Celine selalu menyukai Ares. Dia mengabadikan seluruh momen laki-laki itu di sebuah buku kecil. Ratusan foto. Lalu kini buku itu hilang, menyisakan perasaan khawatir yang menghantui Celine setiap malam.
Celine hanya tidak tahu, buku itu berada di tangan Ares. Di simpan baik-baik, menunggu waktu yang tepat untuk membuka kedok Celine.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suziehloranda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Matcha Latte
Celine mengaduk matcha latte–nya dengan pikiran yang berkeliaran. Suara kendaraan berlalu lalang di luar jendela seolah ikut memeriahkan isi kepalanya.
Seorang pelayan mengantar camilan manis yang dia pesan. "Ini Kak pesanannya, selamat menikmati." katanya kemudian berlalu pergi. Langkahnya diiringi musik klasik yang mengudara di cafe sore itu.
"Manis banget," kata Celine begitu mengambil satu suapan. "andai aja alur cintaku semanis ini."
Lama Celine memandangi jalanan dari balik kaca, sebelum kemudian lonceng berbunyi menandakan seorang pengunjung masuk ke dalam. Ia mengalihkan pandangan pada seorang perempuan dengan rambut menjuntai panjang, senyum tipis terpatri di bibirnya.
"Affogatonya satu, red velvetnya satu. Itu aja kak." kata Jasmine begitu selesai membaca menu.
"Ditunggu, ya kak."
Celine mengalihkan pandangan begitu Jasmine membalikkan badan. Langkahnya semakin jelas tepat berhenti di meja Celine.
"Permisi, boleh duduk di sini?" tanyanya sopan.
"Em, silahkan."
Jasmine duduk dengan senyum yang masih sama, seolah dirancang khusus untuk berinteraksi. Beberapa saat kemudian ia mengulurkan tangan, lantas berkata, "Halo, aku Jasmine. Sepertinya kita pernah bertemu, teman sekelas kak Ares, kan?"
Jantung Celine mencelos, tapi dia tetap menerima jabat tangan Jasmine.
"Aku Celine."
"Betapa cantiknya dia," pikir Celine, raut wajahnya murung seketika. "Memang pantas jika disandingkan dengan Ares. Apa aku memang punya kesempatan, tidak berlebihan bukan, jika aku pikir Ares akan lebih memilihku?"
Celine tersadar dari lamunannya begitu Jasmine menepuk pundaknya pelan. "Ada yang salah Kak?" tanyanya.
"Enggak papa,"
Jasmine mengulum bibirnya harap-harap cemas, sesaat kemudian meremas ponselnya begitu rasa gugup itu kembali menyergap. Dia menghela napas pendek kemudian tersenyum simpul. "Kak, aku boleh nanya enggak?" katanya.
"Nanya apa?" Celine meletakkan ponselnya, memangku dagu menatap penuh ke arah Jasmine.
Jasmine ragu sejenak. "Kalau kak Ares di kelas itu gimana sih? Dia humble ya orangnya?" tanyanya akhirnya.
Wajah Celine menegang sepersekian detik, ia kemudian menyesap matchnya untuk menetralisir rasa tidak nyaman di dadanya. "Tergantung bagaimana orang lain menanggapi dia, itu setahuku. Tapi terkadang orangnya cuek dan susah ditebak," katanya.
"Oh begitu?" Jasmine tampak bersemangat, ia tak mampu menyembunyikan kegugupannya. Rona samar terlihat di pipinya.
"Menurut kakak aku pantas gak sih buat kak Ares?" Jasmine buru-buru menjelaskan. "Aku beneran bukan bermaksud aneh, aku hanya memastikan, mana tahu aku melangkah lebih jauh melebihi batasnya."
Secara paksa Celine memberikan senyuman terbaik, bibirnya gemetar menjawab pertanyaan Jasmine, "Iya pantas kok, semua orang berhak mengutarakan rasa sukanya."
Harusnya memang begitu, kan?
Tiba-tiba Jasmine menghampirinya kemudian memeluk Celine erat. "Makasih ya kak, udah kasih aku saran. Kakak mau enggak jadi teman aku?" katanya.
***
"Nggak mau!"
"Jangan pergi, please."
Keringat bercucuran di dahi Celine yang saat ini menutup mata. Wajahnya memucat dengan suhu tubuh yang melonjak sejak beberapa saat lalu. Ibunya dibuat panik dengan bulir air mata di pipinya.
Dia baru saja selesai mengompres dahi perempuan itu.
"Kakak kenapa, Herry jelasin gimana Celine tadi sampai," kata Ibu dengan mata memerah yang berair.
