NovelToon NovelToon
Sistem Profesi Terhebat : Insinyur

Sistem Profesi Terhebat : Insinyur

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Harem
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Desau

Meski terus didera sulitnya hidup, Faris tak pernah lupa dengan mimpinya yang ingin jadi insinyur. Ketika dia difitnah dan dipenjara karena sebuah insiden, saat itulah sistem muncul untuk membantunya mengejar profesi impian.

DING!

"Selamat datang di sistem profesi terhebat!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 26 - Diperebutkan

[Sistem sedang menganalisis situasi...]

Faris tetap berdiri di depan Pak Bandi dan Vanessa, sementara puluhan warga terus bergerak maju. Batu-batu kecil masih sesekali beterbangan, membuat para pekerja semakin panik.

Beberapa detik kemudian, suara mekanis itu kembali terdengar.

DING!

[Misi Darurat Terdeteksi.]

[Konflik sosial berpotensi menyebabkan korban jiwa.]

[Mengaktifkan fitur sementara: Negosiator Profesional.]

Faris sedikit terkejut. "Fitur sementara?"

[Paket Kekayaan Awal memiliki kemampuan turunan berupa negosiasi tingkat tinggi.]

[Dalam kondisi tertentu, kemampuan dapat ditingkatkan sementara.]

[Durasi: 30 menit.]

[Host disarankan menyelesaikan konflik tanpa kekerasan.]

Sudut bibir Faris terangkat. "Baik."

Ia menarik napas panjang.

"Pak Bandi."

"Iya?"

"Percayakan ini kepada saya."

Pak Bandi membelalakkan mata. "Kamu serius?"

"Sangat."

"Tapi ini berbahaya!"

"Saya tahu."

Sebelum siapa pun sempat mencegah, Faris justru melangkah maju sendirian menuju kerumunan warga.

"Faris!" teriak Vanessa.

Namun pemuda itu tidak berhenti. Jaya menyeringai ketika melihat satu orang mendekat.

"Ada lagi yang mau diusir?"

Faris berhenti sekitar lima meter di depan mereka. Tangannya tidak mengepal. Tidak pula menunjuk siapa pun. Ia justru membungkukkan badan sedikit.

"Saya datang bukan untuk bertengkar."

Beberapa warga saling berpandangan.

Jaya mendengus. "Kamu nggak usah banyak bacot!"

"Kalau begitu izinkan saya bertanya."

Jaya mengernyit. "Bertanya apa?"

Faris memandang wajah warga satu per satu. "Siapa di sini yang ingin anaknya hidup lebih susah?"

Suasana mendadak hening. Tak ada yang menjawab.

"Siapa yang ingin orang tuanya kesulitan ke rumah sakit?"

Masih diam.

"Siapa yang ingin dagangannya semakin sepi?"

Beberapa orang mulai menurunkan tangan yang semula memegang batu.

Jaya langsung menyela. "Jangan memutar kata!"

Faris mengangguk. "Baik."

Ia berbicara lebih keras agar semua orang mendengar.

"Saya tidak meminta Bapak-Ibu pindah hari ini."

Kalimat itu membuat warga saling memandang.

"Saya juga tidak datang untuk mengusir siapa pun."

Jaya mencibir. "Terus?"

"Saya datang untuk mendengar."

Ucapan sederhana itu justru membuat suasana sedikit berubah.

Seorang ibu tua perlahan maju. "Kalau kami pindah... kami tinggal di mana?"

Faris langsung menjawab. "Itulah yang ingin saya ketahui."

"Kami takut dibohongi."

"Kalau memang dibohongi, saya sendiri yang akan berdiri bersama Bapak-Ibu."

Vanessa menatap Faris tidak percaya. "Dia... berani mengucapkan itu?"

Pak Bandi pun ikut terdiam.

Faris kembali berbicara. "Saya ingin bertanya kepada Pak Jaya."

Pria bertubuh besar itu mendengus. "Apa?"

"Kalau proyek ini batal... Apakah kehidupan warga akan menjadi lebih baik?"

Jaya terdiam.

Faris melanjutkan. "Anak-anak tetap harus sekolah. Orang sakit tetap harus ke rumah sakit. Pedagang tetap ingin pembeli lebih banyak."

Beberapa warga mulai mengangguk pelan.

Faris tidak menyerang. Ia justru mengajak mereka berpikir.

"Jembatan ini bukan dibangun untuk pemerintah. Tapi untuk kalian juga. Untuk kita semua!"

Seorang bapak tua mengangkat tangan.

"Tapi rumah kami?"

"Itulah yang harus kita bicarakan."

"Bukan saling lempar batu."

Kalimat itu membuat beberapa warga mulai menundukkan kepala.

Jaya masih mencoba mempertahankan pengaruhnya. "Jangan dengarkan dia!"

