NovelToon NovelToon
Kau Berkhianat, Aku Membalas!

Kau Berkhianat, Aku Membalas!

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami
Popularitas:20.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rere ernie

Velicia, seorang wanita yang sedang hamil delapan bulan, dipermalukan dan disiksa oleh suaminya sendiri. Michael adalah Bos Mafia yang lebih mempercayai wanita lain bernama Sania, dibanding istrinya sendiri.

Dituduh tanpa bukti dan dipaksa berlutut di depan wanita yang membencinya, Velicia akhirnya menyadari bahwa cinta yang ia perjuangkan selama dua tahun hanyalah ilusi.

Namun Michael tidak tahu satu hal, Velicia bukan wanita biasa. Di balik diam dan lukanya, ia menyimpan identitas tersembunyi sebagai bagian dari dunia mafia yang jauh lebih gelap dari keluarga Kensington.

Saat Michael akhirnya menyesal, akankah Velicia memaafkannya dan kembali padanya? Atau memilih pria lain yang datang di waktu yang tepat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter — 18.

Saat itulah, suara mesin helikopter mengguncang langit. Semua orang otomatis mendongak. Di saat bersamaan, belasan SUV hitam memasuki area rumah sakit. Puluhan pria bersenjata lengkap turun, seragam mereka dihiasi lambang keluarga Romanov.

Di belakang mereka, mobil hitam lain berhenti. Pintunya terbuka, Lorenzo Sullivan turun perlahan. Tatapannya langsung jatuh pada darah yang mengalir dari bahu Michael, lalu kepada Velicia yang masih memeluk Vincenzo.

Aura Lorenzo berubah mengerikan, ia mengangkat pistolnya. Lalu berkata dengan suara yang membuat seluruh medan perang membeku.

"Tinggalkan satu orang hidup. Yang lain..." Tatapannya menyapu seluruh anak buah Moretti, kemudian melanjutkan dengan nada sedingin es. "Bunuh semuanya!!!"

Dalam hitungan detik, puluhan moncong senjata Romanov dan Sullivan terangkat bersamaan. Dan malam itu, perang mafia resmi berubah menjadi pembantaian terbuka.

Suara tembakan menggema tanpa henti.

DOR! DOR! DOR!

Percikan api keluar dari moncong senjata, sementara jeritan memenuhi halaman rumah sakit. Anak buah Moretti yang semula datang dengan percaya diri kini berubah panik. Mereka tidak pernah menyangka Romanov dan Sullivan datang secepat ini.

"Bertahan!"

"Tidak bisa! Mereka terlalu banyak!"

"Tarik mundur!"

Namun semua sudah terlambat. Pasukan elit Romanov bergerak seperti mesin pembunuh. Mereka tidak membuang peluru sia-sia. Setiap tembakan selalu menjatuhkan satu lawan.

Di sisi lain, anak buah Lorenzo bahkan lebih mengerikan. Mereka bertarung tanpa suara, hanya terdengar dentuman senjata dan tubuh-tubuh yang berjatuhan. Dalam waktu kurang dari lima menit, halaman rumah sakit berubah menjadi lautan darah.

Lorenzo melangkah maju dengan tenang. Sepatunya menginjak genangan darah tanpa sedikit pun mengubah ekspresi wajahnya.

Seorang pria bertopeng mencoba mengangkat senjatanya.

DOR!

Peluru Lorenzo menembus tepat di dahinya, pria itu roboh seketika. Langkah Lorenzo tidak berhenti, tatapannya mencari satu orang... pemimpin penyerangan.

Tiba-tiba seseorang berlari menuju mobil.

“Mau kabur?” Suara Lorenzo terdengar rendah, tenang, namun membawa tekanan yang menyeramkan.

Pria dengan aura membunuh itu mengangkat pistolnya.

DOR!

Peluru mengenai lutut orang itu.

"Aaaargh!" Orang tersebut jatuh sambil menjerit.

Dua anak buah Sullivan langsung menyeretnya ke depan Lorenzo. Pria itu gemetar hebat. "T-Tuan... ampuni aku..."

Lorenzo mencengkeram dagunya. "Siapa yang mengirimmu?"

