NovelToon NovelToon
Mantan Ratu Pembunuh

Mantan Ratu Pembunuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:803
Nilai: 5
Nama Author: Joice 758

Dulu ia dipanggil Ratu Pembunuh. Kini ia hanya Laras, wanita biasa yang bersembunyi di desa terpencil.

Ia berjanji takkan pernah mengangkat senjata lagi. Namun kedatangan Dika, laki-laki yang membawa rahasia serupa, mengubah segalanya. Di antara hamparan hijau dan sungai jernih, benih cinta tumbuh di tanah yang dulu subur oleh dendam. Antara melupakan masa lalu atau kembali menjadi sosok yang ditakuti—Laras harus memilih: bertahan hidup, atau berani mencintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joice 758, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Ratu yang Memilih Rumah

Tiga hari berlalu dengan kecepatan yang terasa begitu lambat sekaligus cepat bagi seluruh warga desa Karimun. Setiap pagi, sebagian warga dan mantan pasukan Taring Hitam berdiri di ujung jalan setapak yang menjadi satu-satunya akses keluar masuk desa, menatap ke arah kejauhan dengan pandangan berharap. Udara pagi yang biasanya tenang kini terasa penuh dengan antisipasi—puluhan orang menunggu kedatangan orang-orang terkasih yang selama ini mereka kira hilang, atau bahkan sudah tiada.

Laras dan Dika ikut berdiri di sana, tidak jauh dari pos paling depan. Arga juga ada di sana, berdiri agak terpisah namun matanya juga tidak lepas dari jalan berdebu itu. Ia telah berjanji pada dirinya sendiri, jika mereka datang selamat, ia akan menghabiskan sisa hidupnya untuk menebus kesalahan dan menjaga kedamaian yang kini mulai terjalin.

“Ada debu berterbangan di kejauhan!” seru salah satu pemuda yang matanya paling tajam.

Seketika itu juga keheningan menyelimuti barisan orang di sana. Semua mata menatap ke arah titik kecil yang perlahan membesar. Ada beberapa orang yang berjalan beriringan, memikul beban sederhana di pundak mereka, dan di tengah kelompok itu terlihat sosok wanita tua, anak-anak, serta beberapa orang muda yang tampak lelah namun tidak terluka.

“Bapak!”

“Ibu!”

“Adikku!”

Teriakan haru meledak bersamaan. Mantan pasukan Taring Hitam berlari secepat kilat menyambut mereka, berpelukan erat, menangis bahagia, berlutut mencium tangan orang tua mereka, atau menggendong anak-anak yang selama ini hilang dari pandangan. Pemandangan itu begitu menyentuh hati hingga membuat siapa saja yang melihatnya ikut meneteskan air mata. Tidak ada lagi perpisahan, tidak ada lagi ketakutan. Siklus penderitaan yang memisahkan keluarga selama bertahun-tahun akhirnya berakhir hari ini.

Laras tersenyum bahagia melihatnya, namun dadanya juga terasa sesak oleh rasa haru. Dika menggenggam tangannya erat, memberikan kekuatan tanpa perlu berkata apa-apa.

“Kau melihat itu?” bisik Dika. “Kau yang membuat momen ini terjadi.”

Laras menggeleng pelan. “Kebenaranlah yang menyatukan mereka kembali. Aku hanya membukakan pintu yang selama ini tertutup rapat.”

Sore itu, suasana desa berubah menjadi sangat hidup. Rumah-rumah yang dulunya tampak sepi kini dipenuhi tawa dan cerita. Warga desa saling berbagi bahan makanan, membantu mendirikan tempat tinggal sementara bagi keluarga baru yang datang, dan menyambut mereka dengan kehangatan yang tulus. Arga membantu mengangkut barang-barang berat tanpa diminta, bekerja diam-diam dengan wajah yang kini tampak lebih tenang dan damai.

Saat matahari mulai terbenam, Laras berjalan menuju bukit kecil di belakang desa, tempat yang sering ia kunjungi saat ingin merenung sendirian. Dari sana ia bisa melihat hamparan desa yang damai, sungai yang berkelok seperti pita perak, dan laut luas yang memisahkan pulau ini dari dunia luar. Angin laut berhembus lembut menerpa wajahnya, membawa aroma garam yang menenangkan.

“Kau tidak pulang makan?” tanya Dika pelan saat ia berdiri di sampingnya.

“Aku hanya ingin menikmati momen ini sebentar,” jawab Laras sambil menatap pemandangan di bawah sana. “Dulu aku membayangkan kedamaian seperti ini hanya ada di dalam dongeng. Bahwa orang sepertiku tidak pantas mendapatkannya.”

“Kau tidak hanya pantas mendapatkannya,” kata Dika tegas, lalu berbalik menghadap wanita itu. “Kau berhak menikmatinya seumur hidup. Dan aku ingin menikmatinya bersamamu.”

Laras menatapnya lekat-lekat, melihat kebenaran dan ketulusan yang tak pernah berubah di mata pria itu sejak pertama kali mereka bertemu. Perlahan ia mengangguk, dan air mata bahagia menetes membasahi pipinya.

Malam itu, Pak Harun mengumpulkan seluruh warga desa dan pendatang baru di balai desa. Di hadapan mereka semua, ia berdiri tegak dengan wajah penuh kebanggaan.

“Anak-anakku, saudara-saudaraku,” buka Pak Harun dengan suara lantang namun lembut. “Hari ini kita melihat bahwa tidak ada manusia yang terlahir jahat selamanya. Tidak ada kesalahan yang tidak bisa diperbaiki dengan ketulusan dan keberanian untuk berubah. Desa ini dulu adalah tempat perlindungan yang sederhana. Mulai hari ini, desa ini akan menjadi simbol harapan—bahwa siapapun bisa memulai hidup baru, asal berani melangkah meninggalkan kegelapan.”

