Setelah mengorbankan keluarga kandung, masa muda, dan hidupku demi menjadikan suamiku pewaris Mahendra Group, Sebastian justru memfitnah putra kami, membiarkan menantu dan cucuku meninggal, lalu mendorongku hingga tewas.
Saat kembali membuka mata, aku kembali ke hari Sebastian melamar ku.
Jika dulu aku memilih Sebastian Mahendra...
maka di kehidupan ini, aku akan menikahi adiknya, Stefanus Mahendra.
Aku tidak akan menikahi pria yang menghancurkan hidupku.
Aku akan memilih pria yang ternyata diam-diam mencintaiku sejak awal.
Namun, mengubah takdir ternyata tidak semudah mengganti calon suami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Kehilangan Kesempatan
Suara pukulan keras di pintu rumah memekakkan telinga. Brak! Brak! Brak!
Daniel yang sedang merapikan selimut Ratih langsung menoleh ke ruang depan. Adiknya yang terbaring lemah ikut tersentak.
"Kak, siapa itu?" tanya Ratih dengan wajah pucat.
Daniel menggeleng pelan menenangkannya. "Biar aku lihat dulu."
Ia memutar kenop pintu. Celah baru terbuka sedikit ketika seseorang dari luar mendorong daun pintu itu dengan kasar. Tubuh Daniel terpental mundur beberapa langkah.
Empat pria berbadan besar menerobos masuk tanpa permisi. Pria paling depan berjaket kulit memegang sebuah map hitam. Tatapannya dingin mengintimidasi.
"Kamu Daniel Suryadi Prasetyo?"
"Iya."
"Bagus." Pria itu membuka map dan menunjukkan selembar berkas. "Tunggakan pinjaman rumah ini sudah terlewat dari tanggal jatuh tempo. Kami datang menagih pelunasannya."
Daniel menelan ludah. "Saya sedang mengusahakan dananya, Pak."
"Kapan?"
"Tolong beri saya tambahan waktu."
Pria berjaket kulit itu tertawa meremehkan. "Bank nggak bisa hidup dari makan waktu, Mas."
Ratih yang mendengar keributan berjalan keluar dengan tertatih-tatih. Tubuh gadis remaja itu masih lemas sehabis prosedur cuci darah kemarin sore.
"Kak..." panggil Ratih ketakutan.
Daniel bergeser menutupi pandangan para penagih utang itu dari adiknya. "Masuk lagi ke kamar, Dek."
"Nggak mau. Kalian siapa? Kenapa masuk ke rumah orang sembarangan?"
Pria berbadan besar itu melirik Ratih. "Oh, ini adik perempuanmu yang sakit itu?"
Daniel menjawab panik. "Dia nggak tahu apa-apa. Urusan kalian cuma sama saya. Jangan libatkan dia."
Pria itu melangkah mendekat hingga hidungnya hampir bersentuhan dengan dahi Daniel. "Nggak ada yang mau ngelibatin anak sakit. Asal seluruh sisa utangmu lunas hari ini juga."
Daniel mengepalkan tangannya di sisi paha. "Saya sedang mencari pinjaman ke teman kuliah. Tolong beri waktu seminggu lagi."
Pria itu menggeleng tegas. "Nggak ada tambahan waktu. Perintah atasan kami sudah jelas. Rumah ini disita hari ini juga."
Daniel menarik napas panjang. "Saya nggak punya uang sepeser pun sekarang."
Pengakuan itu membuat udara di ruang tamu terasa mencekik. Pria itu menatap dinding kayu yang mulai lapuk dimakan rayap.
"Kalau kamu nggak punya uang, rumah butut ini yang kami ambil sebagai gantinya."
Ratih memegang lengan kemeja kakaknya. Daniel mengusap pelan tangan adiknya tanpa menoleh. Napasnya sendiri mulai tidak teratur.
Rumah ini bukan cuma sekadar bangunan. Di ruang tamu ini ada bingkai foto ayah dan ibu mereka. Ada bekas goresan tinggi badan Ratih di kusen pintu dapur. Kalau rumah ini disita, mereka tidak akan memiliki apa pun lagi.
"Saya mohon, Pak. Kasih saya sedikit waktu."
Pria itu menghela napas muak. "Saya paling benci berurusan sama orang yang suka minta waktu." Ia mengangkat dagu memberi isyarat kepada anak buahnya. "Kasih dia pelajaran."
Dua pria kekar langsung maju menerjang. Bug!