"Aku tidak tahu..." Pria itu langsung memejamkan mata.

Lorenzo menghela napas pelan. "Aku paling membenci pembohong."

Seketika...

KRAK!

Suara tulang jari patah terdengar jelas, orang itu menjerit histeris. "Aaaahhh!!"

"Siapa."

"T-tuan Moretti...!"

"Siapa lagi."

Pria itu menangis. "Tuan Michael juga... tapi... tapi dia tidak memerintahkan penculikan... kami hanya menerima perintah dari Bos Moretti...."

Tatapan Lorenzo berubah semakin dingin, Ia tidak mengatakan apa pun dan hanya mengangguk pelan kepada anak buahnya.

Satu detik kemudian...

DOR!

Kepala pria itu pecah, mayatnya terjatuh tanpa suara.

Di sisi lain, Michael masih berdiri memegangi bahunya yang terluka. Darah terus mengalir membasahi jas hitamnya, Aaron berlari menghampiri.

"Tuan! Lukanya cukup dalam!"

"Aku tidak apa-apa."

Tatapan Michael tidak pernah lepas dari Velicia, wanita itu sedang memeluk Vincenzo erat. Meski wajahnya tetap tenang, Michael sempat melihat tangan Velicia sedikit gemetar saat memastikan putra mereka tidak terluka. Itu membuat dadanya sedikit lega. Syukurlah... anak mereka selamat.

Antonio Romanov berjalan mendekat, tatapannya langsung tertuju kepada Michael. Dingin dan dipenuhi kebencian.

"Kalau adikku atau keponakanku terluka..." Antonio berhenti tepat di depan Michael. "...aku akan memenggal kepalamu saat ini juga."

Michael tidak membalas, karena ia tahu Antonio berhak marah.

Lorenzo ikut berjalan mendekat, tatapannya berhenti pada luka di bahu Michael. "Kau melindungi mereka."

Michael mengangguk singkat. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh mereka."

Lorenzo menatap Michael dengan tatapan dingin, kemudian berkata dengan suara tajam. "Kalau begitu... seharusnya kau melakukan itu sejak awal."

Kalimat itu menghantam Michael lebih keras daripada peluru, Ia tidak mampu membalas. Seandainya dulu ia berdiri di sisi Velicia, semua ini tidak akan pernah terjadi.

Tidak lama kemudian, seorang dokter mendekati Michael.

"Tuan, luka Anda harus segera dijahit."

Michael tidak bergerak, Ia justru menatap Velicia. "Veli..."

Velicia menatap pria itu, tatapan mereka bertemu.

"Maaf." Michael mengembuskan napas panjang.

Tidak ada pembelaan dan alasan, hanya permintaan maaf yang terlambat.

"Michael... aku memang berterima kasih karena hari ini kau melindungi Vincenzo."

Michael mengangkat kepalanya, untuk sesaat muncul secercah harapan. Namun kalimat berikutnya dari mulut Velicia menghancurkan harapan yang tersisa.

“Tapi itu tidak menghapus apa yang sudah kau lakukan pada kami.” Velicia menatap pria itu dengan dingin, suaranya kejam tanpa keraguan.

Harapan Michael padam seketika.

"Orang yang menusukmu hari ini... adalah anak buah sekutumu sendiri. Sedangkan orang yang melindungiku, adalah keluargaku." Tatapan Velicia beralih kepada Lorenzo dan keluarganya. “Perbedaan itu sudah cukup menjelaskan... di mana seharusnya aku berdiri."

Michael menutup matanya, dadanya kembali terasa sesak. Ia tahu, tidak ada yang bisa membantah ucapan Velicia.

Malam itu juga.

Markas Moretti.

Dante membanting meja hingga retak.

BRAK!

"Dasar bodoh!"

Seluruh bawahannya menunduk.

"Siapa yang menyuruh kalian menyerang bayi itu?!"

Tidak ada yang berani menjawab, Dante mengusap wajahnya kasar. Rencana mereka gagal total, tapi bukan hanya gagal. Kini Romanov memiliki alasan sah untuk memulai perang terbuka. Yang lebih buruk lagi... Michael kini mengetahui bahwa Dante telah membohonginya.