Namun Faris justru menoleh kepadanya sambil tersenyum.

"Pak Jaya."

"Apa?"

"Kalau benar peduli kepada warga..."

Jaya mendongakkan kepala.

"...kenapa memilih melempar batu daripada memperjuangkan ganti rugi yang lebih baik?"

Suasana kembali sunyi. Jaya membuka mulut. Namun tidak ada jawaban.

Faris kembali berbicara. "Kalau negosiasi gagal, yang rugi warga. Kalau terjadi bentrokan, yang terluka warga. Kalau proyek berhenti, yang kehilangan kesempatan juga warga."

Seorang ibu mulai menangis pelan. "Kami memang cuma takut tidak punya rumah..."

Nada suaranya bergetar.

Faris langsung mengangguk. "Itu ketakutan yang wajar. Tidak ada yang salah. Karena itu mari kita perjuangkan hak Bapak-Ibu. Tapi dengan cara yang benar."

Beberapa menit kemudian suasana berubah jauh lebih tenang. Batu-batu mulai diletakkan di tanah. Orang-orang yang tadi berteriak kini saling berbisik.

Pak Bandi sampai mengusap matanya sendiri. "Aku tidak percaya..."

Petugas humas yang sudah bertahun-tahun menangani pembebasan lahan juga tercengang.

"Padahal kami berkali-kali datang..."

"Kenapa dia bisa?"

Faris kemudian meminta sebuah meja lipat. Ia mengambil spidol.

"Lima orang perwakilan warga. Lima orang dari proyek. Kita duduk. Semua tuntutan ditulis. Tidak ada yang dipotong. Tidak ada yang diabaikan."

Jaya masih tampak kesal. Namun kali ini warga justru mulai berbicara sendiri.

"Pak Jaya..."

"Sepertinya didengar dulu saja."

"Iya."

"Kita juga capek bertengkar."

Bahkan pria tua yang sejak tadi diam berkata pelan.

"Kalau memang bisa dibicarakan... kenapa harus berkelahi?"

Pengaruh Jaya mulai melemah. Hampir satu jam kemudian. Seluruh tuntutan warga telah dicatat. Beberapa keluarga meminta rumah pengganti. Sebagian meminta waktu tambahan untuk pindah. Ada pula yang meminta bantuan pekerjaan setelah relokasi.

Faris menulis semuanya. "Tidak ada yang saya janjikan. Tapi semuanya akan saya sampaikan."

Pak Bandi langsung mengangguk. "Saya setuju."

Petugas pemerintah yang ikut hadir juga berkata, "Kami siap menindaklanjuti."

Wajah-wajah warga mulai jauh lebih tenang. Sebelum pulang, seorang nenek bahkan menggenggam tangan Faris.

"Nak..."

"Iya, Nek."

"Terima kasih sudah mau mendengarkan kami."

Faris tersenyum hangat. "Sama-sama."

Begitu rombongan kembali ke mobil, suasana langsung meledak.

Pak Bandi menepuk bahu Faris keras-keras. "Hahaha! Kamu ini manusia apa?"

Faris tertawa canggung. "Cuma ngobrol saja, Pak."

"Ngobrol apanya! Tadi kami semua hampir dilempari batu!"

Seluruh pekerja ikut tertawa lega. Vanessa masih duduk diam. Tatapannya terus tertuju kepada Faris. Dalam pikirannya hanya ada satu kalimat.

"Orang ini... sebenarnya siapa?"

Ia belum pernah melihat seseorang mampu mengubah amarah puluhan orang hanya dengan berbicara.

Bukan dengan ancaman. Bukan pula dengan uang. Melainkan dengan membuat mereka merasa didengar. Dalam perjalanan pulang, Vanessa akhirnya memecah keheningan.

"Faris."

"Iya?"

"Kamu pernah ikut pelatihan negosiasi?"

Faris tersenyum tipis. "Belum pernah."

"Bohong."

"Serius."

"Lalu kenapa bisa?"

Faris menggaruk tengkuk. "Mungkin... karena aku mencoba memahami mereka dulu."

Vanessa kembali terdiam. Jawaban itu terdengar sederhana. Namun justru itulah yang membuatnya semakin sulit memahami Faris.

Sesampainya di kantor proyek, Pak Bandi langsung memanggil Faris ke ruangannya.

"Silakan duduk."

Faris menurut. Pak Bandi memandangnya cukup lama.

"Kamu tahu tidak..."

"Apa, Pak?"

"Hari ini kamu menyelamatkan proyek."

Faris menggeleng. "Saya cuma membantu."

"Tidak."

Pak Bandi tersenyum. "Kamu menyelamatkan proyek bernilai ratusan miliar."

Faris hanya tersenyum malu. Beberapa detik kemudian Pak Bandi membuka sebuah map lain.

"Sebentar lagi saya mendapat proyek baru."