Sebuah pukulan mendarat telak di ulu hati Daniel. Napas pemuda itu langsung putus. Tubuhnya membungkuk kesakitan mencari oksigen. Belum sempat ia berdiri tegak, pukulan lain menghantam pipi kanannya. Brak! Daniel jatuh tersungkur menabrak kursi tamu hingga patah.
"Kak!" Ratih menjerit histeris. Ia berusaha berlari menghampiri kakaknya, tapu salah satu pria menahan pergelangan tangannya.
"Jangan mendekat!" bentak pria itu.
Ratih memukul-mukul tangan pria itu dengan sisa tenaganya. "Lepasin Kakakku!"
Daniel memaksakan diri bangkit dari lantai. "Jangan sentuh adikku!"
Ia menerjang pria yang menahan Ratih. Namun, sebuah tendangan lutut menghantam keras perutnya. Daniel kembali terkapar di lantai. Darah segar mengalir dari sudut bibirnya yang pecah.
Ratih menangis tersedu-sedu. "Tolong berhenti mukulin Kakakku."
Pria berjaket kulit hanya menonton sambil melihat jam mahalnya. "Kalau dari awal kamu bayar cicilan, nggak akan begini jadinya."
Daniel menatap lurus pria itu dari bawah. "Kalian beraninya cuma mukul orang yang lagi jatuh."
Pria itu tersenyum tipis meremehkan. "Kami ke sini murni menjalankan pekerjaan. Yang bikin kamu jatuh bukan kami, tapi utangmu sendiri."
Kalimat itu menusuk dada Daniel lebih keras daripada pukulan fisik. Ia tertawa lirih dan putus asa.
Pria itu memberikan isyarat agar anak buahnya mundur. "Saya kasih kamu waktu cuma sampai sore ini. Habis itu kami balik lagi ke mari. Kalau tetap nggak ada pelunasan uang..." Ia menatap setiap sudut rumah kecil itu. "Kami langsung mulai proses penyitaan."
Keempat pria itu berbalik dan pergi. Suara mesin mobil mereka menderu perlahan menjauh dari halaman. Rumah kembali sunyi menyisakan rintihan.
Ratih berlutut di samping tubuh Daniel. "Bibir Kakak berdarah banyak."
Daniel menghapus noda darah di bibirnya perlahan menggunakan punggung tangan. "Nggak apa-apa, Dek."
Ratih menangis semakin keras. "Maafkan aku, Kak. Kalau bukan karena biaya obatku..."
Daniel menggelengkan kepalanya keras. "Jangan pernah ngomong begitu lagi. Rumah ini satu-satunya milik kita. Kamu satu-satunya keluarga yang aku punya."
Ratih menggigit bibir bawahnya menahan isak. "Tapi aku capek terus-terusan bikin Kakak susah dan sekarang harus sampe dipukuli."
Daniel memegang kedua bahu adiknya yang bergetar. Ditatapnya wajah pucat pasi gadis itu. "Dengar ucapan Kakak. Selama aku masih bernapas, aku nggak akan pernah biarin kamu berjuang sendirian."
Ratih mengangguk pelan, meski air matanya belum berhenti mengalir.
Daniel memapah adiknya berdiri dan membantunya duduk. Ia lalu berjalan tertatih ke dapur untuk mengambil segelas air hangat. Tangannya masih gemetar efek pukulan. Ia baru sadar tubuhnya nyeri di banyak titik.
Puluhan menit berlalu tanpa suara. Ratih sudah meminum obat rutinnya dan tertidur. Daniel berjalan keluar dan duduk sendirian di kursi rotan teras. Tatapan matanya kosong. Angin sore membawa aroma tanah basah dari halaman.
Matanya menangkap sebatang pohon bunga kertas yang dulu ditanam ibunya di dekat pagar. Bunga itu masih bermekaran cerah. Padahal rumah dan tanah tempat akarnya berpijak sedang menunggu jadwal disita sore ini.
Daniel tersenyum hambar menertawakan entah apa, mungkin realita kehidupannya.
Tiba-tiba ponsel butut di sakunya bergetar. Sebuah nomor tidak dikenal muncul di layar. Daniel menekan tombol jawab tanpa semangat.
"Halo."
"Apakah benar saya bicara dengan Saudara Daniel?"
"Iya."
"Saya saat ini sudah berada di depan rumah Saudara."
Daniel mengernyitkan dahinya. "Anda siapa?"
"Boleh saya minta waktunya untuk bicara sebentar?"
Daniel menoleh ke arah jalanan aspal. Sebuah mobil mewah berwarna hitam legam baru saja berhenti tepat di depan pagar karatan rumahnya. Seorang pria berjas rapi turun dari kursi belakang dengan langkah tenang. Usianya sekitar empat puluhan. Penampilannya elegan, wangi, dan rapi. Berbeda jauh dari para preman penagih utang tadi pagi.
