Demi rasa iba, Arhan menikahi Dira, seorang gadis yatim piatu yang baru kehilangan kedua orang tuanya. Dira mengira pernikahan itu adalah awal dari kehidupan yang penuh kasih sayang. Nyatanya, ia hanya dijadikan istri untuk mengurus rumah, melayani suami, dan merawat ibu mertuanya.
Lima tahun berlalu tanpa kehadiran buah hati. Dira terus menyalahkan dirinya karena dianggap mandul. Ia tak pernah tahu bahwa setiap hari Arhan memberinya pil KB yang dikemas sebagai obat penyubur agar ia tak pernah mengandung.
Ketika alasan "mandul" itu digunakan Arhan untuk menikahi wanita yang sejak dulu dicintainya, hati Dira hancur. Lebih menyakitkan lagi, ia tak sengaja mendengar percakapan yang mengungkap bahwa selama ini dirinya hanyalah seorang babu yang sengaja dipertahankan sampai wanita pujaan Arhan kembali.
Namun, semua kebohongan memiliki waktunya untuk terbongkar. Saat rahasia pil KB akhirnya terungkap, penyesalan mulai menghantui Arhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemana Harus Pulang
Bu Mira memandang sendu cucu pertamanya, Elara sedang terisak, wajahnya yang cantik tampak sangat menyedihkan, anak berusia empat tahun itu harus memiliki rasa sakit dihatinya, rasa sakit yang begitu berat ketika mengetahui bahwa ibu yang telah mengandungnya tidak sayang kepadanya, dan dengan teganya telah meninggalkannya.
Elara sedih karena satu bulan lagi akan diadakan acara pentas seni yang diselenggarakan di sekolahnya, hal yang membuatnya sedih karena teman-temannya akan datang bersama dengan orangtua yang lengkap.
"Jangan sedih sayang, kan masih ada Oma dan papa yang hadir di acara pentas seni nanti. Oma akan duduk paling depan dan kasih semangat buat Lara..." Bu Mira mendekap erat cucunya, ia kecup puncak kepala Elara. Ia sangat menyangka cucunya itu.
"Kenapa Lara gak punya mama, Oma? mama Lara kemana,?" lara anak yang baru berusia empat tahun itu cukup cerdas. feeling-nya sudah kuat, sejak umur tiga tahun Lara sering bertanya tentang keberadaan ibunya.
"Lara..." Suara bariton itu menggema pada didalam rumah mewah itu, langkah tegap dengan jas yang tersampir dibahunya. Arya tersenyum manis pada putri kecilnya.
"Tuh papa pulang..." ucap Bu Mira seraya mengelus puncak kepala cucunya.
"Lara kenapa sayang? Papa baru pulang kok muka lara cemberut seperti itu." Arya memangku putri kecilnya, ia kecup pipi gembulnya yang menggemaskan.
Pada pangkuan papanya lara merasa tenang, wajah imutnya menatap sang ayah dengan sendu. "Lara mau punya mama kaya temen-temen Lara, papa..."
Arya mengerutkan alisnya bingung, pasalnya baru kali ini Lara meminta seorang ibu secara terang-terangan padanya. Lara benar-benar membutuhkan sosok ibu, pikir Arya. Kini tatapan pria yang memiliki iris kecoklatan itu beralih pada Bu Mira yang sedang duduk diatas sopa. Perlahan Arya mendudukan tubuhnya disopa samping Bu Mira.
Bu Mira tampak menghela nafas gusar, Ia menyerahkan kertas undangan dari sekolah Elara. "Ini yang membuat Lara sedih Ar. Pentas seninya satu bulan lagi, ibu sangat menghawatirkan dengan kondisi psikologis Lara, ibu takut mentalnya kena." ucap Bu Mira pelan. Arhan masih menundukkan pandangannya, sorot matanya menyapu pada surat undangan dari sekolah Elara.
"Arya juga khawatir Bu, tapi mau bagaimana lagi. Arhan benar-benar tidak ada waktu untuk sekedar berkenalan dengan seorang wanita." ucap Arhan, guratan keningnya mulai terlihat.
"Satu bulan waktu yang sangat singkat, setidaknya kamu memiliki pegangan dulu untuk diajak nanti datang ke pentas seninya Lara, Ibu kasihan banget sama cucu ibu."
"Kalau begitu Ibu yang pilihkan, Arya manut saja." ucap Arya pasrah.
"Masa harus ibu yang urus semua Ar, kamu juga berusaha dong. Kan nanti yang jalin hubungan kalian berdua, minimal selain kebaikannya, kamu menyukai hidung atau mata wanita itu." Bu Mira memijat keningnya yang terasa pegal.
"Arya sudah pasrah Bu, hati Arya sudah membeku. Arya mau menikah lagi ya demi Lara." ucap Arya pelan. Lara mulai memejamkan matanya dalam dekapan hangat sang papa.
