Novel ini adalah sekuel dari Novel My Secret Agent yang mengisahkan tentang Fey dan Gian.
Novel The Best Sniper, akan membahas mengenai Ryuga, putra pertama Fey dan Gian yang mengikuti jejak sang Ibunda yang berkarier di dunia Agen Rahasia.
Tak hanya membahas tentang karier cemerlang dari Ryuga, namun juga akan membahas perjalanan cinta dari si Pemimpin Pasukan Agen Rahasia.
Selain tokoh Ryuga, Author juga akan membahas tentang dua tokoh lain yaitu adik kandung Ryuga dan juga sahabat - sahabat yang kocak dan tengil. Mereka tentu akan ikut mewarnai kisah hidup Ryuga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Menertibkan
"Yes, Sir!" Ujar Ryu dengan wajah serius sebelum menutup panggilan dari Elno.
"Ada apa, Yu?" Tanya Adit dengan wajah yang ikut serius.
"Anak buah Gerald cari masalah." Jawab Ryu sambil tersenyum smirk.
"Gerald gak tau, Kak?" Tanya Willy yang di jawab gelengan oleh Ryu.
"Maaf, gak bisa ngopi lama - lama. Ada tugas yang harus aku jalanin." Kata Ryu pada Gladys.
"Ya Tuhan! Merinding banget liat orang itu bicara lembut." Kata Bryan yang tiba - tiba bergidik sambil memandang ke arah lain.
"Sama! Takut banget kalo misal dia kerasukan." Imbuh Davi.
Ryu sendiri hanya bisa tersenyum saat melihat dua rekannya yang kembali meledek.
"Lo berangkat aja, Kak. Nanti Kak Gladys biar gue yang anter." Kata Willy.
"Ah! Gak percaya gue, sama lo." Jawab Ryu.
"Astaga! Tenang aja, Kak Gladys pasti aman." Kata Willy yang meyakinkan karena ia ingin membantu Ryu.
"Iya, Yu. Nanti biar gue sama Willy yang anter Gladys pulang." Timpal Adit yang turut meyakinkan.
"Aku gak apa - apa kok, pulang sama Adit dan Willy." Kata Gladys yang mengerti jika Ryu terburu - buru.
"Bener?" Tanya Ryu yang di jawab anggukan. Oleh Gladys.
"Yaudah, gue titip Gladys ya." Kata Ryu pada Adit dan Willy.
"Tenang aja, aman." Jawab Adit.
"Maaf, ya." Ucap Ryu sambil mengusap puncak kepala Gladys. Gladys pun hanya mengangguk karena terkejut saat kembali mendapatkan perlakuan manis dari Ryu secara tiba - tiba.
"Yan, Vi, cabut." Kata Ryu yang mengajak Davi dan Bryan yang memang bertugas stand by di Markas.
Ketiga orang itu pun segera beranjak dari tempat mereka. Sementara Gladys masih di Cafe bersama Willy dan Adit.
Ryu mengemudikan mobilnya dengan cepat menuju ke lokasi dimana anak buah Gerald menyelundupkan senjata api dalam jumlah besar.
Sembari mengemudikan mobilnya, Ryu pun menghubungi Gerald, salah satu Mafia yang terkenal di Luar Negri. Sepak terjangnya memang terkenal mengerikan. Namun, ia tetap tunduk di bawah aturan dari Sikey yang akan menjaga komplotannya, selama ia tak melewati batas.
"Selamat malam, Tuan!" Sapa Gerald ketika panggilan telfon dari Ryu terhubung. Keduanya berbicara dalam bahasa asing.
"Apa yang di lakukan anak buahmu?" Tanya Ryu tanpa basa - basi.
"Anak buahku? Siapa? Seperti yang anda tau, saya sudah satu bulan tidak mengirimkan barang ke Negara anda." Jawab Gerald.
"Kalau begitu, Saya akan bereskan si penyelundup ini. Mungkin dia mencuri barangmu atau mungkin anda yang sedang bermain - main dengan saya." Ujar Ryu.
"Saya akan sangat berterima kasih jika Tuan Sikey (CK) sudi membereskan penghianat itu. Saya pastikan kalau saya masih berada di jalur aman, seperti yang sudah kita sepakati." Jawab Gerald.
"Baiklah!" Kata Ryu yang kemudian menghentikan sepihak panggilan telfon itu.
Davi dan Bryan yang berada di dal mobil bersama Ryu, hanya terdiam. Mereka tak ingin mengusik Naga yang sedang kepanasan ini.
"Vi, buka jok di sebelah lo dan rakit semua senapan laras pendek." Perintah Ryu.
"Siap, Kapt!" Jawab Davi yang langsung membuka salah satu jok di baris ke dua.
Di balik jok itu, ada sebuah brankas yang ternyata berisi tiga buan senapan laras pendek. Lengkap dengan stok peluru.
