NovelToon NovelToon
Setelah Cerai, Hartaku 300 Triliun!

Setelah Cerai, Hartaku 300 Triliun!

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Wanita perkasa / Identitas Tersembunyi / Kaya Raya / Penyesalan Suami / Menyembunyikan Identitas / Chicklit / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:12.1k
Nilai: 5
Nama Author: Elara Chandrakanta

Tiga tahun menjadi istri Rayhan Sutanto, Keira tidak pernah diperlakukan selayaknya. Dicaci mertua, dihina ipar, dan diabaikan suami yang hatinya sudah milik perempuan lain.
Malam itu, di atas ranjang pernikahan mereka, Rayhan memanggilnya dengan nama wanita lain. Cukup sudah.
"Rayhan, kita cerai."
Tapi ketika pintu Pengadilan Negeri tertutup di belakangnya, sebuah Rolls-Royce Phantom berhenti di hadapannya. Seorang pria tua membungkuk hormat dan menyerahkan kartu hitam bertuliskan 300 triliun rupiah.
Keira bukan yatim piatu dari panti asuhan. Dia adalah putri bungsu keluarga Liem — konglomerat nomor satu di negeri ini. Tiga kakak laki-lakinya menguasai dunia militer, medis, dan hiburan. Dan sekarang, dia kembali.
Sementara mantan suaminya berlutut memohon maaf, Keira duduk di kursi CEO perusahaannya. Sementara mantan mertua yang dulu menyuruhnya berlutut di hujan kini menjadi pembantunya. Dan sementara wanita yang dulu memanggilnya "pengganti" kini membusuk di balik jeruji.
Tapi di balik semua pembalasan dan kejayaan, ada satu rahasia yang belum terungkap — identitas asli Rayhan Sutanto, dan pengorbanan yang dia sembunyikan selama bertahun-tahun.
Cinta yang terlambat, apakah masih layak diperjuangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Bab 4: Hadiah Perpisahan

"Keira!" Suara Rayhan memenuhi ruang tamu. "Kau apakan Anya?!"

Keira masih berdiri di dekat tangga. Satu tangannya memegang pegangan kayu, tangan lain menggenggam tali tas kain yang terasa makin lusuh di antara jari-jarinya.

Di lantai, Anya terduduk dengan gaun krem yang jatuh rapi di sekeliling lututnya. Pecahan vas tersebar tidak jauh dari tangannya. Air matanya sudah mengalir, cepat dan indah, seperti adegan yang sudah dilatih berkali-kali di depan cermin.

"Rayhan..." Anya memanggil dengan suara gemetar.

Rayhan berjalan ke arahnya tanpa ragu. Ia berlutut setengah badan, memeriksa pergelangan tangan Anya. "Di mana yang sakit?"

Keira melihat semuanya.

Cara suara Rayhan melembut. Cara alisnya berkerut. Cara tangannya berhati-hati menyentuh Anya, seolah perempuan itu terbuat dari kaca.

Semalam, tangan yang sama mencengkeram pergelangan Keira sampai merah.

Pagi ini, tangan itu bahkan tidak pernah bertanya apakah Keira sakit.

Anya menunduk. "Aku tidak apa-apa. Jangan marahi Keira. Mungkin dia hanya masih emosi karena aku ada di sini."

Kalimat itu terdengar seperti pembelaan.

Namun setiap katanya adalah pisau kecil.

Rayhan mengangkat wajah. Tatapannya jatuh kepada Keira, dingin dan penuh tuduhan. "Minta maaf."

Seorang pelayan yang berdiri di dekat dapur menahan napas. Dua pelayan lain muncul di ujung lorong, pura-pura merapikan vas bunga, tetapi mata mereka tidak lepas dari ruang tamu.

Keira turun satu anak tangga.

"Kepada siapa?"

"Jangan pura-pura bodoh."

"Aku hanya ingin jelas." Keira berhenti di lantai bawah. "Kau menyuruhku minta maaf kepada Anya karena apa?"

Rayhan berdiri. Tubuhnya tinggi, bayangannya jatuh di atas pecahan kaca. "Karena kau mendorongnya."

