Dua tahun menjalani hubungan rahasia (backstreet) dengan Dimas—pria matang keturunan darah biru—Kirana rela mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya. Ia melepaskan masa lalu, melawan restu keluarganya sendiri, hingga meruntuhkan tembok perbedaan besar demi menyamakan arah masa depan dan bersiap melangkah ke jalan yang sama dengan sang kekasih.
Namun, tepat di hari saat ia siap menyerahkan seluruh hidupnya, takdir menghempaskannya tanpa belas kasihan. Di sebuah gedung pesta yang megah, dunia Kirana seolah runtuh. Di atas pelaminan mewah, Dimas justru bersanding dengan wanita lain yang merupakan atasannya sendiri. Tanpa ada kata putus, tanpa perpisahan hangat. Kirana ditinggalkan begitu saja dalam kehampaan oleh pria yang berjanji menjadi kompas hidupnya.
Sanggupkah Kirana bertahan dan menemukan kembali jati dirinya setelah pengorbanan tulusnya diinjak-injak? Dan bagaimanakah takdir menjemput penyesalan terdalam sang lelaki darah biru tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pukulan Karma dan Runtuhnya Batas Sabar
Gema teriakan dr. Adrian masih menyisakan gaung yang teramat sangat mencekam di dalam ruangan utama bangunan suci tersebut.
Sebelum Dimas sempat mencerna situasi atau melepaskan jabatan tangannya dari Gus, dr. Adrian sudah melangkah maju dengan kecepatan yang sangat luar biasa. Aura tenang dan dingin yang biasanya melekat erat pada diri sang dokter tampan itu lumat habis, digantikan oleh murka yang teramat sangat menyala-nyala.
SREEEKKK!
Dengan satu gerakan kasar yang dipenuhi tenaga emosi, dr. Adrian langsung mencengkeram kuat kerah pakaian Dimas, memaksanya untuk bangkit berdiri secara paksa dari atas karpet.
"Lelaki keterlaluan kamu, Dimas!" desis dr. Adrian dengan suara yang teramat sangat rendah namun bergetar hebat oleh amarah mutlak.
BUGH!!!
Tanpa memberikan kesempatan bagi Dimas untuk membela diri, sebuah tinjuan mentah yang sangat keras dari kepalan tangan dr. Adrian langsung melayang telak menghantam rahang sebelah kiri Dimas. Pukulan itu begitu kuat hingga membuat tubuh Dimas terhuyung mundur beberapa langkah, menabrak kain pembatas ruangan dengan keras.
Di saat dr. Adrian sedang meluapkan murkanya, Ibu Sarah yang ikut masuk dari belakang menunjukkan kesigapan yang luar biasa. Wanita paruh baya itu tidak memedulikan perselisihan kaum lelaki.
Dengan langkah cepat tapi sangat lembut, Ibu Sarah langsung berlutut di samping Kirana yang masih duduk bersimpuh melantai.
Jemari Ibu Sarah yang hangat dengan sigap dan cekatan langsung membuka ikatan tali kain tebal yang melilit pergelangan tangan Kirana. Begitu tali itu terlepas dan meninggalkan bekas memerah yang memilukan, Ibu Sarah langsung menarik tubuh Kirana ke dalam dekapannya, memeluk wanita anggun itu dengan penuh kasih sayang yang sangat mendalam.
Di dalam dekapan hangat yang sudah sangat lama tidak ia rasakan semenjak diusir oleh ibunya sendiri, pertahanan batin Kirana runtuh seutuhnya.
Kirana langsung memeluk erat tubuh Ibu Sarah, menyembunyikan wajahnya di pundak wanita tua itu. Bahu anggun Kirana berguncang teramat sangat hebat karena tangisan pilu yang pecah seketika—sebuah tangisan kelegaan sekaligus rasa sakit yang telanjur tumpah.
"Syukurlah... Syukurlah, kamu sudah aman sekarang, Nak," bisik Ibu Sarah dengan sangat lembut, jemarinya tidak putus-putus membelai hangat punggung Kirana untuk menyalurkan kekuatan.
"Tidak akan terjadi hal yang buruk lagi kepada kamu, Nak... Adrian sudah ada di sini untuk menjagamu. Kamu aman bersama Ibu..."
Sementara itu, di sudut lain ruangan, atmosfer masih memanas. Dr. Adrian yang sudah kehilangan kendali kembali melayangkan satu tinjuan keras ke arah wajah Dimas yang sudah mulai mengeluarkan noda merah segar di sudut bibirnya. Dimas meringis kesakitan, mencoba membalas tapi tenaganya sudah terkuras habis karena syok dan kelelahan fisik.
Melihat perselisihan yang kian sengit di dalam area yang tenang itu, Gus paruh baya yang sempat tertipu itu langsung tersadar dan dengan sigap maju menengahinya, merentangkan kedua tangannya untuk melerai.
"Berhenti! Berhenti kalian semua!" teriak Gus dengan suara lantang yang dipenuhi otoritas berwibawa. "Apakah kalian tidak punya rasa malu sedikit pun sampai nekat berselisih dan menumpahkan darah di dalam tempat yang suci ini hah?! Hentikan! Cukup!"