"Tadi kakak masuk dengan pakaian yang basah kuyup, hujan pula tadi sore. Kakak juga tampak menggigil, gak tau deh Herry apa yang terjadi sebelumnya," tukas Herry memberitahu apa adanya.
Wanita itu kembali memeriksa suhu tubuh Celine, tidak ada tanda-tanda bahwa putrinya akan bangun sebentar lagi. Ia masih terus bergumam ketakutan yang membuat ibunya menangis.
"Apa yang terjadi sebenarnya Celine, jangan membuat ibu takut. Aku tidak bisa melihatmu seperti ini, kumohon bangun Nak. Cerita sama ibu." Ia menggenggam kedua tangan Celine lantas menyatukannya di dadanya. Betapa sakit hatinya melihat putri satu-satunya tampak menahan sakit seorang diri.
Sepanjang malam Celine ditemani ibunya, suhu tubuh perempuan itu baru membaik menjelang tengah malam. Ibu baru berani menutup mata saat itu.
"Ugh, kepalaku sakit. Berat banget," keluh Celine memegangi kepalanya begitu membuka mata. Perlahan ia bangkit dan mendapati ibunya tertidur di pinggir kasur, raut wajahnya sarat kelelahan.
"Ngaco banget, malah mimpiin Ares. Dia ninggalin aku pula trus milih si adek kelas itu," gumam Celine lantas meraih air putih di samping nakas.
"Harusnya tadi enggak usah sok jagoan galau di derasnya hujan. Malah sakit begini jadinya, mama pasti panik banget tadi."
Celine tidak tega membangunkan ibunya, jadi dia memindahkannya pelan ke kasur yang semula ia tempati. Menyelimutinya dengan telaten . "Capek banget ya Ma, bahkan gak kebangun waktu aku pindahin."
Perempuan itu melakukan peregangan sembari melangkah keluar dari kamar. Perutnya sudah keroncongan, wajar saja belum makan sedari tadi.
Di meja makan, dengan makanan yang tersedia di depan mata. Celine terlebih dahulu membuka ponselnya, memeriksa pesan yang masuk secara beruntun dari seseorang yang tak dia sangka.
Tadi kudengar dari Herry pulang-pulang langsung sakit. Ngerepotin mulu dah, sok banget hujan-hujanan.
Sekarang gimana perasaanmu, udah baikan? Masih panas, atau kepalanya berat banget, gitu?
Chat itu sudah dikirim sejak dua jam yang lalu oleh Gabriel. Tetangganya yang menyebalkan.
Repot amat.
Celine hendak mematikan ponselnya, tapi diurungkan begitu layarnya menyala dengan panggilan telepon. Gabriel menghubunginya.
"Apa sih," gumam Celine, berusaha mengabaikan. Dia mengambil suapan pertama yang membuat perutnya otomatis berhenti meronta.
Namun, menit berikutnya Gabriel tetap tidak menyerah, masih bersikeras menghubungi Celine yang membuat gadis itu jengah.
"Ngapain kamu nelpon malam-malam, ganggu orang lagi makan!" cetus Celine begitu ia mengangkat telepon.
"Ngapain kamu masih main hp tengah malam begini? Bukannya lagi sakit, kapan sembuhnya kalau begini?" Nada suara di seberang tampak khawatir, itu membuat Celine curiga. Perempuan itu memicing.
"Dih, sok peduli banget. Yang namanya lapar ya mana tahu waktu, mau tengah malam kek, dini hari urusan perut paling penting. Takut kau aku kenapa-napa? Sekarang baru nyadar betapa pentingnya aku dalam hidupmu?"
Secara sepihak Gabriel langsung mematikan sambungan telepon, berikutnya deretan chat memenuhi layar beranda Celine. Perempuan itu berdecak kagum, buble chat yang menyulut emosinya.
Sok banget, berisik suaramu kedengaran sampe rumahku. Nangis gak jelas. Makanya aku nanya udah sembuh apa belum, gak usah geer!
Kasihan aku sama tante, capek banget kayaknya ngeliat kelakuan anaknya yang amburadul.
Besok-besok gak usah ngide main hujan kalau tahu daya tahan tubuhmu lagi gak bagus.
Tangan Celine panas untuk membalas, ngerasa Gabriel ada di depannya dan menantang dengan wajah super congkak.
Idih ngelaknya kebangetan, kayak benaran ada perasaan aja!
Di rumah seberang, Gabriel meletakkan ponselnya. Membiarkan Celine menerornya dengan runtutan pesan. Senyumnya tipis nyaris hilang begitu perasaan itu muncul lagi.
"Seandainya aku cukup berani untuk bilang khawatir tentang apa yang menimpanya." katanya, ia menutup kedua mata menggunakan lengannya.
Salut banget sih author lucu gemes