"Kau melihatku mendorongnya?"

Rayhan terdiam setengah detik.

Anya cepat menunduk lebih dalam. "Rayhan, sudahlah. Aku tidak mau memperbesar masalah. Keira mungkin hanya tidak bisa menerima kenyataan."

"Kenyataan apa?" tanya Keira.

Anya menggigit bibir. Air mata menggantung di bulu matanya. "Bahwa hubungan kalian memang tidak pernah bahagia. Bahwa aku kembali bukan untuk merebut, tapi karena Rayhan memang tidak pernah melupakan aku."

Senyap.

Kalimat itu akhirnya keluar juga.

Tidak lagi lewat pesan WhatsApp. Tidak lagi lewat senyum di balik pintu. Kali ini Anya mengatakannya di ruang tamu Rumah Besar Sutanto, di depan pelayan, di depan pria yang namanya ia jadikan senjata.

Keira menatap Rayhan.

"Kau dengar?"

Rayhan mengeraskan rahang. "Pembicaraan ini tidak perlu dibelokkan."

"Tentu," ucap Keira pelan. "Kalau Anya yang bicara, itu perasaan. Kalau aku yang bicara, itu drama."

"Keira."

"Tidak perlu memanggilku seperti itu." Keira membuka ponselnya. "Aku juga punya hadiah perpisahan untuk kalian."

Anya mengangkat wajah. Selama sepersekian detik, kepanikan melintas di matanya. Cepat sekali, hampir tidak terlihat. Namun Keira melihatnya.

Rayhan juga melihat ponsel itu. "Apa lagi?"

Keira tidak menjawab. Ia membuka galeri, lalu memutar satu tangkapan layar di hadapan Rayhan.

Anya Mulyadi:

Kau cuma pengganti, Keira. Kembali ke panti asuhan tempatmu seharusnya.

Wajah Rayhan berubah.

Anya langsung berdiri, terlalu cepat untuk seseorang yang baru saja jatuh. "Itu bukan aku."

Keira menoleh kepadanya. "Belum ada yang menuduhmu."

Anya membeku.

Salah satu pelayan menutup mulutnya dengan tangan. Bisik-bisik kecil langsung merambat dari lorong.

Rayhan mengambil ponsel Keira. Matanya membaca pesan itu berulang kali. Jari-jarinya mengencang di sisi ponsel.

"Nomor ini..." suaranya rendah.

"Nomor lama Anya," jawab Keira. "Yang kau simpan dengan nama lain supaya Bu Fenny tidak banyak bertanya."

Wajah Anya memucat.

Rayhan menoleh cepat. "Anya?"

"Rayhan, aku bisa jelaskan." Anya maju satu langkah, tetapi Keira sudah menggeser layar.

Gambar kedua muncul.

Struk digital dari sebuah apotek privat. Nama pembeli disamarkan sebagian, tetapi nomor ponsel, alamat pengiriman, dan waktu transaksi terlihat jelas. Obat tidur dosis tinggi. Obat perangsang. Pengiriman ekspres ke alamat apartemen yang dipakai Anya sebelum kembali ke Rumah Besar Sutanto.

"Malam sebelum kau pulang mabuk," kata Keira, "Anya membeli ini."

"Tidak!" Anya menggeleng keras. Air matanya makin deras. "Itu fitnah. Keira pasti memalsukannya. Dia benci padaku."

Keira menggeser lagi.

Kali ini rekaman CCTV muncul. Buram, tetapi cukup jelas untuk menunjukkan seorang kurir menyerahkan paket kecil kepada perempuan bergaun putih di lobi apartemen. Perempuan itu memakai masker, tetapi tas putih di bahunya sama dengan tas yang sekarang tergeletak di sofa ruang tamu.

Pandangan semua orang otomatis berpindah ke tas itu.

Anya ikut melihat.

Kesalahannya hanya satu. Ia terlalu cepat menyembunyikan tas itu di belakang tubuh.

Rayhan melihat gerakan itu.

Untuk pertama kalinya, keyakinan di wajah Rayhan retak.

"Apa maksud semua ini?" tanyanya.

