NovelToon NovelToon
Gadis Buta Dan Pemuda Buruk Rupa

Gadis Buta Dan Pemuda Buruk Rupa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Orang Disabilitas
Popularitas:796
Nilai: 5
Nama Author: ELIYONA_5758

Melati, gadis miskin dan buta, yang dijual oleh bibinya. Demi utang. Tak pernah mengira, pelariannya dari kejaran anak buah Juragan Herwanto akan menuntunnya pada dekapan masa lalu.

Di sebuah gang sempit, ia dipertemukan kembali dengan Satya, sahabat karibnya saat tumbuh bersama di panti.

Lima tahun berpisah, takdir kembali mempertemukan keduanya, dalam balutan nestapa yang berbeda.

Melati tidak pernah tahu bahwa Satya hidup dalam bayang-bayang wajah yang cacat, akibat kebakaran hebat masa lalu. Tragedi maut yang menewaskan orang tuanya. Satya sengaja didepak dan dianggap mati oleh pamannya yang picik demi menguasai harta warisan keluarga Utama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ELIYONA_5758, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11. Baru Mengetahui

Eko dan Rina tak kalah terkejut. “Apa?” tanya mereka hampir bersamaan, menatap Satya dengan rasa ingin tahu yang membubung tinggi.

“Saya mau menikah.” Satya menjawab dengan nada tegas, pancaran matanya berubah hangat dipenuhi bayangan wajah Melati.

“Dengan siapa?” Eko tercengang, mengingat Satya tak pernah terlihat jalan dengan wanita.

Ia bahkan sampai menggaruk kepalanya yang tidak gatal, benar-benar syok menghadapi rentetan kejutan dramatis dari sahabat montirnya pagi ini.

Satya hanya tersenyum simpul. “Kamu akan tahu nanti.”

“Aku penasaran.” Eko merapatkan tubuh. Mendesak Satya menjawab. Ia menyenggol bahu Satya kasar, menatap tajam penuh selidik ke arah mata sahabatnya. “Calonmu orang mana? Apa aku kenal?” cercarnya.

“Dia temanku waktu satu panti. Kamu … tentu saja tidak kenal,” goda Satya, membuat Eko semakin dilanda kepo.

Satya tersenyum misterius, sengaja membiarkan rahasia asmaranya menjadi pengganti ketegangan, yang sempat menggantung.

“Siapa namanya? Aku akan cari di media sosialnya.” Eko meraba saku celananya, bersiap mengeluarkan gawai dengan raut wajah yang amat penasaran.

“Dia tidak main media sosial. Sudahlah. Nanti kamu juga akan tahu sendiri.” Satya mengibaskan tangan. Lalu mengalihkan pandangan ke Pak To yang masih berdiri mematung.

Ia melangkah selangkah mendekati pria tua itu, mencoba mencairkan atmosfer drama keluarga yang sempat membeku. “Pak, mengenai bengkel ini. Saya tidak ada hak. Ayah kan memberikan modal buat Bapak. Bukan buat saya. Jadi saya rasa memang sebaiknya bengkel ini tetap menjadi hak milik Bapak. Dan mengenai … saya yang pegang. Saya rasa tak masalah. Selama Mas Wahyu masih di dalam.” Ekor matanya melirik Rina yang masih diam kaku. Rina memalingkan wajah, menggigit bibir bawahnya menahan malu dan jijik yang bercampur aduk.

Pak To menghela napas. Wajah tuanya tampak sedikit lega mendengarkan ketulusan hati sang pewaris keluarga Utama. “Baiklah kalau begitu,” tuturnya, “mulai hari ini saja. Semua catatan bisa Aden periksa.” Pak To menyerahkan buku besar laporan keuangan dari atas meja kasir ke tangan Satya.

“Iya.” Satya mengangguk mengerti. Ia menerima buku itu, menjepitnya di bawah ketiak dengan sikap siap memimpin.

“Eh tunggu dulu!” Eko menyela, melirik sinis sekilas ke Rina, lalu meneruskan kalimatnya. “Mengenai sisa uang saya dan Satya, bagaimana? Kan tadi kita sudah itung-itungan. Meski sudah dibawa kabur sama Taufik. Kan kita juga butuh hak balik, Pak. Apalagi jumlahnya lumayan lho. Punya si Satya malah sampai puluhan juta. Bisa buat modal nikah dia itu.” Sambil mengetuk-ngetuk meja kasir dengan kunci pas, menuntut keadilan di tengah konspirasi penggelapan uang bulanan mereka.

