasan lagi malam itu. Ia hanya menyuruh sopir mengantar Seraphina pulang setelah memastikan ia menghabiskan setengah mangkuk lagi. Ketika mobil meninggalkan Teluk Mutiara, Sejuta berdiri di balik pintu kaca, ekornya bergerak seolah melepas anggota keluarga sendiri.
Keesokan harinya, realitas menunggu di layar ponsel.
Darren mengirim pesan pukul sepuluh pagi.
Sera, Papa masih marah soal semalam. Kalau ada waktu, malam ini datang sebentar ke rumah. Cuma makan malam keluarga. Anggap saja beri Papa muka.
Seraphina membaca pesan itu sambil berdiri di ruang meeting Astoria. Di depannya, layar menampilkan diagram sistem analitik untuk proyek Hartono Group yang belum ia setujui secara resmi. Di samping laptop, kartu nama Reynard masih terselip di map.
Ia membalas setelah rapat selesai.
Keluarga saja?
Balasan Darren datang tiga menit kemudian.
Iya. Aku juga ada. Jangan khawatir.
Jangan khawatir.
Kalimat itu justru membuat Seraphina menatap layar lebih lama.
Namun malamnya, ia tetap datang.
Bukan karena percaya kepada Hendrawan. Bukan pula karena mengira keluarga Lim mendadak ingin meminta maaf. Ia datang karena Darren, dengan semua kelemahannya, adalah orang pertama di rumah itu yang pernah mencoba menyebut namanya tanpa hinaan. Mungkin ia ingin tahu apakah satu langkah kecil itu nyata atau hanya kebetulan.
Rumah Lim tampak lebih terang daripada malam pertama. Lampu taman menyala penuh, ruang makan besar disiapkan dengan porselen terbaik, dan Meilin berdiri di dekat pintu dengan wajah tegang.
"Sera," panggil Meilin. "Kamu datang."
"Ko Darren bilang makan malam keluarga."
Meilin membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Jawaban itu sudah cukup.
Seraphina menoleh ke ruang makan.
Hendrawan duduk di kepala meja. Darren di sisi kiri, wajahnya berubah pucat ketika melihat Seraphina. Di sisi kanan, Herman Wijaya tersenyum dengan ketenangan yang sama seperti sebelumnya. Cynthia duduk di sampingnya, menatap Seraphina dari anting sampai sepatu. Kevin bersandar di kursi, luka harga dirinya semalam sudah ditutup dengan senyum malas.
Yolanda juga ada.
Tentu saja.
Ia duduk dekat Meilin, gaun merah mudanya lembut, senyumnya lebih lembut lagi. "Kak Sera akhirnya datang. Kami pikir Kakak sibuk sekali sampai tidak punya waktu untuk keluarga."
Seraphina menatap Darren.
Darren menunduk.
Ada rasa dingin yang pelan-pelan merambat dari dada ke ujung jari Seraphina.
Jadi ini keluarga.
Sebuah meja tempat semua orang tahu kebenaran kecuali dirinya, lalu memintanya duduk seolah ia yang harus menjaga suasana.
"Duduk," kata Hendrawan. "Jangan membuat tamu menunggu."
Seraphina menarik kursi. "Saya kira tidak ada tamu malam ini."
Herman tertawa ringan. "Dalam keluarga besar, tamu bisa menjadi keluarga. Betul, Pak Hendrawan?"
Hendrawan tersenyum. "Betul."
Kevin menatap Seraphina. "Aku kira setelah semalam kau tidak akan datang."
"Saya juga kira setelah semalam Anda akan belajar diam."
Yolanda menahan senyum di balik gelas.
Cynthia menaruh sumpit. "Anak muda sekarang memang suka sekali bicara tajam. Tapi perempuan terlalu tajam kadang membuat laki-laki enggan mendekat."
Seraphina mengambil serbet, membentangkannya di pangkuan. "Kalau laki-laki itu terluka hanya karena kalimat, mungkin memang sebaiknya tidak terlalu dekat."
Darren menutup mata sebentar.
Hendrawan menghela napas. "Sera."