Tak tinggal diam, Bryan pun membantu Davi menyiapkan senapan laras pendek itu dan juga pistol yang ada di dashboard mobil.
Saat tiba di sebuah Gudang besar yang sepertinya sudah lama tak di gunakan, Ryu bersama Davi dan Bryan segera turun dari mobil.
Tak lupa, mereka memakai penutup wajah untuk menutupi identitas. Bedanya,kali ini mereka tak memakai seragam khusus seperti saat menjalankan misi. Mereka juga membawa serta senapan yang sudah mereka siapkan.
Dengan langkah santai, Ryu, Davi dan Bryan berjalan menuju ke Gudang besar itu. Mereka masuk dan tersenyum saat melihat suasana Gudang yang cukup ramai.
"Wah... Wah... Wah..." Ujar Ryu sambil bertepuk tangan meledek.
Melihat kedatangan pria yang mereka kenal dengan identitas Sikey itu, tentu membuat mereka semua menjadi waspada.
"Ch! Ternyata kita ketahuan." Ujar seorang pria berbadan tegap yang merupakan anak buah Gerald. Pria itu bernama Anthoni.
"Jangan meremehkan, Bung! Mungkin tuan lo gak mengendus, tapi, gue bisa dengan mudah nyium bau kotoran cicak ini." Jawab Ryu.
"Oh, pasti lo yang udah ngadu ke Tuan Gerald, kan?" Tanya Anthoni.
"Mengadu? Bukan mengadu tepatnya mengonfirmasi. Barang kali ada barang Tuan lo yang hilang." Kekeh Ryu.
"Bajingan!" Umpat Anthoni. Ia pun meminta anak buahnya yang cukup banyak itu untuk menyerang Ryu, Bryan dan Davi.
"Oh, masih mau tangan kosong." Kekeh Davi.
Ketiga orang itu pun dengan mudah menghajar anak buah Anthoni yang berjumlah lima kali lebih banyak dari mereka.
"Gimana? Lo mau balik ke Tuan lo? Atau mau gue beresin sekalian?" Tanya Ryu yang perlahan berjalan mendekat ke arah Anthoni yang kini hanya di temani dua pengawalnya.
"Tenang! Kita bisa bicarakan ini baik - baik. Kita bisa berbisnis, kan?" Ujar Anthoni yang mulai sedikit panik.
"Gue bukan orang yang suka melewati batas. Jadi, lo gak usah sok baik dengan ngasih tawaran ke gue." Jawab Ryu.
"Apa keputusan lo? Mau balik ke Tuan lo? Atau sekalian gue bersihin." Kata Ryu yang memberikan pilihan sembari menyiapkan senapannya.
Door!
Dooorr!
Ryu menembak mati dua orang pria yang masih setia mengawal Anthoni hingga membuat nyali Anthoni makin menciut.
"Jawab sekarang! Gue males berurusan terlalu lama sama orang kayak lo!" Kata Ryu yang membuat Anthoni makin ketakutan.
Pria itu memeluk erat koper jinjing yang berisi barang yang ia curi dari Tuannya. Anthoni pun berpikir keras. Tak ada pilihan yang lebih baik. Pilihan yang di tawarkan oleh Ryu, bagai buah simalakama untuknya.
"Tiga..." Ryu mulai menghitung. Ia enggan menunggu terlalu lama.
"Dua..."
"Tunggu... Tunggu..." Pinta Anthoni dengan terbata - bata karena ketakutan.
Dorr!
Suara tembakan dari arah lain, membuat Ryu langsung menoleh. Tembakan itu, tepat mengenai kepala Anthoni hingga membuat Anthoni langsung tersungkur.
Seorang pria berjalan ke arah jasad Anthoni dan mengambil koper jinjing yang msih di pegang Anthoni.
"Terima kasih informasinya. Tuan Gerald yang akan membereskan semua kekacauan ini." Ujar Seorang pria yang merupakan salah satu orang kepercayaan si Mafia.
Ryu hanya mengangguk, ia pun segera berbalik badan dan meninggalkan Gudang yang kini penuh dengan mayat. Tugasnya untuk menertibkan jaringan Mafia, sudah selesai saat ini.
Ryu, Davi dan Bryan, segera kembali ke mobil. Ryu langsung mengantarkan dua juniornya yang sedang berjaga itu ke Markas.
"Gak sekalian istirahat, Kak?" Tanya Bryan setelah turun dari mobil Ryu.
"Gue istirahat di rumah. Besok pagi gue ke Markas buat laporan." Jawab Ryu.
"O.K. Hati - hati, Kak." Ujar Davi yang di jawab anggukan oleh Ryu.
Ryu yang memang tak turun dari mobilnya, segera melajukan mobilnya meninggalkan Markas Agen Rahasia.
abang cemburu berat ini 🤣
help 🤣🤣🤣🤣
lanjut kak author