Pak To menggeleng lemas. Bahunya merosot turun, menyadari posisi keuangannya yang ikut hancur akibat ulah putrinya. “Kalau uang sebanyak itu, terus terang saya berat, Ko.”

“Lha?” Eko masih tak terima. Ia melempar kunci pas itu ke atas meja hingga memicu dentang keras. “Terus gimana dong? Masa iya kita harus nyariin si Taufik? Biar dia ganti rugi.”

“Beri Bapak waktu ya, Ko.” Pak To memohon, menatap Eko dengan pandangan iba yang mendalam.

“Apes-apes.” Eko membalik topinya. Merengut ke arah Rina, sekali lagi. “Makanya Mbak, lain kali kalau bucin lihat keadaan. Kita juga nih yang tekor. Jangan mentang-mentang situ Bos, jadi seenaknya bikin anak buah bosok.”

Eko mendengkus kasar, meluapkan seluruh kekesalannya tepat di depan wajah Rina yang kian menunduk dalam tangisnya.

“Sudah, Ko. Mbak Rina juga kan nggak nyangka kalau Taufik bakal kabur. Aku aja baru tahu, lho, Ko. Yang penting sekarang kita kerja bener. Biar bonusan naik.” Tangan Satya menepuk pundak Eko, berusaha meredam ketegangan asmara beracun yang merusak pendapatan mereka.

“Situ enak naik pangkat. Ternyata anak orang kaya lagi. Huft.” Eko menghela napas panjang. “Nanti pulang kerja, aku mau tanya Emak, barangkali, aku anak CEO juga kayak kamu.” Ia tersenyum nyengir ke Satya. “Ceritamu kayak drama cina yang sering kali lewat. Dulu aku ngira itu nggak masuk akal. Tapi setelah dengar ceritamu ini aku jadi mikir lain.” Ia menggeleng-gelengkan kepala. Sampai terkekeh geli meratapi takdir sahabatnya yang penuh kejutan.

Satya hanya tersenyum kecil. Jujur kalau boleh memilih. Siapa juga yang mau kehilangan segalanya dalam sekejap?

Namun, di balik musibah yang menimpa. Ia bisa bertemu dengan bunga cantik, yang menarik hati. Andai, dia masih menjadi Bram Satya Utama yang bergelimang segalanya. Belum tentu Satya akan bisa menjadi seperti sekarang. Kuat, tabah, sekaligus mendapat cinta tanpa memandang rupa.

—-

Pulang kerja. Satya menyempatkan diri ke warung pinggir jalan. Langkah kakinya terasa berat setelah seharian memikirkan konflik di bengkel, juga rencana masa depan dengan Melati.

Ia berdiri di depan etalase kaca yang mulai sepi, menatap barisan lauk yang tersisa dengan dilingkupi kecemasan finansial yang mendalam.

“Buk, bungkus nasi dua ya.” Sambil merogoh dompet tipisnya. Ia menarik selembar uang dari dalam sana dengan jemari yang bergetar halus. Sisa lima tujuh ribu, sementara gajian kurang tiga hari lagi.

Membuatnya harus berhemat. Mulai merencanakan puasa.

‘Sekarang aku menanggung Melati,’ batinnya. Satya memandangi lembaran uang lusuh itu dengan tatapan nanar.

Menimbang setiap pengeluaran terkecil sekalipun. ‘Aku harus mikir supaya ini cukup buat tiga hari.’

“Lauknya, apa, Mas.”

Suara ibu-ibu, membuyarkan lamunan Satya. Penjual warung itu sudah memegang dua lembar kertas minyak, menatap wajah rusak Satya dengan sabar sembari menjepit sendok sayur.

“Eh, kalau lauk ayam berapa, Bu?” tanya Satya, suaranya agak tersendat. Terbiasa makan lauk tempe, ia ingin membelikan ayam buat Melati.

“Sepuluh ribu.” Ibu penjual itu menjawab singkat sembari menunjuk potongan ayam goreng yang tersisa dua potong di sudut etalase.

“Oh, ayam satu tempe satu, Bu. Tolong tandain ya.” Satya menghela napas pendek, terpaksa menekan egonya demi menghemat pengeluaran. Ia memastikan lauk terbaik adalah untuk Melati. Dia sendiri sudah bisa makan lauk tempat atau tahu. Bahkan lebih sering puasa.

“Siap.” Wanita paruh baya itu dengan cekatan menyendokkan nasi hangat, lalu membungkusnya dengan karet gelang merah sebagai penanda untuk lauk ayam yang dipesan Satya.