"Proyek apa?"

"Pembangunan hotel bintang lima di Bali."

Mata Faris membesar. "Bali?"

Pak Bandi mengangguk. "Aku ingin kamu ikut."

Faris terdiam. "Saya?"

"Iya."

"Kamu punya kemampuan yang tidak dimiliki banyak insinyur."

"Bukan cuma menghitung."

"Tapi juga menghadapi manusia."

"Orang seperti itu sangat langka."

Belum sempat Faris menjawab, terdengar suara pintu diketuk.

Tok.

Tok.

Tok.

"Masuk!"

Vanessa melangkah masuk. Tatapannya masih setenang biasanya. Namun kali ini nada suaranya jauh lebih serius.

"Pak Bandi."

"Ada apa?"

"Saya ingin bicara sebentar."

Pak Bandi mengangguk. "Silakan."

Vanessa lalu memandang Faris. "Aku kebetulan mendapat proyek baru."

Faris berkedip. "Oh?"

"Pembangunan kawasan wisata terpadu di Kalimantan."

Pak Bandi langsung menoleh.

Vanessa melanjutkan. "Aku butuh orang yang bisa mengimbangiku."

Ruangan mendadak sunyi. Vanessa menarik napas. Tatapannya berhenti tepat di wajah Faris. "Aku ingin kamu ikut denganku."

Faris membeku. Pak Bandi juga ikut membeku.

Kemudian Pak Bandi langsung berseru.

"Hei! Dia sudah lebih dulu saya incar!"

Vanessa menatap dingin. "Belum ada kontrak."

"Berarti masih bebas memilih."

Pak Bandi mendengus. "Mana bisa begitu."

"Kebutuhan proyek saya lebih besar."

"Proyek saya juga!"

Keduanya saling berdebat.

Sementara itu Faris hanya duduk memandang mereka bergantian. Dalam hati ia memanggil sistem.

"Sistem..."

[Ya, Host.]

"Kenapa malah jadi begini?"

[Analisis sederhana.]

"Apa?"

[Host terlalu berguna.]

Faris mengusap wajahnya. "Aku baru keluar dari penjara beberapa hari..."

"Sekarang malah diperebutkan."

[Selamat.]

[Host mulai memasuki jalur karier seorang insinyur profesional.]

Faris hanya bisa tersenyum kecut, sementara Pak Bandi dan Vanessa masih terus berdebat mengenai siapa yang lebih berhak merekrutnya terlebih dahulu.

1
family phone
hadeeeuuuh
Rommy Wasini Khumaidi
sistemnya terkatung² udah mangap author keburu memotong bab🤣🤣 nggak jadi ngomong,ditunda sampe beberapa jam,sabar ya sistem
Desau: /Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Ambu Rinddiany Thea
mudah mudahan sistem nya ngasih solusi dan ngasih kekuatan jgn ngajak debat pilpres terus 🤭
Ita Xiaomi
Faris kerja yg giat dan bahagiakan ibumu jg.
Ambu Rinddiany Thea
awas noh gengsi jadi cintrong
Rommy Wasini Khumaidi
bagus ceritanya,makasih sudah membuat cerita yang bagus
Desau: makasih kak😍🤭
total 1 replies
Rommy Wasini Khumaidi
gengsi digedein si Vanesa
Ambu Rinddiany Thea
gantuuung lagi kaya jemuran kan kan😔
Ambu Rinddiany Thea
tenang ris rata2 emamg semua cewe gt ga mau kalah bentar lagi juga mesem mesem sendiri 🤭😁
Rommy Wasini Khumaidi
yah belum dapat point ya Ris,sabar bentar lagi vanesa bakal mengakui kekalahanya
Ita Xiaomi
🤣🤣🤣 mulai resah
Ita Xiaomi
👍👍👍. Di daerah ortuku pernah mengalami jembatannya ambruk dan banyak nyawa yg melayang. Anak-anak yg kehilangan nyawa 😢
Ita Xiaomi
Mau lihat reaksi arsitek utama saat ktm ama Faris.
Rommy Wasini Khumaidi
sudah pasti Faris akan menemukan solusi
Ambu Rinddiany Thea
lah malah nyalahin orang dasar otak dengkul , cerita anak kuliahan tp sableng .. wkwkwkwkw
Rommy Wasini Khumaidi
yeyy Faris jadi kaya👏👏
Apriwan 99
up yg banyak ,ok sampai jumpa bulan depan
Ita Xiaomi
Baru belajar sistemnya😁
Ita Xiaomi
Alhamdulillah bs kumpul lg ama ibunya.Klo dah sukses nanti berbagi rejeki jg dgn Bu Nuri, Pak Adi dan Pak Bandi.
Ita Xiaomi
Nanti bantu pak Adi di galerinya dan bantu Pak Bandi jg di proyeknya😁.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!