Pria berkacamata itu tersenyum sopan dari balik pagar. "Boleh kita bicara berdua sebentar, Saudara Daniel?"
Daniel tetap berdiri waspada di atas terasnya. "Anda ini siapa?"
Pria itu membuka dompet kulitnya dan mengeluarkan sebuah kartu nama hitam. "Perkenalkan, nama saya Theo. Saya asisten pribadi dari Bapak Sebastian Mahendra."
Nama belakang itu membuat dada Daniel langsung menegang kaku. Mahendra. Sebagai mahasiswa fakultas ekonomi, ia tahu persis nama pewaris utama Mahendra Group, salah satu konglomerasi terbesar di Indonesia.
"Ada keperluan apa utusan konglomerat datang ke gubuk ini?"
Theo tidak langsung menjawab. Ia menyapu pandangannya melihat kondisi fisik Daniel. Bibir pecah berdarah. Kemeja berdebu. Lalu pandangannya bergeser menembus jendela rumah. Terlihat Ratih yang sedang tertidur di kursi rotan.
"Kasihan sekali," gumam Theo pelan.
Daniel bergeser menutup pandangan pria berjas itu. "Jangan berani melihat adik saya seperti itu."
Theo mengangguk kecil menerima peringatan tersebut. "Baiklah. Saya datang ke mari bukan untuk menyakiti siapa pun."
"Lalu apa mau Anda?"
"Saya datang membawa solusi."
Daniel tertawa pendek.
"Bagaimana kalau saya bisa melunasi sisa utang rumah ini ke bank?
Daniel membeku di tempatnya berpijak. "Apa?"
Theo kembali ke mobilnya dan membuka bagasi. Ia mengeluarkan koper hitam berukuran sedang, membawanya ke teras rumah lalu membukanya perlahan. Tumpukan uang kertas pecahan seratus ribu tersusun sangat rapi di dalamnya.
Daniel memandang koper terbuka itu tanpa berkedip.
"Kamu hanya perlu melakukan satu pekerjaan mudah sebagai balasannya," kata Theo.
Daniel menatap pria itu. "Pekerjaan kotor apa?"
Theo menutup dan mengunci koper itu kembali. "Masuklah ke dalam tim Nyonya Shaquena, dan jadilah salah satu orang kepercayaannya di sana."
Daniel mengernyitkan dahinya bingung. "Siapa itu Nyonya Shaquena?"
"Nanti kamu akan tahu rinciannya. Tugasmu mudah, kamu hanya perlu melaporkan semua strategi dan tindakan yang dia lakukan secara diam-diam kepada kami setiap minggu."
Daniel menatap mata pria di depannya. "Jadi kalian mau membayarku untuk menjadi pengkhianat."
"Jadi mata-mata."
Daniel tertawa hambar. "Sama saja."
Theo melangkah satu langkah lebih dekat. "Pilihan keputusan ini ada di tanganmu. Kalau kamu menolak koper ini, kami hanya perlu berbalik pergi dan mencari mahasiswa lain. Orang miskin dan pintar sepertimu mudah ditemukan di kota ini."
Theo berhenti sejenak. "Tapi pikirkan nasibmu. Sore nanti penagih utang itu pasti kembali. Rumah peninggalan orang tuamu ini akan disita. Dan yang paling fatal, adik kesayanganmu mungkin harus berhenti berobat cuci darah untuk selamanya."
Daniel mengepalkan kedua tangannya hingga bergetar. "Kalian memang sengaja memilih orang yang sedang putus asa."
Theo tidak membantah tuduhan itu. "Seseorang yang berada di titik keputusasaan biasanya paling cepat mengambil keputusan. Kamu pemuda yang pintar, pasti lebih mudah memilih opsi yang menguntungkan."
Daniel memalingkan wajahnya menatap ke dalam rumah. Ia melihat Ratih dari celah jendela. Wajah adiknya sangat pucat. Selimut tipis menutupi kakinya yang kurus. Ada banyak bekas plester medis di punggung tangannya oleh-oleh dari prosedur cuci darah kemarin sore.
Daniel menutup kedua matanya menahan perih. Kalau ia menolak koper berisi uang tunai ini, Ratih dipastikan akan kehilangan kesempatan hidupnya yang tersisa.
Namun, kalau ia menerima tawaran ini, ia harus mengorbankan integritasnya dan mengkhianati kehidupan seorang wanita yang bahkan belum pernah ia kenal.