"Saya datang sesuai permintaan Ko Darren. Saya duduk. Saya akan makan. Apa lagi yang harus saya lakukan agar disebut menjaga muka keluarga?"
Kalimat itu membuat Darren mengangkat wajah. Penyesalan tampak jelas di matanya, tetapi seperti biasa, penyesalan itu terlambat dan terlalu sunyi.
Makan malam berjalan seperti pertunjukan yang latihan dialognya tidak diberikan kepada Seraphina. Herman membahas hubungan lama keluarga Wijaya dan Lim. Hendrawan menimpali tentang masa depan yang harus dibangun bersama. Cynthia sesekali memuji Yolanda, lalu membandingkan dengan Seraphina dalam kalimat yang terdengar sopan.
"Yolanda dari kecil sangat mudah bergaul," kata Cynthia. "Kalau Sera mungkin lebih... mandiri, ya."
Yolanda tersenyum malu. "Aku cuma suka berteman, Tante."
Seraphina menyesap teh. "Mandiri bukan penyakit, Bu Cynthia."
Kevin mencondongkan badan. "Tapi orang terlalu mandiri biasanya kesepian."
"Lebih baik kesepian daripada ramai dengan orang yang salah."
Herman tertawa lagi. "Lidahnya memang tajam. Kevin, kau harus hati-hati."
"Justru itu menarik, Pa."
Seraphina meletakkan cangkir. Ia tidak menatap Kevin. Ia menatap Hendrawan.
"Papa ingin saya mendengar apa malam ini?"
Semua orang diam.
Hendrawan menatapnya balik. "Papa ingin kau belajar bahwa keluarga tidak bisa berdiri sendiri. Kita butuh aliansi. Keluarga Wijaya adalah teman lama."
"Dan saya?"
"Kau bagian dari keluarga Lim."
"Bagian yang baru diingat ketika aliansi dibutuhkan."
Wajah Meilin memucat. "Sera..."
Seraphina berdiri. "Saya sudah makan. Saya sudah memberi muka. Sisanya, silakan lanjutkan tanpa saya."
Hendrawan memukul meja sekali. Tidak keras, tetapi cukup untuk membuat gelas bergetar. "Jangan kurang ajar."
Seraphina berhenti di belakang kursi. "Kurang ajar adalah menjebak seseorang ke meja yang sama dengan laki-laki yang baru semalam merendahkannya."
Ia menatap Darren.
"Terima kasih sudah membuat saya mengerti."
Darren berdiri setengah. "Sera, aku pikir kalau kau datang, Papa bisa bicara lebih tenang. Aku tidak tahu Kevin akan..."
"Kau tahu keluarga Wijaya ada di sini?"
Darren terdiam.
Jawaban itu lebih jujur daripada kalimat apa pun.
Seraphina menatap laki-laki yang seharusnya menjadi kakaknya. "Kau tidak perlu berbohong lagi. Kau tahu, tapi kau berharap aku akan lebih sulit menolak kalau sudah duduk di meja ini."
"Aku hanya ingin keadaan membaik."
"Untuk siapa?"
Darren seperti kehilangan suara.
"Untuk Papa? Untuk keluarga Lim? Atau untuk rasa bersalahmu sendiri?"
Wajah Darren memucat.
Seraphina tidak menunggu jawabannya. "Jangan memakai kata keluarga kalau yang kau lindungi hanya kenyamanan kalian."
Setelah itu ia berjalan keluar.
Di halaman depan, udara malam terasa lebih berat daripada hujan. Sopir keluarga Lim membuka pintu mobil, tetapi Seraphina mengangkat tangan.
"Saya pulang sendiri."
Ia berjalan sampai melewati gerbang, baru berhenti di tepi jalan. Ponselnya bergetar.
Pesan dari Darren.
Maaf, Sera.
Seraphina menatap dua kata itu sampai layar hampir redup.
Lalu ia menggeser notifikasi tanpa membalas.
Ponselnya bergetar lagi.
Kali ini dari nomor yang belum ia simpan, tetapi ia langsung tahu siapa.
Aku tahu kau baru dari makan malam itu. Aku sudah menyiapkan sup untukmu di rumah.