Suara Rayhan tidak lagi semarah tadi. Justru lebih pelan. Dan karena itu, Anya tampak makin takut.

"Aku tidak tahu. Sungguh, Rayhan, aku tidak tahu. Keira menjebakku. Dia punya alasan untuk melakukan itu. Dia ingin membuatmu membenciku."

Keira tertawa kecil.

Kali ini tawanya bukan lelah. Bukan juga sedih. Ada sesuatu yang lebih dingin di sana.

"Aku tidak perlu membuat Rayhan membencimu, Anya." Keira melangkah mendekat. "Kau cukup menjadi dirimu sendiri."

Anya mundur setengah langkah. "Jangan mendekat."

"Kenapa?" Keira memiringkan kepala. "Takut jatuh lagi?"

Pipi Anya menegang. Topeng lembutnya mulai retak, tetapi ia masih berusaha bertahan. Ia menoleh kepada Rayhan dengan mata basah. "Kau percaya padaku, kan?"

Rayhan tidak langsung menjawab.

Keheningan itu lebih jahat daripada penolakan.

Anya panik. Ia menangkap lengan Rayhan. "Rayhan, aku mencintaimu. Aku kembali karena aku tidak bisa melupakanmu. Aku memang mengirim pesan itu karena aku sakit hati, tapi obat itu bukan milikku. Aku tidak mungkin melakukan hal serendah itu."

Keira berhenti tepat di depan Anya.

"Jadi pesan itu milikmu?"

Anya tersentak.

Rayhan menatapnya tajam.

Anya baru sadar ia sudah mengaku.

Keira tersenyum. Sangat tipis.

"Terima kasih."

Lalu tangannya terangkat.

Plak!

Suara tamparan itu memantul di ruang tamu yang luas.

Kepala Anya terlempar ke samping. Rambutnya menutupi separuh wajah. Bekas merah langsung muncul di pipi putihnya.

Para pelayan membeku.

Rayhan juga membeku.

Anya memegang pipinya, matanya membelalak, bukan karena sakit saja, tetapi karena tidak percaya Keira berani melakukannya di depan Rayhan.

"Itu untuk pesan WhatsApp-mu," kata Keira.

Plak!

Tamparan kedua jatuh sebelum Anya sempat menangis lagi.

"Itu untuk obat yang kau pakai untuk menghancurkan malamku."

"Keira!" Rayhan akhirnya bersuara.

Keira menoleh kepadanya. Matanya dingin. "Kalau kau ingin membelanya, silakan. Aku sudah terbiasa."

Rayhan seperti kehilangan kata.

Ia menatap Anya, lalu bukti di ponsel, lalu Keira. Untuk pertama kalinya sejak Keira mengenalnya, pria itu tampak tidak punya jawaban.

Anya tiba-tiba mengulurkan tangan ke arah ponsel Keira. Gerakannya cepat, panik, terlalu jujur untuk disebut tidak sengaja.

Keira menarik ponselnya ke belakang.

Rayhan menangkap pergelangan Anya lebih dulu.

Ruangan kembali senyap.

Di wajah Anya, air mata masih ada. Namun kali ini, yang terlihat bukan lagi sedih. Yang terlihat adalah takut.

"Kenapa kau ingin mengambilnya?" tanya Rayhan.

Anya membuka mulut, tetapi tidak ada kalimat yang keluar.

Anya menangis lebih keras. "Rayhan, dia menamparku..."

"Dan kau menjebakku," potong Keira.

Anya berhenti.

Keira mengambil ponselnya dari tangan Rayhan. "Aku tidak akan melaporkan ini sekarang. Anggap saja ini hadiah perpisahan. Kalian boleh menyimpan rumah ini, menyimpan drama ini, menyimpan kebohongan yang kalian rawat seperti barang berharga."

Ia berbalik menaiki tangga.

Rayhan bergerak seolah hendak menahan, tetapi langkahnya berhenti. Mungkin karena bukti itu masih berputar di kepalanya. Mungkin karena untuk pertama kalinya ia tidak yakin siapa yang harus ia salahkan.

Di kamar, Keira tidak mengambil banyak barang.