Tak menunggu lama, pesanan siap. Satya menyodorkan uang ke penjual. Ia menerima kembalian beberapa lembar uang ribuan, lalu memasukkannya kembali ke dalam dompet dengan gerakan terburu-buru.

Satya kembali melangkah, melewati gang-gang sempit. Suasana malam yang mulai merayap naik membuat lorong-lorong pemukiman terasa kian mencekam.

Kali ini Satya tak langsung pulang ke kontrakan. Melainkan menuju kos Melati. Ia mempercepat ritme langkah kakinya, mendekap erat kantong plastik berisi nasi bungkus untuk sang tercinta.

Sampai di kos. Seperti sudah tahu. Mak Tik membantu Melati turun. Menuju ruang tunggu. Langkah kaki Melati yang masih agak canggung terdengar bergeser pelan di atas lantai keramik. .emecah kesunyian ruang tengah indekos yang diselimuti ketegangan malam.

“Kan, pangeranmu sudah datang.” Mak Tik menunjuk Satya. Tersenyum menggoda. Wanita bertubuh besar itu menyenggol pelan lengan Melati, membuat rona merah mendadak muncul di pipi sang gadis buta.

“Saya datang hanya mau membawakan makanan buat Melati.” Satya mengulurkan kantong yang ia bawa. Meremas plastik hitam itu dengan gugup, berusaha menyembunyikan debar jantungnya yang kian berpacu liar di hadapan wanita yang dicintainya.

Mak Tik tersenyum. “Mak mau balik ke rumah. Kamu dan Melati bisa nunggu di sini kan? Sebentar saja. Habis ini Salsa datang,” tuturnya, “awas jangan aneh-aneh. Wak Kaji bisa mantau kalau lewat cctv lho.”

Wanita paruh baya itu mengedipkan sebelah matanya penuh candaan. Sebelum akhirnya membalikkan badan dengan cepat.

“Eh.” Satya baru akan membuka mulut, tapi wanita gemuk itu sudah pergi. “Cepat sekali.” Ia sampai menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Menatap punggung Mak Tik yang menghilang di balik pintu gerbang kos.

“Tadi Mak Tik bilang sama aku. Kalau Wak Kaji sudah membantu mengurus pernikahan kita.” Melati meraba udara. Mencari sandaran untuk duduk. Jemari lentiknya bergerak panik di atas sandaran kursi rotan, mencoba menenangkan gemuruh asmara yang tiba-tiba mendesak.

Satya sigap membantu. Ia mencekal lembut pergelangan tangan Melati, menuntun tubuh itu agar bisa duduk dengan nyaman. “Baru saja aku mau ngasih tahu Paman, soal pernikahan kita.”

“Kamu mau ngasih tahu pamanmu?” Melati tersentak. Ingat kalau Satya baru tadi pagi, membenci satu-satunya keluarga yang tersisa. Sambil kembali meraba, duduk dengan hati-hati.

Wajah ayunya mendadak menegang, menyadari ada drama besar yang sedang bergulir di balik perubahan mendadak Satya.

“Iya. Ternyata selama ini aku sudah salah paham sama Paman.” Satya mengambil tempat, berhadapan dengan Melati. Ia menumpukan kedua tangannya di atas lutut. Menatap lurus ke arah sepasang mata kosong Melati. “Paman menaruhku di panti, ternyata demi melindungiku.”

“Melindungi?” Melati mengernyit. Ia memiringkan kepalanya, mencoba meresapi getaran suara Satya yang terdengar begitu emosional dan dramatis.

“Ya.” Satya mengangguk. “Istri pamanku yang menginginkanku mati. Karena itu, Paman mengatur rencana supaya aku dianggap mati.” Satya mengepalkan tangan kuat, mengingat konspirasi kejam Tante Risma.

Melati menelan ludah. Rasa cemas seketika merayap di tenggorokannya, menyadari sesuatu yang baru ia tahu. Kamu tahu ini dari siapa?”

“Dari Pak To. Bos di tempat kerjaku. Dulu dia adalah sopir Ayah.” Satya menjelaskan dengan nada lirih, tapi tegas. Membiarkan rahasia besarnya terkuak di hadapan calon istrinya.

“Ayah? Ayahmu punya sopir?” Melati mengernyit, berusaha mencerna. Ia memajukan duduknya, mencengkeram ujung meja kayu dengan bingung. “Bukankah kamu sama sepertiku. Anak yatim piatu miskin. Yang sengaja dibuang, karena dianggap beban?”

1
Harsoemi Akm
lanjutksn
Hesty Gemini
lanjut, jangan lupa mampir ya di karya aku. 🙏
ELIYONA: makasih.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!