Dr. Adrian terengah-engah, menarik mundur tubuhnya dengan dada yang naik turun mendongak, mencoba menahan diri demi menghormati kesucian bangunan tersebut. Kedua tangannya masih mengepal kuat hingga bergetar sekujur tubuh.
Sementara itu, Dimas langsung dipegangi erat oleh Gus agar tidak terjatuh. Pria itu meringis memegangi rahangnya yang terasa mau patah, tapi sepasang matanya yang memerah nanar menatap lurus ke arah sudut ruangan—menatap bagaimana Kirana sedang menangis pilu di dalam pelukan hangat Ibu Sarah, ibu kandung dari dr. Adrian.
Hati Dimas seperti diiris sembilu melihat wanita yang ia puja justru mencari perlindungan pada keluarga saingannya.
Dr. Adrian melangkah satu kali ke depan, menunjuk wajah Dimas dengan jari telunjuknya yang gemetar penuh ketegasan hukum. "Saya tidak akan melepaskan kamu begitu saja kali ini, Dimas! Kamu harus mempertanggungjawabkan perbuatan melanggar hukum mu ini di hadapan hukum! Kamu sudah sangat keterlaluan karena nekat membawa pergi dan memaksa Kirana melakukan tindakan ilegal ini! Tunggu saja surat panggilan dari pihak berwajib besok pagi!" ancam dr. Adrian dengan suara baritonnya yang sangat dingin dan mematikan.
BRAK!
Tepat setelah ancaman dari dr. Adrian menggema, pintu samping kembali didorong terbuka dengan sangat kasar.
Sesosok wanita paruh baya berbalut pakaian mewah yang basah kuyup akibat nekat berlari menembus hujan dari halaman, melangkah masuk dengan napas yang terengah-engah luar biasa hebat. Rambutnya agak acak-acakan dan wajahnya dipenuhi kobaran amarah yang teramat sangat menyala-nyala.
Dia adalah Ibu Ratna.
Supirnya berhasil melacak keberadaan mobil Dimas yang terparkir mencolok di halaman bangunan kecil sepi ini.
Begitu melangkah masuk dan melihat kondisi Dimas yang sudah babak belur di sudut ruangan, bukannya rasa iba yang muncul di wajah Ratna, melainkan rasa malu dan harga dirinya yang lumat hancur berkeping-keping.
Mendengar kata hukum dari ucapan dr. Adrian tadi membuat ketakutan terbesar Ratna akan hancurnya reputasi keluarga langsung menjadi nyata di depan mata.
Ratna melangkah cepat seperti kilat menghampiri Dimas yang sedang dipegangi Gus. Tanpa peringatan apa pun, tangan kanan Ratna langsung melayang bebas menghantam pipi Dimas dengan suara tamparan yang sangat nyaring.
PLAK!!!
"Kamu sudah tidak punya otak dan memalukan, Dimas!" jerit Ibu Ratna dengan suara melengking tinggi yang memekakkan telinga, air mata frustrasinya mulai menetes.
"Kamu rela berselisih, merendahkan harga dirimu, bahkan sampai mau berurusan dengan hukum... hanya demi mengejar wanita yang tidak punya apa-apa ini?! Hah?!"
Ratna menunjuk-nunjuk wajah Dimas yang hanya bisa terpaku diam dengan tatapan kosong nan ngenes karena terkena mental bertubi-tubi.
"Ikut aku pulang sekarang juga, Dimas! Jangan buat nama baik keluargaku, dan keluargamu makin busuk karena kelakuan gila dan murahanmu ini! Supir! Seret dia ke mobil sekarang!" perintah Ratna histeris pada supirnya yang baru masuk.
Dimas tidak memiliki tenaga lagi untuk melawan. Dengan tubuh yang penuh lebam kebiruan dan hati yang hancur lumat melihat Kirana yang bahkan sama sekali tidak mau menolehkan wajah ke arahnya, Dimas pasrah diseret keluar menuju mobil mewah Ratna di bawah guyuran hujan lebat.
Di dalam ruangan yang kembali hening, dr. Adrian perlahan berjalan mendekat ke arah Kirana yang masih memeluk erat ibunya. Adrian berlutut dengan satu kaki di depan Kirana, menatap wajah wanita anggun itu dengan pandangan mata yang dipenuhi oleh kehangatan dan rasa bersalah yang teramat sangat mendalam.
pasti ada kekecewaan disitu ,wajar sih kalau mereka marah
malahan Ratna lebih peduli kehilangan Dimas,kalau ayahnya Dimas koid,Dimas bebas haha,dsar otak nya 😄
dia yang salah tapi tidak mau disalahkan
hasil merebut itu ga awet bu, inget umur
kamu wanita kaya ,mandiri knp harus merebut hak orang lain. percuma hartamu😄
udah merebut malahan dia merasa korban😄
kan bisa dibicarakan baik" ,kalian sudah mendzolimi kirana
rasakan akibatnya sendiri
setidaknya harus ada omongan, Ratna juga ksian hasil merampas itu ga akan tenang
kalau kamu itu seorang yang tau agama
tidak akua menawarkan nikah siri ,padahal baru 3hari
ayo tetap semangat
tapi semoga ini bisa jadi pelajaran buat kamu iya
cinta beda agama apakah mereka akan bahagia