*
Arhan tertawa senang ketika sedang bercanda dengan Ayu. Satu Minggu setelah perceraiannya dengan Dira, Arhan langsung pergi liburan ke puncak bersama Ayu, atas paksaan dari Ayu, hanya berdua tanpa memperdulikan Bu Rena yang sedang sakit seorang diri dirumah. Bahkan barang-barang milik Dira bukan Arhan yang mengantar, melainkan seorang supir taksi taksi online yang mengantar semua pakaian Dira kerumah sakit.
Diatas bukit yang hijau Arhan mencium pipi Ayu, tangannya melingkar pada perut Ayu, Dari luar memang Arhan terlihat sangat bahagia saat pergi liburan bersama Ayu, tapi dalam hatinya ia merasa kosong dan hampa. Serasa ada yang hilang dan tertinggal tapi entah apa itu.
"Apa kamu pernah pergi berlibur seperti ini bersama Dira mas?" Ayu berkata manja, tangannya mengelus pelan pipi Arhan yang sedang menumpukan wajahnya pada ceruk leher Ayu.
"Tentu saja belum, ngapain ngajak liburan istri pasif seperti itu. Dari dulu juga aku yang sering ngajak liburan sama kamu sayang," ucap Arhan, ia mengecup pelan ceruk leher Ayu.
"Kamu benar-benar gak cinta sama di mas?" tanya Dira penasaran. Ia mau ngetes seberapa jauh hubungan Arhan bersama Dira selama lima tahun menikah.
"Tidak sayang, kamu kan tau mas cintanya sama kamu dari dulu." ucap Arhan. Nafas hangatnya menderu, menyebar pada kulit leher milik Ayu.
"Masa? aku akui si Dira itu memang cantik. Tapi sayangnya sangat bodoh."
"Mau secantik apapun, tapi hati mas sudah terpaut sama kamu." ucap Arhan kini lengan kokohnya mulai menggendong tubuh Ayu yang cukup berisi, berbanding terbalik dengan Dira yang sangat mungil.
Arhan memasak kabin tempat ia menginap bersama Ayu, ia mulai merebahkan tubuh Ayu secara perlahan diatas ranjang.
"Kita lanjutkan..." ucap Arhan, ia telah mengukung tubuh Ayu.
Sementara dibalik dinding rumah sakit, Dira menatap kosong kearah jendela yang sedang menyuguhinya pemandangan yang indah. Pemandangan matahari yang akan tenggelam dengan dihiasi oleh awan jingga yang berderet indah.
Kulit yang putih pucat, badan yang semakin kurus dan cekungan pada kelopak matanya semakin dalam. Hari ini Dira sudah harus pulang, biaya perawatannya hanya satu Minggu pas dirumah sakit. Karena hanya itu biaya yang diberikan oleh Arhan untuknya. Padahal kondisi Dira belum sepenuhnya pulih. Tubuhnya masih menyisakan rasa sakit, apalagi pada bagian perut. Jika bergerak sedikit saja, rasa nyeri masih sangat terasa.
"Kemana aku harus pulang...?" ucap Dira pelan, sangat pelan karena untuk sekedar berbicara pun kondisi tubuhnya masih terasa lemah.
Bulir bening mulai mengalir di pipinya, ia benar-benar bingung. Uang tabungan yang ia diam-diam simpan mungkin hanya cukup untuk makan saja, tidak cukup untuk sewa rumah atau kos.
"Bu Dira..." dokter memasuki ruangan Dira. Ditangannya terdapat sebuah map coklat yang berisikan rekap kesehatan milik Dira.
"Iya dok?" Dira menoleh, sebelumnya ia mengelap air mata yang masih basah dipipinya.
Dokter dengan wajah berseri itu tersenyum kearah Dira, senyum hangat menggambarkan ketulusan. Senyuman dokter itu terlihat seperti mendiang ibu nya yang sudah tiada. Dokter dihadapan Dira mengingatkannya dengan mendiang ibunya.
Ibu...Dira harus pulang kemana?
batin Dira tiba-tiba menjerit.
Dokter itu mulai membuka map coklat, menarik pelan selembaran kertas putih.
"Kondisi Bu Dira sebenarnya belum sepenuhnya pulih, Hantaman keras pada perut ibu masih membekaskan luka pada rahim ibu."
"Apa rahim saya masih bisa berfungsi dok?" Dira dengan wajah khawatir.
"Masih Bu, kabar baiknya Bu Dira masih bisa diberi kesempatan untuk memiliki keturunan. Rahim Bu Dira sehat hanya saja masih terluka." Dokter dengan hijab berwarna merah muda, senyum hangat tidak pudar dari wajahnya.
"Alhamdulillah..." walaupun ia sudah bercerai dengan Arhan, tapi Dira berharap suatu saat nanti Tuhan bisa menghadiahinya seseorang yang mampu menghapus luka yang sudah ditorehkan Arhan padanya.
Bersambung
Jangan lupa like ya readers 🤩