Pintu ruang rapat tiba-tiba terbuka, Michael masuk dengan aura dingin yang menusuk. Ia masih mengenakan perban di bahunya, sementara tatapannya begitu tajam dan tanpa emosi.

"Kau selamat." Dante menyeringai tipis.

Michael berjalan hingga berdiri tepat di depan Dante. Dan, tanpa aba-aba...

BUUK!

Tinju Michael menghantam wajah Dante, sampai kursi pria itu terpental. Seluruh ruangan membeku, Dante mengusap darah di sudut bibirnya.

"Kau memukulku?"

"Aku sudah bilang..." Suara Michael begitu rendah. "...jangan sentuh Velicia dan anakku."

Dante perlahan berdiri, tatapannya berubah tajam. "Lalu apa? Kau ingin menghentikan perang?"

"Aku akan tetap berperang." Michael menatap lurus tepat ke mata Dante. "Tapi bukan dengan cara pengecut!"

Dante tertawa dingin. "Kau mulai lemah."

Michael mendekat hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. "Aku masih Michael Kensington! Kalau kau sekali lagi menggunakan keluargaku untuk memancing Romanov..."

Michael mencengkeram kerah Dante. "Aku sendiri yang akan menghabisimu...!!!"

Malam itu, Aliansi antara Michael Kensington dan Dante Moretti mulai retak. Cepat atau lambat, dua bos mafia itu juga akan saling mengarahkan senjata.

Sementara itu di Romanov Estate, Velicia berdiri di samping tempat tidur Vincenzo yang sudah kembali tertidur lelap. Ia mengusap lembut kepala putranya, lalu menatap langit malam dari balik jendela. Instingnya mengatakan, perang ini belum mencapai puncaknya. Dan saat puncak itu tiba, bukan hanya Moretti yang akan tumbang... akan ada satu pengkhianatan lagi yang mengguncang seluruh dunia bawah.

1
Lydia
Lanjut Author. Terima Kasih.
ρυтяσ kang'typo✨
Alhamdulillah... Lorenzo sudah sadar , buka hati mu Velicia
ρυтяσ kang'typo✨
semoga Lorenzo bisa selamat
Ariany Sudjana
puji Tuhan, Lorenzo sudah mulai sadar
Lydia
Lanjut Author. Terima Kasih.
ρυтяσ kang'typo✨
wow keren thor... makin seru aja, semangat terus yaaaaaa
Lydia
Lanjut Author. Terima Kasih.
ρυтяσ kang'typo✨
(perasaan itu masih bisa tumbuh kembali pada orang lain)

apa g nyesek tuh Michael 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Rere🌠: Nyesssss 🤣🤣🤣
total 1 replies
ρυтяσ kang'typo✨
Lorenzo... u. harus lebih percaya diri lagi dan jangan pernah menyerah untuk mendapatkan Velicia
ρυтяσ kang'typo✨
ok trimakasih ka....terus semangat yaaaa
Ariany Sudjana
Sania kenapa kamu harus marah sama velicia? velicia itu putri konglomerat, dan kelasnya jauh di atas kamu, yang hanya pelacur murahan 🤣🤣😂😂 dan tempat yang pantas buat kamu ya di tempat sampah 🤣🤣😂😂
Rere🌠: Udah bener di tempat sampah, skrg malah mau gaul sm kubangan darah. ampun dah ah🤣
total 1 replies
MataPanda?_
semangat trus kak lanjut terus 😅💪
gina altira
Sania ga ada kapoknya
Rere🌠: Mau jadi ratu kyk Velicia, ngimpi kali ah😬😬😬
total 1 replies
gina altira
lanjutt
gina altira
Michael bodoh
gina altira
Michael terlalu percaya diri
Lydia
Lanjut Author. Terima Kasih.
Diana Dwiari
pemain catur yang sangat handal....
ρυтяσ kang'typo✨
Sania mau main" sama Velicia🤣🤣🤣salah pilih lawan oooyyy
ρυтяσ kang'typo✨
hayo loh.... siapa kah yang menyerang di balik kekacauan yang sedang terjadi saat ini🤔🤔🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!