Ia memasukkan foto Almarhum Kong Kong Sutanto ke dalam koper kecil, beberapa buku catatan, satu kotak surat, dan beberapa pakaian yang masih layak. Piyama pasar malam yang dipakainya semalam ia tinggalkan di atas ranjang.

Bukan karena lupa.

Karena ia tidak ingin membawa kain yang menyimpan nama Anya.

Ketika Keira turun lagi, ruang tamu masih terasa tegang. Anya duduk di sofa, pipinya merah, mata sembap, tetapi tak lagi berani bicara banyak. Rayhan berdiri di dekat meja, ponselnya di tangan, wajahnya gelap.

Keira menyeret koper kecilnya melewati mereka.

"Keira," panggil Rayhan.

Langkahnya berhenti, tetapi ia tidak menoleh.

"Bukti itu... dari mana kau dapat?"

Keira hampir tertawa.

Setelah semua yang terjadi, itu pertanyaan pertama yang ia pilih.

Bukan apakah Keira baik-baik saja. Bukan apakah semalam ia sakit. Bukan maaf.

Hanya dari mana bukti itu datang.

"Kau tidak perlu tahu," jawab Keira.

"Aku perlu memastikan kebenarannya."

Baru sekarang?

Keira menoleh perlahan. "Tiga tahun aku menjadi istrimu. Kau tidak pernah merasa perlu memastikan kebenaran ketika Bu Fenny menuduhku mencuri, ketika Sherly menghinaku, ketika Anya mengirim pesan seperti itu. Jadi jangan tiba-tiba memakai kata kebenaran seolah kau mengenalnya."

Rayhan terdiam.

Anya menunduk, jari-jarinya meremas gaun.

Keira menggenggam gagang koper lebih erat.

"Yang ditinggalkan bukan aku, Rayhan. Tapi kamu."

Mata Rayhan berubah.

Keira melanjutkan, setiap kata ia ucapkan pelan agar tidak ada yang salah dengar.

"Akulah yang tidak menginginkanmu lagi."

Ia berjalan keluar.

Di depan pintu, dua pengawal Liem yang menunggu di kejauhan segera menegakkan tubuh. Pak Lim membukakan pintu Rolls-Royce tanpa bertanya apa pun.

Keira masuk ke mobil dengan koper kecil di samping kakinya.

Rumah Besar Sutanto tertinggal di belakang, bersama pecahan vas, dua bekas tamparan di pipi Anya, dan seorang suami yang akhirnya mulai melihat retakan pada perempuan yang selama ini ia bela.

Mobil bergerak meninggalkan gerbang.

Keira tidak menoleh.

1
Diah Susanti
ini salah satu keahlian orang Indonesia, bisa mengetahui kehadiran seseorang yang dikenal dari suara kendaraannya. bahkan dari langkah kaki juga batuk/dehemannya😄😄😄
Tri Septi
pembalasan ya.....maaf aku kurang sreg😔🙏
Tri Septi
ayo nyalakan apinya 🔥🔥🔥🔥🔥 semangat 💪💪💪
Tri Septi
satu per satu kesalahan harus dipertanggung jawabkan 😇
Tri Septi
semoga keira selamat😯
Tri Septi
sudah terlambat ray🔥🔥🔥
Tri Septi
wah, keira 👍 lanjutkan Thor, makasih 🙏🙏
Tri Septi
taktik Rayhan setelah tahu keira siapa .... telat bro! 🔥
Tri Septi
ini baru permulaan 😆😆😆
Tri Septi
ternyata jago beladiri😍😍😍
Tri Septi
hemmmm....orang kaya mah bebas ya, lanjut thor👍
Tri Septi
en in en......gimana kelanjutannya, tunggu episode berikut....😁🤣🤣🤣
Tri Septi
ayo mulai babak baru 👍😍
Tri Septi
lanjut Thor 👍 suka' 😍😍😍
Tri Septi
hemmmm....teh hijau sudah muncul🤔
Tri Septi
selamat datang kembali menuju kehidupan baru keira 😍😍😍
Tri Septi
aku mampir thor😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!