Ia kemudian menatap Laras dan Dika. “Banyak hal yang telah kalian berdua lakukan untuk kita semua. Dan kami tidak ingin membiarkan kalian menjalani hari esok sendirian. Jika kalian bersedia, kami ingin kalian tetap di sini, menjadi bagian pemimpin yang menjaga kedamaian ini.”

Laras terdiam sejenak, lalu menatap wajah-wajah yang menatapnya penuh harap. Ia tidak ingin kembali memegang kekuasaan seperti dulu, namun ia juga tidak ingin lari dari tanggung jawab untuk menjaga rumah yang baru ia temukan ini.

“Aku bersedia,” jawabnya pelan namun tegas. “Bukan sebagai ratu, bukan sebagai pemimpin yang memerintah dengan perintah. Tapi sebagai saudara yang siap bekerja sama dengan kalian semua, menjaga desa ini dengan cara yang paling benar.”

Keesokan harinya, perubahan kecil namun bermakna mulai dilakukan. Di tengah lapangan desa, warga bersama-sama mendirikan sebuah tiang kayu besar. Di atasnya mereka menancapkan simbol baru: sebuah pedang yang dililit tanaman merambat berbunga—tanda bahwa kekuatan digunakan untuk melindungi kehidupan, bukan untuk menumpahkan darah.

Laras mulai mengatur pembagian tugas bersama warga. Mantan pasukan Taring Hitam dilatih untuk menjaga keamanan desa dan melindungi warga dari binatang buas atau penyusup yang berniat jahat, namun dilarang keras menggunakan kekerasan berlebihan. Mereka juga diajarkan keterampilan baru: bertani, berdagang, memperbaiki perahu nelayan, dan membuat kerajinan tangan yang indah untuk dijual ke pulau lain. Arga ditunjuk sebagai penasihat yang bijak, menggunakan pengalamannya untuk menyusun strategi pertahanan yang aman namun tidak mengancam siapa pun.

Bulan-bulan berlalu dengan damai. Desa Karimun kini tumbuh makin berkembang. Kapal-kapal dagang dari pulau lain sering berlabuh di pantai terdekat, membawa berita dari dunia luar dan bertukar barang. Kabar tentang desa yang damai dan terbuka bagi siapa saja yang ingin berubah mulai menyebar ke berbagai penjuru negeri. Kadang ada orang yang datang meminta perlindungan, kadang ada yang datang hanya untuk berkunjung dan belajar cara hidup damai.

Laras dan Dika akhirnya melangsungkan pernikahan sederhana di tepi sungai, dihadiri oleh seluruh warga desa dan keluarga besar mereka yang baru ditemukan. Tidak ada mahkota emas, tidak ada pesta mewah. Hanya ada bunga-bunga liar, air sungai yang jernih, dan doa tulus dari orang-orang yang mereka cintai. Di hari itu, Laras meletakkan sebilah belati tajam yang dulu selalu ia bawa di pinggangnya ke dalam sebuah kotak kayu, menyimpannya sebagai kenangan masa lalu yang tidak perlu diulang lagi.

Namun kedamaian tidak berarti berhenti berjuang. Kadang masih ada orang yang datang dengan niat buruk, atau masih ada jejak masa lalu yang harus dibersihkan perlahan. Namun kali ini Laras tidak lagi menghadapinya dengan dendam atau ketakutan. Ia menghadapinya dengan kebijaksanaan, ketenangan, dan dukungan dari orang-orang yang berdiri di sisinya.

Satu tahun kemudian, di hari ulang tahun desa yang baru disatukan, Laras berdiri di atas bukit yang sama dengan hari itu. Ia melihat anak-anak berlari mengejar layang-layang, melihat para nelayan kembali dengan perahu penuh ikan, melihat sawah yang menghijau luas, dan melihat Arga sedang mengajari anak-anak muda cara membaca jejak di hutan. Dika berdiri di sebelahnya, tangan kiri pria itu memegang tangan kanannya yang kini menempel lembut di perutnya yang mulai membuncit.

“Kau bahagia?” tanya Dika pelan.

Laras menatapnya, lalu menatap dunia yang kini terasa begitu indah di bawah langit Karimun. Ia tersenyum lebar, senyum yang paling tenang dan utuh yang pernah ia miliki.

“Lebih bahagia dari yang pernah aku bayangkan,” jawabnya jujur. “Dulu aku berpikir hidupku sudah berakhir saat aku meninggalkan Kerajaan Bayangan. Ternyata saat itulah hidupku yang sesungguhnya baru saja dimulai.”

Angin sore berhembus membawa kabar baik dari jauh, bahwa di tempat lain juga mulai tumbuh desa-desa yang menerapkan nilai yang sama: memberi kesempatan kedua, menjaga tanpa menindas, dan hidup saling melengkapi. Nama Laras tidak lagi dikenal sebagai Ratu Pembunuh yang menakuti. Ia kini dikenal sebagai wanita yang membawa kedamaian, yang mengajarkan bahwa kekuatan terbesar seseorang bukanlah seberapa keras ia bisa memukul, melainkan seberapa tulus ia bisa memaafkan dan melindungi.

Masa lalu tetap ada sebagai bagian dari dirinya, namun ia tidak lagi terikat olehnya. Ia bebas melangkah ke depan, membangun hari esok yang lebih cerah bersama orang-orang yang ia cintai. Dan di bawah langit pulau yang damai ini, kisah tentang mantan ratu yang memilih menjadi manusia biasa menjadi legenda yang diwariskan dari generasi ke generasi—bahwa di dalam hati yang paling gelap sekalipun, selalu ada ruang untuk cahaya masuk.

 

bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!